
Aku berteriak kaget ke arah Jennifer. "Pengkhianat?! Siapa?!"
"Ini buruk ... sangat buruk ... salah satu dari delapan komandan adalah pengkhianat? Dan itu juga berpotensi Jenderal Karlo?!" Jennifer juga terlihat panik, berpikir sebentar.
"Pasti Mordo! Itu orangnya! Dia adalah komandan terburuk sedunia!"
"Tapi ... Mordo memiliki banyak rekor yang belum pernah dipecahkan sebagai pasukan, Fal. Sepertinya bukan dia orangnya-"
"Dia melukai Yuda dan Raphael sampai pingsan, Jenn! Mordo itu bukan orang yang baik-"
"Apa?! Di mana?!" Wajah Jennifer berubah drastis, perhatiannya berganti penuh kepada kata-kataku barusan.
"Di restoran, kenapa?"
Dia melepas alat kecil di telinganya. Tanganku dipegang, kita hendak pergi. "Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi?! Kita harus menghampirinya! Ayo!"
Lantas, berlarilah aku dengannya ke restoran milik Leo, lagi. Aku tidak percaya, saking sebalnya kepada Mordo, aku lupa akan keberadaan Yuda dan Raphael ...
Camkan kata-kataku ... Mordosstafa itu bukan orang yang baik. Walaupun jasanya banyak, kau tidak akan menyukai meminum teh hangat dengannya. Dasar menyebalkan ...
...***...
Sampai di restoran Leo. Beberapa orang ada yang mengurus kebersihan tempatnya, mereka dibayar untuk membereskan hal-hal seperti ini. Pasukan yang lain juga sudah pergi, tidak terlalu memperdulikan hal tadi.
"Halo, Pak!" Jennifer menyapa salah satu karyawan.
"Ya!" Dia membalas, lantas menunduk setelah menyadari seragam yang kita kenakan.
"Bapak melihat dua anak laki-laki yang pingsan? Sepertinya mereka diserang dengan parah, hingga jendela yang itu bisa hancur." Jennifer menunjuk jendela di belakang, pecah, bersama tumpukan kayu yang hancur bekas meja.
"Mereka sudah dipindahkan, kalian bisa menjenguknya di ruangan medis markas."
"Baik, Pak. Terima kasih." Dia kembali memegang tanganku, membawa kami pergi menjauh.
Astaga, di sini benar-benar kacau. Restoran Leo bisa seperti ini hanya karena Mordo ... sekuat apa dia?
...***...
"Yuda!!!"
Ruangan medis sangat sepi. Tirainya banyak yang terbuka dan hanya dua yang digunakan. Raphael berbaring tidak sadarkan diri. Yuda terduduk diam menunduk.
Lalu, mendengar seruan milik Jennifer, kepala Yuda naik cepat.
"Jennifer ...?"
"Astaga! Yuda! Kukira kau terluka parah ... separah itu kah Mordo menyerangmu?!" Mereka berpelukan cepat, erat. Aku tersenyum sebentar, kemudian senyumku hilang melihat kepala Raphael yang lebam dan lecet di tempat yang sama. Sepertinya hanya itu luka miliknya.
__ADS_1
"Raf ..." Aku memegang tangannya. Kasihan sekali ... belum pernah aku melihat Raphael semarah itu kepada seseorang. Setelah nama orang tuanya disebut, dia maju begitu saja menyerang Mordo. Kemarahannya tadi lebih buruk dibandingkan saat penyerangan rumah jamur berminggu-minggu yang lalu ...
"Ya tuhan, Raphael ..."
"Dia kuat ... jangan mengkhawatirkannya Jenn, Fal, yang harus dipikirkan adalah Mordosstafa. Sepertinya dia memiliki ambisi yang sangat kuat. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi pasti bukan hal yang baik." Yuda mencoba menenangkan
"Benar. Mordo pasti merencanakan sesuatu. Ada baiknya kalau kita menguntit!"
Jennifer terkejut. "Jangan, Fal. Kalau ketahuan, Mordo bisa menghajar kita lebih buruk."
"Aku tidak peduli! Dia harus membayar karena telah melukai Raphael!"
"Tapi sepertinya menguntit adalah ide yang buruk. Bagaimana kalau kita bertanya kepada Leo? Dia punya pengalaman hidup dengannya, pasti ada sesuatu yang berguna yang bisa kita tahu." Yuda menimpali.
"Tidak perlu."
Tanpa disadari, Raphael terbangun.
"Raf!" Aku gercap saja memeluknya, sambil mempertimbangkan keeratannya agar dia tidak merasa kesakitan.
Tapi ... kali ini dia tidak membalas pelukanku. Kepalanya tertunduk penuh, sedang memikirkan sesuatu.
"Kalian ingin menguntitnya silahkan saja. Aku tidak mau ikut."
"Tapi kenapa, Raf?" Aku bertanya.
"Mordosstafa bukan tandingan kita, Leo benar. Kita memang sudah berpetualang bersama, seperti Arkane, Hari Pembantaian, Omni Telekinesis di Daerah Selatan, dan konflik lainnya bersama-sama. Tapi kali ini, lawan kita selevel Leo, seorang Komandan, insting Mordo melebihi Komandan Yakza, bahkan Komandan Kiara. Kemungkinan gagalnya di atas seratus persen. Lagipula ..."
