Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Tolong Aku


__ADS_3

"Hei! Itu bohong!"


"Ya! Jangan percaya padanya! Dia adalah omni!" Pasukan berseru demikian. Tentu saja, siapa yang akan percaya bahwa Jenderal yang kita kagumi selama ini mempermainkan otak kita?


"Sudah kuduga. Mereka tidak akan percaya. Maka dari itu, kita tidak ingin memberitahu alasan kedatangan kami sampai kau dan sahabat laki-lakimu itu selamat." Paman Logan berucap tegang.


Aku mengepalkan tangan, keringat berjatuhan sekujur kepalaku. "Tapi ... tapi ...!"


Tep. Ayah menepuk kepalaku halus. "Saat ini, Ayah terlalu lemah untuk membawamu pergi. Jadi kau harus bertahan sampai Ayah kembali lagi. Mengerti, Putri?" Dia tersenyum, dengan wajah lebam dan lelah itu, dia tersenyum.


Sebelum aku sempat menjawab, sebelum aku bisa membalas senyumannya, Ayah dan Paman Logan pergi begitu saja, hilang. Markas disisakan dengan desas desis pasukan, dan napasku yang sangat berat untuk dikendalikan.


"Falisha! Falisha!" Raphael, Jennifer dan Yuda menghampiriku. Wajah mereka begitu perhatian.


"Hei! Tarik napas, oke? Tenanglah, tenang ..." Jennifer menahan dadaku.


Apa pun yang mereka katakan, aku tidak mendengarkannya. Perhatianku hanya tertuju pada "Jenderal Karlo sudah menyerang Logan, sebelum Hari Pembantaian terjadi. Jenderal Karlo mempermainkan kita."


"Falisha!" Seruan terakhir terdengar, kali ini, bukan dari remaja.


Itu adalah Leo. Dia datang membuatku sadar dengan berseru tegas. Aku menatapnya sejenak, lantas memeluknya dengan erat.


Aku menangis, begitu cepatnya air mataku keluar. Berharap Leo akan memberi jawaban, seperti biasanya.


"Hei ... hei, Fal ...? Ada apa ...?" Dia menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. Sekilas pelukannya terasa hangat ...


"Aku tidak tahu lagi, Leo ... kumohon ... lindungi aku ..." Ucapku pasrah. Tubuhku sangat lemas ...


Hening sebentar. Lalu Leo membalas pelukanku. "Hei. Aku sudah bersumpah akan melindungi cahayaku. Dan sumpah yang ini, tidak akan kupatahkan lagi seperti dulu. Aku rela melindungimu sampai tetesan darah terakhirku, jadi jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu ..."


Aku masih terisak, melihat ubin yang dipenuhi dengan retakan dan air mataku. Langkah kaki yang kasar datang menghampiri kita.

__ADS_1


"Hmph. Sekarang bukan waktunya menangis. Kita harus membereskan kerusakan di markas." Mordo ... tidakkah dia punya hati ...? Mana kupeduli dengan kerusakan markas saat ini?


"Hei! Jelaskan apa maksud omni tadi! Jenderal mengkhianati kita?!"


"Kalian para komandan tahu akan hal ini?! Hah?! Kenapa Jenderal Karlo bisa membohongi kita?!"


Orang-orang di markas terdengar keberatan.


Yuda menepuk dahi. "Gawat ... kalau begini, tidak akan ada yang peduli dengan markas sama sekali. Yang dikatakan ayahmu itu sangat krusial, Falisha."


"Hei! Apa yang terjadi?!"


"Berisik! Tutup mulut kalian!"


Di tengah-tengah suara komplain para pasukan, ada dua suara yang begitu kukenal. Dua orang yang saat ini bisa kupercaya.


Komandan Yakza dan Komandan Kiara datang, para pasukan langsung berlutut diam. Kehormatan yang dimiliki kedua orang itu sangat tinggi, mereka menatap kita tegas sambil mendekat.


"Falisha ... maaf karena meminta, tapi bisakah kau menghilangkan kekuatanmu sekarang?" Komandan Yakza bertanya.


Aku mengusap pipi, mengangguk serentak. Kubentangkan tangan ke depan, tameng supertebalku hilang begitu saja. Cahaya dari atas langit masuk lebih terang ke dalam.


"Kalian ada apa datang ke sini?" Mordo bertanya sebal.


