
Eh, apa? Raphael merasakannya?
"Menyembunyikan sesuatu darimu?"
"Iya, Fal... seperti... seolah-olah kau mendapatkan sesuatu dari pertarungan itu. Tapi aku tidak tahu, bisa saja hanya firasatku." Dia menunduk berpikir. Kami masih berjalan di atas tangga menuju lantai berikutnya.
Setelah beberapa langkah, akhirnya sampai. Lagi-lagi gelap dan tidak ada apa-apa...
Haruskah kuberitahu Raphael tentang itu? Ah, mungkin nanti... eh, sekarang sepertinya bisa...
"Raf, sebenarnya aku-"
JENG! Lampu tiba-tiba menyala, lampu yang sangat terang di atas, pemandangan berubah, ada banyak lubang setinggi telapak kaki sampai kepalaku di seluruh tembok.
"Eh? Lubang apa ini?" Jennifer bertanya.
"Tunggu, ada tombol." Yuda menunjuk ke arah depannya. Ya... ada tombol berwarna merah yang berada di sana. Kenapa bisa ada tombol-
"Semuanya, berkumpul!"
Eh?
Komandan Yakza berseru, kami berjalan ke arahnya, hampir menempel.
Kemudian, tiba-tiba saja dari lubang-lubang itu keluar anak panah berkali-kali.
"Astaga! Bagaimana ini?!" Aku panik.
BUK! Komandan menusuk ubin dengan pedang-
Eh- ini bukan ubin, ini tanah! Lantai bangunan ini adalah tanah!
BRAK! Tanahnya naik tinggi. Kami berlima semuanya sekarang berada di dalam tanha lindugnan buatan Komandan, menutup anak panah yang meluncur itu dengan tanah agar tidak menusuk kami! Itu kekuatannya! Manipulasi tanah!
"Hebat, Komandan!" Jennifer berseru.
Karena bangunan ini berbentuk tabung, anak panahnya keluar dari segala arah. Kanan, kiri, depan, belakang, semuanya kena.
Aku menghela napas lega. Ada jaminan kami aman.
Suara ketukan anak panah yang menusuk gumpalan tanah menerpa. Sekarang, bagaimana caranya keluar?
"Kita harus bergerak secepat mungkin dan hancurkan semua lubangnya!" Raphael berusul.
Kami menatap Komandan, menunggu persetujuan.
"Itu terlalu berbahaya, Raphael." Dia membalas.
"Tapi..."
"..." Mereka menatap satu sama lain, pada akhirnya Komandan mengagguk pelan. "Baiklah"
"Benarkah?" Raphael terlihat senang.
"Ya, tapi, jangan keluar dari tanahku. Dan bergerak di belakangku."
"Yes!"
Kami semua bersiap, Komandan Yakza memberi sinyal. Tanah lindungan bergerak mengikuti kami berjalan ke depan, agar tidak terkena anak panah itu.
Astaga... bagaimana rasanya jika ditusuk anak panah, ya? Eh, kenapa memikirikan hal itu?!
Kami masih melangkahkan kaki perlahan, setidaknya ada pergerakan. Masih ditemani dengan suara tanah yang berlubang terkena ratusan serangan.
__ADS_1
Buk! Terdengar suara ketukan, sepertinya kita mengenai tembok bangunan ini.
"Sudah di ujung." Komandan Yakza berbisik.
BRUK! Dia memukul tanah yang melindungi kami, di bagian luar, tanah itu memanjang ke depan, merusak bagian dari lubang anak panah di hadapan kami.
"Eh, berhasil?" Jennifer heran.
BUK! BUK! BUK! BUK! Komandan Yakza memukul tanah ke segala arah, lantas bagian luar yang dipukul memanjang hingga ke ujung, menghancurkan lubang-lubang lainnya.
Ini adalah salah satu serangan pamungkasnya, di mana tanah untuk melindungi rekan, bisa digunakan untuk menyerang musuh. Bagian dalam melindungi, bagian luar menyerang, memanjang.
Suara anak panah mulai mengecil, sepertinya strategi Komandan berhasil!
"Ini tidak akan cukup. Sepertinya kita harus menekan tombol merah itu." BUK! BUK! BUK! BUK! Komandan Yakza masih menghantam.
Kami semua menunduk berpikir. Kasihan sekali dia berjuang sendirian... apa yang harus kulakukan? Apa? Ayolah, berpikir Falisha!
"Aku akan berlari di luar, Komandan." Yuda berusul.
Hah?!
"Yuda! Kamu bisa tertusuk!" Aku menepuk bahunya, apa yang dia pikirkan?
"Dengar dulu... Komandan Yakza bisa memanipulasi tanah, kan? Dia bisa membuat satu lubang di tanah ini untuk melihatku, dan satu tanah lindungan baru untuk menutupku sambil berlari ke arah tombol. Saat sudah dekat, tanahnya bisa dibuka dan tinggal menekan tombolnya saja. Pastikan aku yang berlari, jangan Komandan, kami tidak bisa kehilangannya." Dia memperjelas rencananya. Wah... boleh juga itu. Tapi aku masih cemas... bagaimana kalau dia...
