
SWOOSHH!!!
Tepat sebelum kaki kami menyentuh permukaan, Yuda mengangkat kami semua sampai mengambang di udara. Tubuh kami bersinar terang selama berada di dalam kendalinya.
"Phew ... terima kasih." Ucapku sambil menghembuskan napas.
Kita diturunkan perlahan, menginjakkan kaki dengan jantan sampai bisa meregangkan tubuh. Syukurlah, kami selamat ...
Baunya di sini aneh, seperti cumi yang amis. Dan juga, tempat ini berdebu walaupun kita tidak bisa melihat apa pun.
"Hei! Kalian di mana?" Suara Firza terdengar berseru. Disusul dengan Azriel dan Komandan yang terdengar sedikit panik.
ZRUNG! Cahaya biru dari tangan Yuda keluar, menerangi sekitar tempat. Akhirnya semua orang terlihat.
"Kalian tidak apa-apa?" Komandan Kiara bertanya. kami mengangguk yakin.
Azriel berjalan ke depan, menyelidiki tempat aneh ini yang dipenuhi dengan batu di sebelah kanan dan kiri. "Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali?"
"Kiara, kau menjaga Daerah Selatan selama menjadi Komandan, kan? Pernah ke Pulau Empat?" Firza bertanya.
Komandan Kiara menggeleng. "Ini sungguh menarik, bizzare, memang benar aku menjaga Daerah Selatan selama berbakti menjadi prajurit, tapi Pulau Empat sebelumnya tidak seperti ini. Pulau ini sama seperti Pulau Tiga, layak untuk dijadikan tempat kehidupan, makmur dan sentosa. Tapi tiba-tiba saja, tadi di atas sana, Pulau Empat kosong melompong, dan tiba-tiba saja ada tempat ini di bawahnya yang tidak kuketahui ..." Komandan meraba-raba tembok di samping, atau lebih tepatnya, bebatuan.
"Sepertinya para leluhur memiliki rencana yang lain. Jenderal Besar Karlo bahkan tidak tahu tentang hal ini. Semuanya lebih aneh dari yang diduga ..." Firza yang menyelidiki di depanku berkata dengan halus.
Ada jalan ke depan, di antara dua bebatuan yang sangat besar dan tinggi. Haruskah kita ke sana?
"Tunggu sebentar." Yuda membuat kami terkejut, membentangkan tangannya.
"Aku merasakan ... sesuatu yang besar. Beberapa langkah di belakang, sedang menunggu kehadiran kita ..." Dia memperjelas. Matanya kembali bersinar seiring dirinya berkata.
"Apa itu?" Komandan penasaran.
BUM! Dentuman kencang terdengar di dekatku, tempat ini berguncang mengerikan sekilas.
"Apa itu?!" Seruku cemas.
__ADS_1
"LARI!!!" Azriel berteriak, ada batu sebesar sembilan kali lipat tubuhku yang jatuh di belakang. Sekarang batu itu maju dengan lincah, hendak menghancurkan tubuh kita.
Kami berlima berlarian, mencoba menandingi kecepatannya.
"KENAPA BISA ADA BATU DI SINI?!" Aku bertanya sebal, menyadari bahwa tempat ini berguncang tidak beraturan semenjak batu itu keluar.
"AKU TIDAK TAHU! YUDA! KENAPA KAU TIDAK BILANG ITU BATU?!" Azriel bertanya lagi.
"Maaf! Batu itu terhalang oleh tembok yang sangat tebal, jadi itu bisa apa saja!" Yuda di sampingku menjawab. Saat ini, Firza yang berada di paling depan, Komandan Kiara di belakang.
"Tidak ada ujungnya! Di depan sana juga gelap, aku tidak bisa melihat apa pun!" Firza berkata cemas.
BUM!!! Batu besar menimpa tanah, membuatnya pecah dan punya bebatuan lebih kecil yang banyak mengikuti kita.
"OH AYOLAH!" Azriel tidak terima, berlari cepat di sampingku.
"Yuda! Kau bisa menghancurkan barunya?!"
"Tidak, Komandan! Butuh waktu untuk itu dan aku tidak akan sempat melakukannya!"
"Di sana! Ada ruang!" Azriel menunjuk ke arah kanan, ada lubang setinggi orang dewasa yang sepertinya muat untuk beberapa orang.
BRAK!!! Batu besar memecah lagi, sekarang semakin cepat karena ukurannya mengecil.
"Bertahanlah! Sedikit lagi!" Firza berseru tegas.
