Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Dua Musuh


__ADS_3

"Komandan Kiara kalah!"


Semua orang berteriak tidak terima, aku menutup mulut dengan tangan.


Azriel menang? Dalam duel melawan Komandan Kiara?!


Dia tersenyum, menarik napas tinggi-tinggi. "Kalian tahu? Upacara kenaikan tingkat itu tidak untuk umum, hanya bisa disaksikan oleh para komandan dan Jenderal Besar. Nah, ini dia kabar buruknya. Lima menit bertarung, sisa tiga puluh detik, Komandan Kiara terduduk di tanah arena. Tinggal menebas lehernya saja, dia akan mati. Peraturannya adalah bertahan, maka pangkat baru itu milikmu. Jika komandan yang dilawan kalah, maka kau akan menjadi komandan yang sah menggantikannya. Jangan lupa kita tidak boleh menggunakan kekuatan.


"Saat itu, aku mendekatinya. Perempuan tinggi yang lelah itu lemas terjatuh, menundukkan kepala. Para komandan dan Jenderal melihatku bangga, mereka akan mendapatkan komandan yang lebih layak.


"'Kau sangat lemah. Wanita tidak seharusnya menjadi seorang ketua, Kiara.' Ucapku dengan sinis. Beberapa langkah lagi aku bisa membuatnya pingsan. Setelah itu, aku, Azriel, akan menjadi Komandan Pasukan Daerah Selatan yang baru, termuda dan terbaik di seluruh Yuvia.


'"Azriel, kan? Namamu itu?' Komandan Kiara bertanya, mengaduh sedikit.


"Aku mengangguk, seraya menaruh pedang cahaya kembali. Sebentar lagi aku akan memukulnya.


"'Kakak dari Yuda, ya... heheheheh' Tiba-tiba dia terkekeh, komandan kalian tertawa tidak jelas!


"Tapi, aku merasakan sensasi yang aneh darinya. Matanya itu, mengingatkanku terhadap kejadian tertentu. Mata Komandan Kiara membuatku merindukan seseorang, tidak tahu siapa...


"'Ayahmu itu, dia bedebah, kan? Rumahmu meledak karena adikmu tidak terima dibilang lemah. Lantas, kalian berdua terpental keluar dengan rumah yang terbakar. Ayah kalian juga mati karena monster, kau gagal menyelamatkan dua hal, rumahmu dan ayahmu. Kau orang yang lemah, Azriel. Semua kebangganmu itu palsu, semuanya samar.' Mendengar kalimat tadi, tubuhku semuanya bergetar, berguncang. Waktu menunjukkan sepuluh detik lagi.


"Aku tidak bisa bergerak, sungguh. Momen itu sangat menyeramkan dan mengejutkan walaupun tingkahku tidak kaget sama sekali saat itu. "Aku lemah? Aku gagal?" Itu yang memenuhi otakku.


"Tapi brengseknya, itu hanyalah trik belaka. Komandan Kiara gesit berdiri, membanting tubuhku dengan cepat. Dia bermain-main dengan otakku untuk mendapatkan momentum. Gerakanku terkunci olehnya.


"Sayangnya dia tidak tahu, aku tidak lemah. Sret! Aku bergerak lebih lincah, menghantam perutnya keras ke tanah sampai retak. Komandan Kiara berseru kesakitan.


"TET! Waktu sudah habis. Sial! Karena hasilnya seri, aku akan dapat pangkat baruku itu. Tapi aku mengincar posisi sebagai komandan. Dia curang, Komandan Kiara curang dengan membawa masa laluku. Lihat, posisi sekarang adalah aku berhasil membantingnya, tapi kalah dengan waktu. Dari saat itu, kira berdua tahu bahwa aku lebih kuat dari siapa pun di markas. Aku, Azriel, adalah tuhan berkedok manusia dalam bertarung. Aku tidak terkalahkan."


Cerita Azriel tadi membuat kapal pesiar lengang, sunyi. Semua orang terlihat kaget dan takut. Komandan Kiara benar-benar kalah melawan seorang remaja.


Wanita tinggi itu memegang pedang cahaya, masih menurunkan kepala. "Aku punya isuku sendiri, Azriel. Tidak akan pernah aku turunkan peringkatku menjadi prajurit biasa sebelum tujuanku tersampaikan. Aku harus memenuhinya. Delapan tahun aku menjaga empat pulau, semuanya tidak memimpinku kepada hal yang ingin kuraih. Tapi dalam misi ini, semuanya akan tuntas, baru setelah itu kau boleh meminta ulang duelnya. Aku janji."


Azriel menatapnya tidak percaya. "Sungguh ...?"


Komandan mengangguk.


...


"ROOOAAAAAAAR!!!" Teriakan berat dan berisik menimpa lautan. Aku menutup telinga hebat sambil mendongak ke belakang.

__ADS_1


"Apa itu?!" Yuda bertanya.


"Komandan! Kita mendekat ke Pulau Dua-" BRAK!!! Prajurit yang hendak melapor diserang oleh tangan raksasa, menghancurkannya dan bagian dari kapal.


Hanya soal waktu, buritan juga ikut hancur dihantam tangan raksasa berwarna hitam. Seluruh kapal berguncang hebat.


