
365 hari lebih, dan dia tidak tahu namaku?
Kalau dipikir-pikir... aku tidak pernah memperkenalkan diriku kepada siapa pun di kelas ini...
Baru sadar, aku tidak punya teman selain...
"Eh, kamu temannya Raphael, kan?" Salah satu dari mereka berkata, suaranya berisik sekali.
"Eh iya, sis..." Yang lain menimpali.
"Bagaimana caramu mendekatinya? Kau paracan dengannya? Bagaimana cara berteman dengannya? Kenalkan aku padanya, ya! Namaku Stella."
"Stel, tidak usah banyak berkhayal, hanya orang-orang spesial yang bisa dapat Raphael sebagai pacarnya. Hei, siapa namamu?"
Raphael... sekeren ini di mata mereka, ya...
"N... namaku Falisha." Aku menjawab pertanyaannya, sedikit bergetar.
"Falisha ya... kau ini siapanya Raphael, sih? Setiap detik kulihat, kau sangat dekat dengannya..." Stella bertanya.
"Kau adiknya?" Temannya menimpali.
"Jangan gila, sis... sudah jelas dia pacarnya." Temannya yang lain melanjutkan.
"Aku... hanya temannya... itu saja..." Aku membalas pertanyaan mereka, berharap tidak mengecewakan.
Mereka menatap kami semua tidak percaya, suasana hening sedikit karena tidak ada yang berbicara.
"Hah? Itu saja? Teman?" Stella berkata heran.
"Jangan bohong, Falisha. Itu tidak mungkin... hanya teman? Jangan bercanda..." Temannya berargumen.
"Aku, Nessie, jujur lebih cantik darimu, Fal... tapi tidak pernah tuh, didekati setiap detik oleh Raphael..." Salah satu temennya Stella yang bernama Nessie menjawab.
"Tunggu dulu... jangan-jangan..." Kata Stella, terpotong, dia berhenti sendiri...
Tiba-tiba, mereka berempat tertawa, mayoritas murid menatap kami heran, lalu lanjut mengerjakan tugasnya kembali.
"Haduh... hahahaha..."
"Gila lo, sis... hahahaha..."
"Kenapa? Apanya yang lucu?" Aku keberatan.
"Tidak, tidak... tidak apa-apa... kalau saja itu benar, dunia mungkin sedang kiamat..." Nessie membalas, jujur, wajahnya lebih cantik dariku... aku masih bingung apanya yang lucu dari percakapan kami.
__ADS_1
"Stella berangan-angan lagi... dia pikir... pfft... dia pikir... dia pikir Raphael menyukaimu!" Ucap temannya, mereka lanjut tertawa lagi...
...
"Orang rendahan sepertimu, Fal... tidak akan bisa disukai oleh Raphael! Dia terlalu spesial untuk semua orang!" Nessie berkata, menghinaku...
"Kamu ingin bertengkar? Ayo!" Aku berdiri, hendak mencekiknya, lagi-lagi beberapa orang melihat kami...
"Eh, maaf... sungguh aku minta maaf!" Nessie meminta ampun, matanya mengecil. Aku melepaskan cekikannya.
"Hmph, dasar tukang emosi, tanya saja pada Raphael jawabannya... entah apa yang dipikirkannya bisa berteman dengan orang sepertimu." Stella berkata, teman-temannya juga menatapku dingin sekarang...
...
Orang sepertiku... semustahil itu berteman dengan Raf? Lihat dia, dia tertawa lepas bersama yang lainnya... dia terkenal, sangat berbakat, apa memang sulit berteman dengannya?
Waktu pertama kali bertemu... aku merasa kita langsung akrab, tidak sesulit itu... apa yang membuatnya ingin berteman denganku...?
***
TRIN! TRIN! TRIN! TRIN!
Bodoh sekali! Bel pulang sudah bunyi dan aku masih tidak tahu jawabannya!
Ah sudahlah, salah satu juga tidak apa-apa, 95 pun nilai yang bagus.
Aku harus meminta maaf... tidak enak dibiarkan begini.
Eh? Di mana dia? Mejanya kosong...
"Please put your book on the table, then you can go home. Hati-hati semuanya." Mr. John berkata lembut, melambaikan tangannya. Semua murid membalasnya, mulai merapihkan meja dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Hei, Falisha. Kau pasti bingung kan di mana Raphael? Dasar tidak peka, orang seperti dia jangan disia-siakan!" Nessie bicara, kemudian tertawa bersama teman-temannya, lalu pergi meninggalkan kelas. Aku mengepalkan tangan, mencoba untuk tidak marah, dasar menyebalkan...
Setelah kumasukkan semuanya ke dalam tas, aku bergegas keluar. Sejak kapan Raphael pergi? Akan kucari sampai ketemu...
