Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Dia Pasti Selamat


__ADS_3

"Apa itu tadi?!" Dia akhirnya bangkit. Tatapan pada pedangnya sendiri menjadi semakin heboh. Kami masih terkejut akan apa yang terjadi, ledakan tadi sangat hebat. Monster besar langsung hilang dan hancur karenanya.


"Barusan... jangan-jangan itu kekuatanku, ya? Kekuatanku adalah ledakan?! Astaga! Itu luar biasa! Keren!" Sekarang setelah menyadarinya, dia melompat-lompat ceria. Riang bergerak ke mana-mana. Aku menepuk dahi, bisakah dia lebih serius sesekali?


"Itu hebat, Raf! Selamat!" Jennifer mendukungnya sambil mengepalkan tangan. Yuda juga terkesima.


"Bagaimana caramu melakukannya tadi?" Aku bertanya seiring dia mulai berjalan kembali, membentangkan pedangnya dengan kedua lengan.


"Aku tidak tahu... sungguh. Mungkin..." Raphael hendak menjawab, tapi kata-katanya terhenti secara tiba-tiba.


...


"Ada apa?" Tanyaku heran.


"Aku... tidak mau kehilanganmu, Fal. Saat kau hendak ditusuk tadi, pikiranku dipenuhi dengan hidup tanpamu. Dan otomatis, aku sangat membencinya. Lalu ledakan itu keluar secara tiba-tiba." Raphael membalas sambil sedikit membungkuk. Dia meletakkan kembali pedang cahayanya.


...


RAPHAEL!!! APA, SIH?! KENAPA KATA-KATANYA ITU SEAKAN-AKAN...


"Fal, wajahmu memerah." Yuda menimpali, aku tahu! Tidak usah diperingatkan!


"Hahaha... ya sudah. Mungkin kita semua bisa mengaktifkan kekuatan di saat yang sama, yaitu ketika kita terlalu menyayangi seseorang dan tidak mau kehilangannya. Di situlah otak dan pedang kita bersatu, melindungi mereka." Jennifer terkekeh, kemudian menjelaskannya secara lebih dalam.


Mungkin dia benar... saat kekuatanku pertama kali aktif, Raphael hampir meninggal karena Logan sialan itu...


"Terima kasih, Raf. Telah menyelamatkanku." Aku menggaruk kepala. Masih sedikit malu.


"Iya, sama-sama."


Sunyi sejenak. Lembah hijau muda semakin terlihat lengang, asap hitam mulai menghilang.


"Berarti... hanya aku yang belum membangkitkan kekuatan pedangku, ya..." Yuda berkata lemas. Dia menundukkan kepalanya. Kasihan sekali... kuharap aku bisa membantunya, cara apa pun akan kulakukan agar dia bisa memunculkannya...


Tep, aku menepuk bahu Yuda. Maaf... aku tidak tahu harus bicara apa. Kemampuan sosialisasiku berkurang semenjak Ibu dibunuh.


"Hei... buat apa kecewa? Lihat kita. Lihat kalian. Bertahun-tahun perjuangan tanpa kekuatan, dan kalian dibilang kebanggaan pasukan berkali-kali, kan? Jangan murung begitu, Yuda. Selama kita bersatu dan bersama, tidak ada yang bisa menghentikan kita." Ternyata, Raphael yang membuka mulut. Dia membuat hawa menjadi lebih baik. Raphael... aku harus belajar banyak darimu...


Akhirnya, Yuda tersenyum lebar. "Terima kasih, Raf."


...***...


"Baik, kalian siap?" Aku bertanya. Semuanya mengangguk.


Woosh! Aku masuk duluan ke lubang yang dituju Komandan Yakza tadi.


"Woaaah!" Astaga! Aku berada di dalam pipa besar sambil merosot! Tapi bersih dan bening... di luarnya terlihat semacam besi. Inikah pintu masuknya?!


Laboratorium Kak Liona, sepertinya bukan yang bisa kubayangkan...

__ADS_1


Tep! Tep! Tep! Aku bisa mendengar suara ketukan teman-temanku yang akhirnya ikut masuk, beserta seruan terkejut mereka.


"Kenapa harus begini, sih?! Bisakah pintunya biasa saja?!" Raphael komplain hebat. Dia orangnya gampang mual...


"Jangan muntah!" Aku bergurau.


"Berisik!" Balasnya sebal.


Panjang sekali! Sudah lebih dari dua menit kumeluncur di pipa besar ini! Sedalam itu kah?!


Eh! Ada lubang lagi! Jangan-jangan itu...


Tunggu, aku akan jatuh!


"TOLONG!!!" WOOSH!!! Aku berseru hebat, suaranya memenuhi pipa panjang. Tepat sebelum tubuhku jatuh menghantam tanah, aku malah terbang. Ada angin kencang yang berasal dari bawah.


WOOSH! WOOSH! WOOSH! Raphael, Jennifer dan Yuda akhirnya sama, melayang seperti ikan.


