Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kayu?


__ADS_3

Lantas, kami berlima mengangkat kaki menuju "Bangunan Tabung" yang dikatakan Kak Liona, melalui lembah hijau muda ini. Sesekali kuseka keringat di dahi, sangat panas siang ini, eh- maksudku sore ini.


Langit juga sudah mulai menjingga, sebentar lagi malam hari.


Di depanku, Komandan Yakza dan Jennifer sedang mengobrol, walaupun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Raphael dan Yuda kembali lagi bergurau. Aku hanya menatap pemandangan yang keren ini di kanan dan kiriku. Sambil menyahut beberapa cendrawasih yang lewat di atas kepala.


Komandan Yakza, ya... pertama kali kulihat, dia terasa menakutkan dan menyeramkan. Tapi ternyata cukup baik dan lembut. Tidak seperti Leo yang seram...


Kira-kira... apa ya kekuatan pedang milik Komandan Yakza? Magnet? Waduh, itu sangat keren. Tapi sepertinya bukan...


Mungkin cuci otak? Wah kalau begitu sih, Pasukan Penjaga Kedamaian akan lebih mudah menang melawan para omni...


Sret!


Komandan Yakza mengangkat tangan, terdengar suara di sebelah kiri, semua gerakan berhenti.


...


Hening, tidak ada yang bicara sama sekali. Kami semua waspada akan apa yang bersembunyi di sana.


"Apa itu, Komandan?" Jennifer berbisik pelan, Komandan memeriksanya, maju perlahan.


Sekilas, kami semua mengikutinya. Secara serentak maju dengan penuh kehati-hatian...


Semakin dekat, masih tidak ada apa pun di sana-


BUK!


"RAPHAEL!" Seruan Yuda terdengar dari belakang, kami semua melihatnya.


Apa itu?! Omni! Berbusana hitam! Sesosok omni memukul kepala Raphael dengan... kayu?!


Sep! Sep! Sep! Yuda membawa tubuh Raphael mendekat, kami semua berkumpul di satu titik.


Raphael lemas, tidak pingsan, tapi dia terlihat lelah...


"Aduh... omni sialan itu melakukan serangan mendadak..." Dia menggerung kesakitan, mengelus kepalanya.


Kenapa ada omni di sini?! Bukankah Daerah Utara sudah habis?!


SET! Komandan Yakza melesat maju, kecepatannya sangat mengesankan!


CRAT! Dia memotong lengan omni, BRUK! Menendang kakinya hingga jatuh. Lalu menusuk dada omni yang terkulai itu.


"Kenapa kamu ada di sini? Semua omni di Daerah Utara lenyap." Komandan Yakza membungkuk, kepalanya mendekat dan bertanya secara lancang.


"Hehehehe... Yakza Yakza Yakza... kau..." Omni itu tertawa lepas, walaupun batuk darah berwarna hitam lekat...


"Kau... anakmu itu... dia pasti sangat kecewa denganmu..." Komandan dihina lagi, intonasinya mulai menyebalkan. Jennifer di depanku mengepalkan tangannya, hendak membantu.


"Jangan, Jenn..." Raphael sudah duduk, mengusap sedikit darah di kepalanya.


"Tapi..."


"Jangan. Lihat, Komandan Yakza sudah bisa mengalahkannya dengan sendiri dan cepat. Dia tidak perlu bantuan kita..."

__ADS_1


Mendengar itu, kami semua menatapnya dengan khawatir. Tapi... benar saja, dia sudah menang. Tidak sampai sepuluh detik omni itu ditusuk tidak bisa bergerak.


KRK!


"EH?!" Aku terkejut, seluruh tubuhnya berubah menjadi kayu!


Dia adalah omni yang bisa mengubah dirinya menjadi kayu!


"!" Dengan cepat, Komandan menjauh, mencabut tusukan pedangnya.


KRK... BWUSH!


"DIA HENDAK KABUR!" Seruku melihat potongan kayu itu berpecah menjadi banyak, dengan kebetulan yang menyebalkan, angin kencang menerpa alam. Kayu-kayu kecil itu terbang menjauh dari, sangat tinggi dan mulai menghilang...


Komandan Yakza berlari mendekat sambil meletakkan pedangnya kembali. Wajahnya cemas melihat Raphael yang mengusap kepalanya.


"Kita harus mengejarnya!"


"Tidak, Raphael. Lukamu lebih penting-"


"Omni itu kabur! Kejar dia Komandan!"


"Raphael."


...


Kata-katanya dipotong secara halus, tapi Raphael bisa merasakannya, aku bisa merasakannya. Komandan tidak peduli soal omni itu, perhatiannya secara penuh berkumpul pada keselamatan kami...


"Sekarang, biar kulihat lukanya." Dia waspada memeriksa kepala Raphael. Melihatnya dengan perhitungan dan kepastian.


Dia melakukan penekanan terhadap lukanya, terkadang Raphael berdehem, kesakitan.


"Jangan berisik." Aku bergurau.


"Hmph." Dibalas menyengir sebal, kami terkekeh melihatnya.


Setelah beberapa menit, kepala Raphael diperban olehnya. Ternyata tas yang menempel di samping seragam Komandan Yakza menyimpan beberapa hal untuk misi ini.


