
"KAKAK!!!"
"PAMAN ZED!"
Teriakan ketiga orang itu memenuhi telingaku. Kedua sosok Azriel dan Zed berbaring tidak berdaya, berdarah dari kepala dan sebagian tubuhnya rusak, wajahnya lemas tertutup. Aku terkejut, menghalangi mulutku dengan telapak tangan.
Yuda hendak pergi dari tameng.
"Jangan, biarkan aku yang memeriksanya." Aku menjulurkan tangan kembali, membuat tameng transparan gelembung untuk Zed dan Azriel. Lantas, detak jantungnya dan aliran darah milik mereka bisa dirasakan.
"Bagaimana, Fal?" Firza cemas bertanya.
"Mereka masih hidup. Hanya terluka, sangat parah ..." Balasku dengan lemas. Kedua pasukan hebat babak belur. Tapi hebatnya, delapan patung raksasa itu hancur, rusak, mereka berhasil dikalahkan.
"Semuanya ... doakan aku, semoga berhasil ..." Aku menutup mata, menghembuskan napas perlahan.
BRAK!!!
Semua orang, kubawa melesat cepat ke atas, merusak genteng dan atap kuil, sekarang kami berada di tengah lautan, mengambang. Tameng milikku berhasil menghalangi jalannya air masuk, ini berita bagus.
Tapi sebagus-bagusnya sebuah berita baik, ada berita buruk yang akan menjadi bayarannya.
Ini sangat menyeramkan, kita mengapung di tengah lautan yang gelap, biru tua, dan hampa. Tidak ada suara sama sekali kecuali napas Yuda dan milikku, karena kita berada di tameng yang sama.
Aku menelan ludah. "Oke ... oke ... tenang ... semoga saja tidak ada hewan besar yang menyeramkan, berenang ingin memakan kita."
"Heish! Jangan berkata seperti itu! Aku jadi takut ..." Yuda sejenak menepuk bahuku, aku terkekeh.
Perlahan, kugerakkan semua orang dengan tamengnya ke atas, menuju daratan. Sejauh ini aman. Kuil Berbentuk Harimau di bawah terlihat hancur lebur, runtuh, menjadi kumpulan bebatuan yang terletak tidak berdaya di tengah lautan.
Eh.
Mendadak, ada siluet hitam yang besar dari sebelah kanan. Berbentuk seperti ... mulut ...
"Oh tidak ..." Dadaku berdetak sangat kencang. Ini tidak salah lagi!
KREK! Gigitan hiu raksasa meleset! Aku menghindarinya!
"Megalodon!" Yuda berteriak.
Dia kembali menyerang, bergerak ke sana kemari, mencari momentum untuk memakan kita.
"Yuda! Bisakah kau membunuhnya? Dengan kekuatan kinetikmu?" Tanyaku panik.
"Tidak bisa! Aku harus merasakan keberadaanya sebelum bisa mengendalikannya! Tapi dengan adanya air laut yang memenuhi, menjadi sangat sulit!" KREK! Dia menjawab seiringku melindungi semua orang, menggerakkannya.
Pasukan terlihat panik, beberapa mencoba melawan dengan kemampuannya, tapi mustahil.
"Falisha! Bawa kita ke atas! Kabur!" Komandan Kiara berteriak.
__ADS_1
KRAK! Gigitan hiu mengenai gelembungku, retak sedikit. Aku dan Yuda bisa melihat tenggorokannya dari sini ...
Aku mencoba melepaskan diri, tapi tidak bisa, gigitannya terlalu kuat!
"Mustahil, Komandan!"
BOOM! Yuda memukul ke depan, ada gelombang yang menembus tamengku, mengenai megalodon sampai mundur.
"Wah! Bagaimana kamu melakukannya!"
"Sulit! Hampir mustahil! Tapi aku berhasil!"
"Sekarang!!!" Komandan Kiara memberi sinyal, langsung saja, kubawa semua orang ke atas dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar olehnya. Lagipula, kita yang dari awal mengganggu teritori miliknya, megalodon itu hanya ingin ketenangan.
...***...
BWUSH!!!
Semua orang berhasil keluar. Cahaya jingga menyinari semuanya dengan tamengnya.
Komandan Kiara fokus, meluruskan lengannya ke arah lautan. Akhirnya, kapal pesiar es yang besar itu muncul kembali.
Aku mendarat, diikuti oleh sisa dari pasukan, dengan aman. Kita menginjakkan kaki di es yang seimbang, kapal milik Komandan Kiara, aku sudah merindukannya ...
Plop! Hilang sudah tameng untuk semua orang. Beberapa dari mereka berteriak senang, mengepalkan tangannya, berlompat gembira, tapi aku tidak merasakan hal itu sama sekali. Aku dan Yuda, Komandan Kiara dan Firza berlari ke dua orang yang terkulai, terluka sangat kritis.
"Haduh ... ayolah, Kak Azriel! Bangun! Bangun!!!" Yuda terduduk, menepuk-nepuk pipi kakaknya. Tidak ada kabar, masih belum sadar.
Aku menunduk, merenung sedih. Kejadian berjam-jam terakhir membuat banyak perubahan, bagi Yuvia maupun diri kita sendiri.
Tak lama kemudian, pasukan mulai berkumpul. Sedih, ketiga orang ini akan kehilangan keluarganya beberapa menit lagi. Sial! Bahkan dengan kekuatan senjata yang paling kuat sekalipun, aku tidak bisa menyelamatkan Zed dan Azriel! Sial ... sial!!!
