
"Krrrhhh..." Monster kecil menghampiri tubuhnya. Apa yang dia lakukan? Apakah dia ingin membawanya pergi? Tidak! Aku harus membunuhnya duluan!
"FALISHA!" Seruan para pasukan dari belakang memenuhi seluruh tempat. Aku tidak peduli, masih berlari menuju Monster Bertopi Fedora.
"JANGAN LARI, DASAR B*JINGAN!" Aku menjerit, melesat sekuat tenaga.
Monster kecil memeluk tubuh Monster Bertopi Fedora, membawanya menjauh dariku.
"AYO! HADAPI AKU! HADAPI AKU SAAT KAU MEMBUNUH IBUKU!!!" Semakin dekat, tinggal beberapa langkah lagi sampai!
SRET! Monster kecil berhasil membawanya keluar melewati atap yang roboh.
"PASUKAN YANG DI LUAR! BUNUH MONSTER ITU!" Aku memerintah keras, menjerit. Namun, tidak ada bunyi pertempuran apa pun, hanya sunyi. Kuberlari ke luar, melewati Leo dan barisan pasukan lagi. Aku tidak peduli pendapat mereka, tidak akan kubiarkan monster tidak punya hati itu pergi.
"Di mana monster itu?!" Tanyaku lancang kepada salah satu pasukan.
"Dia kabur dengan sangat cepat, astaga. Bahkan mobil paling cepat pun tidak akan bisa menyusulnya. Aku sudah menggunakan kekuatanku, pasukan lain juga, tapi monster itu terlalu lincah." Dia menjawab.
Seluruh tubuhku berguncang hebat, aku harus bagaimana? Menyusulnya? Tapi akan terpisah dengan Leo. Atau tetap di sini tapi kehilangan kesempatan untuk membunuhnya?
Napasku tidak stabil, tanganku terasa dingin memegang pedang cahayaku, aku harus... aku harus...
Puk. Raphael memegang bahuku... Dia melihatku, wajahnya cemas dan khawatir... Monster Bertopi Fedora itu kabur lagi, entah ke mana. Dan entah juga apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
...
Aku gagal...
"FAL!" Leo berlari mendekat, mematikan pedang cahayanya, meletakkannya kembali.
"Kau tidak apa-apa? Astaga! Apa yang kau pikirkan?! Sendirian berlari menuju musuh, itu berbahaya!" Leo meraba-raba kepala, perut dan kakiku cemas, memastikan aku tidak terluka.
"Aku... aku tidak apa-apa..." Jawabku singkat sambil mengepalkan tangan, sial...
...***...
Sepuluh menit setelahnya, selama itu Leo dan seluruh pasukan memeriksa isi sarang kedua. Tidak ada monster, semuanya sudah mati menjadi debu. Menyisakan cairan hitam lengket yang memenuhi hampir seluruh tempat.
__ADS_1
"Baik, terima kasih. Itu sudah lebih dari cukup." Leo memerintah.
Aku terduduk di tanah berumput, mengikat kaki dengan tanganku. Tidak bisa dipercaya! Delapan tahun latihanku, dan dia masih bisa kabur?!
Dan Jennifer... dia pernah bilang, aku tidak boleh menyerah, aku harus selalu berlatih dan menjadi lebih kuat, dan hal lainnya. Jenn... aku gagal, lagi dan lagi dan lagi... apakah aku berguna? Kamu adalah anak emas, dan malah memilih untuk menjadi penggemarku. Apanya yang hebat...?
Trap. Trap. Trap. Trap.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, pasti Raphael.
"Falisha." Yuda duduk di sampingku, tumben sekali. Ternyata dia yang datang.
"Ini." Dia memberiku permen coklat.
"Tunggu, dari mana kamu dapat ini?"
"Toko di dekat sini. Kosong, tapi pemiliknya lupa menutup dagangannya. Jadi aku meletakkan uangku di laci dan mengambil beberapa permen."
"Kamu bawa uang? Di hari seperti ini?"
Hening sejenak, aku memakannya. Padahal aku tidak terlalu mengenalnya, tapi dia antusias membelikanku permen ditengah peperangan ini... dia adalah orang yang baik...
"Tadi pagi kau menyapaku. Percayalah, semua orang gengsi dan benci saat mereka melihatku. Bahkan beberapa mengatakan bahwa aku adalah seorang pengganggu. Jadi ini adalah ucapan terima kasihku untukmu." Dia berkata sambil menggigit permennya. Aku mengangguk senang, permen ini enak. "Terima kasih juga, Yuda."
