
Pemakaman Pak Zed, tidak jauh dari markas.
Semua pasukan berkumpul, dari semua daerah. Aku, Yuda, dan Raphael berdiri bersampingan, bersama prajurit daerah barat lainnya melihat tubuh Pak Zed yang dimasukkan ke dalam peti berwarna putih.
Cahaya terang bersama langit biru menyinari semua orang. Aku terisak sambil bersedekap, Yuda menepuk-nepuk bahuku dengan lembut.
"Pak Zed, ya ..." Raphael berkata halus. Sepertinya dia sudah mengenalnya dari lama.
"Pak tua itu, ha. Setiap ada waktu luang, aku pasti bermain catur dengannya, terkadang sampai tengah malam." Dia melanjutkan perkataannya, menghadap kami berdua.
"Sungguh? Catur?" Yuda bertanya.
"Ya. Dan sampai sekarang aku tidak pernah menang. Dia memang sangat berbakat." Raphael terkekeh. Aku menghadapnya sekilas.
Leonardo bersama tujuh komandan lainnya berbaris di paling depan, menggunakan pedang cahayanya untuk membuat sinar terang ke atas. Jenderal Besar Karlo tepat di depan peti putih itu hendak berbicara.
"Tidak ada satu pun kata-kata dari mulutku yang akan berbanding dengan pengorbanan Zed selama bertahun-tahun menjadi pasukan. Dengan total 323 lebih misi, belasan murid tambahan, dan jasa lainnya yang di luar batas, aku sangat malu harus berhadapan dengan orang sehebat ini." Ucapnya tegas, dan berwibawa. Walaupun suaranya sedikit kasar, aku tahu Jenderal Besar Karlo sedang berduka dalam hatinya.
"Zed Aloandra Drefia, kami bersumpah! Yuvia akan aman di tangan kami. Zed Aloandra Drefia, kami bersumpah! Semua misteri akan terpecahkan. Zed Aloandra Drefia, kami semua bersumpah!"
"Kami bersumpah!" Semua orang mengikuti dua kata Jenderal.
"Akan membuat pengorbananmu tidak sia-sia."
BUM!!! Delapan Komandan meluncurkan serangan ke arah atas dari pedangnya. Api milik Leo, retakan tanah milik Komandan Yakza, es milik Komandan Kiara, dan sisanya yang tidak begitu jelas apa kemampuannya. Mereka meluncurkannya ke atas agar Zed bisa mengerti, kita bisa mencapai atas, puncak, dan setara dengan kekuatan Zed. Kita akan berjuang bersama dan sepertinya, sampai napas terakhir.
Sesi akhir, Komandan Kiara dan Firza yang menurunkan petinya ke dalam tanah. Beberapa hari yang lalu, misi menuju Daerah Selatan sudah selesai, namun sulit sekali bagi banyak orang untuk menerima Firza yang setengah omni, bahkan beberapa serangan terjadi di markas. Tapi dengan bantuan Leo, Komandan Kiara dan lainnya, sudah ada banyak pihak yang pro tentang kehadiran Firza sebagai manusia bebas. Dia bukan ancaman bagi kita.
Azriel masih belum sadarkan diri, sudah hati keempat dan tubuhnya terkulai di kasur ruang medis markas, wajahnya sangat lemas dan kesakitan, sungguh kasihan ...
Dan terakhir, diriku sendiri.
Aku diperiksa oleh profesor dan ilmuan tertinggi markas. Berkat jarum yang membuat semua tubuhku menjadi lebih kuat itu, mereka bilang aku berpotensi untuk selamat dari serangan nuklir. Tapi yah ... aku masih harus membiasakan diriku dalam kondisi baru ini. Menjadi 'orang yang paling kuat' lebih sulit dan aneh dari yang kukira.
Pokoknya, kekuatan ini tidak akan sia-sia. Pak Zed, terima kasih. Aku akan melindungi semua orang dengan kemampuan baruku ini!
...***...
__ADS_1
Siang hari, di Leonardo's Reservation. Tempatnya seperti biasa, ramai dengan para pasukan. Sekarang peraturannya adalah restoran ini hanya boleh dibuka selama dua jam per hari, dari jam sebelas sampai satu siang.
Leo mentraktir kita bertiga untuk yang kedua kalinya, ada dua alasan kenapa dia melakukan itu. Satu, agar aku, Yuda dan Raphael bisa beristirahat dengan santai setelah misi yang berat. Kedua, dia hendak memberitahu sesuatu.
"Bagaimana? Enak, kan?" Leo berkata seiringnya menggigit hotdog panjang.
Aku melamun, menatap gelas berisi leci dingin yang daritadi sudah dihidangkan. Makanan yang kupesan sama, bruschetta, roti-roti kecil dengan daging di atasnya.
"Eh, Raja Galau, jawab tuh!" Raphael menepuk bahuku.
"Eh, apa sih?!"
