
BWUUUUSHHH! Leo membuat api biru bagaikan ombak, semua monster yang ada di dekatnya hangus seketika. Memberikan ruang untuk masuk ke stadion.
Sekilas, kami semua sudah masuk. Mati-matian membelah monster yang menghalangi jalan.
SLASH! SLASH! Monster lagi, SLASH! Ada monster lagi, SLASH! Tanpa henti-
SLASH! "Ini sangat tidak manusiawi!" Seru Raphael.
Suara jeritan perjuangan pasukan memenuhi tempat ini, kepalaku terasa pening...
BWUSH! Leo melompat tinggi sambil memutar, apinya mengenai monster yang lebih tinggi, membunuhnya.
CRAT! SLASH! JRAASH! Semua teknik dan gerakan kupakai. Tubuhku sudah mulai lelah.
Gesekkan pedang cahaya menyilaukan mata, tidak ada yang bisa beristirahat, terus bergerak dan menyerang.
SLASH! Aku memotong monster di depan, SLASH! di belakang, SLASH! Kanan, SLASH! SLASH! SLASH! Tiga kali ke depan, masih melawan.
"SEMUANYA!!! DALAM HITUNGAN KETIGA, LOMPAT!!!" Leo berseru tegas. Untuk apa?!
"SATU!" SLASH! Kanan, SLASH! Kiri, SLASH! Depan-
"DUA!" CRAS! Raphael dan aku berhadapan, membantu satu sama lain.
"TIGA!" Whup. Semua pasukan melompat, kompak dan presisi.
BWUUUUSHHHHH!!! Hebat! Leo menunjukkan bakatnya. Dia membungkuk dan memutar sambil menyerang, membuat api biru yang meluas sampai diameter 1,4 kilometer. Memotong kaki sekaligus membunuh 3/4 monster di dalam stadion yang besar ini, terlihat lebih bersih. Jauh lebih bersih.
Tapi, tubuhnya terkulai. Aku tahu, dari pertama kali melawan Dzar, dia mati-matian menahan ekspresi dan wajahnya agar tidak terlihat lelah. Tapi jujur saja, dia sudah sangat hebat.
Kita yang lemah.
"RAPHAEL! YUDA! AYO LINDUNGI LEO!" Seruku kepada mereka, bergegas berlari menuju Leo di tengah stadion.
Aku membungkuk, memeriksa tubuh Leo yang pingsan. Matanya tertutup lemah, badannya panas. Astaga...
"Fal..." Eh! Dia tidak pingsan! Hanya lelah.
Leo tiba-tiba duduk, aku membantunya.
"Ayo... kita lanjutkan..." Susah payah dia berbicara, sedikit terbatuk.
Aku terdiam, masih berpikir. Suara peperangan ini sudah mengurang karena hanya sedikit monster yang tersisa. Yah, masih banyak sih. Maksudku lebih baik daripada sebelumnya.
"Tidak. Kamu tunggu sini." Aku membalas, Leo butuh istirahat. Walaupun hanya sebentar, dia membutuhkannya.
"Tapi..."
"Tidak, Leo. Kumohon." Aku meminta, memohon sekuat tenaga. Leo tidak boleh melawan lagi sampai wajah pucatnya menghilang. Dan aku akan melindunginya.
Leo menatapku, berpikir.
"Baiklah... beri aku tiga menit..." Dia mengacungkan jari, aku mengangguk. Berdiri di depannya, menjulurkan pedangku.
__ADS_1
Aku melesat maju, SLASH! SLASH! SLASH! SLASH! Semua musuh yang kulihat, aku pasti membunuhnya.
"Fal!" Raphael memanggil. Sambil melawan, aku mundur dan berdiri di sampingnya.
"Apa?" Balasku sambil waspada.
"Kita butuh rencana, kita akan menjaga Leo secara shift." JRASH! Raphael memotong monster di dekatnya, sambil menjelaskan.
"Shift?"
"Ya! Kita akan bergantian. Dia membutuhkan tiga menit, kan? Jadi ayo kita bagi menjadi dua, 1,5 menit per orang!"
Aku berpikir sambil melawan, sudah ada banyak ruang untukku dan Raphael bernapas. Tidak seperti tadi.
"Aku ikut." Yuda menghampiri, berdiri di sampingku.
"Yuda?" Raphael bingung.
"Bagi menjadi satu menit per orang, kalian yang menentukan kapan giliranku berjaga." Dia memperjelas, menatap kami berdua.
Lantas, aku dan Raphael mengangguk.
"Baiklah, aku yang pertama menjaga Leo. Kalian lawan monster dan bantu pasukan lainnya. Aku akan memberi sinyal saat giliranku sudah selesai!" Raphael memerintah. Lantas, aku dan Yuda maju ke depan. Melawan banyak monster.
