
Setelah cerita itu, kami mulai melangkahkan kaki lagi. Dinding-dinding labirin ini terbuat dari batu, seperti tempat sebelumnya saat kita dikejar oleh batu yang sangat besar.
Sudah tiga puluh menit kami maju, namun tetap saja tersesat, tidak ada jalan lain. Firza sudah meledakkan beberapa lapisan dinding, tidak ada perbedaan, masih tersesat. Tempat ini sangat besar dan membuatku pusing, muak.
"Yuda!!! Kiara!!! Azriel!!!" Firza berteriak untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada jawaban.
"Komandan Kiara!!!" Aku tahu, ini akan sia-sia saja. Tapi tidak ada pilihan lain, kita harus mencoba untuk memanggil mereka. Gorilla sialan tadi membuat kita terpisah, benar-benar menyebalkan.
"Hei ... Falisha ..."
"Hm?"
Wajah Firza mendadak ... berubah ... sepertinya dia teringat sesuatu.
"Ada apa?" Aku bertanya cemas.
"Benarkah kata dia? Kata Kiara? Ayah dan ibuku sudah menjadi omni? Dzar dan Ava?" Matanya menatapku penuh, kesedihan yang sangat dalam bisa dirasakan bahkan dari luar.
Aku tidak mau menjawab. Kepalaku kualihkan. Cukup sudah fakta bahwa Firza dikendalikan selama bertahun-tahun oleh orang yang misterius selama menjadi omni, sekarang ada lagi kenyataan yang menggelikan, orang tuanya diubah menjadi monster dan belum bisa disembuhkan.
"Kumohon, jawab pertanyaanku ..."
Aku menarik napas yang dalam, lalu menghembuskannya.
"Iya ... aku yang melawannya di Hari Pembantaian. Mereka berdua ... hampir membunuhku dan rekan-rekanku ..." Aku menurunkan suaraku, menghaluskannya sedemikian rupa agar tidak terdengar menyakitkan. Tapi sia-sia, wajah Firza berubah total, hampir terisak.
Aku menepuk bahunya secara lembut. Berapa pun usia Firza sekarang, kenyataan itu sangat sulit untuk diterima oleh siapa pun. Saat ayahku mengungkapkan dirinya bahwa dia sudah berubah menjadi omni, seluruh tubuhku membeku, aku juga sama terkejutnya. Tapi bedanya, dia tidak melukaiku, jadi perasaan yang tersisa hanyalah keraguan.
"Tapi ... ada satu hal yang masih bisa bertahan, Firza." Aku mencoba menyenangkan situasi.
"Apa ...?"
"Saat aku bertempur dengan mereka, Dzar dan Ava, hubungan mereka sebagai suami dan istri masih kokoh. Mereka masih mengenal satu sama lain, dan juga mereka bertingkah bukan seperti monster, melainkan seperti Ayah dan Ibu yang sangat protektif akan sesuatu.
"Jadi mungkin, saat serum yang sedang dikerjakan markas berhasil menyembuhkan mereka, Dzar dan Ava akan cepat sembuhnya lantas ingat kepadamu dan Komandan Kiara. Keluarga kalian akan pulih lagi." Ucapku dengan sangat yakin. Mataku sekarang menguncinya, mencoba meyakinkan.
__ADS_1
Hening sejenak, wajah Firza kembali lagi, walaupun sedikit.
"Wow ... ha ... terima kasih, Falisha ... kau membuat emosiku terbang. Hahahaha ... terima kasih." Dia mengusap mata kanannya, tersenyum sedikit.
Eh? Apa dia bilang? Terbang?
"Terima kasih! Firza! Kau memberiku ide yang brilian!" Aku berseru riang, ini pasti berhasil!
"Hah? Ide apa?"
"Pegang tanganku!" Aku menjulurkan tangan.
Wajah Firza penasaran seiringnya menahan tanganku. Lantas kututup mataku sekeras mungkin, aku harus fokus.
Tameng transparan milikku bisa membuat kapal di atas laut, lalu mengendalikannya. Juga bisa membuat bola untuk menggelinding dengan cepat. Pasti kekuatan ini bisa digunakan untuk terbang.
Sambil memegang pedang cahaya, aku membayangkan tameng transparan berbentuk ... kita. Tameng yang akan melindungi kita dan membawa kita ke mana saja. Setia dan abadi, seperti kepercayaan Komandan Kiara terhadap keluarganya.
SINGGGGGG!!!
"Astaga, Falisha! Apa ini?! Buka matamu! Terang sekali!" Suaranya terdengar senang. Benar saja, tamengku sekarang menutup semua tubuhku dan Firza, seluruh badan kami dikelilingi dengan lapisan putih yang keras, dan bercahaya. Sudah kuduga ini akan berhasil!
