Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Rencana Kami


__ADS_3

Malam ini?!


Maksudnya nanti? Jam delapan?


"Ha? Kenapa berubah pikiran?" Aku bertanya, mendadak sekali...


"Iya, kenapa?" Jennifer juga.


"Begini... aku tidak mau menunggu terlalu lama, dan aku tidak mau juga ketahuan oleh Jendral Besar, waktu mana yang cocok kecuali sekarang?" Dia membalas, aku masih bingung.


"Pikirkan saja, besok kita akan membantu warga evakuasi, tapi bagaimana kalau kita terlalu lengah hingga dibunuh monster di tempat itu?


Sekarang lebih tepat dan pas, benar kan?" Raphael memperjelas, hmm...


"Hmm... menurutku, kita ikut apa yang dikatakan Leo saja... dia itu sangat perhitungan, aku yakin dia juga memikirkan waktu kita memeriksa tempat itu dengan baik." Jennifer yang membalas.


...


"Baiklah, tapi aku masih ingin mendengar pendapat Falisha." Dia menungguku.


Haruskah aku ikut Raphael... atau Jennifer...?


Kurasa... malam ini lebih baik... lebih cepat kita membantai atau mengetahui sesuatu tentang monster, akan lebih baik.


"Aku setuju dengan Raphael... maaf, Jen..." Kubalas pesan itu.


"Terima kasih, cantik!!!" Jawab Raphael.


"Berisik." Kubalas lagi.


"Waduh... ya sudah... kita berkumpul jam berapa?" Jennifer bertanya.


"Hmm... seberapa jauh tempat misterius itu, Raf?"


"Sebelah timur dari gerbang sekolah, sekitar dua kilometer."


"Berarti... butuh waktu dua belas menit untuk sampai, ya... kalau dari rumahku, berarti sekitar empat kilometer, hampir setengah jam." Balasku


"Tidak jika memakai sepeda." Raphael membalas.


"Tapi aku tidak punya sepeda..."


"Tidak apa-apa, kita bersama saja lagi."


"Kamu yakin? Bagaimana kalau nanti berat dan kelelahan sebelum sampai?"


"Haduh, Fal... aku ini laki-laki, sudah tugasnya untuk melayani seorang perempuan." Dia membalas.


...


"Baiklah, terima kasih." Aku setuju.


"Kita berkumpul di rumahku jam tujuh, oke?"


"Oke deh." Jennifer dan Raphael setuju. kami harus bersiap-siap.

__ADS_1


***


Sekarang, pukul 19.30 tepat, aku sudah membagikan lokasi rumahku ke grup tadi, mereka akan tiba sebentar lagi...


Sudah kupakai seragam pasukanku, meletakkan kotak panjang di tempatnya di celana, melakukan pemanasan, olahraga sebentar, phew... lantas mengembuskan napas.


Tok! Tok! Tok!


Itu pasti mereka!


Aku berlari menghampiri pintu, lalu membukanya perlahan.


Kreeek...


"Selamat malam, Falisha." Itu, Jendral Besar...


"Malam, Jendral." Kakiku memiliki gempa sendiri, tapi aku masih bisa bicara...


Jendral Besar dengan seragamnya dan pedang cahaya miliknya yang dimatikan berdiri tegak di depanku, mengistirahatkan kedua lengannya ke belakang.


"Oh? Wah, kau ingin membantu warga di jam segini?" Dia menatap seragamku fokus, membungkuk.


"Iya, Jendral." Aku langsung setuju, astaga... bisa gawat kalau ketahuan...


"Hahaha. Hebat, tidak salah Komandan Leonardo mengasuhmu." Dia tergelak, aku lamat-lamat mengangguk.


"Aku sedang melakukan patroli nenunju seluruh daerah, lalu sampai di Daerah Barat. Tadinya aku ingin memeriksa keadaanmu, Raphael dan Jennifer, tapi Dokter Liona bilang hanya kamu yang masih memiliki halangan internal, apakah kamu bisa melanjutkan peranmu menjadi prajurit? Tidak ada paksaan. Untuk usiamu, kamu adalah emas bagi Pasukan Penjaga Kedamaian."


Aku... masih mau...


"Baiklah, hati-hati. Kusarankan kau mulai membantu di dekat sini, masih banyak warga yang belum selesai, bahkan, ada beberapa yang menolak, mengatakan bahwa monster-monster itu hanya konspirasi. Hahaha, sepertinya kinerja markas cukup berhasil sehingga para monster dianggap seperti itu." Dia tergelak lagi, mengangguk-ngangguk cepat.


Wah... kalau para monster itu dianggap mitos, berarti Jendral Besar hebat sekali dalam memimpin...


Haruskah aku mengatakan rencana kami padanya...? Kira-kira apa reaksinya?


"Umm, Jendral." Aku memanggilnya, tubuhnya yang hendak pergi jadi membeku, kepalanya menghadapku.


"..."


