
Dua hari setelah penyerangan itu... hari Senin, aku melanjutkan hariku seperti biasa... belum ada informasi lagi dari Leo atau Jendral Besar tentang tindakan lanjut mengenai berita bahwa semua monster akan menyerang markas kita, tidak tahu kapan...
Bicara tentang Leonardo... kemarin aku memutuskan untuk berbicara dengannya tentang "Monster Berkebat Manusia". Kupikir itu bisa saja terjadi, Leo bilang dia setuju denganku, walaupun kemungkinannya kecil...
***
Di sekolah, jam istirahat. Aku duduk sendirian di kursi kantin, semenjak hari pertamaku di sini, semakin tertagih untuk datang jam luang, makanannya terlalu enak...
"Serius? Lagi? Ini bakso yang ketiga, Fal... aku tidak mau melihatmu gendut." Anak itu, Raphael, datang menghampiriku, melihatku yang sendirian dan dua piring kosong di meja dengan senyum menyebalkannya itu.
"Iya-iya... ini yang terakhir." Aku membalas, lanjut melahap makananku.
"Boleh aku duduk?" Dia bertanya.
"Tidak."
"Hahahaha..." Dia tertawa, terus menarik kursi di sampingku sambil membawa makanan lidi tipis, dia duduk sambil menggigitnya.
"Hei, itu tidak sehat. Apalagi kamu belinya yang pedas."
"Maaf, aku tidak mau menerima masukan kesehatan dari orang yang menghabiskan satu botol sambal sendirian." Raphael terkekeh, lanjut makan.
Beberapa murid hendak ingin menyapa Raphael, tapi setelah matanya tertuju padaku, mereka langsung pergi.
Kenapa? Mereka membenciku? Sudahlah... mereka tidak tahu apa yang aku lalui, dan tidak bisa membantuku... buat apa mereka peduli?
"Oh iya, Fal..." Dia menepuk bahuku.
"Ya?" Aku menatapnya sambil makan.
"Soal hari itu... maaf, ya..."
"Soal apa, Raf?" Aku bingung.
"Aku menyuruhmu menutup mata agar tidak melihatku marah... aku tidak mau kau takut dan menjauh dariku..." Raphael menatap tangannya, berhenti makan.
"Tentu saja tidak... menurutku kamu sangat hebat dan keren." Aku membalas.
Sebenarnya aku tidak takut, hanya sangat terkejut... aku baru sadar bahwa dia jauh lebih hebat dariku.
"Hahahaha benarkah? Syukurlah!" Dia lanjut melahap lidi itu dengan santai.
"Bagaimana dengan tanganmu, Fal?"
"Sudah diobati... Dokter bilang aku tidak boleh terlalu banyak bergerak."
"Oh? Lalu kenapa sekolah?"
"Sekolah lebih mudah dibanding tidak berbuat apa-apa, Raf... percayalah."
__ADS_1
"Iya, sih... kukira kau sudah boleh banyak bergerak karena makan bakso sebanyak itu." Dia tertawa, hampir tersedak, aku membalasnya sedikit, lalu lanjut makan.
"Ngomong-ngomong, kau bicara apa dengan Leonardo hari itu? Ke kantor sendirian... sangat mencurigakan."
"Kamu pasti tertawa, aku tidak akan memberitahu." Balasku sinis.
"Oh, ayolah. Memangnya apa?"
"Raf, kamu pasti akan tertawa lalu terbahak seperti biasanya."
"Kumohon..." Dia membuat wajahnya gemas, aku sempat geli menatapnya.
...
"Baiklah baiklah! Tapi janji jangan tertawa!" Aku berseru.
Hening sebentar, baksoku sudah habis.
"Aku mengajukan komplain pada Leo tentang kemungkinan adanya monster manusia..." Bisikku kecil, aku menunggu reaksi Raphael.
Dia membeku, tidak bereaksi...
Lantas, tertawa. Sangat tertawa... kepalanya jatuh ke atas meja, dia memukul kayu itu berkali-kali, hampir semua orang melihatnya aneh.
Sudah kuduga...
"Haduh... Fal... haha... hahahaha... ehem..." Raphael berdehem.
"Baik-baik, maaf aku tertawa... " Dia mengelap keringat di kepala, berkata lebih halus.
"Kau benar-benar tidak mengerti apa-apa tentangku, Raphael..."
