
Mendengar berita buruk itu, kami berempat bergegas pergi ke Leonardo's Reservation. Itu adalah tempat yang ideal untuk berkumpul, di tengah-tengah krisis identitas Jenderal saat ini.
Sembilan menit, kita sudah sampai di lokasi tujuan.
Di sana ada Komandan Yakza, Komandan Kiara, Leo, dan Mordo yang terlihat berdiskusi akan sesuatu. Ada juga beberapa prajurit lainnya, terlihat disiplin dan gagah, bersiap untuk bertarung.
"Wah, rame, ya." Raphael di paling depan berjalan perlahan. Kami mengikutinya sambil menatap sekitar.
"Siang-siang begini tumben sekali tidak ada yang komplain. Biasanya ada yang sebal." Jennifer tertawa.
Aku menyikut lengannya. "Yeeh, aku sudah berubah, Jenn."
"Ah, kalian sudah sampai." Leo datang menyambut. Komandan lainnya menatap kita.
"Leo, kenapa tidak memanggil sisa dari komandan lainnya? Seperti Komandan Giov? Daerah Timur Laut?" Yuda mengangkat tangan bertanya.
"Mereka menolak, sayangnya. Padahal saya sudah menjelaskan situasinya dengan rumit. Komandan Giov, Yohan, Liyu dan Brama menolak ikut serta dalam misi ini." Komandan Yakza menjawab.
"Jangan cemas, Yuda. Kita punya kejutan khas untukmu." Komandan Kiara menunjuk ke belakang. Astaga, sosok yang lumayan ditunggu-tunggu akhirnya sembuh juga.
Azriel, berdiri gagah dan tegas, tersenyum melambaikan tangannya. Beberapa pasukan langsung menatapnya, beberapa orang di sini kagum dan mengidolakannya.
"Kakak!" Yuda berlari lincah, memeluknya. Lucu sekali melihat kedua sosok itu berkumpul kembali.
"Hei, bukannya dia orang jahat, Fal?" Raphael berbisik ke telingaku.
Aku tergelak. "Singkat cerita, dia sudah baik, Raf."
"Astaga ... kakaknya ternyata lebih tampan daripada adiknya. Aku senang menjadi teman Yuda ..." Jennifer menyandarkan kepalanya dengan tangan, berkata layaknya penggemar berat seorang selebritas ...
"Umm, Jenn, tenang." Raphael menepuk bahunya.
"Wah, Falisha, apa kabar?" Firza datang menghampiriku. Aku mendekat, memeluknya erat-erat.
"Aku baik. Melihat Kak Firza menjadi jauh lebih baik." Ucapku senang. Aku memperkenalkan Azriel dan Firza kepada Raphael dan Jennifer.
"Hmph. Kau sudah berubah?" Raphael berujar sinis pada Azriel.
__ADS_1
Azriel terbatuk sedikit. "Iya. Aku sangat minta maaf atas sikapku waktu itu kepada kalian. Terutama Falisha, aku tidak mau mengulang kesalahanku lagi. Aku rela menerima hukuman apa pun yang akan kalian berikan kepadaku."
"Percayalah, Azriel, semua orang melakukan kesalahan. Bahkan kita semua pernah melakukannya." Jennifer tertawa.
Lebih ramai, tempat ini didatangi oleh lebih banyak pasukan. Sudah seperti lapangan upacara selama aku, Raphael dan Jennifer sekolah waktu itu.
"Kita menunggu siapa?" Yuda bertanya heran.
DOR! Suara angin berdentum datang dari Mordo, bunyinya memekakkan telingaku.
"Baik! Siap, grak!" Leo berseru tegas. Keempat Komandan itu terlihat sangat keren berdiri bersampingan begitu.
Dua menit, semua pasukan sudah berbaris sempurna menatap mereka. Bersiap akan misi yang sangat penting, sepertinya. Entah kenapa butuh prajurit sebanyak ini untuk mendapatkan serum yang dicuri Omni Kayu dari Daerah Utara waktu itu.
Leo menarik napas. "Dengar! Ini adalah misi yang paling berbahaya sepanjang hidup kalian! Ada dua fokus utama yang harus kalian perhatikan kali ini! Satu! Lima Omni yang lepas dari tahanan, yang dibebaskan oleh seseorang yang misterius itu bergerak bebas ke luar! Pasukan dari Daerah Selatan dan Daerah Utara, dalam Komando Komandan Kiara dan Yakza akan memimpin kalian untuk menghalangi mereka lolos!"
"Siap! Sedia!" Pasukan kedua daerah itu membalas
Mordo menatap marah. "Dua! Serum yang dicuri oleh Omni Kayu! Kemampuannya adalah mengubah semua bentuknya menjadi apa pun yang dia inginkan, dengan bermateri kayu tajam! Pasukan Daerah Timur dan Barat akan melaksanakan misi menemukannya, di bawah pimpinan Komandan Leo dan saya, Mordo! Kalian harus bersiap, karena kita tidak akan berhenti sampai misi ini selesai!"
