
GRRRKKK!!!
"Apa itu?!" Aku berseru kaget, ada suara gesekan yang luar biasa mendekati tempat kita berdiri.
"Lari!" Komandan Kiara mengambil daun itu seiring berlarinya kita ke luar ruangan, menuju pintu besar berbentuk lingkaran di belakang.
Tiba-tiba, pintunya tertutup dengan cepat.
"Apa?!" Gesekan itu terjadi lagi entah di mana. Suaranya memekakkan telingaku.
"Bagaimana caranya kita keluar?!" Firza berteriak panik.
"Semuanya, bertahanlah." Yuda membentangkan kedua tangannya. Matanya kembali bersinar berwarna biru, tubuh kami terbang bersamanya seketika.
"Kita akan keluar dari sini."
"Caranya?" Komandan bertanya.
SWOOOSHH!!! Tubuh kita naik dengan cepat. Sinar dari badan Yuda semakin terang. "Kita akan melesat ke atas, siapa tahu dengan tekanan yang berkumpul, tanah atau bebatuan yang menjadi atap tempat ini bisa hancur.
Aku menelan ludah, itu artinya kepala kita harus menghantam benda yang sangat keras. Tapi tidak ada pilihan lain ... Yuda juga baru bangun.
"Itu gila! Kita bisa mati bersama!" Firza berkomentar takut.
"Tenang, Kak Firza, aku tidak akan menghantam kepala kita secara langsung. Akan kubantu dengan kekuatanku juga." Yuda menjawab tenang.
Aku dan Firza berdua menghela napas, syukurlah ...
"Uh oh, siap-siap!" Komandan Kiara menunduk sedikit, atapnya sudah terlihat, yaitu batu besar yang berkumpul beberapa meter di atas kepala kita!
"Umm ... ini gawat." Firza melihat seluruh labirin, makhluk hidup dan tantangan yang kita lewati hancur bersamanya bebatuan besar di atas itu jatuh. Gesekan tadi adalah reaksi dari gempa yang terjadi setelah pusaka keempat diambil oleh kita.
"Tidak, ini adalah petaka. Pulau Empat akan hancur! Tempat ini dan Pulau Dua akan menghilang dari sejarah Daerah Selatan. Ini sungguh kerugian yang besar." Komandan Kiara ikut menyaksikannya. Kepalanya separuh pasrah menunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Komandan. Bukan salahmu." Aku mencoba menenangkan.
BRUKKK!!! Yuda mengangkat tangannya ke atas, atap tempat ini langsung hancur, seluruh tubuh kita berhasil keluar dari ruangan mengerikan di bawah tanah itu.
Sekarang kami melayang di atas Pulau Empat, kosong, masih sama seperti tadi. Hanya dataran yang berisi tanah dan pasir. Ombak lautan juga semakin kasar. Cuaca di sini masih terik dan panas.
Yuda mendaratkan tubuh kita ke Pulau Empat. Aku dan yang lainnya menghela napas lega, cahaya yang mengelilingi kita menghilang perlahan.
"Kerja bagus Yuda." Komandan Kiara mengacungkan jempol.
"Terus? Sekarang apa?" Azriel bertanya sambil mengusap keringat di leher.
"Dia pasti datang, tenang saja." Dijawab santai oleh Komandan Kiara, dia menatap lautan lepas di depan kita. Dari lagaknya, dia seperti sedang menunggu seseorang ...
"Dia? Siapa?" Aku heran.
Mendadak saja, ada suara getaran dari belahan lautan sana. Beserta seruan dan teriakan yang terdengar riang dan bangga. Itu adalah pasukan yang kami tinggalkan di Pulau Tiga, menaiki kapal pesiar, dengan Zed sebagai pemimpinnya sedang melambaikan tangan ke kita di paling depan.
"Astaga ... itukah mereka? Para pasukan? Pasukan Penjaga Kedamaian?" Firza takjub sambil maju perlahan.
"Tunggu, dari mana mereka mendapatkan kapal pesiar itu?" Azriel bertanya.
"Mungkin di Pulau Tiga sudah disiapkan. Tempat itu sangat praktis dan luas, kapal pesiar tidak sulit ditemukan." Dijawab oleh Yuda. Aku juga terkejut, kukira Zed tidak akan datang dan menetap di sana, ternyata dia berinisiasi untuk menyelamatkan kita ...
SWOOSH! Tubuh kami diangkat lagi, oleh Yuda. Kita menuju kapal pesiar raksasa, akan menumpang di saja.