Tep. Raphael menepuk pundakku. Seolah-olah menyuruhku untuk percaya padanya.
"Baiklah..." Aku melepaskan bahu Yuda.
"Terima kasih."
"Hati-hati!" Jennifer berseru.
Yuda berjalan ke samping Komandan.
Dia menutup matanya, lantas menangguk.
"Ya."
...
Semoga berhasil, Yuda.
BRRK! Tanah lindungan membuka sedikit, Yuda lincah berlari ke luar, BRAK! Ada tanah baru melindungi semua arah Yuda, terpisah dengan milik kami, lalu tanah lindungan yang kududuki menutup lagi.
Phew... kami semua menghembuskan napas... semuanya aman, belum ada korban...
Komandan melihat melalui lubang kecil di depannya. "Yuda!"
"Aku aman, Komandan!"
"Yes!" Jennifer lega, mengangkat tangannya, "Semangat!"
Kami tidak bisa melihatnya, tapi ada getaran yang mengindikasikan pergerakan tanah lindungan milik Yuda.
Perlahan, Yuda maju, sedikit guncangan terasa.
"Hati-hati!" Aku khawatir memperingatkan.
Vibrasi demi vibrasi, kami merasakannya sambil membayangkan seberapa jauh langkahnya.
"Aman!" Dia berseru, lagi-lagi kami menghela napas...
__ADS_1
"Fal... tentang hal tadi."
"Ha?" Aku menyahut, Raphael ingin membicarakan apa?
Oh, hal tadi... kekuatan tameng milikku, ya...
Haruskah kuberitahu? Tapi aku masih bingung bagaimana cara memakainya...
Sial, artinya aku harus menemui Logan lagi. Si tua sialan itu...
BUK!
"YUDA!"
Komandan berseru! Ada apa?!
BREKK! Yuda dengan tanah pelindungnya ditarik, melalui tanah milik kami, dia masuk menembusnya. Yuda bergabung kembali seperti semula.
"Ada apa, Komandan?" Dia terbatuk perlahan, Jennifer membantunya berdiri. Kasihan sekali ditarik secepat itu.
"Maaf. Lihat."
BUM! Setelah satu per satu kami melihat ke bolongan kecil yang disiapkan Komandan, bisa dibilang situasi mulai parah. Tanpa kami sadari, anak panahnya membesar, ukurannya lima kali lipat dari biasanya. Walaupun beberapa lubang sudah hancur, sisanya melabu, sekarang besarnya setengah tubuhku.
"Apa yang Kak Liona pikirkan?! Sewaspada itukah dia terhadap omni hingga membuat hal segila ini?!" Raphael berkomentar, sambil mengaduh pelan memegang kepalanya.
BUM! BUM! BUM! Beberapa anak panah yang besar menghantam tanah lindungan, beberapa tembus sedikit. Kami jadi semakin panik. Runtuhan tanah kecil-kecil di atas mulai berjatuhan, mengotori wajah.
BUM! Kali ini benar-benar hampir mengenaiku, syukurlah aku sempat menghindar. Ini semakin gawat!
Komandan Yakza menghembuskan napas. "Baik. Kalian tunggu di sini."
Ha? Apa yang ingin dia lakukan?
Tunggu, jangan-jangan...
"TIDAK!" Jennifer berseru, memegang lengan Komandan dengan kedua tangannya.
"Aku harus melakukannya. Demi serum itu, demi Yuvia."
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Jennifer-"
"Pokoknya aku tidak mau!"
...
Hening, eh tidak hening juga, maksudku tidak ada yang berbicara... telingaku dipenuhi suara dentuman keras anak panah raksasa.
"Tidak ada cara lain, Jennifer. Aku harus maju sendirian, tanahku cukup tebal untuk memberiku waktu."
"Tapi tanahmu tidak cukup tebal untuk melindungimu! Anak panah ini terlalu besar dan cepat! Kau tahu itu, kan?! Kau bisa..." Jennifer sedikit terisak, matanya berkaca-kaca...
Komandan Yakza membungkuk, tubuh tingginya itu merendah.
"Dengar, Jennifer... apa pun itu, kau pasti akan menemukannya. Pasti akan ada satu cara untuk mempertemukan kalian berdua, yakinlah akan hal itu. Mengerti?"
"..." Jennifer menunduk. Apa yang mereka bicarakan? Ada apa dengan Jennifer?
Komandan berdiri lagi, menarik napas.
...
__ADS_1
Tidak... Komandan Yakza penuh hormat dan kasih sayang. Aku tidak mau kehilangan dirinya, Jennifer sudah pasrah, tapi aku belum. Tidak sekarang orang yang baik akan dibunuh karena omni.
"KOMANDAN YAKZA!" Sedetik sebelum dia membuka tanah lindungan, aku berteriak hebat padanya. Semua orang melihatku sekarang...