
Dunia sudah berubah.
Sekarang, umurku enam belas tahun, SMA.
Apa yang terjadi saat itu adalah ada makhluk-makhluk aneh yang kami sebut "Monster", dibagi menjadi beberapa level sesuai dengan ukuran bentuknya. Ada yang kecil, sedang, dan besar.
Bentuknya beragam, terkadang bulat, dan yang lainnya. Tapi bisa diidentifikasikan yang mana kepala, tangan dan kakinya.
Tidak ada di dunia ini yang tahu mereka datang dari mana.
Mereka berwarna hitam, bisa memanipulasi tubuh lembutnya menjadi keras dan panjang.
Kasus orang-orang yang hilang di berita, semuanya adalah korban dari serangan monster itu, mereka memakannya, lantas tubuh para korban tidak ditemukan.
Setelah aku jatuh pingsan malam itu, ada salah satu prajurit berinisial "L", menemukanku dan mengasuhku, dia adalah bagian dari Pasukan Penjaga Kedamaian, semacam komunitas sekaligus markas untuk membasmi para monster.
Aku diberikan rumah dan uangku sendiri dari mereka, atas permintaan maaf karena aku telah dilukai oleh para monster, di sanalah aku tinggal sampai saat ini.
Walau ada bencana yang hebat begini, negaraku masih berfungsi secara biasa, tidak ada karantina, atau pembatasan aktivitas. Semuanya berfungsi secara normal, hanya saja Pasukan Penjaga Kedamaian harus bekerja tanpa henti demi melindungi semua warga, membunuh monster-monster itu. Tapi, warga dilarang keluar saat jam sudah menunjukkan 18.00, monster-monster lebih kuat saat malam hari.
Sekarang jumlah monster lebih kurang dari delapan tahun yang lalu. Proses perjuangan berjalan dengan lancar.
Aku secara resmi adalah bagian dari Pasukan Penjaga Kedamaian.
Aku ingin membalasnya, Monster Bertopi Fedora itu. Walaupun ada makhluk-makhluk monster ini, aku yakin sekali... dia adalah orang yang membunuh Ibu dan Ayah. Kenapa aku ingin menjadi seorang pasukan? Karena aku yang akan memenggal kepalanya. Suatu hari nanti.
***
Pagi hari, hari Rabu, di tempat tinggal baruku, aku beranjak dari kasur. Merapihkan rambut panjangku dan bergegas mandi, aku tidak boleh terlambat sekolah.
Rumah ini hanya memiliki satu lantai, tapi desain dalamnya terlihat sangat modern, tidak terlalu buruk, dengan satu jendela di bagian belakang, berseberangan dengan pintu masuk. Dan satu lagi jendela di bagian samping.
Tetap saja, rasanya hampa tanpa Ayah dan Ibu.
Kamarku terletak di bagian belakang, di dekat meja makan. Aku langsung duduk di kursinya, di depanku, meja makan langsung terbelah membuka, lalu mengeluarkan nasi uduk dengan sendirinya, sepertinya teknologi yang disiapkan mereka sudah canggih, ya.
Tanpa sadar, cepat sekali makanan itu habis, langsung saja aku mengenakan tasku yang berisi buku-buku dan membuka pintu rumah.
Tempat tinggalku lokasinya jauh dari rumah lamaku, bahkan aku sudah lupa di mana letak rumah lama itu.
Jalanan di depan rumah sekarang... tidak seindah dulu, tapi cukup besar dan sepi, hanya berisi pepohonan di samping jalanan, cocok untuk masa-masa tenang sebelum sampai ke sekolah.
Pagi ini terasa dingin dan tidak terlalu bercahaya, untung seragam sekolahku tidak terlalu tipis, jadi aku sedikit terlindungi olehnya.
Aku lebih memilih jalan daripada naik kendaraan untuk ke sekolah, karena lebih sehat. Walaupun jarak antara rumahku dan sekolah itu sepuluh menit...
