Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Robot?


__ADS_3

"ALPAAAAA!!!"


Leo berteriak. Alpa menurkarkan tubuhnya dengan Leo di saat yang tepat, membuat Alpa terbunuh ditusuk oleh Omni Kayu dan Leo yang selamat ke belakang.


BUM!!! BUM!!! BUM!!! Rudal-rudal kecil keluar dari tangan robot besar di belakang. Seluruh pasukan menghindar ke mana-mana.


"Sial! Bagaimana cara komandannya berpindah?!" Omni Kayu berseru marah.


"Awas!"


BUM!!!


Aku mendorong Jennifer dari rudal kecil.


"Kenapa ada dua musuh sekarang?!" Raphael dan Yuda datang mendekat. Kami berkumpul menjaga satu sama lain.


"LEO!!!" Aku cemas melihat Leo yang maju lincah, beradu serangan dengan Omni Kayu. Gerakan mereka seimbang dan sama-sama kuat.


BUM!!! Rudal kecil tidak sengaja menghantam kami, kita berempat terpisah sekilas.


Aku mulai panik. "Astaga! Jennifer! Raphael! Yuda!"


Mereka tidak menjawab panggilanku.


BWUSH!!!


Leo menyelamatkanku sedetik sebelum Omni Kayu membunuhku.


Omni terkekeh. "Hei ... itu anak kesayanganmu, ya?"


"Tutup mulutmu, Omni." SLASH! SLASH! SLASH! Pedang dan kayu saling beradu. Tidak peduli sekeras apa pun Leo melontarkan serangan, Omni itu bisa memunculkan tubuh kayunya sesuka hati.


Sret! Yuda menarik tanganku. "Kau tidak apa-apa?!"


"Ya. Di mana yang lainnya?" Jawabku cemas sambil menatap sekitar.


"LEO!" Raphael di samping Leo datang membantunya. Dia memunculkan gelembung peledak berkali-kali demi membuatnya mundur. Lalu Leo menyerang seraya omni teralihkan, ide yang sangat baik untuk sekarang.


"Hei! Ada yang terluka?" Jennifer datang, bertanya sambil mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya.


Aku menggeleng, Yuda serupa.


BAM! BWUSH! BAM!


Raphael dan Leo menyerang mati-matian kepada omni. Namun omni itu terlihat jauh lebih kuat daripada mereka. Robot besar di belakang kita juga mulai dilawan oleh prajurit-prajurit di sini, tidak lupa bahwa itu adalah robot buatan Jenderal Besar, bisa jadi robot itu lebih kuat dari musuh apa pun yang pernah kita lawan selama ini.


BAM!!! Gelembung Raphael membuat Omni Kayu terpelanting, masuk kembali ke kantor tinggi itu.

__ADS_1


"Leo!" Raphael memanggil komandan kita yang gercap berlari ke belakang, mengubah musuh, mencoba melindungi prajuritnya yang melawan robot besar.


BWUSH!!! BWUSH!!! BWUSH!!!


Cepat sekali dia membuat api segitiga dari tanah yang membakar ke atas, membuat robot itu buta sejenak. Memberi kita waktu.


Tubuh Alpa di bawa oleh Yuda ke tengah. Dia tertusuk, tidak bernapas, mulut dan matanya terbuka lebar tidak berdaya.


Leo jantan menatapnya, halus menutup matanya pelan-pelan.


...


Setelah tarikan napas yang panjang, dia mulai bersiap lagi dengan pedangnya, menghadap pintu kantor. Berjaga-jaga karena kapanpun Omni Kayu bisa keluar dari situ.


Hening sejenak, kami merenungkan kematian Alpa yang menyelamatkan komandan. Prajurit yang hebat ...


...


"Leo, aku punya ide." Yuda datang mengangkat tangannya.


Kami menatapnya tajam, menunggu jawaban.


"Saya, Falisha, Raphael dan Jennifer akan melawannya. Sebagai balas budi bahwa kau telah merawat kita dari kecil. Di dalam kantor itu, kita bisa melawannya bersama-sama." Ucapnya dengan serius dan tegas. Beberapa detik Leo berpikir tentang ide itu, kemudian mengangguk.


"Dari semua orang, jujur saja, aku paling percaya dengan kalian berempat. Baiklah, berjanjilah agar kalian bisa menuntaskannya." Dia menjawab sambil mengusap kepala Yuda. Kami berempat mengangguk cepat, dan langsung berlari ke kantor menendang pintunya terbuka.


Akan kita balaskan kematian Alpa. Omni Kayu ... bersiaplah!


BRAK!


Pintu ditendang kencang oleh Raphael, membuatnya terbuka lebar.


Raphael menyelidiki sekitar, kemudian mengangkat tangan. Keluar sinyal bahwa musuh tidak ada, aman.


