Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Hari Pembantaian


__ADS_3

Kami semua berbaris melingkar, tiga barisan total. Menyisakan ruang kosong di tengah untuk Leo memberikan instruksi.


Leo berdiri tegak, menarik napas. Hendak bicara.


"Baiklah, aku tidak mau keliru lagi. Langsung saja." SWOOSH! Leo mengangkat pedangnya ke atas, api menyambar membuat peta negara di langit. Kami semua menjatuhkan rahang melihatnya.


"Ada total tiga sarang di sini. Syukurlah, sedikit. Markas pertama terletak di sini, tujuh kilometer dekat sekolah." Dia membuat api menjulang ke atas dari pedangnya, seperti rotan, yang sekarang menunjuk ke markas pertama. Berbentuk bangunan tinggi dua lantai yang terletak di jalanan gang biasa.


"Huh, itu gedung TK milik tetanggaku." Yuda yang berbaris di sampingku berkata.


"Oh ya? Astaga..." Aku menatap tidak percaya. Kasihan sekali orang-orang di sana... apa yang terjadi sampai bisa dijadikan sarang monster?


"Yang kedua." BUSH! Apinya bergerak, menunjuk tempat satu lantai dengan luas 30x50 meter. Lebih kecil, tapi pasti isinya banyak. Seperti rumah jamur itu.


"Di sarang kedua, aku minta kalian dibagi menjadi dua kelompok. Penjaga luar dan dalam. Barisan di sebelah kananku akan menjaga di luar bangunan. Di sebelah kiri, akan menjaga daerah di dalam bangunan. Pastikan kalian selalu siap siaga." Leo memerintah.


"Siap!" Kami semua berseru.


Aku termasuk barisan di sebelah kiri Leo, berarti aku akan melawan monster lebih banyak! Yes!


"Dan yang terakhir, markas ketiga." BUSH! Apinya bergerak lagi, kali ini menempel ke... stadion?!


"Nah, ini dia. Total sarang monster ada 31. Di Daerah Barat sini, ada tiga. Tapi sialnya, kita punya sarang monster yang paling besar, stadion sepak bola bertema warna biru ini. Besar sekali, tapi, seluruh stadion itu sudah tutup bertahun-tahun yang lalu dan terpenuhi oleh cairan hitam lengket. Jadi kuharap kalian siap. Kalian semua adalah pasukan Daerah Barat. Bersumpah untuk menjaga kedamaian. Bersedia untuk mengorbankan apa pun. Bersiap untuk mati." BWUSH! Api dihilangkan, Leo mengistirahatkan lengannya ke belakang.


"DEMI YUVIA!"


"DEMI YUVIA!" Kami semua berseru setelah Leonardo. Oh iya, itu nama negaraku. Yuvia.


Semuanya bersorak, teriak, bersemangat hebat. Aku hanya menyengir kecil, Raphael yang jauh dariku, terlihat bangga mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Jennifer, dia tertawa bersama yang lainnya.


"TAPI!" Teriakan Leo memenuhi atmosfir, suasana berisik tadi menjadi hening total. Tidak ada suara.


"Aku sudah melihat, beberapa diantara kalian. PULUHAN! Puluhan dari kalian yang bermalas-malasan akhir-akhir ini. ALDO! FAHRI! ALIA! HAIKAL! LIA! DIANA! SUGA!-" Astaga Leo... kamu mau menyebutkan semua namanya?


"MIARA! FARJA! YURI! SELI! MISA! ARIA! FIANA! BARIA! GATO!" Aku menelan ludah, dia masih berseru memanggil semua orang. Mereka yang disebut namanya menunduk malu, karena Leo membuat api kecil di atas kepala mereka agar semuanya bisa tahu siapa yang malas itu. Menurutku mereka berhak menerimanya, saat penyerangan Arkane, aku bisa melihat kekecewaan Leo terhadap pasukannya.


"Dan terakhir, SALWA! Aku tahu kalian hebat dan berbakat, merasa bisa mengakhiri masalah monster-manusia ini sendirian. TAPI!" BWUUUSHHH! Api di atas kepala mereka membesar cepat, berbentuk tombak meruncing ke bawah, tajam sekali. Leo sangat marah...

__ADS_1


"Jika kalian tidak niat menjadi prajurit, akan kubunuh semuanya sekarang. Peduli setan hukuman mati atau penjara untukku, orang-orang seperti kalian tidak dibutuhkan dalam Hari Pembantaian ini. MENGERTI?!" JRAAASH! Eh! Sekarang apinya berwarna biru, aku bisa merasakan panasnya dari jauh!


"S... si... siap! Siap!!!" Perlahan, mereka mengangkat kepalanya. Terbata-bata menjawab pertanyaan Leo.