Yuda melompat dan menusuk monster yang tinggi, menjadi abu. Aku membungkuk melewatinya, SLASH! SLASH! SLASH! Menusuk tiga sekaligus, langsung mundur lagi, menjaga depan, Yuda menjaga belakang. Kami menempelkan tubuh.
"Lumayan." Pujiku halus.
CRAS! "Yup." Yuda menimpali.
CRAT! Ada yang menggores kakiku, tapi bisa ditahan.
!
WOOSH! Aku menundukkan tubuhku dan Yuda, ada monster yang membesarkan tangannya menjadi pisau tajam, hampir memenggal kami berdua.
SLASH! Aku melesat cepat membunuhnya dari bawah. Dia terlalu lamban.
JRAAAASHHHH! Raphael tiba-tiba maju, memberi sinyal untukku mundur.
Aku berlari mundur sambil membunuh musuh yang menghalangi, mendekati Leo. Wajahnya sudah lebih baik, tapi masih lelah.
"Hahaha..." Leo terkekeh, aku menjulurkan pedang dengan kedua tangan, bersiap.
"Kenapa kamu tertawa?" Aku heran.
"Tidak... lucu saja. Pertama kali kita bertemu, kau bahkan takut saat melihat pedang. Lihat sekarang, pedang itu bagaikan sahabatmu sendiri."
"Ish, itu kan delapan tahun yang lalu. Wajar saja kalau aku takut." Balasku sebal. Kenapa harus topik ini yang diambil?
...
Bicara soal pedang, aku teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Leo."
"Hm?"
"Bagaimana caraku membangkitkan kekuatan pedang ini? Sudah kucoba segalanya namun masih saja nihil. Aku ingin menjadi orang yang hebat sepertimu." Aku bertanya, sedikit menunduk. Kalau Leo bisa mengeluarkan api yang panas untuk melawan, aku harus bisa mengeluarkan kekuatanku sendiri!
"Yah, pertama kali pedangku aktif, itu adalah waktu yang terburuk dalam hidupku. Seluruh tubuhku terasa... terhina. Terpaksa menerima keadaan, jadi ia bersatu dengan pedang. Seolah-olah, mereka tahu bahwa mereka harus menjadi lebih kuat, jadi api itu keluar dikarenakan paksaan tubuh dan mentalku yang bersatu dengan pedang. Itu saja." Leo menjawab, aku mendengarkannya dengan penuh kehati-hatian.
"Paksaan tubuh dan mental, ya..." Aku berpikir.
Oh iya, seharusnya sudah satu menit! Aku harus-
BUK!
Eh?
Leo...?
Astaga... astaga! Leo! Seseorang memukul kepalanya! Dia tidak sadarkan diri!
Yuda sedang berlari ke arahku, wajahnya cemas. BUK! Eh?! Sosok hitam yang cepat, memukul Yuda sampai jatuh, tubuhnya jatuh dengan cepat!
Sekilas, aku melihat tubuh Raphael yang menghadapku. BUK!
"RAPHAEL!" Sosok hitam itu melesat sangat cepat, tidak jelas dan terlihat. Dia adalah omni?!
BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! Seluruh pasukan dipukul olehnya keras, semuanya mulai terjatuh! Seperti domino!
Tunggu dulu...
BRAK! Dia... dia juga menyerang monster... bahkan membunuhnya... siapa dia?!
"SIAPA KAMU?!" Tanyaku menjerit. Aku... aku sangat takut... Raphael, Leo, Yuda, banyak pasukan sudah dibuatnya tidak sadar. Bahkan dia membunuh monster, rekannya sendiri.
BUK! BUK! BUK! Lanjut, dia memukul monster di dekatnya, membersihkan sisanya.
"HEI!" Seruku lurus.
ZEP! Aku menelan ludah, pedangku jatuh dari tangan. Sosok itu berdiri di depanku, tidak jelas wajahnya, hanya hitam.
Lengan kanannya terangkat, daguku ditarik ke arahnya, kepalanya mendekat.
"Aku... merindukanmu..." Dia berbicara... suaranya itu, terdengar mengancam, tapi...
"HEI!" Salah satu pasukan berseru padanya, sekarang sosok itu melihatnya, daguku dilepas.
BUK! Cepat sekali! Tubuhnya langsung melesat ke arah pasukan itu dan memukulnya!
BUK! BUK! BUK! BUK! BUM! Sosok hitam itu... menghabisi semua pasukan dan ribuan monster sendirian... sekarang hanya aku dan dia yang tersisa, berdiri di hadapan tubuh orang-orang yang pingsan karenanya.
ZEP! Dia kembali berdiri di depanku, menatapku serius. Mengangkat tangannya.
Lagi, aku menelan ludah. Jangan-jangan... dia ingin-
__ADS_1
BUK!