"Makanannya enak? Dengarkan baik-baik makanya!" Dia mempertegas.
"Ish, enak kok enak!" Aku menjawab pertanyaan Leo, walaupun berseru ke arah Raphael.
"Nah begitu dong!"
"Ssst, ini restoran ...! Bukan kantorku! Jangan berisik!" Leo sedikit berseru, sambil mengecilkan suaranya. Yuda tertawa sedikit mendengar kami.
...
"Jennifer tidak bisa ikut, ya?" Yuda bertanya singkat.
"Sayangnya tidak. Sudah kutanyakan Yakza untuk kehadirannya, tapi waktunya sangat tidak pas. Jennifer sedang berada di dalam misi yang sangat penting."
"Misi apa?"
"Tidak tahu. Ada hubungannya dengan asal usul omni, seperti biasanya. Jadi kita doakan saja semoga dia baik-baik saja." Leo menjawab dengan tenang, melanjutkan hotdog yang dia makan daritadi.
"Sayang sekali. Aku sangat merindukannya." Aku mengeluh. Makananku masih banyak, tapi aku sudah merasa kenyang.
Raphael mengangguk. "Aku juga. Dia sudah tidak lagi bicara lewat grup di ponsel, sepertinya Jennifer sangat sibuk."
"Yah, wajar saja. Dengan sikap yang disiplin dan sempurna itu dia pasti sangat dibutuhkan, belum lagi posturnya yang cocok sebagai pasukan dan tuturan kata-katanya yang disusun dengan baik setiap kali dia bicara. Jennifer itu bagaikan cahaya dalam kegelapan, harapan, dan pendamai suasana semua dunia. Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi. Seandainya saja ada dunia yang hanya berisi dua orang, yaitu Jennifer dan siapa pun lelaki beruntung itu, pasti dia akan meras cukup dengan hanya kehadirannya. Jennifer ..." Yuda dengan santainya berucap begitu, kepalanya dipangku oleh telapak tangan kanan. Aku, Raphael dan Leonardo membeku melihatnya barusan.
Tidak lama, Raphael langsung terbatuk. "Astaga, Yuda! Barusan itu, apakah ucapan asmara?!"
__ADS_1
"Eh?" Wajahnya sangat polos, Yuda kebingungan.
"Pfft." Aku menahan tawa, Leonardo hanya tersenyum.
"Eh! Tadi aku bilang apa? Keterlaluan ya? Fal, jangan ketawa begitu dong! Fal! Tadi aku bicara apa?" Yuda menggoyang-goyangkan badanku, akhirnya aku lepas tergelak. Sudah jarang sekali orang yang berkata seperti itu, karena membicarakan orang yang disukainya.
Eh ... jadi teringat saat Firza bilang di kapal pesiar, bahwa ... ada kemungkinan Raphael mencintaiku ...
...
Raphael masih tertawa lepas, Leo mencoba menenangkan. Yuda tetap mencoba membuatku berhenti.
"Iya-iya, maaf, hehehe ..." Aku menggaruk kepala, wajah Yuda separuh sebal.
"Haduh, Yuda ... astaga ..." Empat belas detik durasinya tertawa, yah begitulah Raphael.
Namun akhirnya, semua diam melihat wajah Leo yang hendak mengatakan sesuatu. Sepertinya akan ada berita penting darinya.
"Saat kalian berdua mengerjakan misi di Daerah Selatan bersama Komandan Kiara, aku dan Raphael menemukan sesuatu yang ... lumayan menarik." Intonasinya serius, matanya mengunci mata kami sempurna.
"Kami menyelidiki daerah ujung Distrik Elia, dekat bangunan yang sangat tinggi berwarna abu-abu itu, gedung untuk pertemuan para konsil sekitar belasan tahun yang lalu. Di sana, di bawah tanah, kami mendengar suara jeritan. Jeritan manusia yang sangat banyak, meminta tolong, kesakitan, dan yang lainnya."
Pergerakan kami terhenti. Aku dan Yuda sangat tidak percaya.
"Jeritan di bawah tanah?!" Seruku cemas.
"Benar."
Aku menghadap Raphael sejenak, dia mengangguk sambil memejamkan mata.
"Leo benar, Fal. Teriakannya terdengar sangat sangat sangat menakutkan ..."
"Lalu?! Sudahkah dibuka?! Siapa mereka?!"
"Itu dia anehnya. Suara itu hanya keluar selama durasi tiga menit, lantas, tiba-tiba menghilang begitu saja. Detektor mutakhir kami juga tidak lagi menyatakan adanya makhluk yang hadir di bawah tanah yang sama. Mereka menghilang total, plop, habis langsung dalam waktu kurang dari satu detik. Seperti teleportasi." Leo meminum gelas berisi anggur dengan elegan, sambil berkata fakta yang mengejutkan itu ...
Ada suara jeritan di bawah tanah, namun mendadak hilang begitu saja bersama dengan sumbernya. Apa-apaan itu?!
__ADS_1