
Kenapa aku harus mencari... tempat ini lagi...?
Lihat... bentuk segitiga... dengan banyak kursi panjang...
...
Kursi di tengah itu...
Terakhir kali kududuk di situ...
"ADA APA DENGAN DUNIA, AYAH?!"
...
"CEPAT!!!"
A... aku harus pergi...
Aku berlari meninggalkan Kak Liona sendirian di dekat Taman Segitiga.
"Fal? Fal!" Dia memanggilku berkali-kali.
Maaf... maaf maaf... aku tidak bisa... aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi, kumohon...
Tapi ke mana? Aku tidak ingat jalan pulang. Kak Liona membawaku ke sini tapi aku melamun sepanjang jalan...
Orang-orang mondar-mandir cepat, menaiki tronton yang dijaga oleh beberapa pasukan di tengah jalan, aku sendirian di sebelah kiri, di samping rumah-rumah kecil yang tidak pernah kulihat.
Hei... kakiku tidak bisa berhenti berguncang... ayolah berhenti! Ingatan itu hanyalah sebuah ingatan!
"AWAS FALISHA!"
Aku terduduk di pinggiran, menutup kepala dengan kedua tangan.
Itu hanya ingatan... Fal... ingatan!
Ibu sudah mati, Ayah sudah mati, tidak ada yang bisa kulakukan!
Tidak ada! Aku tidak bisa melakukan apa pun! Tidak bisa! Tidak bisa...
...
"Loh, Falisha?"
Seseorang menyebut namaku dari belakang.
Itu Nessie dengan Ibunya, membawa dua koper di belakang. Pakaian mereka tebal sekali, sedang bersiap evakuasi...
"Kau kenapa? Sakit kah?" Ibunya bertanya singkat, wajahnya cemas.
"Tidak..."
"Lantas? Kenapa duduk sendirian di pinggir jalan? Terlihat seperti pengangguran..." Nessie membantuku berdiri, menepuk-nepuk bajuku.
"Aku memang sinis, tapi bukan berarti aku tidak mau membantu. Kalau ada apa-apa, bicaralah." Dia bersedekap, Ibunya menelitiku.
"Tunggu... kau adalah bagian dari pasukan!"
"Hah?!" Nessie terkejut, matanya terbuka lebar.
"Y... ya... sebenarnya..."
"Tunggu! Falisha?! Penyendiri?! Orang sepertimu?! Di usiamu yang segini menjadi pasukan?!" Nessie mendorong, menarik, mendorong, menarik bahuku, aku merasa pusing...
__ADS_1
"Nes! Hentikan! Sakit kepala dia!" Ibunya menariknya, membuatku bebas.
"Astaga... lihatlah kau... hebat, cantik, lebih gagah daripada di kelas! Aku jadi iri... pantas saja Raphael suka denganmu!"
"!" Wajahku memerah, apa kata Nessie? Raphael?
"H... ha? Raphael suka-"
"Iya! Setidaknya dari tingkah laku kalian, terlihat seperti Raphael suka denganmu!"
Phew, hanya hipotesis. Tapi...
"Baik, Nessie... Falisha, aku salut dengan perjuanganmu, tapi kami tidak bisa terus di sini, kami harus pergi menaiki tronton itu, jadi kau jaga dirimu baik-baik, ya." Ibunya meyentuh bahuku, memberi semangat.
"Iya, hati-hati, Fal..." Nessie menimpali, kemudian mengambil dua kopernya.
"B... baik..." Aku mengangguk, mereka berjalan pergi menjauh, menaiki tronton di tengah jalan.
"Bye, Fal!" Dia melambaikan tangan, aku ragu-ragu membalas.
Nessie ternyata... orang baik, ya... terlepas dari sikap sombongnya di sekolah.
Baiklah, untuk sekarang, aku adalah bagian dari pasukan, jangan memikirkan hal yang lain dulu.
Lagipula, lusa, aku benar-benar akan bertemu dengan Monster Bertopi Fedora... karena kita akan membantai seluruh sarang monster dan isinya... ingatan itu tidak akan lagi berpengaruh padaku...
Setidaknya... itu yang kuharapkan...
Sekarang, bagaimana caraku pulang?
"Ooi Faaal!" Suara itu... Kak Liona?
Iya, itu dia... berlari melambaikan tangan, cepat sekali...
"Haduh... kamu tuh... jangan... kabur..." Dia kelelahan, menarik napas berkali-kali, mengusap keringat di dahi.
"Ya sudah... tidak apa-apa..." Dia menepuk bahuku, menyuruhku berdiri tegak.
"Kurasa... kamu punya kenangan yang buruk ya, tentang tempat itu..." Kak Liona menatapku sopan, cemas.