Pintu kelas telah dibuka, tidak ada, lorong hanya berisi murid-murid yang sedang berkumpul. Sepanjang jalan pun nihil, Raf tidak ada di sini...
Kutiruni tangga setelah lorong, mulai memasuki lapangan utama, cahaya matahari mulai memenuhi tubuhku, orang yang kucari tidak ada... aku berlari ke segala arah selama tujuh menit, dia tidak ada...
Atau sebaiknya kucari di ruang guru saja? Anak seperti dia pasti ada di sana...
Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu kayu setinggi satu setengah dariku, kemudian membukanya perlahan.
Di sini lebih dingin, tembok berwarna biru muda dengan empat air conditioner dipasang di atas. Guru-guru terlihat sedang sibuk berbicara dengan beberapa murid, ada yang sedang sendirian menilai tugas...
__ADS_1
Astaga, lima belas meja guru, dan Raphael masih saja tidak ada... dia pulang duluan? Tapi dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya, selalu saja hadir.
Sepertinya dia sudah ada di markas, jangan-jangan dia marah padaku...
Aku memutuskan untuk pulang, lebih tepatnya pergi ke markas Pasukan Penjaga Kedamaian, aku keluar dari ruang guru, panas memenuhi tubuhku lagi... ditemani dengan bising suara obrolan dari orang lain...
BUK! Tanpa sadar aku menabrak seseorang...
"Hei! Jaga matamu ya!" Seorang perempuan, tingginya sama sepertiku geram, padahal aku menabrak orang di sampingnya.
"Eh, tidak apa-apa..." Jennifer, yang kutabrak, dengan rambut pirangnya yang mencolok, mencoba melerai yang memarahiku tadi, berkata halus.
"Maaf, Jennifer." Ucapku singkat.
"Falisha? Itu kamu ya? Wah! Apa kabar? Jarang sekali kita bertemu!" Dia menyapaku dengan senyum yang lebar.
Agak canggung rasanya, ya... aku tidak pernah disapa oleh orang lain selain Raphael...
"Kabarku baik, bagaimana denganmu?" Aku membalas sapaannya, juga tersenyum.
"Ini adalah hari yang terbaik dalam hidupku! We did it! Item kita terjual dan kita bisa menyumbangkan uangnya!" Jennifer kegirangan, rambut pirangnya bergerak ke mana-mana.
"Item apa?" Aku heran.
"Oh iya, ini!" Jennifer memperlihatkan blueprint yang sama seperti yang ditunjukkan Rapahel!
Alat untuk menembak menggunakan laser dengan ledakan yang luar biasa.
"99% keberhasilan ini berkat temanmu, Raphael! Dia sangat jenius! Aku masih heran kenapa dia tidak masuk OSIS..." Jennifer melanjutkan.
...
"Syukurlah... bicara soal Raphael, kamu melihatnya?" Aku bertanya.
"Wow... ini canggung..." Jennifer bingung, matanya sangat terbuka.
"Apanya canggung?" Aku bimbang.
"Sebelum ini, setiap bel pulang sekolah dan dia bertemu denganku, dia pasti bertanya padaku. "Jenn, kau lihat Falisha?" Setiap saat, selalu saja. Tidak tahu kenapa... dan kenapa aku yang ditanya? Jangan-jangan menjadi ketua OSIS baginya adalah aku bisa tahu semua lokasi murid-murid di sekolah ini, hahahaha..." Jennifer tertawa...
"Benarkah...?" Dia serius?
"Iya, hahahaha. Untuk apa aku berbohong? Tapi di luar itu, kulihat tadi dia pulang duluan... sebaiknya kamu jangan kehilangan dirinya... karena semua orang di sekolah ini bicara hal buruk tentangmu, mereka bilang kamu mengganggu Raphael, membuat buruk nama Raphael, dan hal-hal lain lagi yang membuatku muak... Raphael selalu membalasnya dengan membelamu, mengatakan bahwa kamu adalah anak yang pintar, baik, hanya tidak punya waktu, alasan bahwa kamu sibuk itu selalu saja mudah dipercaya karena Raphael pintar sekali dalam mengeja perkataanya... harga diri dan namamu aman karenanya, Fal..." Jennifer berkata halus, menyentuh bahuku.
Ternyata benar... dia terlalu baik untuk semua orang... aku benar-benar bodoh, bisa-bisanya aku marah padanya...
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih, Jennifer..." Aku melambaikan tangan, lantas menuju pagar sekolah, sekarang terdengar bunyi motor dan mobil yang lewat dengan kesibukan murid membeli jajanan di luar sekolah... keringatku bertambah, aku mengelap kepalaku dan lanjut berlari.
Maafkan aku, Raphael... kumohon jangan menghilang... aku akan bertemu denganmu di markas!