Akhirnya, aku dan Firza sudah berada sepuluh meter di atas tanah. Semua dinding labirin terlihat, sungguh kompleks dan rumit. Jalannya berbelok ke kanan, kiri, bahkan ada lantai dua dalam beberapa bagian. Bukan labirin yang ramah ternyata ...
"Astaga ... para leluhur membangun tempat ini? Sepenting itukah pusaka keempat yang kalian bicarakan itu?" Firza bertanya.
Kepalaku sedikit menunduk. "Iya. Kalau separah ini, pasti mereka benar-benar memprioritaskan orang yang 'spesial' untuk memperoleh pusaka keempat. Siapa pun yang mendapatkannya, pasti akan dicamkan sebagai dewa pada masa-masa terdahulu."
Lengang sejenak. Firza mengepalkan tangan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mencari Kiara dan yang lainnya? Atau mencurangi sistem aneh ini dan langsung mengambil hartanya?"
"Hmph. Kalau ada pelajaran yang bisa diambil selama dua jam terakhir, itu adalah keluarga lebih penting dari segalanya. Tentu saja kita akan mencari Komandan Kiara." Aku tersenyum yakin, juga mengepalkan tangan.
Dia mengangguk. Aku dengan perlahan mencoba menggerakkan tubuh kami. Komandan Kiara, Yuda, Azriel, kita akan datang!
...***...
__ADS_1
"Itu dia! Kiara!" Firza menunjuk ke bawah. Selama dua menit kita berkeliling, akhirnya rombongan yang kami cari terlihat.
"Komandan!!!" Aku berseru tegas, menurunkan tubuh kami menuju mereka.
"Falisha?" Dia menengok, dua remaja di belakangnya juga demikian. Tapi ada yang tidak beres dengan Yuda ...
"Hei! Kamu kenapa?" Aku bertanya sambil melepaskan tamengku. Kami mendarat dengan selamat, aku langsung melesat menuju Azriel yang sedang menggendong Yuda.
"Yuda! Kamu tidak apa-apa?!" Tanyaku cemas.
"F ... Fal ...?" Suaranya sangat lemas. Akhirnya aku sadar, dadanya tertusuk oleh bebatuan seukuran telapak tanganku.
"Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?!" Aku bertanya lagi.
"Dia menyelamatkan kami. Saat kawanan gorilla itu menyerang, aku membekukan mereka dengan es yang sangat tebal dan keras, tidak ada makhluk yang bisa menghancurkannya. Setidaknya itu yang kuharapkan.
"Sesaat sebelum aku memutar balikkan badan, es itu sudah pecah dengan sendirinya. Dan kawanan gorilla melempar belasan pecahan batu kepadaku. Yuda dengan kekuatan kinetiknya berhasil menahan semuanya, tapi karena musuh kita terlalu banyak, salah satu batu berhasil lolos dan menusuk dadanya." Komandan Kiara menjelaskan, suaranya terdengar khawatir.
"Bertahanlah, kumohon! Jangan mati di sini!" Azriel panik, berteriak pada tubuh adiknya yang terlihat sekarat.
"Yuda ... kamu itu kuat, orang terkuat yang pernah kutemui. Bertahanlah sampai aku membawa kita ke pusaka itu!" Ucapku dengan semangat.
"Kau tahu jalannya? Menuju pusaka itu?" Azriel bertanya.
Aku mengangguk, sambil membawa tubuh semua orang terbang dan mengelilinginya dengan tamengku. "Iya. Ayo, kita ambil pusaka keempat!"
Kami melesat cepat di atas, sambil melihat tembok-tembok yang tersusun secara acak di bawah, labirin ini sangat tidak manusiawi ...
Juga ada tantangan-tantangan yang siap membunuh siapa pun yang hendak menyelesaikan tempat ini. Ada ruangan yang dipenuhi dengan kolam berisi ikan piranha, ruangan yang siap ditaburi oleh lava, ruangan berisi harimau raksasa yang berkumpul dan lapar. Seandainya saja aku tidak bisa terbang, nyawa kami sudah keburu habis sebelum mengetahui dalang di balik para monster dan omni ...
"Firza ..." Azriel memulai percakapan.
"Ya, Azriel?"
"Yuda sedang pingsan sekarang ... dan ... kurasa kau adalah orang yang tepat untuk ditanyakan hal seperti ini ..."
__ADS_1
"Oh? Apa?" Firza penasaran.
"Bagaimana cara menjadi kakak yang baik ...?"