
Anak bungsu yang malang itu berusaha setengah mati untuk tidak marah. Hati dan jiwanya telah hancur setelah menyadari bahwa Azriel merendahkannya selama berjam-jam. Sekilas, Yuda merasa bahwa dia bukan dirinya yang lama lagi...
...***...
Malam hari di dapur yang berisi Kakak dan Adiknya, mereka sedang menyiapkan makan malam.
Ayahnya yang pengecut dan tidak bertanggung jawab malah tertidur, menyuruh dibangunkan saat santapannya sudah siap.
"Maaf ya, Kak. Makanannya sedikit lama jadinya karena perutku." Tok. Yuda sedang memotong daging di samping Kakaknya. Menahan amarah sebisanya.
"Tidak apa-apa. Aku sangat beruntung karena Ayah sedang tidur, jadi aku tidak harus mendengar ocehannya bermenit-menit sampai kau selesai. Justru Kakak yang harus minta maaf karena tidak bisa masak..." Azriel menunduk malu menatap Adiknya yang masih memotong, sejenak melirik perutnya yang luka.
Kepala Yuda tambah ke bawah. "Apanya yang "Kakak yang harus minta maaf"? Kau menghinaku di belakangku, itu sangat mengecewakan." Ucap dalam hatinya, tapi apa boleh buat, dia harus terus memotong daging, tidak ada yang akan menyiapkan makan malam selain dirinya. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu semenjak orang tuanya berpisah.
"Kau tahu, kalau aku diajarkan memasak, aku pasti bisa menggantikanmu, kok! Jadi kita berganti-gantian saja masaknya. Ide yang bagus, kan?" Azriel berusul, tubuhnya mendekat kepada Adiknya.
"Hmph, diajarkan memasak juga tidak akan bisa. Kalau hebat dalam hal fisik, ya fisik saja. Jangan mau semuanya, nanti aku dilupakan dan diremehkan, dasar Kakak sialan." Dalam hati Adiknya. Mata Yuda menutup separuh, dia murka dalam hati. Tok! Kapak yang dipakainya digunakan secara lebih keras.
"Woah, pelan-pelan. Nanti kalau kena tanganmu bagaimana? Siapa yang akan membuatkan kita makan? Tanganmu itu kuat dan praktis, jadi jangan sampai kehilangannya ya." Azriel tersenyum kepada Yuda, tapi wajah Yuda menatap Kakaknya melotot, terkejut.
Di detik itu juga, Adiknya sadar akan sesuatu. Semua anggota keluarganya memanfaatkannya, menggunakannya seperti pion di catur yang malang. Di depan saat dia menguntungkan, dia dibilang hebat, di belakangnya, dia direndahkan. Hatinya seperti tertusuk seribu pedang dan kulitnya terasa dilepas berhari-hari, dia tidak terima.
"Jadi... aku kuat ya, Kak." Yuda terkekeh, meletakkan kapaknya dan merebus daging kecil-kecil itu.
"Iya, eh, apanya yang lucu?" Azriel penasaran.
"Tidak apa-apa. Lucu saja bagaimana kau menganggapku sebagai alat."
"Alat? Apa maksudmu, Yuda?"
"Aku mendengar semuanya, Kak. Aku tidak tidur di atas pahamu tadi siang. Ayah bilang kau pernah komplain kepada Ibu betapa lemahnya aku di hutan, hingga dia meninggalkan kita, jadilah Ayah seperti ini. Semuanya karena kau, yang tidak terima atas kondisiku. Semuanya karena Kakak!" Yuda berseru sambil mendorongnya.
"K... Kakak tidak pernah seperti itu! Ayolah! Itu pasti hanya khayalanmu!"
"!" Jantung Yuda semakin gentar, dia sudah tidak tahan.
"Bohong! Aku tahu apa yang aku dengar!"