"Ada pertanyaan sebelum ini dimulai?" Komandan Kiara bertanya.
"Ya, Azriel?"
"Komandan Kiara, bagaimana dengan rumor tentang Jenderal Besar-"
"Menurutmu kenapa kita berkumpul di depan restoran Leo, hah?! Agar dia tidak tahu tentang ini! Ayah Falisha mengatakannya, memang mencurigakan- tapi kita tahu, seorang Falisha tidak akan pernah berbohong atau membiarkan hal buruk apa pun terjadi! Jadi kita percaya saja pada rumor itu saat ini! Mengerti?!"
Astaga ... tidak kusangka, Mordo mengatakan hal yang baik kepadaku untuk pertama kalinya ...
Atau jangan-jangan, dia memang orang yang baik selama ini?
"Ada lagi?" Komandan Kiara bertanya lagi sambil merapihkan rambut pendeknya.
"Dia?! Siapa dia?! Bukankah dia Omni?!" Salah satu prajurit bertanya, menunjuk Firza.
"Intinya, dia omni yang bisa dipercaya! Aku bersumpah dengan darah dan nyawaku bahwa omni di depan mata kalian ini akan membantu dalam misi ini, mengerti?!" Mordo yang menjawab, lagi. Tidak ada yang mau atau berani membantah dikarenakan dia benar-benar mengerikan sebagai seorang komandan ...
__ADS_1
"Ada lagi?"
Hening, tidak ada yang berbicara.
"Kalau begitu, Daerah Utara dan Selatan! Bergerak ke arah utara! Ikut aku!"
Komandan Yakza memimpin ratusan pasukannya pergi duluan bersama dengan Komandan Kiara. Bunyi semangat dan jeritan prajurit yang sudah siap memenuhi telingaku, aku menjadi lebih semangat.
"Daerah Barat dan Timur! Bergerak ke arah selatan! Ikuti Leonardo!" Hal yang serupa terjadi, ini menjadi semakin seru. Sudah lama sekali tidak ada misi seperti ini semenjak Hari Pembantaian. Untungnya kita dapat misi yang lebih mudah, mencari serum yang dicuri.
"Hahahaha! Baru kali ini aku merasa lebih antusias! Kita sudah seperti pemberontak!" Raphael yang berlari di sampingku tersenyum lebar. Aku tertawa mendengarnya.
"Jangan ada yang ceroboh! Kalian semua harus fokus setiap detik! Mengerti?!" Leo di paling depan berteriak.
"Siap! Mengerti!"
Lantas, kami berempat harus berpisah dengan Azriel dan Firza, berjalan di tujuan kita masing-masing.
"Ke mana kita akan pergi, Leo?!" Aku bertanya singkat.
Dia menarik napas tinggi. "Distrik Elia! Aku punya teori! Kalian ingat penelitian kami bersama Raphael? Bahwa ada suara jeritan di bawah tanah yang tiba-tiba hilang?! Aku dan Mordo memprediksi bahwa di sana Omni Kayu bersembunyi, menyembunyikan orang-orang yang menjerit juga dan membuat jebakan dengan kayunya, seolah-olah mereka tiba-tiba hilang! Yah, itu hanya dugaanku, masih ada rencana lain setelahnya! Kalian hanya perlu mengikuti komandoku, mengerti?!"
"Siap! Mengerti!"
Begitulah, dengan sikap dan persiapan yang tepat, kita sudah berlari bersama-sama. Dua daerah digabungkan, menuju Distrik Elia. Tempat yang dulu digunakan untuk alat teleportasi antar daerah ...
...***...
Aku mencari petunjuk sebisa mungkin. Di sini sudah sembilan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda akan keberadaan Omni Kayu daritadi ...
"Kau benar-benar yakin dengan ini, Leo?" Mordo bertanya dengan sedikit nada sarkasme.
"Sangat yakin. Kita hanya perlu mencoba lebih teliti." BWUSH!!! Leo mengeluarkan api biru melalui pedangnya. Lantas mencoba membakar tanah lembut yang menjadi titik sumber suara jeritan mengerikan misterius itu ...
"Raf, seperti apa suaranya? Semenakutkan itu kah?" Tanyaku cemas.
Sebelum Raphael menarik napas hendak menjawab, sebelum aku bersiap-siap menerimanya, sebelum aku menunggu jawaban darinya, suara teriakan yang sungguh menyeramkan datang dari bawah. Seraya disiksa, seperti suara jutaan manusia yang dianiaya, disakiti, dikuliti, dipotong-potong tubuhnya, seperti itulah, suara yang muncul saat ini.
__ADS_1
Aku menutup telinga rapat-rapat, ini benar-benar menakutkan ...