
"Kau ingin aku menceritakannya? Bagaimana dengan tantangan labirin ini?" Firza bertanya, masih dengan suara yang terdengar takut.
Aku mengangguk, memasang wajah antusias. "Mereka punya Yuda, pasti akan lebih mudah. Ayo, cerita saja."
Dia menarik napas yang dalam.
"Aku mendengar semua ini dari Paman Zed, dia adalah mantan polisi.
"32 tahun yang lalu. Seorang anak berusia delapan tahun memliki nasib yang sungguh malang. Ibu dan adiknya sudah tiada, dan dia harus tinggal bersama ayahnya. Nama panjang anak itu adalah Brolia Diero, tapi kita memanggilnya Diro.
"Di awal bulan Februari, Diro dan ayahnya sedang bergerak menuju sekolahnya, menaiki mobil yang sangat praktis. Ayah Diro bisa dibilang, adalah sosok ayah yang terbaik, idaman, dan jantan. Sungguh, tidak ada yang bisa menandingi kemampuan Ayah Diro dalam menjalani perannya, Diro adalah anak yang sangat beruntung. Sebelum peristiwa mematikan itu terjadi.
"Di sekolah, Diro memiliki banyak teman. Tidak hanya pintar, tapi dia memiliki wajah yang tampan dan menawan, seluruh perempuan seolah-olah ingin menjadi pasangan hidupnya, itu terlihat dengan sangat jelas, seperti membaca novel tentang pangeran yang agung.
"Sahabat Diro, Maleki, perempuan yang sama usianya, itu yang paling cocok untuknya. Maleki adalah perempuan yang cantik, jenius, dan sangat manis. Kebalikannya, semua lelaki terlihat ingin menikah dengannya, walaupun mereka masih anak kecil ...
"Maleki adalah orang yang tulus menemani Diro setelah Ibu dan adiknya meninggal, mereka berdua tidak terpisahkan. Kepintaran mereka berdua mengalahkan segalanya, dari guru yang sombong, murid yang nakal, sampai dulu sempat mereka menantang pemerintah dalam berdebat, itu menjadi berita yang hits 32 tahun yang lalu."
Aku terkesima mendengar semua itu. Benar-benar duo yang hebat ...
Tapi sepertinya aku tahu sisanya. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Biar kutebak, monster, pasti kumpulan monster menyerang dan membunuh kedua anak itu, sehingga disebut sebagai 'Kutukan Umat Manusia' karena mereka membunuh dua anak berbakat dan terampil yang muda dan menggemaskan itu ..." Aku berkata yakin.
__ADS_1
Firza menunduk sejenak, lantas menggeleng. "Kau lupa, Falisha? Kiara bilang 'monster' yang kalian lawan ini baru muncul sekitar delapan tahun yang lalu. Jadi, bukan, bukan monster hitam dan 'omni' yang kalian lawan."
"Oh iya, benar ... monster ini baru muncul saat umurku delapan tahun. Jadi apa yang terjadi? Ada apa dengan Diro dan Maleki?" Aku bertanya lagi, lebih penasaran kali ini.
Firza menghembuskan napas, sejenak, matanya melotot karena cemas.
"Suatu hari, masih di awal Februari, Diro berjalan pulang dari sekolahnya, menuju ke rumah. Ayahnya dengan cepat datang, memeluk anaknya, dan mengajaknya makan siang.
"Mereka berdua mengobrol dengan damai. Sambil Diro menunjukkan pemberian dari Maleki untuknya, yaitu kertas berbentuk hologram yang bisa dipakai untuk panggilan bergambar, sungguh itu adalah alat yang sangat canggih. Ayah Diro tertawa dan beranggapan bahwa mereka berdua pacaran, Diro sedikit malu, namun wajahnya mengatakan setuju.
"Malam harinya, di hari yang sama, Ayah Diro sudah tertidur, namun melalui hologram itu, Maleki mengajak Diro untuk bertemu ke suatu tempat, berkencan. Di perkotaan, ada restoran yang mewah dan ideal untuk mereka berkencan. Diro menolak karena mereka masih kecil, tapi Maleki bilang mereka sudah cukup pintar untuk melakukan itu. Jadi langsung saja, Diro berpakaian rapih dan pergi. Namun, saat dia hendak membuka pintu rumah, Ayah Diro bangun dan dia ketahuan.
"'Mengejutkannya, melihat anaknya yang berumur delapan tahun ingin berkencan, Ayah Diro malah tertawa. Dia justru merapihkan seragamnya dan menepuk-nepuk debu yang menempel. Diro tertawa, lalu dia berpamitan dengan ayahnya, janji akan pulang jam delapan malam. Ayahnya mengangguk senang, setuju.
