Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Keributan di Markas


__ADS_3

Lampu kantor Leo sudah menyala. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas sekarang. Dingin, dipenuhi dengan bongkahan es yang hancur. Beberapa uap memenuhi ruangan. Aku menarik napas tersengal, sambil menahan hawa membeku di seluruh tubuhku kecuali kepala.


Di sebelah kanan, ada Leo, Komandan Kiara, dan Yuda yang sedang melihatku.


"Hei! Ada apa ini?!" Aku berseru heran. Kenapa mereka melakukan ini?


"Kiara." Leo menepuk bahu orang di sebelahnya, lantas dia mengangguk. Sekilas, es yang membekukan tubuhku sudah mencair sempurna. Meninggalkan air yang sangat banyak di bawah, masih terasa dingin.


"Yuda!" Melihat temanku itu, langsung saja aku berlari ke arahnya. Bertanya tentang kabarnya.


"Aku baik, Fal. Terima kasih sudah menjengukku berkali-kali." Dia memelukku erat, aku juga membalasnya.


"Tapi Raphael bilang, kamu sembuh dua hari lagi?"


"Yuda adalah orang yang kuat. Sebelum ini, aku mengajaknya berlatih, dan dia menyelesaikan semuanya tanpa kesalahan. Jadi dokter mengizinkannya pergi. Atas kesetujuan Yuda juga, tentu saja." Leo mendekat ke arahku, tersenyum. Separuh senyumannya memperlihatkan sifat jengkel karena 70% kantornya dingin dipenuhi air dan es.


"Baiklah, Kiara. Ada sesuatu yang hendak kau jelaskan? Semuanya sudah hadir." Leo menatapnya tegas. Bersender di tembok sambil bertanya pada sosok wanita di sampingnya.


"Belum semuanya. Masih ada satu orang lagi. Menurut prediksiku, lima belas detik lagi dia sudah membuka pintu." Komandan Kiara membalas tegas, menatap jam di dinding sejenak.


Aku menatap Yuda, dia mengangkat bahu. Siapa? Raphael? Apakah akan ada misi lagi dengan Komandan baru? Wah, kalau benar, sepertinya ini akan sangat berbeda dengan Komandan Yakza. Komandan Kiara terlihat lebih galak.


Kreeeeek... pintu kantor Leo terbuka perlahan.


Sungguh, seluruh tubuhku merasakan panas. Aku ingin berseru sebrisik mungkin setelah melihat tubuh orang yang baru masuk itu. Dengan wajah khasnya, rambut berantakan dan seragam yang lebih gelap dari punyaku.


ZUNG! Aku menyalakan pedang cahaya, mengacungkannya ke depan sana.


"Kau berani sekali, menginjakkan kaki busukmu ke ruangan ini." Ucapku jengkel. Aku bisa menyerang kapan saja.


"Heh, ****** ini lagi." ZRUP! Pedang cahaya miliknya dinyalakan cepat, sambil memutar-mutarkannya, bergaya, luka bakar itu mengganggu pandanganku. Azriel sialan, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?!

__ADS_1


"Oh... hai, Yuda. Butuh waktu dua hari untuk sembuh? Eh? Tiga hari atau dua hari, ya? Ah, sudahlah. Buat apa aku peduli dengan orang lemah sepertimu?" Azriel terkekeh hebat, kepalanya terangkat sambil menutup wajahnya. Dia tidak peduli dengan dua komandan yang menatapnya sempurna.


Masih tertawa sendirian seperti orang gila. Aku menggigit bibir. Leo dan Komandan Kiara pasti akan menghentikanku kalau melesat maju. Akhirnya, kumatikan pedang cahaya, meletakkannya kembali.


Yuda hanya menundukkan kepala, tidak berkata apa pun.


"Cukup." Komandan Kiara berkata pendek, lurus. Nadanya sangat dingin. Sebentar saja tawa Azriel terhenti, membuat ruangan hening dan sunyi lagi.


Aku bisa melihatnya jelas. Kedua tatapan bertemu. Tatapan dendam dari kedua pihak, Azriel dan Yuda. Mereka tidak ingin berdamai lagi. Yuda tambah murka dan kakaknya tidak peduli sama sekali. Kasihan sekali.


"Terima kasih, Leonardo. Serahkan sisanya kepadaku. Azriel, Yuda, Falisha, ikuti aku." Komandan menunduk sedikit, kemudian memerintah. Kami bertiga lamat-lamat melihatnya, belum begitu mengerti, tapi yah, kami mengikutinya ke luar kantor.


Aku melambaikan tangan pada Leo yang akan ditinggalkan, meminta restu agar selamat. Dia balas mengangguk, tersenyum yakin, memberiku semangat yang mutlak.