"Tidak, Yuda! Itu tidak benar! Aku tidak pernah menganggapmu lemah-"
"Mengaku saja! Kau mengatakan itu karena aku harus menjadi pengganti Ibu, kan?! Aku harus memasak, mengobati, mencari uang, semuanya! Ayah sialan itu hanya memburu dan memburu! Bahkan, Kak! Daging yang kupotong tadi, kau tahu?! Itu bukan daging hewan yang dia buru! Entah ke mana dia membawanya, tapi yang kupotong adalah hadiah dari tetangga setelah aku membantunya! Ayah tidak berguna, sama seperti Kakak!"
Sekarang, giliran Kakaknya yang melotot terkejut, sama sakit hatinya seperti Adiknya.
__ADS_1
"A... A... Aaargh!!! Baiklah Adik brengsek! Kau memang lemah!"
"!"
"Kau adalah Adik yang paling bodoh, ceroboh dan tidak berdaya di seluruh dunia! Kau tahu, di hutan hari itu, lututku harus terluka parah karena melindungimu! Dengan otak idiotmu itu, kau tidak cukup waspada terhadap singa kuning itu!"
"Fisikku memang lemah, Kak! Aku tidak sekuat dirimu-"
"Itu dia! Seandainya kau tidak lahir, lututku akan jadi lebih sehat! Dan saat aku main bola, aku pasti akan menjadi jagoan! Seluruh hidupku akan jauh lebih baik tanpamu! Seandainya saja aku hidup sendiri, seandainya saja kau tidak hadir satu detik pun, Ibu masih ada di sini, dan kita masih damai dan tenang! Itu akan terwujud kalau Kau, Yuda, tidak pernah hidup!"
Mendengar kata-kata itu, Yuda yang malang terjatuh, menangis tertahan, segitu bebannya kah dia di hadapan keluarganya? Orang lemah dan tidak berdaya, itukah dia sebenarnya?
"Lihat! Sekarang kau menangis! Kenapa?! Tidak bisa melawan lagi? Ya! Itu adalah dirimu yang sebenarnya! Beban dunia!"
Air mata semakin deras mengalir dari Yuda. Dia mengusapnya lamat-lamat, mulutnya hanya mengucapkan "A..." Hendak melawan, tapi dia masih sakit...
Slash!
"?" Mereka berdua melihat ke arah pintu kamar Ayahnya. Suara apa itu?
Dengan cepat, Azriel berlari membuka pintunya. Yuda masih terkulai.
"!" BUK! Terdengar suara dentuman yang kuat. Yuda buru-buru menyusulnya.
"Kakak!" BUK! Seruan Yuda mengalahkan serangan monster, Kakaknya memegang pisau milik Ayahnya.
"Pergilah, Adik tidak berguna! Kau hanya akan menjadi beban!" Woosh! Azriel menghindari serangan, BUK! Serangannya dihindar balik oleh monster.
Yuda bingung harus apa, sekilas, dia mengintip kamar Ayahnya. Tubuhnya terbelah, monster kecil itu memotongnya.
"Ma... makhluk apa itu...?" Tentu, bocah sembilan tahun melihat itu pasti dia terkejut. Hitam pekat, berisik dan menggelikan, sangat tidak masuk akal. Untuk pertama kalinya, ada yang masuk menyerang ke dalam rumah secara tiba-tiba.
BUM! Pukulan monster meleset, CRAS! Pedang kayu itu memotong separuh kakinya, tapi sayang sekali, monster itu menahannya.
"!" Azriel panik, Krak! Pedang itu dipatahkan, lalu dilempar bersamaan dengannya, BUK! Tubuh Azriel mengenai Yuda, mereka berdua terkulai.
Tapi, monser itu mencium sesuatu yang aneh, dia menatap ke arah dapur, itu adalah wangi daging rebus.
Dengan cepat, dia berlari ke arah kompor, BRAK! Merusaknya.
