Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Petaka


__ADS_3

WOOOOOOSHHHHH!!!


"Astaga! Kacau! Ini gila!!!" Azriel berteriak, seluruh seragamnya ditimpa angin yang kencang.


Komandan Kiara menyuruh aku, Azriel dan Yuda berkumpul, lantas dia membekukan seluruh tubuh kami kecuali dada sampai kepala, kami berkumpul di dalam es yang sama. Lalu, dengan mudahnya, Komandan meluncurkan kami ke atas, mengejar Firza menuju Pulau Empat. Kami seperti burung yang membeku di atas langit.


"Dasar! Kau benar-benar tidak waras, Kiara!" Firza berteriak menghadap ke belakang. Dia daritadi membuat ledakan berkali-kali, agar ada dorongan untuk tubuhnya bergerak ke atas dan maju.


"Hentikan semua ini, Firza! Sebelum kami berhasil mengalahkanmu!" Komandan berseru.


"Gawat!" Aku takut, Omni Peledak itu mengeluarkan lima tabung ke arah kita.


BUM! BUM! BUM! Tiga berhasil dihindari, hebat sekali! Komandan melakukan manuver yang tangkas dengan esnya! Ini benar-benar pengalaman yang menakjubkan!


BUM! Tabung keempat meledak di atas kami, kita menghindar ke bawah.


"Anak-anak, jangan kaget, ya." Komandan Kiara tersenyum. Senyumannya itu bukan sesuatu yang bisa diandalkan ...


"Kenapa?" Aku heran.


BUM!!! Tabung terakhir meledak, berhasil menghancurkan esnya. Kami semua terpisah, jatuh tidak berdaya.


"ASTAGAAAAA!!!" Aku meluncur ke bawah! Lima puluh meter di atas langit! Itu hal yang tidak biasa! Apa yang Komandan Kiara lakukan?!


"Hep!" Namun, dengan lincah dia bergerak mengumpulkan kita lagi. Komandan memeluk kami bertiga dan membekukannya seperti tadi.


"Sudah kubilang jangan terkejut, hahaha." Dia tertawa lebar. Kami kembali terbang mengejar Firza di dalam es yang besar.


Inikah selera humornya?! Melihat kita hampir mati karena jatuh dari atas langit?!


...


Aku bisa melihat keseluruhan Pulau Tiga dari sini, luar biasa. Terlihat seperti denah yang tertata dengan rapih dan aesthetic. Semuanya terlihat seimbang, dari tumbuhan, bangunan, sampai pabrik-pabrik yang besar. Hanya kastil tadi saja yang terpisah dengan yang lainnya.


BUM!!!


Komandan Kiara menghindari tabung ledakan yang kesekian kalinya.


"Oh ayolah!" Sret! Firza mengeluarkan belasan tabung peledak sekaligus, semuanya terlempar cepat menuju kita.


"ASTAGA! KITA AKAN MATI!" Aku tidak sengaja berteriak.


"Hmph, tarik napas." Komandan berkata datar.


KRAK...!!! Dua detik, dia membuat semua aspek tubuh kita menjadi es. Ini pertama kalinya aku merasakan menjadi manusia yang membeku sepenuhnya. Kosong, sepi, dingin dan hampa. Seolah-olah aku ... seperti orang yang mati ...


BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!


Berkali-kali suara letusan terdengar, tapi aku tidak terluka sama sekali. Es milik Komandan Kiara benar-benar kokoh dan kuat, tamengku harus menjadi sekuat dirinya ...

__ADS_1


Eh, benar juga! Tamengku!


KRAK...!!!


"Kalian semua tidak apa-apa?" Komandan bertanya, dia sudah mengembalikan tubuh kita menjadi separuh es.


Kami semua mengangguk.


"Komandan! Aku punya ide!" Aku berseru.


"Apa?"


"Kita bisa menggunakan tamengku sebagai alas, dan es milikmu sebagai pertahanan! Kita bisa bekerja sama dalam situasi ini!" Aku melanjutkan perkataannya.


BUM! BUM! BUM! Komandan Kiara menghindari serangan lagi, Firza tidak akan menyerah mencoba membunuh kami di atas langit.


Hening sejenak, Komandan Kiara berpikir tegas.


"Kau yakin?"


Aku mengangguk.


"Baiklah, siapkan tamengmu di bawah kaki. Aku akan melindungimu seiring berjalannya proses."


Yes! Dia mengizinkanku! Ini semua berkat Yuda yang membuatku bisa membuat perahu transparan di Pulau Dua tadi!


Aku menutup mataku, membayangkan piring berwarna putih yang besar. Satu ... dua ... tiga ...


"Hebat!" Azriel berseru riang. Saat kubuka mataku, benar saja. Piring berwarna putih, transparan, terbentuk di bawah kita.


Buk! Komandan Kiara menghilangkan es yang mengelilingi kita, membuat kami mendarat dan berdiri di atas piring milikku.


