
"Woah, woah, woah, tunggu dulu, Sobat." Perempuan misterius itu membentangkan kedua tangannya ke depan.
"Kalian tidak akan bisa menang, dia ini kuat. Sangat kuat. Lihat? Atap bangunan ini hancur tanpa disentuhnya." Omni Menghilang berkata, menyombongkan rekannya.
"Kuat, ya... seperti tenaga super?" Raphael berbisik.
"Iya. Mungkin." Yuda membalas, sedikit ragu.
"Biarkan kami memperkenalkan diri, namaku Ava. Dan yang bisa menghilang ini namanya Dzar. Siapa tuan kami, kau bertanya? Jawabannya adalah orang yang menjanjikan kedamaian." BUUUMMM! Ava, perempuan itu, mengangkat tangannya sekali lagi, memukul udara lagi. Tapi angin kencang, super kencang, meruncing ke atas. Semuanya terkejut, bahkan para monster medium.
"Gh... siapa? Menjanjikan kedamaian? Maksudnya para konsil? Presiden? Siapa?" Leo semakin geram, penasaran.
Ava bersiap memukul. "MENGHINDAR!!!" Suara Leo mengalahkan perang, semua pasukan bergerak ke samping.
BUUUUUM!!! Pukulannya mengarah ke arah kami. Walaupun kami berhasil menghindar, serangannya mengenai tembok depan, hancur, kita bisa melihat jalanan luar dari dalam. Monster-monster mulai pergi, menyebar ke luar bangunan. Hendak menghancurkan apa saja yang mereka lihat secara meluas.
"Untungnya semua warga sudah dievakuasi..." Raphael berkata, sedikit bergetar.
Leo memberi sinyal, semua pasukan kecuali kami berlima pergi. Meninggalkan kami dan dua omni yang masih tertawa di dalam.
"Lima lawan dua, tapi kekuatan mereka..."
"Tenang saja, kita pasti menang." Leo berkata yakin, memotong kalimatku.
ZUNG! Dzar, Omni Menghilang itu tidak kasat mata. Pemandangan menyisakan Ava yang berdiri santai.
BWUUUSHH! Api biru Leo menyerang memenuhi area musuh, memperlihatkan Dzar.
"Leo, sepertinya kau bisa melawan Dzar, kekuatanmu itu cocok. Serahkan Ava pada kami." Raphael berusul, waspada.
"Tapi, Ava itu, kekuatannya di luar nalar. Kalian yakin?" Leo menatap kami semua, khawatir akan terjadi sesuatu.
Kami berempat mengagguk mantap. Bersiap sepenuh hati.
BUUUUUM! Ava memukul udara, mengarah kepada kami. Angin kencang menyerang, tapi kami sudah menghindar duluan. Dicampur api Leo yang masih membara tadi, pemandangan dipenuhi dengan api. Membutakan musuh sekaligus membuat waktu untuk kami menyiapkan posisi.
Lama-lama, api dan angin kencang mulai menghilang. Menyisakanku, Raphael, Jennifer dan Yuda melawan Ava. Dan Leo yang sedang melawan Dzar di sebelah kiri. Dengan api biru Leo, dia membuat pembatas di tengah menjulang ke atas, membuat Ava tidak bisa ikut campur dengan Dzar maupun sebaliknya. Sekalinya mereka melewati api birunya, tubuh mereka hangus terbakar.
"Nice!" Seru Raphael bangga.
"Bocah-bocah bodoh seperti kalian hanyalah pion untuk orang yang lebih pintar. Kalian seharusnya sadar!" BUUUM! Ava membuat pukulan ke arah kami, berhasil dihindari.
Aku dan Raphael maju menyerang. ZUNG! Seranganku dihindari, ZUNG! Serangan Raphael juga. BUUUUM! Ava memukul Raphael namun meleset, BUK! Aku memukulnya, membuatnya mundur tujuh langkah.
BUUUM! Ava tidak menyerah, dia memukul ke arahku, angin super kencang meleset namun kami hindari, Yuda maju ke depan.
WOSH! WOSH! SLASH! SLASH! SLASH! Hebat! Yuda menghindari dua pukulannya dan berhasil melukai lengan kirinya! Ava merengek kesakitan sekarang!
"Anak sialan!" BUUUUM! Dia melepaskan pukulan ke bawah, membuat tanah retak dan Yuda terpental ke atas.
"YUDA!" Seruku khawatir, menatapnya yang seolah-olah terbang.
"Bye." Ava melesat berada di depanku, hendak memukul.
__ADS_1
"FAL-" BUUUUM! Raphael hendak mendorongku, namun terlambat, aku terkena pukulannya. Angin super kencang menghantam tubuhku, mendorongku jauh.
Tunggu... eh? Pukulannya tidak mendorongku, hanya anginnya yang terasa kencang!
"Apa-apaan ini?!" Ava marah, menatap lengan kirinya yang penuh luka.
"Ini adalah seranganku." CRAT! Yuda yang terjatuh sempat-sempatnya menyerang punggung Ava, membuatnya duduk.
Kami bertiga mundur, kembali pada Jennifer.
"Kalian bertiga hebat!" Dia memuji.
"Seranganmu tadi, Yuda. Luka di lengan kirinya Itu melemahkan efek dorongannya saat dia menggunakannya! Jenius!" Aku memuji, dia mengangguk, masih menatap Ava waspada.
"Berarti... tugas kita hanya melukai tangannya sampai lumpuh! Tidak harus membunuhnya! Benar kan?"