Pintunya tertutup penuh. Menyisakan kami di ruangan utama markas. Suara berisik percakapan dan langkah kaki para pasukan memenuhi. Lagi-lagi, beberapa orang langsung menunduk hormat padanya. Komandan tidak menghiraukan, memberi aba-aba kepada kami agar jalan ke depan.


"Hmph. Lebih cepat, dong. Jangan lambat seperti wanita pada biasanya. Lemah." Azriel menendang punggungku di belakang. Seandainya saja tidak ada dosa dan pahala, seandainya saja tidak ada konsekuensi pada setiap aksi, aku sudah membunuhnya detik ini juga.


Terlihat saja, orang-orang termangu menatap ke arahku. Lebih tepatnya menatap budukan di belakang. Jujur saja, pasti reputasi Azriel bagus sebagai pasukan, tapi sebagai manusia?


Buk! Yuda tidak sengaja tersandung sesuatu, hampir jatuh.


"Kalah dengan ubin, Dik? Wah. Sungguh hebat." Azriel tertawa lepas. Nada dan intonasinya sungguh merendahkan.


BUK! Yuda tanpa ragu memutar balikkan badan, memukul wajah kakaknya keras.


"Wow..." Azriel membuang ludah, menatap adiknya dengan remeh.


Sekarang banyak perhatian tertuju pada kami. Akan ada pertempuran besar...


"Sudah, Yuda." Aku ingin menahan tubuhnya, tapi Yuda menolak. Dia kuat melepaskan dirinya dari peganganku.

__ADS_1


"Hei, ada apa?" Bisik-bisik orang-orang di sampingku bisa dilihat. Beberapa cemas, beberapa malah antusias menonton. Aku tidak tahu apa reaksi Komandan Kiara terhadap hal ini.


WOSH! Tendangan Yuda dihindari, Azriel tertawa. Balas memukulnya, kena. Mereka bertarung sungguhan. Ribut sekali di sini!


"Hm?" Suara Komandan Kiara muncul di telinga kananku.


BUK! Azriel menendang lincah, Yuda menunduk. Serangan itu malah mengenai vas besar markas, hancur bertebaran.


"Ganti rugi, Dik." Azriel tersenyum jahat.


Mereka berdua bertarung layaknya harimau yang berebut makanan, sangat brutal. Seragam mereka berbunyi hendak rusak, suara pukulan dan dentuman mengerikan terdengar jelas. Berkali-kali aku mencoba menahan Yuda, tidak berhasil. Dia sangat marah.


DUK! Dada Azriel dipukul keras, dia terjatuh.


Yuda berjalan dingin ke arah kakaknya yang sesak itu, mengelus dadanya, mencoba menarik napas. Tatapan datar Yuda sempurna tertuju pada Azriel, sekali serang saja, Azriel akan pingsan.


"Puh." Kakaknya dengki, meludahi adiknya yang hendak memukul lagi.


"Pukul lagi, ayo!" Seruan dukungan memenuhi ruangan ini. Begitu juga dengan keinginan beberapa pasukan agar semua ini bubar. Tidak ada yang bisa menghentikan atau menyelesaikan urusan mereka berdua, kecuali Azriel dan Yuda sendiri.


Sret! Tepat sedetik sebelum pukulan Yuda yang lincah mengenai kepala Azriel yang wajahnya lelah, dia berhenti. Lengannya tidak maju lagi.


Sosok kakak terkejut, melotot. Adiknya? Seluruh tubuhnya bergetar, ragu-ragu apakah harus melepaskan serangan ini. Kedua pihak terdiam secara tiba-tiba.


"Hmph. Benar, kan." Komandan Kiara di sampingku tertawa singkat, menepuk bahuku. Aku menatapnya bingung, kenapa?


"Baaaik. Sudah cukup." Astaga! Mudah saja Komandan Kiara mengangkat kedua orang itu dengan tangannya! Yuda diangkat kerahnya dengan tangan kanan, Azriel dengan tangan kirinya! Mereka seperti pakaian yang hendak dijemur olehnya!


"Kalian harus berada dalam pandanganku 24/7, non-stop. Sedetik saja kubiarkan, sepertinya akan ada pertengkaran lagi. Ayo, Falisha." Dia berkata santai. Pasukan yang menonton itu semuanya langsung pergi, takut akan wanita tinggi yang mengangkat dua remaja laki-laki dengan ringan.


Aku tidak punya pilihan, langsung saja mengikutinya. Masih belum tahu inti dari pertemuan ini.

__ADS_1


__ADS_2