Sepuluh menit kemudian, waktu istirahat sudah habis.
"Baiklah, ayo berkumpul." Leo berseru, semuanya berkumpul di hadapannya. Pintar juga Yuda, dia sengaja membeli permen yang kecil agar habis sebelum kami menyerang markas terakhir. Aku bisa tersedak kalau makan permen sambil melawan monster...
"Yup, ini memang aneh. Tidak ada yang pernah menyerang tempat ini tapi semua monster sudah dikalahkan. Bahkan Monster Bertopi Fedora itu terlihat sedang sekarat. Dan tidak ada kamera di bangunan itu jadi aku tidak bisa melihat apa yang terjadi." Leo menjelaskan sambil memperbaiki posisi pedang cahaya. Menatap kami semua.
"Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang?" Raphael bertanya.
"Kita serang sarang yang terakhir, stadion besar itu." Dia menjawab, bersiap memimpin perjalanan.
Dua menit kemudian, kami semua mulai melesat menuju sarang yang ketiga. Berjarak dua kilometer.
Astaga, kuharap musuhnya tidak banyak. Tapi... tempatnya itu stadion, jadi kemungkinan besar musuhnya akan banyak. Dan bagaimana dengan para omni yang menjaga tempat itu? Wah, semoga tidak sekuat Arkane atau Ava, atau bahkan Dzar...
__ADS_1
Raphael berlari di depanku, sebenarnya di sampingku. Tapi aku tidak mau duluan, melihatnya dari belakang... terkadang membuatku bahagia. Susah menjelaskannya... jangan-jangan... ini karena dia selalu membantuku? Jadi aku selalu merasa aman saat melihatnya? Ya... mungkin saja, sih.
Oh iya, Daerah Barat sangat sepi setelah dievakuasi. Biasanya pasti ada saja satu keributan. Entah itu penjual, guru dengan muridnya, atau bahkan remaja-remaja bodoh yang merasa dirinya hebat, padahal dua hari sebelumnya dia menangis, merengek dan memaksa orang tuanya selama dua hari untuk dibelikan motor, hahahaha...
Dua kilometer, Leo mengangkat tangan. Kita sudah di gerbangnya, stadion bertema biru.
Hancur lebur, fondasinya sekarat, kayunya terlihat jelek. Jangan lupa, cairan hitam lengket hampir memenuhi seluruh stadion. Warna birunya terlihat sedikit.
"Bersiaplah, kita tidak tahu akan seperti apa monsternya. Atau bahkan omninya. Setelah kuberi sinyal, kita akan masuk perlahan. Tempat ini cukup besar untuk berhati-hati." Leo berkata, sedikit mengecilkan suaranya.
Lantas, Leo mengangkat tangannya, kami semua masuk perlahan. Gerbang stadion sudah hancur.
Melewati lorong lebar, masih belum ada apa-apa. Cahaya matahari mulai redup. Tembok di samping kiri dan kanan tergores panjang, catnya mulai robek dan buruk. Astaga... apa yang terjadi di sini?
Sret! Leo mengangkat tangan, dia mendengar sesuatu. Di depan sana, persis setelah lorong, kita akan memasuki stadion. Tapi kita harus melihat di sebelah kanan dan kiri setelah lorong itu.
Leo melihat ke kiri, memberi sinyal aman. Melihat ke kanan, memberi sinyal aman lagi. Langsung saja, kita bergerak maju.
"Kr... krk krk."
"Krrrr..."
"Krreeerrr..." Suara monster menimpali-
Tidak... suara para monster menimpali-
Tidak... suara... suara ribuan monster...
"Rr? Kraaaaaaaahhh!!!" Salah satu monster melihat kita, tidak! Seluruh monster melihat kita! Stadion yang besar ini dipenuhi oleh monster-monster! Banyak sekali jumlahnya!
"KOMANDAN LEO!" Aku memanggilnya, memastikan dia baik-baik saja-
Brrrlllllrkkk... Sial! Monster di belakang kami menghalangi pintu keluar! Kita tidak bisa kabur! Mereka sudah berencana untuk menjebak kita!
Seluruh pasukan mendekat, terdesak, berkumpul di satu tempat. Masih di lorong lebar, dan sekarang ribuan monster hendak membunuh kita.
Apa... apa yang harus kami lakukan...?
__ADS_1