Hening sejenak, suara api yang membara masih hadir.


BSHH... Leo menghembuskan napas, api birunya hilang, suasana sudah tidak panas lagi.


"Baiklah, ayo kita bantai para monster." SIIIIIIIIING!


"Eh? eh? Eh?!" Kami semua terkejut, tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan mata, dan serentak, kami sudah berada di depan gedung dua lantai itu! Di markas pertama!


"Jangan berlebihan. Ini hanyalah teknologi baru, teleportasi."SING! Leo mengeluarkan pedang cahayanya, bersiap.


Setelah beberapa detik kejutan, akhirnya kita juga rampung mengeluarkan pedang cahaya, membuat terang sampai tiga meter berwarna putih.


"Hancur lebur, dasar monster..." Yuda terlihat sebal, melihat gedung TK yang sangat besar milik tetangganya sudah hancur, dan lagi-lagi ada cairan hitam pekat menutup 70% tempat itu. Menjijikkan.


Tunggu dulu, tempatnya besar sekali! Sekitar 900x800 meter, ini taman kanak-kanak?


BRUKKK! Lantai satu dibuka, isinya ratusan monster medium yang berdesis, mengangkat semua tangannya, hendak menyerang.


ZRUNG! Leo memotong banyak monster di depan, SLASH! SLASH! CRAS! diikuti banyak orang di belakangnya.


JRAASH! Aku menusuk salah satunya, CRAS! Memenggal di sampingnya-


"!" DUK! Salah satu monster hendak menusukku, Yuda mendorongnya, JRASH! Menusuknya.


"Terima kasih!" SLASH! Aku berkata sambil menebas monster, Yuda mengagguk.


Jennifer dan Raphael bersampingan, kerja sama mereka sempurna. BUK! CRAS! SLASH! Jennifer membanting monster, ditusuk oleh Raphael. Lalu dia menebas monster yang hendak menyerang Raphael.


BUK! Salah satu monster hendak membantingku, tapi aku menahan tangannya. CRAS! Menariknya sambil menusuk, dia menjadi debu.


SLASH! SLASH! SLASH! JRAAASH! Leo lagi-lagi menari ke sana kemari, gerakannya penuh perhitungan dan brilian, aku sempat termangu.


DUK!

__ADS_1


"Eh?!"


BUM! Barusan aku mencoba membelah tubuh monster, tapi hanya berhasil sampai separuhnya. Lantas dia memukulku namun meleset menghantam tembok. Monster tebal, ya...


BUK! Kuhindari serangannya ke kanan. CRAS! Memotong kaki kecilnya.


"Yuda!" Aku berseru, dia langsung mengerti.


JRAAAASH! Kami memenggalnya dari kedua arah, monster itu selesai.


Tapi... perasaanku ganjil, aku merasa ada bahaya yang akan datang...


CRAT! CRAS! CRAS! SLASH!


Terdengar suara belasan pasukan kami yang menjerit, astaga! Mereka diserang! Oleh siapa?!


S... siapa...?! Tidak ada orang atau monster, tiba-tiba tubuh pasukan kami ditusuk, dibeset, diserang! Ada apa ini?!


"FALISHA!" BUK! Yuda mendorongku jatuh. Aku juga merasakannya, sosok tidak terlihat itu menyerangku.


"Apa... apa ini, Yuda?!" Aku khawatir.


"Sudah jelas, bukan?" Dia membantuku berdiri.


"!" BWUUUUSHHH!!! Sosok tidak terlihat hendak membunuh Leo, tapi Leo membuat api yang menyimpang ke atas, Leo sudah merasakan kehadirannya.


"Ugh! Menyebalkan! Sangat menyebalkan!" Sosok itu mulai terlihat, mengibaskan bajunya agar api itu hilang.


Seluruh pasukan panik menatapnya. Figur yang tingginya satu setengahku, memakai seragam sekolah guru. Seorang lelaki tua, pucat, putih, seram.


"Omni." Yuda berkata ketus, memasang kuda-kuda kokoh, menjulurkan pedangnya.


ZUNG! Sosok itu hilang lagi, BWUSH! BWUSH! BWUSH! Leo menembakkan apinya, mengikuti firasatnya.


BUSH! Apinya terbelah, dia membelah api Leo dalam keadaan menghilang, lantas muncul lagi di ujung. Menatap kami semua sinis.


"Hehehe, selamat datang. Manusia." Dia memakai pedang cahaya, bedanya, pedang miliknya sangat tipis dan kecil. Seluruh pasukan mempersiapkan diri, melawan Omni yang punya kekuatan unik "menghilang". Panggil saja Omni Menghilang.

__ADS_1


__ADS_2