Semua orang ceria menyambut kita. Tapi, semua reaksi berubah saat Firza terlihat. Mereka langsung berjaga-jaga, mengacungkan pedang cahayanya.
"Tidak apa-apa. Dia sudah sadar dari kondisi omninya." Komandan Kiara mencoba menenangkan seiring kami mendarat ke geladak kapal. Mata Yuda yang bersinar pelan-pelan meredup.
"Sudah sadar? Maaf, maksudmu apa, Komandan?" Salah satu prajurit bertanya. Belasan dari mereka sudah menodongkan pedang cahayanya mendekati leher Firza.
"Beberapa hal terjadi saat kita mengejar Firza, atau yang kalian sebut sebagai "Omni Peledak". Singkat cerita, kami menabrak satu sama lain dengan parah hingga dia tidak sadarkan diri. Tapi, saat Firza sadar, dia bilang bahwa hal terakhir yang bisa ingat adalah ada sosok mengerikan yang membuatnya pingsan. Sama seperti Pak Danu, Pak Danu juga mengingat hal yang sama. Firza atau Omni Peledak dan Pak Danu dicuci otak selama bertahun-tahun oleh 'sosok mengerikan' ini.
__ADS_1
"Itu artinya, kita punya bukti yang pasti, dan ini adalah informasi yang sangat penting agar pencarian dalang di balik semua monster di Yuvia berhasil. Berkat Falisha, Yuda, Azriel, misi kita sudah 80% sukses. Dan jangan lupa, Omni Peledak juga berhasil sembuh karena mereka. Kita harus bangga dan mencontohkan anak-anak tersebut, anak-anak yang luar biasa!" Komandan Kiara berkata tegas. Cepat sekali suasana berubah dari bingung dan hening, menjadi sorakan bangga dan takjub dari semua prajurit Daerah Selatan.
Aku malu-malu menunduk. Azriel dan Yuda di sampingku juga serupa. Hanya Firza yang tersenyum lebar, menatap kami berempat.
Zed menyengir. Dia yang berdiri di paling depan, memimpin.
"Paman Zed." Firza menunduk.
"Ah, syukurlah kau sudah sembuh ... aku punya banyak hal untuk diceritakan kepadamu." Zed menepuk-nepuk bahu Firza dengan halus. Mereka berdua bersama Komandan Kiara memiliki percakapan kecil-kecilan yang terdengar sangat penting. Aku masih malu mendengar tepukan tangan yang sangat berisik. Syukurlah, reputasiku di Daerah Selatan tidak buruk ...
...***...
Kapal pesiar yang menjemput kita melesat cepat di tengah lautan yang sepi. Suasana menjadi sangat tenang dan sejuk di sini. Aku bersandar di ujung geladak menatap langit, terkadang melihat burung yang lewat menikmati kehidupannya.
Mereka punya koordinat menuju Pulau Lima, pulau terakhir yang harus kita tuju. Jadi setelah ini, kita akan kembali ke markas, mengamankan kelima pusaka Daerah Selatan.
Bicara tentang pusakanya, Komandan Kiara sedang menyelidikinya bersama orang terpintar di Daerah Selatan. Sayangnya masih belum diketahui jawaban tentang bagaimana caranya para leluhur membuat semua benda-benda itu. Tapi yah, dapat empat pusaka itu adalah sebuah kemajuan yang baik. Kita bisa beristirahat sejenak di sini.
"Hei, Falisha." Firza menghampiriku, sambil membawa segelas air yang disiapkan kapal.
"Hei. Oh, terima kasih." Aku meminumnya, langsung habis.
"Hahahahaha. Habis? Wah, kau sangat lelah. Sini, biar kutambah lagi."
"Wah, boleh deh." Aku tersenyum mulus, kembali menatap lautan yang indah dan agung.
Lengang sejenak, menyisakan suara ombak yang menenangkan.
...
"Hei, Firza ..." Aku memanggilnya sekilas, ada yang ingin kutanyakan.
"Ya?"
__ADS_1
"Pernahkah kau punya sahabat, yang entah kenapa dia mau berteman denganmu? Maksudku, aku punya teman ... yah, dia adalah teman yang terbaik sedunia. Namanya Raphael. Tapi aku meragukan alasan dia ingin berteman denganku ... karena waktu itu, sikapku buruk sekali ... apa yang harus kulakukan ...?" Aku menatapnya serius, sedikit cemas juga. Firza melihatku dengan tegas. Lantas, dia menutup matanya.
"Sudah jelas, bukan? Dia jatuh cinta padamu."