Kami berkumpul kembali, waspada terhadap situasi.


"Semua omni di Daerah Utara sudah habis. Aku jamin itu." Komandan mempertegas.


"Tapi bagaimana? Kenapa ada dia di sini?" Tanyaku bingung.


"Kalau benar, ini gawat. Hanya teoriku saja, kalian sudah tahu kan, di daerah lain, tidak semua komandan berhasil membantai para monster. Beberapa dari mereka kabur, dan yang kabur ini pasti melesat cepat menuju Daerah Utara. Maka dari itu dia bisa muncul." Dia menjawab pertanyaanku, mengusap dagunya.


...


Gawat...


Kalau begitu, para omni benar-benar berbahaya.


"Apa jaminan dia tidak akan kembali, Komandan?"


"Dilihat dari serangannya, yang mengunci Raphael, bisa dipastikan dia seorang pengecut. Menghajar subjek yang seragamnya sama seperti kalian. Biasanya omni menyerangku secara langsung, seorang komandan, tapi yang ini tidak. Dia tidak akan kembali sampai aku mati." Komandan Yakza tersenyum membuat kami tidak takut. Aku menghembuskan napas lega, benar juga, tidak seperti Dzar, Ava, Arkane, yang satu ini menyerang bawahan...

__ADS_1


"Raphael, kamu yakin bisa lanjut mengikuti misi?" Kemudian dia bertanya. Raphael berdiri perlahan, walaupun masih mengaduh bertubi-tubi, pusing.


"Yah... akan kucoba, Komandan." Dia menjawab yakin. Aku menepuk bahunya "Bagus."


Yuda dan Jennifer tersenyum, sudah sah, kita semua akan melanjutkan misi.


...***...


Sebelas menit berjalan, masih di lembah berwarna hijau muda, kami berlima berdiri di tanah yang kosong.


"Di mana bangunan itu, Komandan?" Tanya Jennifer. Kami sejak tadi menatap ke segala arah mencari tempatnya, bangunan berbentuk tabung.


Komandan Yakza terkekeh. "Tunggu saja."


Tiba-tiba, terasa getaran yang sangat hebat. Guncangan yang tidak begitu mengerikan, namun terdengar seperti sedang membangkitkan sesuatu.


Lantas, di hadapan kami, tanah lembah membuat lubang yang sangat lebar. Bangunan Tabung, sesuai namanya, seperti tong besar berwarna abu-abu, muncul dari lubang itu. Perlahan naik ke atas menyambut kita. Ukurannya raksasa dan cocok untuk dijadikan suatu rumah peristirahatan kecil. Ada banyak tantangan buatan Kak Liona yang menanti di dalam.


Aku menghembuskan napas pelan. Semoga tidak sesulit yang kuduga... lagipula, Kak Liona pasti perhitungan saat membuat semua ini...


Krek... astaga! Seperempat Bangunan Tabung, bagian bawah, terbelah besar.


"Bangunannya hancur?!"


"Tidak, Fal. Ini pasti pintu masuk." Raphael tertawa, menepuk bahuku.


Syukurlah... kukira omni menyerang tempat ini...


"Makanya jangan begadang! Bleee!" Iiih! Dia mengejek sambil menarik bagian bawah mata kirinya! Dasar!


"Baiklah, ayo." Komandan Yakza memimpin jalan, kami semua mengikutinya. Masuk ke dalam yang isinya tidak ada apa pun. Hanya nihil, dan gelap. Tapi udara di sini terasa segar.


Brek! Bagian yang tadi terbelah, menutup perlahan. Sekarang kami tidak bisa melihat apa pun. Warna hitam menempati pandanganku, tidak ada bedanya saat menutup mata.


"Hoaam... aku ingin tidur..."


"Hahahaha..." Yuda tertawa mendengar lelucon Jennifer. Menyebalkan sekali aku tidak bisa melihat keduanya...


BWUSH! Api menyala di ujung depan, menerangi sekitar kami. Pandangan penuh kegelapan itu hilang sedikit demi sedikit.


"Api?" Aku memiringkan kepala.


Wah, aku tidak menyadarinya. Ruangan ini adalah lantai pertama. Ada lukisan yang menempel di tengah, rak disusun dengan buku-buku mengikuti bentuk bangunan, dan api itu berada di tempat perapiannya, di bawah lukisan.


Tiba-tiba, ada getaran yang bisa dirasakan seluruh tubuhku. Seperti gempa bumi yang kecil.


Akhirnya, di ujung kiri, ada batu bata yang naik dari ubin. Diikuti oleh batu bata di depannya yang lebih tinggi, diikuti lagi oleh yang lebih tinggi, lagi, lagi, dan lagi. Karena bangunan ini berbentuk tabung, jadi kumpulan batu itu melingkar, membuat tangga untuk kita naik di lantai kedua.


Komandan Yakza memimpin jalan lagi, kami semua mengikutinya dari belakang secara perlahan... kita akan menuju tantangan pertama.


"Fal..." Raphael di belakangku berbisik, seiring naiknya kami di atas tangga.


"Apa?"


"Setelah penyerangan Logan kemarin, aku merasakan kau menyembunyikan sesuatu dariku..."

__ADS_1


__ADS_2