
Beberapa jam sudah berlalu. Eh, tepatnya beberapa hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Aku sudah bisa pulang, tapi hal yang sama tidak terjadi kepada Yuda. Dia masih berbaring sempurna di kasur medis markas. Bersamaan dengan pasukan yang terluka lainnya.
Setiap hari sekali, aku menjenguknya. Bahkan Raphael juga konsisten mengikutiku setiap saat. Jennifer sudah pergi, kita tidak mau kehilangan teman lagi.
Kami juga memberitahu Jennifer tentang ini di groupchat, sama terkejut dan khawatirnya. Sayangnya dia belum bisa datang menjenguk karena dia ada misi khusus mencari omni di seluruh bagian Daerah Utara. Pemburuan memang sibuk di sana karena cenderung memiliki dataran tinggi.
"Puh, Azriel itu..." Raphael bersedekap di sebelahku. Kami berdua menjenguknya untuk yang keempat kali. Aku menatapnya khawatir, memegang lengan Yuda yang sedang tidak sadarkan diri. "Bertahanlah." Berbisik dalam hati.
"Aku selalu membenci orang seperti itu, Fal. Diberi kesempatan namun malah bernas menghajar orang yang baik. Sungguh tidak dewasa." Dia mengambil kursi, lantas duduk di sana. Aku selalu tidak kuat melihat kaki dan tubuh Yuda yang diperban.
"Kamu... pernah punya kakak, Raf?" Aku mencomot topik percakapan.
"Tidak. Aku anak tunggal." Jawabnya singkat, masih sebal dengan Azriel yang sekarang entah berada di mana.
Jam di dinding menunjukkan pukul 14.35, sudah setengah jam sejak kami masuk ke dalam sini. Leo juga hadir setiap hari, tapi sibuk. Jadi dia datang hanya pada malam hari.
"Lain kali, langsung saja beritahu aku kalau kau ketemu Azriel, aku pasti akan mengalahkannya. Tidak, aku akan pastikan dia tidak bisa berjalan lagi." Raphael mengetuk pahanya sendiri. Kemudian menghembuskan napas yang berat.
"Tidak perlu." Tiba-tiba, suara ketiga datang mengejutkan telinga. Itu jelas-jelas suaranya!
"Yuda!" Aku berseru kaget, sekaligus senang karena dia sudah bangun. Matanya tertutup separuh, mulutnya bungkam tidak mau terbuka lagi. Dia menatap langit-langit ruangan, matanya berkaca-kaca.
"Aku sudah menjadi beban berkali-kali untuk kalian. Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi. Falisha, Raphael, lupakan orang ini. Kalian lebih berhak tidak ikut campur dengan-"
"Pergi? Oh, haha, hahaha. Sayang sekali, Yuda. Aku memang selalu bercanda, tapi ini sudah kelewatan. Tidak akan pernah aku pergi dalam masalah ini. Terima atau tidak, kau harus menyetujui fakta bahwa Azriel sudah parah dalam bertingkah." Raphael memotong kata Yuda, bersedekap sambil duduk. Wajahnya marah.
"Tapi, Raphael, itu semua terjadi karenaku. Aku bersikap seperti anak-anak waktu itu. Tidak terima dibilang lemah, padahal itulah aku sebenarnya, lemah. Seandainya aku lebih sabar, tidak melawan Kakak, ini semua tidak akan terjadi." Dia membelokkan wajahnya. Sekarang sempurna melotot ke arah Raphael.
"Fal. Maaf atas lebam dan luka di seluruh tubuhmu. Kenapa kau malah mengikutiku menuju Taman Kebahagiaan? Katanya ada misi?" Yuda bertanya.
"Itu tidak penting. Aku adalah temanmu, tidak perlu meminta maaf atas luka yang kumiliki. Senang bersama, susah bersama, itu sudah seharusnya terjadi." Aku menjawab cemas, masih memegang lengannya yang tidak diperban.
...
Hening. Terdengar suara langkah kaki dokter-dokter yang mondar-mandir ke sana kemari. Tirai hijau muda di belakangku terkadang bergelombang mengenai tubuh orang lain.
__ADS_1
"Kau sudah membantu kami dalam banyak hal, Yuda. Sekarang, biarkan kami melakukan hal yang sama, kumohon." Aku menatapnya serius, berkata pelan dan halus. Sepenuh hati kuucapkan kata-kata itu.
Dia menatap kami berdua. Aku tahu, dia adalah orang yang baik, sangat baik. Mencemaskan kita dalam keadaan yang tidak ada bedanya dengannya. Tapi Yuda memilih untuk melawan semuanya sendirian, tidak bagus. Aku pernah berada dalam posisinya, sangat tidak enak...
"Eh?" Aku yang hendak berkata, bingung. Ada langkah kaki yang mendekat dari pintu masuk. Dari frekuensi suaranya, ada setidaknya dua orang yang datang.
"Azriel kah?" Raphael memasang posisi siap bertarung. Tidak ada pedang, tidak boleh membawa pedang dalam ruangan ini.
