
Aku tidak menyadarinya. Leo memakai jas? Dia sangat cocok menggunakannya... seperti pejabat terhormat yang menghadiri acara formal, bedanya, yang satu ini membawa pedang.
"Maaf, maaf. Aku hanya ingin bersenang-senang. Semua monster kecuali Ayah Fal dan Adiknya telah dibantai. Jadi sudah lama sekali markas ini menjadi sepi sejak Hari Pembantaian. Kusuruh saja pasukan beristirahat sampai benar-benar ada ancaman lagi. Sebagai ketua, agak sedih rasanya melihat berkurangnya aktifitas bawahan." Dia menggaruk kepala, lalu membantu Raphael dan Jennifer berdiri.
Aku hendak komplain lagi, tapi mendengar semua itu, aku jadi kasihan.
"Leo, serius? Jas? Kenapa?" Raphael memiringkan kepalanya sambil bertanya. Ini hanya acara makan malam, tidak harus memakai pakaian sekeren itu kan?
"Yah, aku hanya merasa enak menggunakan ini. Lagipula, di setiap acara, semua subjek harus terlihat mencolok kan? Lihat Jennifer, dia sangat cantik layaknya putri, pesonanya terasa meningkat." Leo menunjuk Jennifer dengan bangga, dia malu-malu menunduk. "Terima kasih."
Leo merapihkan raknya kembali. Dengan mudah mengangkatnya seperti semula.
"Di mana Yuda?" Jennifer bertanya.
Ting! Panjang umur, persis setelah namanya disebutkan, pintu lift terbuka. Dari sana keluar orang yang kami tunggu, Yuda memakai kemeja putih dan celana panjang hitam. Dia terlihat... sangat kece!
"Maaf aku terlambat." Suaranya agak mengecil sambil berjalan mendekati kami semua.
"Halo Yuda." Aku menyapanya, Raphael melambaikan tangan.
"Halo Fal, Raphael, Jennifer-"
"Astaga, Yuda! Aku tidak tahu kau semanjur ini tentang fashion!'"Jennifer memujinya sambil mendekat, dia terlihat kagum.
"Y.. ya aku tahu beberapa. Terima kasih."
"Kenapa telat, Yuda?" Leo bertanya.
"Maaf, Komandan. Tadi hujan deras jadi aku tidak mau pakaianku basah, aku tidak mau mempermalukanmu dengan memakai kemeja yang terkena air." Yuda membalas lurus, merapihkan beberapa kancing di kemejanya.
Henin sebentar, suara hujan di atas sudah berhenti.
"Baiklah, terima kasih Yuda. Ayo kita pergi." Leo memutarbalikkan tubuhnya, hendak menuju lift besar dari dalam markas.
"Kita mau ke mana sih? Restoran mana?" Tanyaku penasaran. Kami semua mulai mengikuti Leo.
"Ada deh. Restoran yang keren." Balasnya sambil tersenyum.
Ting! Leo menggesekkan kartu, lift besar terbuka dan kami semua masuk ke dalam, siap untuk pergi.
...***...
Wow...
Leo punya restorannya sendiri?!
__ADS_1
Di suatu tempat bernama "Leonardo's Reservation", terdapat banyak pasukan berpakaian rapih yang juga mengadakan makan malamnya sendiri. Mereka berkumpul di mejanya masing-masing, memesan makanan, bergurau, bersulang, semuanya!
Tempatnya besar, berwarna kuning terang dan mencolok. Ada speaker yang menyalakan lagu jazz menenangkan, sangat berkelas, pintunya besar berkaca, mejanya bulat dan ditutup dengan taplak berwarna putih. Ada bunga yang indah terletak di setiap pusat meja. Beberapa orang menyapa Leo dan kami semua, terlepas dari sebagian pasukan yang curiga dan benci kepadaku, ada beberapa lagi yang justru bangga dan takjub kepadaku...
"Leo! Ini restoranmu?!" Raphael bertanya, wajahnya memutar kemana-mana melihat sekitar dengan kagum.
"Hmph. Dari kecil aku punya... kegemaran dengan makanan. Sebenarnya restoran ini ditutup semenjak evakuasi. Tapi khusus hari ini, dengan izin Jendral Besar, aku membukanya untuk para pasukan. Sebagai rasa terima kasih dan pujianku terhadap perjuangan kalian." Dia merapihkan rambutnya, bergaya hebat. Aku masih tidak percaya, tempat ini sangat keren!
Kami bertemu dengan salah satu pelayan, lalu dia menunjukkan meja untuk kami, lima orang. Singkat waktu kami sudah duduk di kursi masing-masing, memakai serbet yang telah disiapkan. Lalu pelayan itu pergi.
"Astaga Leo! Aku tidak menyangka ini, sungguh! Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanyaku semangat. Ini sangat hebat!
"Kalau kuberitahu, kau pasti ingin makan di sini terus, lalu memintaku untuk bayar semuanya. Aku bisa miskin." Dia menepuk bahuku sambil bergurau. Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Selamat malam-- eh, Komandan Leo!" Salah satu pelayan baru, perempuan, yang datang terkejut.