Seandainya saja ada Jennifer di sini ... semuanya pasti akan baik-baik saja ...
...
Yuda menangis, kepalanya ditidurkan di dada kakaknya. Zed juga dipangku oleh Firza, Komandan mencoba membangunkannya. Aku bisa merasakan jantung mereka mulai melemah.
...
Inikah ... perpisahan ...?
"Paman Zed ... kumohon ..."
...
Sing!
"Eh? Apa?!"
__ADS_1
"Ambil ... ini ..." Suara Zed sangat lemah. Dari telapak tangannya keluar cahaya berwarna putih, bersinar sangat terang. Dia memegangnya seperti bola lampu yang menyala.
"Paman Zed!!!" Kedua orang itu langsung memeluknya, begitu mendengar suaranya. Kedengarannya Firza dan Komandan sangat bahagia.
"Kiara, Firza ... syukurlah kalian selamat." Zed tersenyum, kemudian terbatuk-batuk, parah, terkadang darah keluar deras dari mulutnya.
"Dengarkan aku ... waktuku tidak lama. Aku akan memberikan bantuan terakhir untuk anak muda itu. Cahaya putih ini ... adalah wujud mutlak dari kekuatan penghenti waktuku. Saat kita sampai di markas, letakkan cahaya itu di dekat Azriel, dan itu akan membuat waktu berhenti untuk seluruh tubuhnya, jadi akan ada waktu untuk operasi, sebelum dia mati ..." Zed berbicara lagi, semakin lemah dan terdengar tidak berdaya.
"Apa? Tapi ... bagaimana denganmu? Kau ... kau akan mengorbankan dirimu demi dia?! Demi Azriel?! Tapi ... kau akan ...!"
"Kiara ... tugasku sudah selesai. Aku bersumpah kepada Diego untuk terus melindungimu, dan sekarang lihatlah, dua anak sahabatku ini berhasil berkumpul kembali, melindungi satu sama lain layaknya keluarga ... Ayah dan Ibu kalian, pasti sangat bangga ..." Zed dengan lembutnya mengusap pipi Komandan Kiara, dan Firza, layaknya ayah yang bangga.
Aku menutup mulut, mengalihkan pemandangan. Sebentar lagi ... Zed akan ...
"Dek Falisha, Dek Yuda ... kemarilah ..." Dia memanggilku.
"Tidak! Tidak mau! Zed, kamu harus tetap hidup! Kamu harus bertarung dengan kami sampai detik terakhir! Sampai dalang dari semua ini berhasil diungkap! Kamu harus terus berjuang! Bersamaku! Kamu harus tetap ... kamu harus ... kamu ..."
Kepalaku masih menghadap kiri, mencoba untuk tidak melihat Zed. Dia sudah membantuku bertarung, mengorbankan dirinya, berperilaku seperti ayah bagiku walaupun hanya sementara! Dan dia melaksanakan tugasnya dengan sangat baik sebagai seorang pasukan ...
Haruskah ... haruskah orang-orang yang baik berakhir seperti ini ...?
Yuda berdiri tegak di sampingku, kemudian menunduk memberi hormat. "Terima kasih, Pak Zed ..."
"Ya ... sekarang, Falisha ..."
Napasku semakin berat. Dadaku tidak bisa merasa tenang ... aku tidak mau kehilangan dirinya ... tidak mau ...
"Apa ...?"
"Kau adalah prajurit yang sangat hebat ... Komandan Leonardo ... bicara banyak tentangmu. Kau ingat saat dia bilang ingin berkencan? Di dekat sekolahmu? Dia berbohong, Falisha ... Leonardo menemuiku, dia ingin bercerita tentangmu, dan sahabatmu itu, Raphael. Setiap minggu sekali, kita bertemu, Leo bilang dia sangat bangga apa pun yang kau lakukan, setiap langkah yang kau ambil, dia akan selalu mendukungmu apa pun resikonya. Jadi, jangan merasa sedih atau kecewa, karena telah kehilangan salah satu dari kita. Mengerti?" Ucapnya sangat lembut. Aku tidak bisa menahan untuk memeluknya erat, air mataku deras melalui seragam dan tubuhku.
"Baiklah ... aku mengerti ..." Balasku singkat ... Leo ... baiklah ...
"Yuda, kau juga serupa, dukung temanmu ini dengan segala situasi, dan kakakmu itu, dia adalah jimat yang berharga demi kebahagiaanmu, oke?"
Yuda mengagguk. "Oke ... Pak Zed ..."
"Terakhir, Firza dan Kiara ... ahahaha ... astaga, kalian sudah besar. Aku ingat saat Kiara menangis karena terpeleset air pel yang baru saja ibumu letakkan. Lalu Firza memelukmu, agar kau tidak lagi menangis. Umur kalian masih di bawah sepuluh tahun waktu itu, hahaha ... sangat menggemaskan."
Ketiga orang itu berpelukan, menangis hebat.
Aku dan Yuda menatap satu sama lain, saling berpegangan tangan.
"Kita harus saling melindungi."
"Benar ... pengorbanan Zed tidak akan sia-sia ..." Aku mengusap air mata, Yuda juga sama.
Semua orang berlutut, memberi hormat kepada prajurit terbaik semarkas. Tua namun jantan, mampu mengendalikan kekuatannya semaksimal mungkin, respectful, berani, dan tangguh.
__ADS_1
Pak Zed ... terima kasih ... dan selamat tinggal ... misi merebut senjata di kuil bawah laut, sudah selesai ...