
Perahu kecil transparan mengambang pelan di tengah lautan. Ditemani dengan teriknya sinar matahari dan panasnya suasana.
Kami sudah menceritakan semuanya tentang Komandan Kiara kepada Azriel. Lebih tepatnya, saat kami hendak bercerita, Komandan Kiara yang memotong dan memilih untuk melakukannya sendiri.
Dia menghembuskan napas, bersandar di ujung perahu. Komandan sudah menyerah dalam mencari kakaknya.
"Saat Yuda bertengkar dengan Azriel di markas, Yuda menahan pukulannya, aku sudah menduga itu, Yuda masih memiliki rasa sayang yang tersisa untuk Azriel. Firza, walaupun penampilannya yang berzirah dan sudah menjadi omni, aku bisa merasakan masih ada sisa di dalam dirinya yang tidak akan pernah pudar, rasa sayangnya untukku ..." Ucapnya dengan lelah. Aku di sampingnya menepuk bahunya lagi.
Jangan lupa bahwa orang tua Komandan, yaitu Dzar dan Ava, sudah menjadi omni juga. Aku tidak akan pernah mengerti, rasanya punya keluarga yang terpaksa menjadi monster, sungguh menyakitkan ...
Azriel dan Yuda menunduk, meratapi masa lalunya.
"Aku ... tidak ingin kalian merasakan hal yang sama. Azriel, Yuda, kalian memiliki satu sama lain. Lindungilah sesama sebelum salah satu dari kalian menjadi ... omni ..." Komandan Kiara tersedu sebelum kalimatnya selesai, aku menepuk bahunya lagi secara halus.
Dia terisak, menangis perlahan. Walaupun tegas dan kuat, Komandan harus menahan emosinya dan menerima fakta bahwa semua keluarganya sudah menjadi omni. Aku sangat sedih memikirkannya ...
Ombak terus berdatangan perlahan, kapal kecil milikku semakin mengeras, seolah-olah dia merenungi nasib Komandan Kiara. Kita benar-benar buntu, dihajar dengan kenyataan yang menyakitkan lagi dan lagi dan lagi ...
Mengejutkannya, sebelum Komandan benar-benar terisak, tiba-tiba kedua tangan Yuda bersinar terang, mengeluarkan cahaya berwarna biru. "Baiklah, Komandan."
"Astaga, Yuda! Kamu kenapa?!" Aku berteriak panik, seluruh kapal ini bergetar kencang, ombak yang tadi lembut menghampiri kami menjadi brutal, tidak terkendali. Semua orang menjaga keseimbangan kecuali Yuda.
"Kakak, terima kasih sudah mau memaafkan segala kesalahanku. Aku sangat bahagia... kita bisa bersatu kembali, kita bisa berdamai kembali, kita bisa bertingkah seperti kakak dan adik lagi."
BYURRRRR!!! Air di laut berkumpul sampai tebal, kemudian mereka membawa tubuh Yuda dua meter ke atas kapal, dia terbang.
"Terima kasih Komandan, Falisha, sudah menerimaku apa adanya dan tidak pernah meremehkanku. Aku akan membalas jasa kalian."
BWUUUUUSHHHHH!!! Air laut bergerak minggir, membelah. Aku bisa melihat apa yang ada di bawah laut. Angin berhembus lima kali lebih kencang dibanding sebelumnya.
"Firza!" Komandan Kiara langsung berseru, menunjuk tubuh kakaknya yang menempel di bebatuan yang lancip, zirahnya yang berlubang membuatnya menyangkut.
Azriel mendongak, menatap adiknya yang terbang sambil membentangkan tangannya. "YUDA!!!"
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa merasakan semuanya ..." Matanya bersinar terang, cahaya yang sangat terik berwarna biru muda sekarang menyinari seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Tubuh Firza lama-lama naik, lepas dari bebatuan itu. Dia dibawa masuk ke perahu kecil, direbahkan.
"Kakak!" Komandan Kiara mendekat, memeriksa tubuh Firza yang pingsan dengan profesional dan hati-hati. Aku ingin membantunya, tapi tidak tahu harus apa ...
Perlahan-lahan semuanya kembali menjadi normal, air laut menutup lagi, angin menjadi tenang, kapal pesiar kecilku tidak lagi berguncang.
Yuda yang masih memegang pedang cahayanya perlahan-lahan turun, dibawa air lagi. Cahaya dari tubuh dan matanya memudar.
"Yuda? Hei! Kau tidak apa-apa?!" Azriel langsung mendekat, meraba-raba tubuh adiknya. Kita berdua sama herannya, apa yang terjadi tadi?!
Dia hanya menunduk, menatap Komandan Kiara. Sekilas dia terlihat lebih ... dewasa ...
Sunyi sejenak, Yuda memegang dahinya.
"Aku tidak tahu, sungguh ... sepertinya ... kekuatanku bangkit dengan sendirinya. Aku hanya membayangkan betapa sakitnya menjadi Komandan Kiara ... sendirian ... berkorban dengan harga yang mahal, sungguh menyakitkan. Tiba-tiba tubuhku terasa ringan, dan yah, aku bisa merasakan dan mengendalikan semuanya ... sepertinya itu kekuatan milikku ..." Dia menjawab lurus, matanya separuh tertutup.
Komandan di ujung kapal sedang memberi napas buatan, lalu menekan dada kakaknya, dan apa pun caranya yang dilakukan untuk membangunkan Firza, kasihan sekali.