"..." Aku tidak mampu bicara tentang itu..
"Hmm... baiklah, tidak dijawab juga tidak apa-apa, aku mengerti rasanya punya dendam yang dalam terhadap sesuatu."
"Sungguh?" Kak Liona serius? Dia mengerti?
"Tentu saja. Menurutmu kenapa aku ingin menjadi Dokter di markas?"
"..." Aku menggeleng, tidak tahu.
"Karena Kakakku, Isabella, meninggal dibunuh oleh monster delapan tahun yang lalu..." Dia menjawab datar.
Eh... Isabella...? Isabella kan...
"Jadi aku berhutang banyak padanya, dia adalah Kakak yang paling baik di seluruh dunia ini. Menyuapkan makanan kepadaku saat aku kecil, mengajarkanku cara bertahan hidup, memberiku uang dengan senyuman bahkan saat dia dalam mood marah, mendukungku sampai aku bisa menjadi Dokter yang handal. Karena aku tidak bisa menyelamatkannya, kuganti tujuan hidupku dengan menyelamatkan orang-orang di markas, sebagai ucapan terima kasih untuknya." Mulut Kak Liona bermesem, menatap ke bawah...
...
Grep. Aku memeluknya erat...
"Eh... Fal...?"
"Pasti berat ya... hidup ini..." Aku mempererat pelukanku padanya, astaga... ternyata dibalik semua sikapnya yang baik... dia mengalami hal seperti ini...
__ADS_1
"Hahahahaha... tidak apa-apa... kita hanya bisa move on dan tetap melakukan hal yang baik." Dia membalas pelukanku, akhirnya melepaskannya.
"Baiklah, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Beristirahatlah sampai lusa." Kak Liona mengusap kepalaku, aku setuju, kita jalan berdua menuju rumah sekarang...
***
Pukul 18.00, hari sudah mulai gelap.
Kunyalakan lampu-lampu di luar rumah, lampu-lampu di pinggir jalan menjadi sumber cahaya. Saklarnya persis di samping pintu masuk.
"Baiklah, kalau butuh bantuan, telepon aku ya..." Kak Liona melambaikan tangan, aku membungkuk.
"Terima kasih, sungguh."
"Sama-sama, Falisha..." Dia tersenyum lebar, lalu pergi menjauh, aku menutup pintu rumah.
Aku berjalan menuju sofa di depan TV di sebelah kanan, mendudukinya...
Besok malam... kami bertiga akan memeriksa tempat misterius itu, kira-kira... ada apa ya?
Hahahaha... lucu juga membayangkan Raphael yang diam-diam menggambar saat rapat, wajahnya pasti panik sekali...
BRRRT... BRRRT...
Ponselku yang kutinggalkan di sofa berdering, jarang sekali seperti ini...
Kubuka layar hpku.
"Raphael has created a group" Di layar, di bawah tulisan jam, ada informasi bahwa Raphael membuat sebuah grup.
Pfft... namanya "Orang-Orang Keren". Ada apa ini?
"Hei, Fal... Jenn..." Terdapat pesan dari Raphael dalam grupnya.
"Maaf, salah nomor." Aku iseng menjawab.
"Yeeeh, sudah susah-susah dapat nomor, kalau salah sih kuhancurkan handphoneku sekarang..." Dibalas, benar juga... dulu dia susah payah mendapatkan nomorku, aku masih sulit mempercayai orang saat itu...
"Oh halo Fal, Raf, ada apa ini?" Jennifer akhirnya membalas.
"Tidak tahu, Raphael tiba-tiba membuat grup ini."
"Hahahaha... namanya boleh juga."
"Wah tentu saja, aku memang keren." Balas Raphael.
"Begini... aku sudah memikirkan tentang ini sepanjang hari, tapi aku memerlukan pendapat kalian." Ujar Raphael, memikirkan apa?
"Oh? Memangnya ada apa? Apa yang kau pikirkan?" Jennifer penasaran.
"Tapi... agak seram juga kalau kalian setuju... kalau tidak, maka akan terlalu lama..." Apa maksud Raphael? Terlalu lama? Agak seram?
"Hei, jelaskan cepat, ada apa?" Aku heran.
"Begini... Leo bilang dia menyarankan kita menyerang tempat itu besok malam, kan?" Raphael berkata.
"Iya, terus?"
...
Raphael tiba-tiba diam.
"Ada apa, Raphael?" Jennifer makin ingin tahu.
__ADS_1
"Bagaimana... bagaimana kalau kita menyerang tempat yang dilingkari warna merah itu malam ini...? Hari ini, jam delapan malam..."
Apa? Kenapa...?