"KOMANDAN!" Aku melihat ke belakang, sejenak saja Komandan Kiara akan ditimpa oleh batunya.
"Jangan pikirkan aku, Falisha! Fokus saja ke depan!" Dia membalas, berteriak lebih yakin.
Tidak ada pilihan lain, aku harus melindunginya. Tubuhku memutar sendiri, lantas aku menjulurkan kedua tangan ke depan dengan pedang cahayaku. Tameng transparan yang lumayan tebal muncul, menahan pergerakan batu, menyelamatkan Komandan Kiara.
Aku berteriak sebisa mungkin, batu ini berat sekali ...
"Bagus sekali!" Komandan tersenyum.
__ADS_1
BRUK!!! Dia membuat es besar yang runcing, menghancurkan batu itu dengan mudah. Pecahan-pecahan kecilnya menyebar ke seluruh tempat.
Buk! Aku memutuskan untuk duduk sejenak, menarik napas perlahan. Walaupun aku menahannya beberapa detik saja, batu itu sungguh besar dan sulit untuk dikendalikan. Untungnya ada es milik Komandan yang jauh lebih kuat, kami selamat ...
Semuanya bersandar ke pinggir, kelelahan.
"Hebat, Falisha. Luar biasa ..." Firza dengan napas yang tersengal memujiku. Aku ragu-ragu mengangguk.
"Bagaimana caranya para leluhur membuat jebakan dan tantangan seperti ini? Apakah teknologi Yuvia secanggih itu dulu? Dari mana batu besar ini berasal?" Azriel bertanya-tanya. Tidak ada yang menjawab, kami semua tidak tahu ...
"Ada yang terluka?" Komandan bertanya.
Aku hendak berkata, tapi dia sudah menyadarinya duluan. Akibat gerakan yang mendadak tadi, pergelangan tanganku menjadi biru, lebam. Komandan Kiara menyembuhkannya dengan tangan yang dipakaikan sarung tangan berwarna hitam, langsung sembuh.
"Terima kasih." Ucapku halus, dia mengangguk.
"Umm ... hei, lihat ini." Yuda mendongak ke lubang di sebelah kanan tadi. Kami semua mulai bergerak, mendekatinya.
Astaga, ini lebih brutal dari yang kubayangkan.
Kalau dipikir-pikir, jarak antara tempat kami berdiri sekarang dengan hamparan pasir dan tanah di atas itu sungguh jauh. Dan tempat kita berdiri ini berbentuk lorong, gelap gulita pula.
Batu yang tiba-tiba muncul, itu berasal dari tempat yang jauh di belakang kami, jadi itu sudah disiapkan khusus untuk orang yang menginjakkan kaki di sini.
Ini buruk, sungguh buruk. Semuanya sudah direncanakan, dengan sempurna dan pas. Lubang yang tadinya menjadi rencana kami untuk bersembunyi ternyata bukan lubang sama sekali. Itu ternyata adalah lorong lagi, dengan obor yang membuat kita melihat lebih baik. Di kanan dan kirinya juga ada lorong lagi, semuanya seperti itu.
"Jangan-jangan, ini ..." Aku sedikit takut, kalau benar, ini sungguh gawat.
"Sepertinya begitu. Ini adalah labirin. Labirin yang super besar, tantangan menuju pusaka keempat ... yah, yap, benar, aku bisa merasakannya. Tembok-tembok dan bebatuan yang berkumpul, ini adalah labirin." Mata Yuda bersinar lagi, dia berkata dengan yakin.
"Astaga, ayolah, aku sudah lelah ..." Azriel menepuk dahi.
"Tidak apa-apa, kita harus mendekat, jangan berpisah. Yuda, kau pimpin jalan, oke?" Komandan Kiara memberi arahan, Yuda mengangguk..
Tapi, kejadian yang tidak diinginkan muncul.
__ADS_1
"Apa lagi itu?!" Aku menutup telinga, menghalangi suara berisik yang sepertinya adalah jeritan makhluk tertentu, makhluk yang banyak ...
Lima belas detik suara teriakan itu hadir, belasan gorilla yang liar datang dari lubang kita masuk. Mereka sangat cepat hingga membuat kami harus berpencar, karena panik, aku berlari ke arah kanan, Firza mengikutiku. Komandan Kiara, Yuda dan Azriel kabur ke lorong di sebelah kiri, kita terpisah. Gorilla ini benar-benar bukan tamu yang sopan ...