"Ya jangan sampai lumpuh, Raf! Buat saja sampai pukulan kuatnya... tidak kuat!" Aku berargumen.
"Waspada." Yuda membubarkan, Ava sudah berdiri dari duduknya.
BRUKK! Ava menginjak ubin, retak. BUUUK! Menginjaknya lagi, rekahannya melebar. BRUUUKKK! Ubinnya hancur, Ava mengangkat batu besar dari bekas retakannya itu, bersiap melempar.
"Kalian sangat menyebalkaaaaaan!" WOOSH! Astaga! Baru besar itu dilempar menuju kita!
BRUKKK! Meleset, kami semua menghindar. Debu mengepul tebal menyiksa mata.
"Haha."
BUUUUUUM! Dengan lengan kanannya, Ava hendak memukul dagu Yuda, tapi Jennifer menghalanginya, dia terpental ke atas.
"JENNIFER!!!" Yuda berseru, SLASH! SLASH! SLASH! Melukai lengan kiri Ava, tambah hancur.
"Grrk aaghh gahhh! Apa yang kau lakukan dengan lenganku?!" Ava berseru kesakitan, BUK! Raphael menendangnya jauh.
Jennifer masih terpental, astaga, jauh sekali... dia hampir menghilang di atas langit.
"Tahan, Yuda. Jangan gegabah." Raphael menghalangi Yuda yang hendak menyerang ceroboh.
"Inilah akibatnya merusak lenganku, temanmu terpental, kan?" Ava terkekeh, masih menahan sakit. Lengan kirinya seperti batang pohon yang dipotong-potong oleh anak-anak nakal, luka di mana-mana.
"Omni sialan..." Yuda geram, hendak menyerang. Namun ditahan lagi oleh Raphael.
Sekilas, siluet tubuh Jennfier terlihat. Aku bersiap menangkapnya.
"Tidak akan kubiarkan!" BUUUM! Ava melepas pukulan keras ke arahku, Raphael dan Yuda menunduk.
"FALISHA!" Raphael berseru cemas.
WOOSH! Aku melompat, angin super kencang meleset. Buk. Aku menangkap tubuh Jennifer.
Astaga...
Dagunya retak, rusak, matanya tertutup...
__ADS_1
Duk. Aku mendarat sempurna.
"JENN!" Aku mencoba menyadarkannya...
...
Tidak ada jawaban...
"Aku masih... bisa bertarung." Sy... syukurlah! Dia akhirnya menjawab!
Jennifer mengusap darah di bibir, Yuda mendekat.
"Jenn, aku minta maaf..." Yuda berkata halus, menatap Jennifer penuh perhatian.
"Eh, tidak apa-apa... ini... hanya luka kecil..." Balas Jennifer.
"Tapi... dagumu..."
"Tidak apa-apa, Yuda." Jennifer tersenyum, berusaha berdiri.
Raphael cemas melihat Jennifer, separuh waspada terhadap Ava.
"Oh, ayolah! Bukan saatnya drama remaja! Hei, kalau wanita pirang itu mati, masih ada orang yang lain! Benar, kan?" Ava tertawa, memegang perutnya.
"A... APA MAKSUDMU?!" Aku berdiri, berjalan melewati semuanya.
"Bagaimana... bagaimana bisa... apa yang ada di otakmu itu saat kau melukai orang lain?! Apa?! Saat kau mengambil kebahagiaan orang lain, apa kau senang?! Bangga?! Bahagia?! Apa?! Bagaimana bisa kau tertawa, bahkan tersenyum setelah membuat hidup jiwa lain menderita?! APA YANG ADA DI KEPALAMU ITU?!" Aku berseru, seluruh ruangan dipenuhi gema dan amarahku.
"Woah, Sobat... kau marah sekali sepertinya..." Sial! Dia menganggap remeh perkataanku.
Raphael menepuk bahuku. "Fal... tenanglah..."
Setelah sepuluh detik mencoba menahan, aku menarik napas berat, mencoba tenang...
"Teman-teman, ini buruk. Darah mengalir deras keluar dari mulut Jennifer, pukulan tadi bukan main-main..." Yuda membantu Jennifer duduk.
"Aku masih... masih bisa! Aku masih bisa bertarung!" Jennifer menimpali, walaupun batuk berdarah...
Hening sejenak, aku menatap mereka. Kasihan sekali...
"Yuda, jaga Jennifer. Serahkan Ava padaku dan Falisha-"
"Tapi..." Jennifer hendak memotong.
"Tapi!" Kata-kata Jennifer dipotong balik oleh Raphael.
"Tapi... kalau kau masih yakin ingin bertarung sampai mati, pastikan kau tidak berhenti di tengah perjalanan, itu bisa membuat masalah kepada rekan sendiri." Raphael menatap Jennifer penuh keteguhan. Serentak, wajahnya terlihat seperti Leo, seperti pemimpin.
Jennifer terbatuk, bunyinya pasti sakit sekali... lalu dia berdiri perlahan.
"Kalau boleh jujur... tugas OSIS lebih rumit dan menyakitkan dibanding ini. Hahaha, aku akan bertarung sampai akhir. Aku punya tujuanku sendiri." Wajah Jennifer sangat marah, urat di lehernya terlihat, matanya melotot. Sangat mengerikan...
Krek! Ava meregangkan tangan kanannya. Hanya itu dan kedua kakinya yang masih bisa digunakan, ini progress yang lumayan.
__ADS_1