Azriel tahu apa yang akan terjadi, Yuda masih mengusap pipinya yang lebam, lutut Azriel terkena wajahnya saat terlempar tadi, sakit sekali.
"Kompor itu!-" Yuda panik, masih membenci Kakaknya. Lantas, dia berlari ke arah dapur hendak membunuh monster.
__ADS_1
"Kau mau ke mana?!" Azriel heran.
"Akan kutunjukkan kepadamu! Aku tidak lemah!" Yuda melesat menjauh, hendak membenarkan kompor.
"Bodoh!" Kakaknya itu yang bisa kabur sendirian, malah mencoba untuk membawa Adiknya bersamanya, Grep! Memegang tangannya.
"Lepaskan aku, Kak!"
"Tidak, Yuda! Kau tidak akan bisa mengalahkannya!"
"Aku akan menunjukkannya! Aku bukan orang yang lemah!" Yuda berhasil lepas, berlari tambah dekat dengan kompor.
Sekarang semakin gawat, sebentar lagi hal mematikan akan terjadi, tapi Azriel tidak mau kabur.
Grep! Tangannya dipegang lagi, Adiknya tertahan.
"Kenapa?! Kenapa kau sangat ingin melindungiku?! Kau yang bilang sendiri, semuanya akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir!" Yuda keberatan, menatap Kakaknya yang khawatir.
"Aku... aku masih Kakakmu! Bagaimanapun, aku harus melindungimu!"
"Oh ya?! Kalau begitu, aku membencimu!" Deg! Kata Yuda kepada Kakaknya. Di saat itu juga, Yuda melihat wajah Azriel, dia sadar akan sesuatu. Bahkan setelah Kakaknya dihina, dia masih ingin melindungi Adiknya. Itu yang tidak diduga Yuda, Kakaknya itu punya kesabaran yang tinggi, dia masih sayang kepada Yuda.
Dengan lincah dan menahan sakit hati, Azriel membawa Yuda berlari menuju pintu keluar.
BUUUUUMMMM!!! Kompor meledak, api menyebar menuju pintu. Tapi sebelum itu mengenai Yuda, Azriel melemparnya ke luar, membuat Yuda selamat.
Sayangnya, Azriel terkena api, walaupun akhirnya dia juga terpental ke luar.
BWUUUUUSHHHHHH!!! Api membara memenuhi seluruh rumah, gosong dan hancur, panas bisa dirasakan oleh tubuh dari jarak jauh.
Tubuh Adik dan Kakak itu merebah di atas tanah, berjarak lima meter dari pintu, mereka berdua terlempar jauh.
Yuda merasa menyesal, mencoba berdiri sebisa mungkin, mencari Kakaknya.
"Kakak? Kak Azriel?! Kau di mana?!" Ditemani suara api, dia akhirnya menemukan Azriel, Kakaknya menutup wajahnya sambil duduk.
"K... Kak...? Kau masih hidup! Syukurlah-" Yuda tersenyum, tapi wajahnya langsung berubah pesat ketika dia melihat wajah Azriel. Ada luka bakar di atas mata kanannya.
"A... AAAAAHHHH!!! DASAR BODOH!" BUK!!! Azriel memukul Yuda keras sampai jatuh. Teriakannya mengalahkan api besar di rumah.
"LIHAT! MATAKU SUDAH RUSAK! RUSAK!!!" Dia mencekik Adiknya, Yuda susah bernapas mencoba bertahan.
"Dengar... mulai sekarang... menjauh dariku, MENJAUH DARIKU, ADIK BRENGSEK!!!" Azriel marah besar, dari detik itu, Yuda sudah kehilangan Kakaknya.
__ADS_1
Bertahun-tahun hidup sampai sekarang, hubungan Yuda dan Azriel sudah tidak terdefinisikan. Aneh, hancur, buruk, tidak beraturan. Kebencian Azriel mengalahkan segalanya di dunia ini. Yuda sudah tidak punya siapa-siapa lagi...