
"Api? Omni Api kah?" Leo menatap fokus ke bawah.
Aku mengangguk sambil mendaratkan tameng kotak. "Ya. Aku melawannya di Daerah Selatan bersama dengan Komandan Kiara."
Woosh! Tameng berhasil melewati hutan terbakar, mendarat di tengah para pasukan Daerah Timur yang melawan dua omni, salah satunya Omni Api.
"Yakza!" Leo dan semua orang berpisah, membantu melawan kedua omni yang mondar-mandir menyerang.
Bum! Bum! Bum! Aku menghindari tiga bola api. Pasukan lainnya mencoba menyerang sebisa mungkin, tapi omni itu memiliki kecepatan yang tidak terduga.
Komandan Yakza dan sisa prajuritnya melawan omni yang berkekuatan tanah, bisa mengubah dirinya menjadi sangat halus dan beregenerasi, hampir seperti Omni Kayu.
BAM!
Omni Api menghindari gelembung peledak Raphael. Pasukan lainnya menggunakan kemampuan listrik, lagi-lagi dihindari.
"Refleknya ... di luar nalar, Fal." Dia mendekat, mengusap keringat dahi.
Aku menutup mata daritadi, mencoba fokus. Aku ingin mencoba sesuatu.
"Ah, kau sudah move on atas kematian temanmu?" Omni Tanah atau juga Diro, berucap kasar, berkata kepada Jennifer di depan kita.
Dia tidak menimpali, membantu pasukan yang terluka.
"Apa maksudmu?!" Komandan Yakza heran, menghindari serangannya bertubi-tubi.
Sing!
Aku mengeluarkan tameng di depan Omni Api, namun sambil membentuknya sesuka hatiku. Saat dia mengeluarkan bola api, aku menghalanginya. Saat ada bola api yang banyak, kupecah tamengnya dan menghalangi semuanya. Dengan begini tidak perlu repot-repot membuat tameng untuk setiap pasukan.
Salah satu prajurit, yang berkekuatan 'cermin', membuat medan transparan di depannya dan membalikkan bola api kepada omni. Hebat.
Omni Api terbang, mengeluarkan api dari tangan dan kakinya seperti roket. Dia maju membakar semuanya seperti menyiram tanaman.
Tameng fleksibelku menghalangi apinya, kita semua terlindungi.
BAM! BAM! BAM! Gelembung peledak Raphael berhasil melukainya sekali. Omni Api hampir jatuh.
Satu prajurit yang berkekuatan 'jarum' membentuk jarinya seperti jarum runcing dan memanjangkannya. Omni Api tersangkut di pohon karenanya.
Tap! Aku ikut menjebaknya dengan tamengku, dia benar-benar tidak bisa bergerak.
Omni Api atau Diro, mencoba bebas. Namun dia justru tertawa. "Ha! Ha! Ha! Ha! Ha! Sedendam itukah kalian kepadaku?"
BAM!!! Gelembung peledak Raphael meledakkan pohon di atasnya, mencoba menakutinya.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan cemas terhadap kekuatanmu, Raphael?! Aku membunuh jutaan orang sendirian! Kau pikir monster kecil, medium dan besar itu, dari mana mereka bisa terbentuk?! Mereka semua adalah mayat yang aku bunuh, dan menjadi monster karena monster pertama yang diciptakan ilmuan itu menyebarkan virus hingga mereka bisa hidup lagi! Semua monster yang kalian bunuh, adalah mayat yang telah kupenggal kepalanya! Aku tidak takut terhadap siapapun!" Diro dalam otak Omni Api terkekeh, semua prajurit bingung mendengarnya.
"Hei! Apa maksudnya?!" Satu orang bertanya kepadaku.
Sebelum aku sempat menjawab, Diro tertawa lagi. "Aku adalah Brolia Diero! Yang bertahun-tahun menyamar sebagai Jenderal kalian! Aku adalah orang yang akan mewujudkan rencanaku!"
Semua pasukan mendengar teriakannya. Mereka langsung shock, monster paling menyeramkan baru saja menyebarkan identitasnya.
"Rencana apa?!" BAM! Raphael bertanya sambil meledakkan pohon sekitar.
"Aku ingin menciptakan dunia di mana tidak ada manusia yang hidup! Manusia tidak layak bernapas dengan kebodohan dan ketidakmanusiaannya! Bahkan diriku, setelah aku berhasil melenyapkan Yuvia, Arzhul, lalu seluruh dunia! Aku akan membunuh diriku sendiri! Dengan begitu, dunia ini bersih dari kejahatan! Dari manusia!"
"Kau gila!" BAM!!! BAM!!! BAM!!! Gelembung peledak berhasil menjatuhkan Omni Api dengan meledakkan semua pohon yang menopangnya. Tamengku masih menempel di tubuhnya.
Dia menggerung kesakitan, mencoba bebas. Tapi tamengku terlalu kuat.
"Ha ... ha ... ha ... ha ... sampai jumpa nanti ... kita pasti akan bertemu lagi, Falisha ..." Diro yang berada di otak Omni Api berucap sinis menatapku dingin.
Aku memukul kepalanya, membuatnya pingsan. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukan sekarang ...
Aku menatap ke arah prajurit. Mereka ketakutan, cemas, khawatir, takut, menyerah, semuanya terlihat putus asa.
Raphael tiba-tiba berdiri di tanah tertinggi.