Aku melihat lewat ujung kapal. Pulau Dua hanya berjarak tiga puluh langkah dari kita. Sesuatu diam-diam menarik kapal saat perhatian kita teralihkan tadi!


BRUK!!! Semua pasukan terkejut, aku menghindari serangan. Kali ini separuh kapal sudah rusak, banyak prajurit sudah tenggelam, berenang.


Buk! Yuda mendorongku tiba-tiba.


BRAK!!! Tangan raksasa kembali menghantam geladak, Yuda terkena serangannya. Tubuhku terjatuh.


BYUR! Suara keributan di kapal mengecil. Seluruh seragam dan tubuhku basah, aku berada di dalam lautan.


"YUDA!!! KAMU DI MANA?!!!" Aku berenang ke atas, sibuk menjaga keseimbangan. Temanku yang tadi di samping tiba-tiba menghilang!


Belasan prajurit juga turun menuju dasar lautan. Aku tidak menghiraukannya, di mana Yuda?!


BRUK!!! BRUK!!! BRUK!!! Suara pukulan di atas kapal hadir kembali. Sah, kapal pesiar es tadi sudah hancur berkeping-keping oleh makhluk misterius dari bawah laut.


"YUDAAAAAAA!!!" Teriakanku mengalahkan apa pun.


"LEPASKAN AKU!!!" Aku tidak terima. Komandan Kiara yang melakukannya.


"Jangan, Falisha! Makhluk ini tidak mengenal ampun!"


"LEPASKAN!!!" BUM!!! Tangan raksasa hampir mengenai tubuhku, Komandan memiliki kecepatan yang hebat.


"Komandan Kiara! Ayo cepat!" Salah satu prajurit yang sudah sampai di Pulau Dua berteriak. Yang lainnya juga ikut mendukung.


"YUDAAAAAA!!!" Astaga ... astaga! Di mana dia?! Dia mengorbankan dirinya untukku?! Yuda?! YUDA!!!


...***...


Sepuluh menit sudah berlalu.


Para pasukan semuanya selamat, mendarat di Pulau Dua dalam keadaan yang basah dan lelah.


Pulau ini ... warnanya gelap, dipenuhi oleh pohon-pohon raksasa lancip ke atas. Kabut yang besar menghalangi seperempat pandangan mata.

__ADS_1


Aku masih berteriak ke arah laut, dilihat oleh semua orang. Aku memanggil sahabatku yang daritadi tidak terlihat, berteriak sampai serak tanpa henti.


"KAMU DI MANAAAA?!-" BUK! Tubuhku mendadak dibanting jatuh oleh seseorang.


"BERISIK!" Azriel, berseru kepada telinga kiriku.


"H... hah...?"


"HEI ******! TUTUP MULUTMU! YUDA SUDAH MATI!" Dia berteriak lagi. Aku menatapnya tidak percaya ...


"A... APA MAKSUDMU?!" Bam! Aku memunculkan tameng transparan terang berwarna putih, membuatnya terlempar. Beberapa orang terkejut melihatnya.


Kami berdua berdiri perlahan, Azriel melihatku kaget sambil mengusap pasir di bibir.


"Dia ... dia adalah adikmu ...! ADIKMU! YUDA ADALAH KELUARGAMU! TIDAKKAH KAU MERASA KASIHAN SEDIKIT PUN, HAH?! ADIKMU TENGGELAM DI LAUT!!!" Aku maju sambil mengacungkan pedang cahaya. Pedangku bersinar putih terang. Tameng berbentuk lingkaran melindungi seluruh tubuhku.


Azriel hanya diam menatapku.


"JAWAB!!!" WOOSH! Aku tidak mengendalikannya, tamengku sendiri berbentuk runcing mengarah kepada Azriel.


...


"Bagaimana...? Bagaimana bisa ****** sepertimu mendapatkan kekuatan itu?" Wajahnya terlipat.


"Hah?!" Aku heran. Dia bicara apa sih?!


"Bertahun-tahun aku menjadi pasukan, menjadi dewa semua orang di markas, kekuatan pedangku tidak pernah bangkit. Bagaimana caranya kau mengaktifkannya...? Anak lemah dan rendahan sepertimu, bagaimana?!" Dia bertanya seru, lancang mendekatiku dengan cepat.


Dia belum mengaktifkan kekuatannya? Orang seperti dia!


BUK! Aku didorong kasar, tamengku menghilang.


"Bagaimana?!" Azriel mengangkat tubuhku, lantas menjatuhkannya lagi. Kepalaku pening saking cepatnya.


"Cukup, Azriel!" Komandan Kiara mendekat dari belakang.


"Jawab aku! Bagaimana caranya?!"


Kakiku malah bergetar. Kalau boleh jujur, aku takut padanya, sangat takut. Tapi mendengar dia tidak punya kekuatan, itu artinya aku bisa mengalahkannya kapan saja.


"AWAS!" Salah satu pasukan berteriak, disusul oleh semuanya. Dari sana terdengar suara hantaman dan dentuman.

__ADS_1


Aku memutar balikkan badanku, astaga ...


Pulau Dua, pulau ini, dipenuhi oleh ratusan monster besar dengan enam tangan. Mereka menatap kita marah, dan mulai menyerang semuanya yang bisa mereka lihat.


__ADS_2