Komandan Yakza berhadap-hadapan dengannya, lagi-lagi memasang wajah tegas. "Markas hancur dua puluh persen, ada suara dentuman bertubi-tubi yang menggetarkan seluruh tempat, dan seruan para pasukan yang terdengar marah. Itu bukan sesuatu yang bisa kita diamkan, Mordo."


"Lagipula, siapa yang kalian lawan? Musuh? Bagaimana caranya mereka masuk ke sini? Bagaimana caranya dia bahkan tahu tentang tempat ini?" Komandan Kiara bersedekap, bertanya.


Semua mata tertuju kepadaku, menunggu jawaban. Aku geram dan merinding ... harus kujawab seperti apa ...? Bagaimana caranya aku menjawab ...?


Leo menghalangiku dengan lengannya, membuat seluruh perhatian pindah kepada dirinya. "Mereka adalah pemberontak, saat ini statusnya masih tidak diketahui. Yang pasti, mereka berasal dari keluarga Falisha, keluargaku juga. Dan mereka adalah omni. Yang harus kalian perhatikan adalah fakta bahwa musuh kita mengatakan Jenderal Karlo menyerang duluan sebelum Hari Pembantaian dilaksanakan.

__ADS_1


"Artinya, dia tahu akan apa yang terjadi, semuanya, Jenderal Karlo menyembunyikan informasi dari kita, dan membuat kita percaya bahwa dia sama bodohnya dengan kita. Harusnya sekarang, semuanya lebih waspada, sampai ada bukti yang pas tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai penutup, kita punya kabar menarik tentang asal usul semua monster dan omni, akan kutunjukkan kepada kalian."


Bermenit-menit berlalu, Leo mengambil proyektor dari kantornya, dan memutar kaset berisi video Sang Suami, Istri, Anak Kecil, dan Alfred atau Sang Subjek. Semua orang menontonnya secara langsung, semua pasukan. Mata mereka dikaruniai jawaban mutlak, bahwa asal usul monster adalah sebuah kecelakaan ...


Sejauh ini, dari pihak kami, hanya Azriel dan Firza yang belum mendengar tentang kabar ini ...


Aku ... aku tidak tahu lagi ... aku harus apa ...?


...***...


Sore hari, di rumahku. Bersama dengan tiga sahabat yang bisa kupercaya, yaitu Jennifer, Yuda, dan Raphael.


Kami sedang berada di ruang tamu. Aku duduk di sofa, menunduk mengabaikan TV yang daritadi menyala terang. Raphael di sampingku entah sedang apa, mungkin menatapku cemas. Jennifer dan Yuda sedang menyiapkan sesuatu di meja, aku tidak menyuruh mereka.


"Hei, jangan terlalu dipikirkan, Fal. Markas akan diperbaiki oleh tukang yang handal, kok. Kau juga tidak akan didenda apa pun, tenang saja." Raphael menepuk bahuku, bicara santai. Namun aku bisa merasakan bahwa dia sangat khawatir ...


"Entahlah, Raf. Jenderal adalah idola hidupku. Dan dia baru saja dibilang pengkhianat oleh Ayah. Juga asal dari monster dan omni hanyalah sebuah kecelakaan. Apakah ... apakah aku punya tujuan hidup? Sebenarnya siapa musuh dari cerita gila ini ...?" Aku lemas menyenderkan badan ke sofa.


"Siapa pun itu, Fal, kita akan melawannya bersama." Jennifer datang, membawa minuman coklat dingin yang dihias dengan rapih.


Raphael langsung semangat, tegak tubuhnya. "Wah, seperti enak."


"Iya, Yuda yang membuat resepnya. Sudah kucoba, rasanya seperti surga." Jennifer terkekeh.


"Yah, silahkan saja dicoba. Ini, Falisha, setidaknya ini akan membuatmu senang sementara." Yuda menjulurkan gelas besar berisi minuman itu kepadaku. Tapi ... aku tidak merasakan apa pun. Aku hanya ingin istirahat ...


"Maaf, teman-teman ... aku ... aku ingin ke kamar. Kalian boleh pergi kapan saja, jangan dikunci pintunya." Aku berkata seraya berjalan pergi, menuju kamar tidur.


Tep! Aku membaringkan wajah dan seluruh tubuh ke sana. Aku adalah prajurit dengan kekuatan yang paling kuat saat ini, tapi bayarannya? Adalah krisis identitas terhadap diriku sendiri.


...

__ADS_1


Tolong aku ... aku hanya ingin merasakan ... kebahagiaan ... itu saja ...


__ADS_2