BAM!!! Dia mengeluarkan gelembung peledak yang sangat berisik, mencuri perhatian semua orang.
Raphael berhenti di tengah-tengah, menangis sejenak.
"Jadi ayolah, jangan menyerah karena mendengar nama musuhmu. Menyerahlah kalau tidak ada lagi yang ingin berusaha. Itu yang bisa kita lakukan sekarang ..."
Semua mata terkunci kepadanya. Aku tersenyum lebar, mengepalkan tangan. Bagus!
Perlahan-lahan, prajurit yang berkekuatan cermin berdiri. "Ya! Ayo kita berjuang demi Yuda! Demi Yuda! Hidup Yuda!!!"
Dilanjutkan oleh yang lainnya. "Yuda! Hidup Yuda! Hidup!"
"Hidup Yuda!"
"Demi Yuda!"
"Karena Yuda! Untuk Yuda!"
CRAS!!! Komandan Yakza, Ayah, Paman Logan dan Leo berhasil membuat Omni Tanah pingsan. Lantas, mereka berdua menatap Raphael, dengan bangga.
Jennifer menghampiriku, terkejut akan semua orang yang mendadak berteriak nama Yuda. Lalu, dia menunduk, tersenyum sambil mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Terima kasih ... Raf ..." Ucap Jennifer sambil menghembuskan napas. Aku menepuk bahunya, akhirnya Jennifer telah kembali ...
KRAK ...!!!
Sekilas, semua api di hutan ini menghilang. Aku merasakan sensasi dingin yang familiar.
Semua mata tertuju ke belakang. Komandan Kiara, dengan prajuritnya, Firza dan Azriel datang menghampiri kita. Tiga pasukan membawa tubuh tiga omni yang tadi dilawannya. Artinya mereka berhasil ...
Tep! Semuanya berhenti berlari, mendarat menatap ke arah Komandan Yakza dan Leo.
"Kiara, kau tidak apa-apa?" Tanya Komandan Yakza.
Komandan Kiara tersenyum. "Yah, tiga omni memang merepotkan. Tapi kita berhasil."
"Dari mana kalian menemukan kita?" Aku ikut menghampirinya, penasaran. Ayah dan Paman Logan sedikit dicurigai Komandan Kiara, tapi dia cukup pintar untuk menyadari bahwa mereka adalah keluargaku. Jadi Komandan Kiara kembali tenang, melanjutkan percakapan.
"Kebakaran hutan. Tapi sisanya adalah karena kita mendengar seruan nama 'Yuda'. Sepertinya anak itu berhasil melakukan sesuatu yang menakjubkan, seperti biasanya. Di mana dia?" Dia menatap ke segala arah, tidak ada yang menjawab pertanyaan Komandan Kiara, bukan karena semuanya takut kepadanya.
Tapi ada Azriel, yang berdiri di sampingnya. Di samping Komandan Kiara, Azriel sudah melotot, menyadari sesuatu.
Azriel di mata para pasukan adalah prajurit yang sangat hebat, tanpa kekuatan dia bisa membantai kita semua. Azriel adalah salah satu harta Pasukan Penjaga Kedamaian yang sangat mengagumkan.
Mata Azriel terbuka lebar, lantas, tubuhnya terduduk lemas.
"Yu ... da ... adikku ... sudah mati ...?" Dia berkata lemas. Kepalanya menghadap ke arahku, matanya berkaca-kaca.
Aku dengan pasrah harus mengangguk. "Aku sangat sangat sangat meminta maaf, Azriel ... Yuda berkorban demi-"
"Demi ...? Demi apa ...? Dia berkorban, tapi ... dirinya meninggal, itu yang sekarang penting, kan ...? Kenapa aku harus peduli dia mengorbankan apa ...?" Intonasinya mulai marah. Azriel mengepalkan tangannya dengan kasar.
"Azriel, maaf, tapi kita harus pergi. Tameng kotak Falisha bisa membawa kita semua-"
Krek! Azriel memegang lengan Raphael yang hendak membantunya berdiri. "Aku ... harus menguburnya ... aku harus mengubur tubuh Yuda ..."
"Tapi, terlalu berbahaya, Azriel. Ada robot milik Diro yang berada di dekat gedung-"
"Aku tidak peduli ... Falisha, sungguh. Aku tidak peduli ... tinggalkan saja aku. Aku ingin mengubur tubuh Yuda ... walaupun aku harus mengorbankan semua jari dan anggota tubuhku, aku harus melihat wajah adikku sekali lagi dan menguburnya ..."
Dia tidak menerimanya. Aku sangat sedih melihat kelakuannya seperti ini. Mungkin Komandan Yakza berkata benar selama ini, kasih sayang Yuda sepenuhnya berada kepada kakaknya ...
Leo memegang bahuku, menggeleng sambil murung. Tidak berguna, Fal. Dia tidak akan ikut bersama kami ...
Aku berpikir sejenak, lantas mengangguk pasrah. Aku memunculkan tameng kotak yang lebih besar, menampung kita semua kecuali Azriel. Kemudian, aku menerbangkannya. Semua orang di dalam tamengku menatap sosok prajurit yang duduk sedih, tidak terima atas kematian adiknya.
Kita semua terbang meninggalkan Azriel di tengah hutan yang sedikit terbakar, di tengah gelapnya malam.
__ADS_1
Maafkan aku, Azriel ... semoga kau baik-baik saja ...