Kring! Kring!
Yup, aku sudah menduganya, setiap hari, setiap saat aku pergi ke sekolah. Dia selalu datang menghampiriku, sudah berapa ratus kali aku membuat prediksi agar dia tidak datang menemuiku, tapi sekarang kita bertemu lagi. Anak menyebalkan itu...
"Fal!" Raphael, melambaikan tangannya, rambutnya rapih dan seragamnya lengkap. dia menggunakan sepeda setiap kali pergi ke sekolah, mengganggu sedikit, tapi bisa membuat jalanan sedikit terasa ramai.
Aku dan dia... sudah berteman sejak lama, dari perlombaan matematika itu, jadi kita sudah lebih dekat dari delapan tahun yang lalu...
__ADS_1
Dia menghentikan laju sepedanya di sampingku, lantas turun dari sana.
"Selamat pagi!" Dia menyambut senang, senyumannya lebar sekali.
"Pagi."
"Sudah berubah pikiran?" Dia bertanya tentang hal ini lagi, setiap hari dia selalu menawar kepadaku untuk naik sepeda bersama.
"Tidak, Raf. Sudah kubilang aku lebih suka jalan kaki."
"Ayolah, aku tidak tega melihatmu jalan terus seperti kucing, sekolah juga lumayan jauh, setiap hari kau selalu saja hampir telat datang ke sekolah."
"Tidak, Raf, sekali tidak tetap tidak."
"Yakin...?" Raphael mendekat, wajahnya dekat sekali denganku.
"I... iya, yakin! Sana menjauh." Aku mendorongnya secara pelan, membuatnya tambah dekat dengan sepedanya.
"Haduh... terserah, deh." Raphael naik lagi, membunyikan klaksonnya tiga kali.
"Jangan lupa, PR fisika!" Astaga! Raphael mengingatkanku dengan PR itu! Aku lupa mengerjakannya!
Raphael dengan sepeda tengilnya menjauh dariku setelah membuatku bad mood, menyebalkan!!!
Aku melanjutkan langkahku, lebih pelan. Aku mulai tidak selera sekolah, fisika terkadang menyeramkan...
Tunggu, aku jadi kepikiran... apakah Raphael bagian dari pasukan juga? Maksudku... dia dirawat sejak delapan tahun yang lalu, dan selalu saja lewat rumahku setiap pagi, seolah-olah rumahnya dekat dengan punyaku. Dia juga berbakat, dan hebat...
***
Sudah sampai pagar sekolah, aku bisa melihat sepeda warna kuning Raphael yang terparkir di samping sepeda-sepeda lainnya.
"Syukurlah, lima menit sebelum bel!" Seseorang disampingku berkata, lagi-lagi Raphael dengan wajah sombongnya mendekatiku.
"Kamu menungguku?"
"Iya, aku tahu kau sangat membutuhkan jawaban PR dariku, kan? Kau kan raja galau." Raphael membalas.
Ih, lagi-lagi sebutan "Raja Galau", apa maksudnya? Apa karena aku sering melamun? Dasar...
Iya, sih... tidak akan sempat kalau dikerjakan sekarang, apa lagi hanya ada waktu lima menit sebelum bel, alias pelajaran pertama.
"Sungguh? Tidak apa-apa melihat jawaban darimu?" Aku bertanya lebih serius.
"Tentu saja. Kenapa aku menawarkan kalau aku tidak mau? Ayo, kita ke kelas." Raf langsung tersenyum, menepuk punggungku, lantas dia jalan duluan.
Yah, aku memang tidak peduli dengan pelajaran sekolah. Monster Bertopi Fedora itu... aku selalu memikirkannya selama bertahun-tahun, sedetik saja aku melihatnya... aku akan langsung-
"Fal." Raphael kembali lagi, menepuk tangannya. Membuatku terkejut.
"Eh, apa?" Aku membalas lancang.