"Semoga yang terbaik datang untuk kami semua." Jangan... aku berubah pikiran, Leo dan Raf sudah berusaha keras untuk ini, akan bodoh kalau ketahuan hanya karena kesalahanku...


"Iya, semoga yang terbaik datang untuk umat manusia." Dia membalas, mengangguk perlahan, lantas pergi ke arah kiri, meninggalkanku sendirian...


Krek! Kututup pintu rumah, membuang napas lega.


"Psst... Fal!" Terdengar suara dari jendela di seberang pintu masuk. Dia melambaikan tangannya.


"Siapa di sana?" Aku berbisik membalas, berharap terdengar.


"Raphael!" Ha? Apa yang dia lakukan di balik jendela berwarna putih itu?


Aku berjalan mendekat ke arahnya, membukanya perlahan. "Hei!"


"Maaf, Fal... tadi aku ingin mengetuk pintu depan, tapi aku melihat Jendral Besar yang sedang berbicara dengan pasukan yang menjaga tronton di dekat rumahmu. Jadinya aku mundur dan memutar saja ke belakang." Dia membalas, dengan sepeda kuningnya yang didudukinya.

__ADS_1


"Aku juga panik, Raf... tiba-tiba dia ada di sini." Aku merinding hebat, benar-benar mendadak kedatangannya itu...


"Baiklah, ayo. Jennifer tidak jauh dari sini." Raphael memintaku turun, lantas aku keluar lewat jendela, aneh sekali melakukan ini di dekat Raphael... kalau tidak ada Jendral Besar, dia pasti terbahak...


Trap! Aku berhasil turun, menutup jendela rumahku.


"Oke, ayo naik." Raphael memiringkan sepedanya, aku naik pelan-pelan, lagi-lagi berdiri dan bersandar memegang bahu Raphael.


"Phew... aku takut bakso tiga piring itu membuatmu berat, ternyata tidak." Dia terkekeh.


"Heh, itu sudah lewat. Lagipula, tidak ada sehari tanpaku berolahraga." Aku menjawab kesal.


"Hahaha, baiklah." Dia menggoes sepedanya, menjauh dari rumahku lewat belakang, di gang kecil yang lebih kotor dibanding jalanan utama di depan pintu rumahku.


"Hei, hati-hati, bagaimana kalau jatuh? Siapa yang akan merawat kami? Kak Liona sudah pergi." Sepeda Raphael melaju cepat, aku keberatan.


"Tidak akan jatuh, sudah tujuh tahun aku menaiki sepeda ini. Sudah ahli dibanding seluruh manusia di dunia." Dia membalas, terkadang kepalanya menghadap ke arahku, dan kembali menghadap ke depan.


Arah keluar gang kecil sampai, kemudian Raphael belok ke arah kanan.


"EH!"


BRUK!


Aku jatuh dari sepeda, Raphael menabrak seseorang...


"Aduh..." Aku meraba seluruh tubuh, syukurlah, tidak apa-apa...


"Astaga! Kau tidak apa-apa?!" Raphael bertanya khawatir.


"Kan! Lihat siapa yang ditabrak! Jangan mengkhawatirkanku!" Astaga... baru kuperingati, langsung kejadian.


"Oh iya..." Dia berganti arah, menuju orang yang ditabrak.


Waduh... itu...


"APA YANG KAU PIKIRKAN?! MEMBAWA SEPEDA DENGAN KECEPATAN DI LUAR KEWARASAN, RAPHAEL?!" Aku menepuk dahi, ternyata kami menabrak Leo...


"Maaf, Leo." Raphael membantunya berdiri, Leo menepuk-nepuk seragamnya, menggelengkan kepala sambil menutup wajahnya.


"Haih... kalau ingin membantu warga, jangan tergesa-gesa begini... mereka semua tidak akan kabur." Dia menunduk menatap kami. Raphael mendirikan sepedanya kembali, mengusap seragamnya agar tanahnya jatuh.


"Eh... tunggu dulu..." Leo menatap kami dalam.


"Kalian tidak ingin membantu warga... kalian ingin memeriksa tempat itu sekarang, benar kan?" Dia berkata tajam, aku dan Raphael tidak berani menjawab.


Jalanan sepi yang lebar hening, beberapa suara warga yang lewat menimpali.


"I... iya, Leo... aku pikir akan lebih baik..." Aku yang menjawab.


"Fal..." Raphael menatapku.


"Hm, jangan bohong, pasti idenya Raphael." Astaga... masih ketahuan juga, dia pintar sekali.


"Baiklah... tapi kalian perlu waspada, aku tidak bisa membantu kalian. Jadi kumohon, lindungi satu sama lain, mengerti?" Leo berkata pelan, berusaha untuk tidak didengar orang lain. Kami berdua setuju, berseru bahagia...

__ADS_1


"Hati-hati. Sampaikan salamku pada Jennifer." Dia mengelus kepala kami berdua, kemudian masuk ke jalanan utama, menjauh menatap beberapa penduduk...


__ADS_2