"Komandan, maaf, tolong mundur sedikit." Yuda mengangkat tangan kanannya ke arah Firza, lantas, air laut keluar dari mulutnya. Firza tersedak air laut sehingga dia kehilangan kesadaran dan sulit bernapas saat dia tenggelam ...
Perahu kecil kembali maju perlahan-lahan, aku merapihkan rambut panjangku dengan kedua tangan.
"Oh iya, ini. Aku sempat mengambilnya saat lautan membuka dan isinya terlihat." Yuda mengeluarkan dua benda dari kantungnya. Itu adalah benda yang kita cari, pusaka pertama dan kedua, berlian merah dan kalung emas dengan simbol berbentuk kristal.
"Astaga ..." Komandan Kiara terkejut, menerima kedua benda itu dengan hati-hati.
"Ini sangat ... mengagumkan ... aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Coba kalian resap kehadiran keduanya, berlian yang mengkilap dan kalung emas yang suci, bersih, aku tidak bisa berkata-kata ..." Ujarnya sedikit tertahan. Astaga, baru kali ini aku melihat wajah Komandan Kiara yang begitu antusias.
Aku bisa memaklumi, pusaka-pusaka itu memang sangat indah untuk dilihat. Tinggal tiga yang harus kita temukan, tapi yang ketiga sudah diurus oleh pasukan di Pulau Tiga, jadi hanya Pulau Empat dan Lima yang tersisa, kedua pusaka di sana harus segera kami temukan ...
"Falisha, kan? Namamu itu?" Azriel menghampiriku, berjalan mulus.
Aku mengangguk samar.
"Aku sungguh menyesal, telah mencoba untuk membunuhmu tadi. Itu sungguh tidak diperlukan. Maafkan atas ketidakdewasaanku dan sikapku yang seperti anak kecil. Kalau boleh, tolong lecetkan punggungku sebagai gantinya." Dia memperjelas, memberi pedang cahaya miliknya dan memutar balik, membuka seragamnya agar punggungnya terlihat.
__ADS_1
Aku terkejut. Astaga, benarkah ini? Dia sampai rela melakukan itu?
Tapi, aku teringat masa laluku. Aku pernah menjadi Azriel. Saat aku memanggil Raphael 'Anak Menyebalkan' dan mengatakan bahwa aku tidak membutuhkannya lagi, lalu meninggalkannya di kantin. Itu benar-benar situasi yang tidak ada bedanya dengan Azriel yang hampir membunuhku karena dendam pada adiknya.
Aku menurunkan seragamnya, menawarkan pedang cahayanya lagi. "Tidak perlu. Aku memaafkanmu."
Dia menatapku lamat-lamat. Lalu, kami berdua tersenyum sedikit, akhirnya situasi telah menjadi lebih baik ...
"Yuda, bisakah kau menemukan letak Pulau Empat dari sini?" Komandan Kiara bertanya.
"Akan kucoba." Jawabnya datar, Yuda kembali membentangkan tangannya.
Astaga...! Astaga! Angin kali ini semakin buruk! Guncangan di kapal pesiar kecil juga tidak terkendali! Ombak-ombak yang kasar kembali berdatangan tanpa ampun!
"Hati-hati, Yuda!" Azriel memperingati.
"Ya!"
SWOOOSHHHH!!! Tornado kecil mengelilingi tubuh Yuda, dia berputar secepat mungkin mencari arah yang pas untuk Pulau Empat.
"Aku bisa merasakan Pulau Empat! Di sana! Arah barat, Falisha!" Yuda menunjuk ke arah kiri, aku mengangguk mantap, langsung menggerakkan perahu ke arah sana. Yuda sudah turun lagi, bergabung dengan kita. Semua bencana itu lama-lama menghilang, bubar, kita telah berhasil menemukan tujuan selanjutnya.
Kapal melesat kencang, membelah lautan dengan jantan dan cepat, ini sangat seru! Baru pertama kalinya aku bisa membuat benda sesuka hati dan mengendalikannya semauku!
"Hei ... terima kasih atas segalanya ..." Komandan Kiara membuka mulut, menatap kami semua.
"Yuda, kekuatanmu sebenarnya tidak bangkit karena membayangkan nasib hidupku. Melainkan ia muncul karena nasib dirimu sendiri, kau dan Azriel akhirnya bisa bersatu kembali, lalu jiwamu serta pedang cahayamu memilih untuk bergabung, agar tidak lagi terpisah kemudian merasakan pahitnya berpisah dengan kakakmu. Itu sangat mengagumkan." Dia melanjutkan perkataannya. Adik kakak itu menatap satu sama lain, tersenyum sedikit.
"Dan Falisha. Leo membesarkanmu dengan benar. Aku ingat saat dia membawamu ke markas delapan tahun yang lalu, akulah yang pertama kali menolak ide menjadikanmu seorang prajurit. Tapi Leo membantahku, dia yakin bahwa di dalam dirimu, ada sosok yang hebat, ambisius, dan murni yang akan membawa kedamaian, dan menjadi harapan seluruh pasukan. Harapan yang absolut, harapan seperti malaikat ..."
Aku ragu-ragu tersenyum, malu. Leo seyakin itu padaku, ya ...
"Ugh ... um ..." Sosok yang pingsan di pangkuan Komandan Kiara akhirnya sadar, membuka mulutnya sedikit.
"Komandan! Menghindar!" Seruku cemas, Firza bisa menyerang kapan saja!
__ADS_1