Sret! Tirai menujukkan tangan seseorang yang hendak menariknya.
WOOSH! Raphael melepaskan pukulan-
Tep!
...
Tinju Raphael ditahan sempurna oleh seorang wanita setelah dia membuka tirainya. Bukan sembarang wanita, itu Komandan Kiara. Di belakangnya ada Leo yang membawa beberapa obat. Wajahnya masih khawatir.
Hening sebentar, Raphael melepaskan tangannya. Dia menunduk malu karena mengira itu adalah Azriel.
"Raphael."
"Raphael? Oh? Dia yang itu?" Dia menunjuk Raphael menghadap Leo, lalu Leo mengangguk setuju. Iya, itu mereka. Falisha dan Raphael.
"Ah... benar-benar hebat. Kalian terlihat lebih muda dari yang kukira." Komandan Kiara tersenyum. Kemudian, dia melihat Yuda prihatin.
"Bagaimana lukamu?" Leo mendekat, meletakkan dua tabung berisi obat ke meja di samping ranjang.
"Aku sudah sembuh. Perban ini akan segera dilepas-"
"Bohong! Dia bohong. Aku bertanya ke dokter, katanya butuh setidaknya dua hari untuk Yuda agar dia sembuh total." Raphael memotong, menunjuk-nunjuk lukanya.
Kedua Komandan menatap satu sama lain. Aku tidak bisa membaca ekspresinya, hebat sekali mereka menyembunyikan emosi di saat seperti ini.
"Kenapa kau berbohong?" Leo bertanya lagi.
__ADS_1
...
Yuda tidak mau menjawab, dia memalingkan wajahnya.
Semua orang merasa kasihan padanya. Aku perlahan bergerak mundur, mendekati Raphael. Yuda butuh waktu untuk menyendiri, sebaiknya kita tidak mengganggunya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Sebenarnya aku hanya ingin memberimu obat-obat itu. Masing-masing minum dua kali sehari, ya. Dan urusan sebenarnya adalah dengan Komandan Kiara. Jadi Fal, Raf, ayo kita keluar dari ruangan ini." Leo mengangguk sambil menjelaskan. Kami berdua kaget.
"Eh? Kenapa?" Aku bertanya.
Dia mengangkat bahu. Lantas memegang bahuku dan Raphael, kita bertiga pergi sedikit didorong olehnya, melewati tirai, keluar ruangan ini. Menuju ke lorong utama markas.
Pasukan dan prajurit yang berkumpul membuat bising suara, dipenuhi dengan kata-kata dan langkah kaki. Beberapa dari mereka melatih pedang di sini, untung saja luas. Semenjak Pemburuan, markas mulai sibuk lagi. Tidak seperti beberapa hari yang lalu saat kita makan malam dengan Leo, tidak ada orang.
"Leo, kenapa kita harus pergi?" Raphael bimbang, merapihkan kerah seragamnya.
"Aku tidak tahu. Setelah aku mengambil obat dari dokter, Komandan Kiara tiba-tiba ada di depan kantorku. Dia bilang ingin bertemu dengan Yuda, kuantarkan dia ke ruang medis sekaligus memberinya obat yang tadi."
...
Aku dan Raphael memasang ekspresi yang sama, cemas brutal.
"Hei. Semenjak Jennifer pergi, kalian berdua jarang sekali berbicara. Ayolah, ke mana Falisha yang giat dan Raphael yang lucu itu? Kalian sudah pergi? Halooo?" Leo mengetuk-ngetuk kepalaku dan Raphael. Aku tertawa sedikit, membiarkannya melakukan itu.
"Aku merasa... tidak mau kehilangan teman lagi, Leo. Kami memang awalnya berdua, tapi ada Yuda dan Jennifer itu jauh lebih baik. Jennifer sudah pergi, tidak akan kubiarkan Yuda terluka atau cacat karena Kakaknya sehingga kita harus meninggalkan seseorang lagi." Aku berkata halus sambil menundukkan kepala. Raphael lamat-lamat mengangguk, setuju.
Leo menghembuskan napas, tersenyum manis, tipis. Mengambil sesuatu dari kantungnya.
"Ini, mungkin bisa membantu." Dia memberikan kami... permen? Iya, permen. Tiga masing-masing.
"Aku merawat kalian dari kecil. Kalian masih mungil dan lucu saat itu. Tapi melihatmu tumbuh besar dan mandiri, itu suatu kebanggaan yang mutlak untukku. Jadi kalau mau bercerita, silahkan saja. Aku ada di kantor." Leo mengusap rambut kita berdua, lantas pergi menjauh, melewati beberapa pasukan, menyapanya, tertawa sebentar. Dan akhirnya, dia membuka pintu kantor, masuk ke dalam.
"Leo..." Aku berucap halus, memakan permen yang diberinya. Manis dan dingin, lumanyan menenangkan.
Raphael di sebelahku khawatir menatap pintu kamar Yuda. Sedang menunggunya keluar.
__ADS_1
"Kira-kira... apa yang dibicarakan Komandan Kiara padanya, ya?"