Kami bertiga masuk mengikutinya. Aku membuat tameng supertebal bercahaya putih menutupi semua kantor ini, agar tidak ada yang bisa masuk maupun keluar. Cukup kokoh.


Dari dalam, kantornya terlihat seperti kantor-kantor pada biasanya. Komputer, meja, dan lain-lain. Tapi semuanya berdebu karena warga sudah dievakuasi selama berbulan-bulan, semuanya di sini ditinggalkan.


"Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!" Kekehan aneh dan menggelikan menggema ke seluruh tempat. Kami berempat mengacungkan pedang cahaya, berjaga-jaga.


BRAK!


Omni Kayu berusaha menusukku, kubuat tameng agar dia hancur sebelum melukaiku.


Omni mendarat di depan kita, berdiri tegak. "Wah ... kalian berempat berani sekali datang dan rela untuk melawanku di sini. Mencari ini ya?" Lantas dikeluarkanlah serum bercahaya hijau yang kita cari, dia benar-benar mencurinya selama ini ...


"Berikan serum itu sekarang, omni. Aku adalah orang yang paling kuat di sini sekarang. Kamu pasti kalah." Ucapku geram.

__ADS_1


"Oh? Baiklah. Bagaimana kalau kita buktikan SAJA!" BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! Dia membuat kayu runcing ingin menusuk kami berkali-kali. Aku memunculkan tameng gelembung untuk berlindung.


Cahaya biru keluar dari Yuda, dia membentangkan tangan ke depan. Pergerakan Omni Kayu terkunci olehnya, Yuda berhasil.


"Cih!"


Raphael membuat gelembung peledak yang maju meluncurkan serangan pembunuh. "Begini saja, omni?" Aku berkata yakin.


Omni tersenyum. "Ceroboh!" BRAK!!! Kali ini muncul ratusan kayu tajam besar menghantam tamengku berkali-kali. Benar-benar tanpa henti dan serangannya sangat berat. Kalau begini, tamengku akan hancur.


BUM!


Gelembung Raphael meletus karenanya, kita terpental ke belakang.


ZRUNG! Yuda membuat kami terbang, tidak lagi meluncur. Asap tebal menghalangi pandangan.


"HA!!!" Omni Kayu maju melewati abunya, hendak menusuk kepala Jennifer.


SLASH!!! Raphael memotong lengan kayunya. Buk! Aku menendangnya jauh.


Zung! Yuda mengunci pergerakannya lagi. BUM! Raphael meledakkannya hingga lengan Omni Kayu terpisah dari badan. Aku membuat tameng di lengan yang putus agar dia tidak bisa regenerasi.


Sret! Sret! Sret! Sret! Ratusan kayu runcing kembali hadir, aku membuat tameng kotak agar kita bisa berlindung dan berdiri di dalamnya.


Sambil mempertahankan tameng, aku maju ke depan mengunci pandangan omni. Dia terbatuk-batuk di bawah, melihat tangannya yang buntung tidak berdaya.


"Kau membunuh Alpa ... kau mencuri serum itu ... kau yang menyebabkan semua ini!" Raphael membuat tiga gelembung peledak, hendak melontarkannya ke depan.


Omni Kayu tersenyum. "Tidak juga ..."


Tiba-tiba, tubuhnya mencair. Tubuh Omni Kayu mencair seakan-akan es batu yang diletakkan di bawah matahari.


"Dia mencair?!" Jennifer kaget.


Yuda mengeluarkan cahaya biru, bersiap. "Bukan! Dia menyatu dengan ubinnya! Lihat! Ubin, tembok, meja dan atapnya hampir ada beberapa bagian yang terbuat dari kayu! Dia bersatu dengan semuanya!"


Kayu besar dari meja-meja kantor dihubungkan, menjadi segitiga yang sangat besar dan tajam mengarah ke kita.


BRUK!!! Sekali dihantam keras ke tamengku, langsung retak. Sekilas tubuhku terasa sakit.


"Fal!" Raphael berseru cemas.


BRUK!!! BRUK!!! BRUK!!!


"Ah!" Aku berusaha sekuat mungkin. Serangannya lebih keras dari apa pun.


Yuda berteriak penuh. Kedua tangannya seperti memisahkan sesuatu sampai terbelah, cahaya biru bersinar sangat terang. Dia membuat segitiga itu hancur seketika, Omni Kayu terlihat berada di dalamnya.

__ADS_1


"Raf!!!" Kuberi sinyal. Raphael membuat gelembung yang meledakkan Omni Kayu, tapi Omni tiba-tiba menghilang.


Omni Kayu tiba-tiba muncul di belakangku, di dalam tamengku, entah bagaimana caranya. Sedetik lagi, Omni Kayu sudah siap menusuk dadaku.


__ADS_2