Raphael tiba-tiba berhenti. Aku menatapnya prihatin.
"Lagipula?" Jennifer heran.
Dia menarik napas berat. "Lagipula dia benar. Orang tuaku ... tidak membesarkanku dengan baik, sampah. Apa hakku untuk mengikuti rencana kalian menguntit Mordo? Aku ini anak buangan."
Aku terkejut. "Kamu bicara apa, sih?!"
"Dengar, Fal. Banyak hal yang tidak kau ketahui tentangku. Begitu juga dengan kalian, Jenn, Yuda, kalian tidak tahu apa-apa tentangku. Coba jawab, apa warna kesukaanku? Apa aku punya kakak? Bagaimana hubunganku dengan keluargaku? Apakah kalian tahu?"
Hening, tidak ada yang menjawab.
Raphael menunduk lagi. "Sudah kuduga."
Giliranku menghembuskan napas, inilah momen yang tepat untuk bertanya. Akhirnya setelah ditunggu-tunggu, aku menemukan waktu yang pas. "Tapi ... kita kan sahabat, Raf ... kamu pernah bilang bahwa kita bisa menjadi duo yang menguasai dunia, kamu mau menemaniku bahkan saat sikapku waktu itu sangat buruk dan aku tidak punya teman. Kamu juga membelaku tanpa henti, walaupun sebelumnya aku marah dan menghinamu habis-habisan. Itu adalah jasa yang lebih baik dari apa pun yang pernah kuterima dari seorang manusia, Raf."
Kepalanya naik sedikit, mata Raphael melihatku secara tulus, dan lelah. Kasihan sekali ...
"Sungguh?"
__ADS_1
"Iya, sungguh. Jadi apa pun masa lalumu, ketahuilah bahwa ... semua hal yang kamu lakukan kepadaku itu sangat berarti bagiku. Bahkan lawakanmu yang garing itu." Aku terkekeh.
Jennifer dan Yuda tertawa sedikit, Raphael menatapku sejenak.
Lantas, dengan cepat dia berdiri dan memelukku kembali.
"Terima kasih ... Fal, aku ... orang tuaku tidak pernah peduli kepadaku. Selama itu aku hidup hanya didampingi oleh pembantu. Ayah dan Ibu selalu saja melupakanku. Maka dari itu aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa mereka, dengan tidak menunjukkan kesedihanku sama sekali. Tapi ... justru rasanya sangat menyakitkan ... memalsukan emosi setiap saat, setiap detik setiap waktu ... Saat Mordo mengungkit nama Ayah dan Ibuku, aku teringat akan semuanya ..." Raphael terisak, menangis. Aku juga, menepuk-nepuk bahunya.
"Yah, kamu tidak perlu melakukan itu lagi. Sahabat tidak pernah berbohong."
"Tidak juga sih, terkadang kita terpaksa berbohong." Dia mengguyon, kita berdua tertawa. Aku mengusap air mata di pipiku.
"Maaf Jenn, Yuda, karena sudah marah. Kalian benar, Mordo itu menyebalkan, kita harus menguntitnya. Dan kalaupun gagal, kita akan menerima resikonya bersama."
"Itu baru semangat!" Jennifer mengepalkan tangan.
"Ayo, kita kasih dia paham siapa kita sebenarnya." Yuda tersenyum.
Oke, ini saatnya ...
"Raf ... kalau boleh tahu, kenapa kamu mau berteman denganku? Delapan tahun yang lalu, saat aku cemburu karena kamu menang lomba matematika, aku tetap ditemani olehmu. Kenapa? Yang wajar adalah aku dibenci, dan dijauhi oleh anak-anak lainnya. Tapi kamu? Kenapa kamu malah mau berteman? Apakah ... apakah ada alasan yang khusus ...?" Kami bertatap-tatapan sempurna. Raphael sedikit melotot, hatiku berdetak kencang menunggu jawabannya. Apakah dia ... menyukaiku ...?
"A ... aku ..."
"Anak-anak."
SIAL! Seseorang masuk ke dalam! Ada tamu di saat-saat seperti ini?! Siapa sih?!-
"Hei, bagaimana keadaan kalian?" Leo dengan wajah yang pucat, datang melambaikan tangannya.
Aku belum meminta maaf kepadanya.
"Leo!"
"Nanti, Falisha. Hei Raphael, Yuda, kalian sudah sembuh?" Leo mengangkat tangannya, mengabaikanku.
Yuda dan Raphael mengangguk.
"Leo, aku-"
"Baik, ayo. Masuk ke kantorku. Ada hal menarik yang harus kalian tahu." Leo memotong kalimatku, lalu pergi begitu saja meninggalkan kita. Astaga ... apakah, apakah Leo ... marah kepadaku ...?
Jennifer mengusap bahuku. "Mungkin ... dia hanya lelah, Fal. Leo tidak pernah marah kepada kita, kan? Hanya tegas, itu saja."
Aku menggeleng. "Sepertinya ... dia marah, Jenn. Aku memanggilnya 'Tolol' tadi, astaga ... aku sangat menyesal ..."
Dan di saat yang tidak tepat, sekarang, terlihat dari ruang medis bahwa Mordo masuk ke dalam kantor Leo, tujuan kita sekarang.
__ADS_1
Haduh ... kenapa sih dia harus ikut?! Argh!!!