"Diro berpisah dengan Maleki untuk pulang ke rumahnya, tepat waktu, dia sampai di rumah sesuai jam yang dijanjikan.
"Tapi sungguh malang, sangat disayangkan. Ayah Diro disandra oleh empat orang dewasa karena dia tidak sengaja melihat mereka bertukaran obat-obatan yang ilegal. Kepalanya ditodong oleh pistol dan mereka menyuruh Diro untuk memberikan semua teknologi dan sertifikat milik keluarga Diro. Diro amat terkenal dengan kepintarannya, jadi ada dua orang lagi yang datang, menculi Maleki dan menyandranya juga bersama ayahnya.
"Diro ragu-ragu, takut dan panik. Sialnya, dia melakukan sedikit kesalahan. Saat dia hendak berjalan mundur, mengambil teknologi miliknya, kakinya terpeleset ke belakang dan membuat panik empat orang dewasa itu. DOR! Dua tembakan terjadi. Kedua orang yang menjadi sumber kebahagiaan dan kehidupan Diro menghilang begitu saja.
"Alhasil, Diro tidak mau menerimanya. Dia dengan mudah, cepat dan tangkas membunuh empat orang itu menggunakan kayu di kursi sampingnya. Dari situlah, dia merasa puas dan enak, seolah-olah menyakiti seseorang akan membuatnya terangsang dan bahagia ... benar-benar mengerikan ...
"Diro tidak berhenti, dia memeriksa dompet keempat orang itu, melacak rumahnya, dan membunuh semua keluarga dari empat orang itu.
__ADS_1
"Belum puas, dia bertanya kepada kepolisian tentang kasus pertukaran narkoba terdekat, diberikan informasinya, Diro membantai habis belasan orang di lokasi tersebut. Senyuman Diro terpenuhi, kebahagiaan Diro hadir, namun dengan membunuh, membunuh dan membunuh semua orang yang dipikirnya jahat.
"Belum selesai, dia mengembara sendirian. Membunuh maling, membunuh pencopet, membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya. Diro membantai habis ratusan orang dalam waktu dua hari, totalnya sekitar 253 nyawa.
"Hari ketiga, polisi mulai mengepungnya, menodongkannya dengan pistol dan perlindungan yang handal. Tapi, yah, cepat saja dia melesat, mengumpat untuk menghidari peluru mereka, merebut pistol dan langsung membunuh salah satu polisi. Karena cukup dan handal, dia menembak semuanya. Puluhan polisi meninggal pada hari ketiga dia mengembara.
"Satu minggu berlalu, satu bulan berlalu, satu tahun berlalu. Tebak sudah berapa nyawa yang dia renggut, yah, 2.132.457 manusia sudah dia habisi, dia bantai tanpa ampun dengan amarah yang berkumpul. Kebahagiaan Brolia Diero diambil oleh empat orang, lalu dia membangkitkan hasrat untuk melukai orang lain agar dia merasakan kebahagiaan itu kembali ... dari situlah, kasus itu dikatakan sebagai 'Kutukan Umat Manusia' ..."
Daguku jatuh sempurna, mataku terbuka semuanya. Napasku berat dan tanganku meraba dadaku tanpa sadar, itu sangat mengerikan ...
"Lalu ... s ... siapa yang berhasil me ... menangkap Diro, Firza ...?" Tanyaku khawatir.
"Seseorang bernama Karlo. Dia dengan pasukan khususnya berhasil melawan Diro, Diro yang saat itu memiliki senjata yang lengkap, wajah berdarah dingin dan tubuh yang penuh dengan nafsu. Mereka berhasil, kepolisian langsung memberikannya promosi. Dia juga memiliki reputasi terbaik di Yuvia dalam waktu yang panjang. Aku tidak mau mendengar hukuman untuk Diro, jadinya Paman Zed tidak memberitahuku.
"Karena cerita itulah, aku ingin memiliki alasan untuk bisa membela diriku. Aku sangat takut hingga memiliki tujuan untuk kuat dalam segala situasi dari ancaman seperti Diro. Kudengar dari Kiara tadi, Karlo adalah Jenderal kalian, benarkah, Fal?"
Aku mengangguk. "Benar, itu adalah Jenderal Besar Karlo."
"Kalau begitu, dia adalah orang yang berhak untuk dihormati dan diagungkan. Jenderal Besar Karlo memiliki pandangan yang luas dan meyakinkan, aku sangat ingin bertemu dengannya, suatu hari nanti ..."
"Mungkin lain kali, setelah statusmu bukan omni lagi. Dia pasti akan membencimu karena itu, hahaha ..." Aku tertawa, menepuk bahu Firza. Dia menyengir.
Cerita itu sangat ... menyeramkan ...
__ADS_1
Diro, kira-kira apa hukuman untuknya, ya ...?