"WAH!!! ASTAGA!!! TOLONG AKU!!!" Dia berteriak panik. Wajahnya hendak muntah, aku tertawa sekaligus cemas menatapnya.


"Raf! Kita sudah sampai!"


"...hah?"


Akhirnya Raohael membuka mata. Heran kenapa kita bisa terbang. Kaki dan tangan kami mengangkat ke atas.


BUK! Sebelum kusempat menjawab, tubuh kami akhirnya jatuh dari jarak sepuluh centimeter. Tidak sakit, semuanya selamat.


"Phew... iya. Sepertinya teknologi baru..." Jennifer yang menjawab. Dia menghembuskan napas lega.


Astaga... tempat apa ini? Ubinnya berbahan besi, dan ruangannya seperti Bedanya ini sangat bersih, dan berwarna abu-abu. Temboknya dipenuhi dengan kaca yang melindungi benda tabung aneh.


"Di mana Komandan Yakza?" Jennifer bingung bertanya. Sudah ke mana-mana dia mencari, tapi tetap saja, tidak ada.


"Mungkin kita harus mencari lebih dalam. Berjalan ke arah sana." Yuda berusul menunjuk ke depan. Lorong melingkar yang sangat panjang. Sebesar ini laboratoriumnya?


"Aku setuju." Raphael mengagguk.


Baiklah. Ayo kita lakukan.


Melalui ubin besi, kami melangkahkan kaki. Melewati kaca-kaca berisi benda aneh dan kabel-kabel misterius di sampingnya. Lampu di atas juga terang benderang, terkadang membuatku pusing.


Hanya ada suara dengungan gema langkah kaki yang hadir, sisanya bisu. Tidak ada di antara kami yang bicara, terlalu kagum terhadap semua ini. Kak Liona... kenapa kamu tidak pernah bilang padaku tentang ini? Semuanya sangat keren!


Srep! Raphael di paling depan mengangkat tangan, otomatis kami diam.


"Ada apa?" Bisikku.


Bulu di tubuhku mulai naik. Aku mendengarnya, suara menggelikan dan aneh berada dari depan sana. Apa itu?

__ADS_1


Tung!


...


Buk! Aku menepuk bahu Raphael. Hanya tikus kecil!


"Salahkan tikusnya! Kenapa dia ada di sini?" Dia membalas heran.


Haduh... aku sangat lega... kukira ada hal yang berbahaya.


BUM!!! Seluruh ruangan mendadak bergetar, kami mencoba menyeimbangkan posisi.


"Nah, sekarang baru bahaya." Jennifer sedikit panik, sempat-sempatnya tertawa.


"Ayo maju! Itu pasti Komandan!" Yuda berkata. Langsung saja kita melesat maju melewati lorong aneh ini.


BUM!!! BRUK!!! BAM!!!


"Ada apa di sana?! Kenapa berisik sekali?" Aku keberatan, mengusap debu di pipi.


"Mereka bertempur. Komandan dan Omni itu." Jennifer yang sedang berlari menjawab. Kecepatannya paling kencang di antara kami semua.


Sial! Ada beberapa monster kecil di depan!


SLASH! SLASH! SLASH! CRASS!!! Astaga, wanita itu membantai semuanya langsung! Tidak memberikan kesempatan menyerang!


"Tidak ada waktu untuk itu. Komandan... jangan kalah, kumohon!" Dia berujar sambil memejamkan mata sejenak. Masih berlari ke depan, kami mengikutinya.


BUM!!! Ruangan bergetar lagi. Beberapa debu berjatuhan dari atas.


"Pleh!" Aku terbatuk-batuk. Kak Liona! Kenapa tidak buat robot pembersih laboratorium sih?


"Sedikit lagi! Aku bisa merasakannya!" Suara Jennifer mengecil dan takut. Kakinya mulai bergetar seiringnya berlari. Napasnya juga terdengar semakin berat.


"Komandan pasti akan selamat, Jenn." Yuda menenangkan. Berdiri menyusulnya dengan cepat, berkata dengan halus.


Hening. Suara langkah kami yang cepat memenuhi ruangan.


Jennifer menarik napas berat. "Terima kasih."


Tap! Tap! Tap! Tap!


"Lihat!" Aku menunjuk ke depan. Apa itu?! Ada pintu besi yang sangat besar.


BUM!!! BUM!!! BUM!!! Suara getaran dan dentuman kali ini semakin besar. Aku bisa merasakan gendang telingaku yang muak mendengarnya. Gempa yang disebabkan juga tambah keras, pintu besi itu melengkung sejenak seperti karet.


"Tidak salah lagi. Suaranya berasal dari situ." Raphael menghentikan langkahnya, menarik napas lelah. Kami juga serupa.


Kuseka dahiku yang penuh dengan keringat, memegang pedang cahaya dengan tangan satunya. "Baiklah... ayo."

__ADS_1


__ADS_2