"Memangnya kamu ini ada apa sih dengan monster berbentuk manusia? Kenapa sangat terobsesi dengannya?"
...
Anak menyebalkan...
"Di hari yang sama... hari paling sial dalam hidupku... salah satu monster menyerang Ibuku, menusuknya tembus, lalu kabur begitu saja. Meninggalkan anak dan Ayahnya yang kemudian Ayahnya dibunuh juga... Dia merenggut kebahagiaanku, Raphael, monster bertopi fedora yang menyerangku hari itu... dan kamu tertawa lepas seolah-olah bahagia atas penderitaanku selama ini..." Aku berkata datar, menunduk.
Raphael terdiam, telingaku hanya dipenuhi dengan sibuknya kantin, tidak ada suara darinya.
"Itulah alasanku menjadi seorang prajurit... membantai semua monster yang kulihat, membantai semua halangan yang kutemui, dan tawamu tadi itu membuktikan bahwa kamu tidak bisa mengerti apa-apa tentangku, Raf." Aku berdiri.
"Menjauh saja dariku, aku tidak butuh kehadiranmu di hidupku lagi." Lantas berjalan menjauh, meninggalkannya sendirian.
Tidak apa-apa, lagipula dia juga punya banyak teman. Satu teman hilang, ada teman yang lain, seperti biasanya...
***
__ADS_1
TRIN! TRIN! TRIN! TRIN!
Bel istirahat selesai, saatnya jam pelajaran berikutnya. Bahasa Inggris, pelajaran termudah dalam hidupku.
Kubuka pintu kelas, menatap semua orang yang sedang asik mengobrol dengan temannya, lalu menuju kursiku di ujung sebelah kanan.
Tidak lama setelah bel, gurunya masuk.
"Morning, class." Sapanya lembut. Namanya Mr. John, dia adalah salah satu guru yang paling disukai banyak murid.
"Where is Raphael? Anybody saw him?" Tanya dia, semua orang mulai heboh.
"Sir, he's never been late before." Murid di depanku menjawab, benar juga... dia tidak pernah terlambat sebelumnya...
"Let's wait for five minutes, if he's late, then we're making a world record." Ujar Mr. John tenang, lalu dia duduk di kursi mejanya, membuka buku sekolah.
Satu menit... tidak ada... aku melamun menatap segala arah... pelajaran mudah ini tidak dimulai...
Tiga menit... masih belum datang, Mr. John masih menunggu sabar, membalikkan halaman buku.
"Sorry!" Bintang tamu akhirnya datang.
"Where have you been?" Tanya Mr. John.
"I've been on the toilet, Sir."
"Alright, please take a seat."
Lantas, Raphael duduk di kursinya, beberapa orang bicara dengannya, dia membalas singkat.
"Open page fourty five, it's about Past Tense, you've learned about it before, right? Now do the assignment from number one to fifteen, it's easy, now if you'll excuse me, i have to go to the bathroom."
"Be careful Mr. John." Salah satu murid membalas, melambaikan tangannya.
"I will, thank you. And of course, you can work with your friends." Mr. John keluar, menutup pintu kelas. Kami disuruh mengerjakan sepuluh soal di buku warna kuning ini, mudah sekali...
Sembilan menit kemudian, aku sudah mengerjakan hampir semuanya... tinggal satu nomor.
Astaga... aku sudah kelas sebelas, sudah tahun kedua di SMA ini... kenapa nomor terakhir ini aku malah bingung? Harusnya ini pelajaran yang paling mudah!
Aku menatap ke sebelah kiri, ke arah beberapa orang yang berkumpul berdiskusi tentang jawaban soalnya...
Haruskah aku bertanya padanya...? Atau aku bertanya pada Raphael saja?
Tidak dulu, deh... aku tanya pada orang di sampingku saja...
"Hei." Ucapku halus, empat orang yang berkumpul itu semuanya menatapku heran.
"Maaf, bolehkah aku tahu jawaban dari nomor terakhir?" Aku menunjuk ke buku, tepatnya ke nomor terakhir itu, sudah kupikirkan lama sekali, tapi tetap tidak ketemu jawabannya.
__ADS_1
"Maaf... namamu siapa...?" Balas salah satu dari mereka.
Apa? Mereka tidak mengenalku? Selama ini?