"Dasar... Raja Galau, memang. Kamu ini melamun terus, kenapa sih? Coba cerita." Dia melihatku antusias, wajahnya sangat serius.
__ADS_1
"Ah, bukan urusanmu, ya. Ayo cepat, sebentar lagi bel sekolah." Aku menolak untuk menjelaskan, sedikit mendorong Raphael, dia langsung menyusul, kami berdua bergegas ke kelas.
"Pagi, Raf!"
"Pagi!"
"Makin ganteng, cuy!"
"Terima kasih!"
"Nanti sore kumpul lagi ya, Raf! Usulmu itu bekerja!"
"Oh ya? Oke!" Sepanjang jalan, aku mendengar semua orang menyapa Raphael, dia memang punya banyak teman dan mudah sekali untuk berkomunikasi.
Aku? Buat apa berteman? Memangnya mereka bisa membantuku? Hanya Raphael yang bisa membantuku selama ini, jadi aku tidak mau menambah teman lagi.
"Eh? Siapa dia di sampingmu?" Salah satu perempuan, Jennifer, Si Primadona Sekolah, terkenal tapi baik, melihatku bingung. Rambutnya itu pirang panjang dan dia sangat cantik, beda sekali denganku. Dia datang sendirian, tapi diikuti oleh rombongannya.
"Jenn, ini Falisha." Raphael membalas.
"Hai." Aku menyapa pendek.
"Apa kabar, Falisha, salam kenal, aku Jennifer." Dia mengangkat tangannya, walaupun aku sudah tahu. Ketua OSIS, juara bertahan lomba puisi, juara wajah paling cantik di sekolah, dan masih banyak lagi prestasinya. Yang menarik perhatiannya, adalah rambut pirang panjangnya itu, terlihat indah.
Prestasi yang harusnya aku dapatkan kalau Monster Bertopi Fedora itu tidak membunuh orang tuaku...
"Ehem, Fal." Raphael berdehem, astaga, aku malah melamun.
"Maaf, aku Fal, salam kenal." Aku memperkenalkan diriku secara halus.
"Maaf ya, Jenn, Falisha harus menguruskan sesuatu yang penting, jadi kita duluan, ya." Raphael meminta izin, sopan dengan senyumannya.
"Oh, tentu saja. Hati-hati, ya." Jennifer menyahut, melambaikannya tangannya. Aku dan Raphael lanjut menaiki tangga, meninggalkan Jennifer dan rombongan "fans"nya itu.
"Hei, Fal." Raphael memanggil.
"Hm?" Aku melihat ke arah belakang, Jennifer masih sibuk dengan rombongannya.
"Aku ingin kau tahu bahwa aku ada di sampingmu, jadi kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja padaku, ya." Raphael memutar balikkan tubuhnya, berjalan mundur menghadapku. Wajah menyebalkan itu sekilas terlihat... membantu.
"Eh, kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Kamu kan menyebalkan."
"Kita kan teman." Raphael tersenyum lebar, lalu memutar balikkan tubuhnya lagi menghadap pintu kelas.
Dia menyentuh gagang pintu itu perlahan, lantas membukanya.
Hampir semua siswa menyapa Raphael, namun dia hanya fokus membuka tasnya, mengeluarkan buku tulis bersampul ungu dan memberikannya kepadaku.
"Ini, ayo cepat selesaikan sebelum bel." Dia berbisik, melepaskan bukunya, mengabaikan ucapan "Halo, Raf!", "Pagi, Raphael." Dan semacamnya.
"Terima kasih." Aku mengangguk, langsung duduk di kursiku, mengeluarkan bukuku dan mulai menulis jawaban Raphael. Ini tidak adil baginya, tapi dia selalu saja sedia untuk membantuku setiap waktu... jadi aku tidak bisa menolak.
Apa sebaiknya kuceritakan tentang Monster Bertopi Fedora padanya...?
__ADS_1