"Ah, Kesya. Perkenalkan, ini adalah pasukanku yang hebat. Falisha dan Raphael, Jennifer dan Yuda."
"Oh, aku sudah dengar banyak tentang kalian! Falisha, pasukan yang paling bertekad dan giat, tidak pernah sekalipun mengabaikan misi. Lalu Raphael, punya rekor delapan tahun menjalani tugas tanpa luka! Hebat!
"Kemudan Jennifer, pendatang baru yang memiliki kebergunaan banyak dari kepintarannya. Dan Yuda, pasukan paling muda, total monster yang telah dibunuh mencapai 426! Salah satu kebanggaan Pasukan Penjaga Kedamaian! Ini adalah kehormatan berat bagiku untuk melayani kalian semua!" Dia menunduk setelah mengatakan itu. Suasana menjadi hening, kami semua menatap Yuda, hanya Leo yang memejamkan mata bangga.
"426? Sungguh?"
"Hebat... Yuda itu luar biasa!" Giliranku yang berseru memujinya.
"Baik, kita pesan dulu makanannya. Setelah itu baru kita punya banyak waktu untuk bicara tentang Yuda." Leo memerintah halus, membuka buku kecil berisi menu makanan.
Sepuluh menit, makanan pembuka dan teh sudah dihidangkan. Aku merasa bersalah karena memakai jaket di sini, apakah Leo tidak malu?
"Fal? Kenapa dilihat saja? Ayo makan." Dia malah tidak peduli, tersenyum halus... Leo...
Benar juga, aku daritadi menatap piring berisi roti-roti panggang yang kecil dengan daging cincang dan sedikit sayur di atasnya. Astaga, makanan apa ini?
"Itu namanya Bruschetta. Hidangan Italia. Enak kan?"
"Mm... mmh...! Enak! Enak Leo!" Aku senang sekali! Ini baru hidangan pembuka, tapi sangat memuaskan!
Yang lainnya juga memakan appetizer milik mereka. Aku tidak tahu apa namanya, tapi wajah mereka terlihat menikmatinya.
"Jadi, Yuda, bagaimana caramu bisa membantai monster sebanyak itu di usia yang lebih muda dariku?" Raphael memulai percakapan sambil makan.
"Aku... latihan keras... dan menjaga makanku. Bagaimana juga keduanya harus seimbang."
"Nah, dengerin tuh, Raf. Kau dikasih makanan panitia dari OSIS malah menolak." Jennifer bergurau.
__ADS_1
"Eh, Jenn, makanan panitia itu tidak enak. Lebih enak mie lidinya Bu Sri di kantin."
"Heh, mie lidi itu tidak sehat kalau dimakan secara konsisten berhari-hari.
"Tenang, aku makan seminggu sekali kok..." Raphael membalas argumen Jennifer. Sunyi, kami menatapnya.
"Kenapa? Tidak percaya? Seminggu sekali!"
Masih sunyi...
"Iya-iya oke, seminggu dua kali, tuh aku jujur!"
Sunyi lagi, Kami masih menunggunya jujur...
"Hmph." Aku mendengus tidak percaya. Aku tahu kapan saja Raphael memakan lidi pedas itu...
Hening, kami semua menatap Raphael sambil makan.
"..." Raphael mengeluh.
"Fine. Sehari dua kali. Habisnya, makanan itu sangat enak! Aku tidak tahan setiap kali melihatnya, dan juga harganya murah!"
"Haduh..." Jennifer menepuk dahi, aku menahan tawa.
Sekilas, Yuda terlihat tersenyum. Aku senang dia menikmati pembicaraan ini... Raphael memang punya bakat alami tentang hiburan dan pertemanan...
"Bagaimana dengan kalian? Di Hari Pembantaian, kalian melawan Dzar dan Ava itu sangat hebat. Bahkan kau, Jennifer, dengan cepat melindungiku. Itu sangat... hebat..." Yuda berkata pelan sambil melahap makanannya.
"Yah... sejujurnya... semua yang kulakukan berkat Falisha. Dia sangat keren."
"Haruskah aku yang menjawab, Jenn?" Raphael memotong, Jennifer hendak menjitaknya. Apakah dia akan memberitahu Yuda bahwa aku punya penggemar?
"Yuda, Jennifer itu-" Lincah, Jennifer langsung menutup mulut Raphael. Aku hampir tersedak menahan gelak, Yuda hanya menatap mereka bingung.
"Hahahaha..." Leo tertawa.
"Wah wah wah. Lemah datang ke restoran mewah?" Eh? Ada tiga orang yang datang menghampiri meja kami. Semuanya memakai jas hitam dan kemeja seperti Leo.
Tunggu, apa dia bilang? Lemah?
"Aww... lihat, Lemah ditemani oleh Komandan dan orang-orang hebat. Kau harusnya sadar diri ya." Orang yang di tengah berseru sombong, siapa dia?
Tunggu, wajahnya mirip dengan-
"Kakak." Yuda memotong kalimatnya, berseru ketus.
__ADS_1