KRAK! KRAK! KRAK! KRAK!


Kami melesat cepat, Komandan Kiara membuat es pelindung di sekeliling piring.


"Boleh juga." Dia menepuk bahuku.


"Apa?! Apa-apaan ini?! Kalian mengejarku seperti itu?! Ini tidak adil!" Terdengar teriakan Firza yang tidak terima.


"Yuda! Azriel! Kalian punya kekuatan yang bisa membantu?" Komandan bertanya. Keduanya dengan terpaksa menggelengkan kepala. Aku juga tidak percaya itu, Yuda dan Azriel, dua prajurit hebat, setelah puluhan misi yang mereka kerjakan, kekuatannya malah belum keluar.


"Baiklah, bertahanlah. Kita tidak akan berhenti sampai mendarat ke Pulau Empat. Falisha, tambah kecepatannya." Dia menundukkan kepala, memerintah.


Aku mengangguk. Lantas, kami melesat lincah di atas piring putih. Firza juga dengan dorongan peledaknya tidak kalah cepat, dia membuat kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengejarnya.


...***...


Dua belas menit berlalu, kami melintas secepat empat puluh puluh kilometer per jam. Itu secepat yang aku bisa. Firza juga sama, kita setara.

__ADS_1


Pulau Tiga sudah hilang dari pandangan mata. Hanya dasar lautan yang terlihat di bawah kita.


BUM!!! BUM!!! BUM!!! BUM!!! Empat ledakan besar hadir di dekat kami, tapi Komandan selalu berhasil melindungi.


"Kau masih kuat, Fal?" Dia bertanya.


"Ha! Masih, Komandan!" Aku menjawabnya dengan sedikit nada sombong.


"Baiklah, tambah lagi kecepatannya."


"Eh?"


"Kau masih kuat, kan?"


"Eh, um, iya sih. Tapi kan-"


"Bagus, tambah lagi kecepatannya." Komandan Kiara tanpa ragu memerintah. Aku menelan ludah, jujur segini saja sudah lumayan melelahkan, bagaimana caranya bisa lebih cepat?!


Aku menarik napas perlahan. Takdir Pasukan Penjaga Kedamaian ada di tanganku. Kalau Firza berhasil merebut senjata canggih di kuil bawah laut itu, semuanya akan selesai.


...


SUNG!!!


"EH?! TERLALU CEPAT!!!" Aku berteriak kaget, piringku melesat terlalu lincah ke depan!


"SIAL!!!" Firza serupa, matanya melotot terbuka, kami akan menabrak satu sama lain!


BUUUUUUUMMMMMMMMMMM!!!


Kejadian yang sangat jauh dari harapan terjadi. Piringku dengan es Komandan Kiara menabrak tubuh Firza yang berzirah itu dengan sangat keras. Keduanya hancur, kami jatuh bersama-sama hendak menyebur ke dalam lautan.


Sekilas, pusaka pertama dan kedua yang dimiliki Firza terlihat. Itu adalah berlian merah dan kalung emas, keduanya juga akan tenggelam, tidak bisa dijangkau lagi.


Aku bersiap-siap, sambil menahan sakit di kepala, aku harus membuat perahu lagi seperti tadi.


SING!!!


Tep! Tepat sebelum menyentuh air, kami berhasil mendarat di perahu kecil transparan milikku. Azriel, Yuda dan Komandan meraba-raba tubuhnya, menggerung kesakitan.


"Aduh, aduh ..." Azriel menggerung, dagunya lebam biru. Yuda juga serupa, tapi dia masih kuat menahan rasa sakitnya.


Komandan Kiara tidak peduli akan lukanya, dia melihat ke dasar lautan, mencari seseorang.


"Hei! HEI!!! DI MANA KAU?!!!" Intonasinya khawatir dan cemas, kepalanya menghadap ke segala arah menunggu jawaban. Kami bingung melihatnya.


"Kenapa kau memanggil omni itu, Komandan?" Azriel bertanya heran.


"Omni itu ... adalah kakaknya." Yuda dengan kepala menunduk menjawab.

__ADS_1


"Apa?!" Azriel yang tidak tahu apa-apa terdengar sedih, melihat perempuan tinggi yang hendak tenggelam menyelamatkan kakaknya. Aku menepuk bahunya, mencoba mencegah agar dia tidak ke mana-mana.


Hening sebentar. Perahu kecilku dibawa oleh ombak yang mulus, entah ke mana arah kita maju saat ini. Yang jelas, situasi semakin gawat karenaku. Firza menghilang, dan dua pusaka agung itu tercebur ke dalam lautan. Butuh lima pusaka sekaligus agar kuil bawah laut itu bisa terbuka, sial ... dan sekarang kita tidak tahu harus ke mana, di tengah laut mengambang tidak pasti.


__ADS_2