Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Meeting Istimewa


__ADS_3

Sekarang adalah hari berikutnya, siang ini, aku akan berbicara dengan Jendral Besar. Leo, Raphael, dan Jennifer sudah tahu. Sayangnya aku belum dapat kontaknya Yuda, jadinya dia belum.


Sekarang pukul delapan pagi, memakai seragam pasukan, aku sedang menggoes sepeda menuju markas, masih sejuk dan biru di sini. Udaranya juga sejuk, menyegarkan tubuh dan membuat elok moodku...


Ting!


Sudah sampai di tembok besar, kugesek kartuku dan masuk ke dalam lift.


Sebaiknya kurangkai kalimat yang hendak kukatakan kepada Jendral Besar. Mulai dari mana ya? Ayahku adalah omni? Tidak, aku takut dia akan curiga kepadaku. Mungkin sebaiknya aku beritahu tentang "Ilmuan gila" dari kata-kata Ayah. Eh, tapi Jendral Besar tidak akan mempercayai omni. Arghhh aku bingung!


Pintu lift terbuka, persetan dengan wajah benci para pasukan, aku langsung menunggu Leo di depan pintu kantornya.


"Baiklah, ayo." Dia akhirnya berjalan keluar, rapih dan gagah, mengusap sedikit seragamnya. Meletakkan pedang cahaya di samping celana.


"Huh? Kau mengikat rambutmu?" Leo menatapku bingung. Iya, aku mengikat rambutku. Aku harus membuat first impression yang menarik. Agar Jendral Besar tahu bahwa aku adalah seorang prajurit yang hebat dan bersih saat pertama kali dia menatapku siang nanti.


Kami berdua berjalan ke lift besar di dalam markas, melewati tatapan bernas pasukan yang menyebalkan. Tapi Leo mengabaikan mereka, terkadang hanya melotot dan itu sudah cukup untuk membuat kami aman, pasukan ketakutan melihat tatapan benci Leo.


Dia menggesekkan kartu miliknya ke kotak samping lift, Ting! Terbuka, kami berdua masuk ke dalam. Lantas, lift itu menutup lalu berjalan ke atas.


Aku merapihkan rambut, sebenarnya gaya ini tidak terlalu kusukai. Rambut yang berkumpul ke bahu kiriku lalu diikat dengan rapih, membuatnya berat.


Sebaiknya... kulepaskan saja? Eh, nanti Jendral Besar malah tidak menganggapku cantik. Padahal aku selalu ingin bertemu dengannya, dia yang memberikanku rumah dan menyediakan tujuan hidupku yang baru. Bagaimanapun aku harus berusaha yang terbaik untuk membalas budi kepadanya.


"Tenang saja, tidak perlu panik. Jendral Besar jarang sekali melihat orang berdasarkan penampilannya. Saat aku pertama kali dilatih, dia menatap bangga kepeda wajahku yang penuh dengan lebam. Jadinya aku tambah semangat dan tidak menyerah." Leo tersenyum kepadaku, mengepalkan tangannya. Aku jadi semangat, baiklah! Kulepaskan karet ini saat lift sudah sampai!


Lift terbuka lebar, sekarang hari sudah lebih cerah. Kami berlari hendak menuju tempat penyimpanan kendaraan Leo. Sejenak, aku melempar karet di rambutku itu ke tong sampah. Lagipula karet itu tidak akan pernah dipakai lagi.


"Dekat atau jauh?" Tanyaku sambil berlari di sampingnya.


"Sabar, sedikit lagi sampai."


Serentak, kami melewati jalan di mana sebelah kanan dan kirinya ada barisan pohon-pohon tinggi. Wah, jalanan apa ini?


"Kita sedang menuju ke rumahku dulu, saat aku masih remaja. Ternyata, aku lebih percaya kepada rumah lamaku sebagai tempat penyimpanan kendaraan." Dia menjelaskan sambil menatap sekitar.

__ADS_1


"Hahaha, pasti ada banyak foto saat kamu masih kecil, aku tidak sabar melihat semuanya..." Aku bergurau sedikit, menepuk bahunya.


"Yeeh, aku paling benci yang namanya kamera. Tidak ada satu foto pun tentangku."


"Yah, tidak seru dong." Aku menghela napas kecewa, hilang sudah kesempatanku untuk menyebarkan fotonya ke Raphael.


Enam menit, kita sudah sampai. Di jalanan yang sama, bedanya pohon di sampingku menghilang, digantikan dengan rumah satu lantai dengan bagasi besar yang ditutup. Leo membukanya, di dalamnya ada satu mobil yang keren, berwarna emas dan mengkilau. Sepertinya itu... jenis Urban SUV? Ah, tidak tahu. Tapi sepertinya praktis untuk kita berdua.


Leo bersiul, mengusap mobilnya perlahan. "Bersih seperti baru, bukan begitu?"


Aku mengangguk singkat.


"Ayo naik." Dia membuka pintu kiri, bagian kemudi. Aku di kanan, sampingnya.


Lantas dia menginjak gas, meninggalkan rumah tanpa pagar itu, kembali ke jalanan.


Karena sepi, dan pastinya radio tidak akan berfungsi semenjak evakuasi warga, aku ingin bertanya sesuatu kepadanya.


"Leo, akhir-akhir ini... kamu sering menulis buku, ya?"


"Kalau boleh tahu, tulisan itu tentang apa?" Aku menghadapnya, memiringkan kepala. Dia menatapku sejenak.


"Rahasia." Arghh dia memasang wajah menyebalkan, lalu kembali menatap depan.


"Ayolah, aku ingin tahu!"


"Rahasia, Fal. Itu hanya rahasiaku dan Tuhan. Tidak ada yang boleh membaca isinya." Dia terkekeh sampai batuk. Aku bersedekap, kembali menatap jendela.


"Yah, singkatnya... tentang hidupku sih..." Eh? Dia membalas!


"Hidupmu? Jadi semacam diary?"


"Yup, bisa dibilang begitu."


Astaga... buku harian tentang kehidupan Leo! Aku benar-benar harus membacanya! Sudah lama sekali kuberusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tapi dia selalu saja melenceng. Tapi dari buku itu, mungkin aku bisa tahu.

__ADS_1


"Jujur saja, hidupku tidak terlalu baik. Apa yang dikatakan omni itu benar. Aku hanyalah beban keluarga, tidak ada yang menarik. Kutulis buku itu hanya agar waktu luangku terpakai untukku belajar dari kesalahan. Itu saja." Wajah Leo menuju jalanan, tapi matanya... itu menunjukkan ekspresi penyesalan dan amarah.


"..." Aku menepuk bahunya.


"Tapi... semua itu tidak ada artinya, kan? Maksudku, dirimu yang sebelumnya. Kalau kamu sudah berubah, maka dirimu yang lama itu tidak berarti lagi. Jadi kumohon jangan terlalu menyesal terhadap sesuatu. Semua manusia itu tidak lepas dari keburukan." Aku berkata tegas, dia menatapku penuh keyakinan.


Hening sebentar, menyisakan suara roda mobil dan angin air conditioner.


"Hmph, boleh juga." Dia tersenyum sambil menutup matanya. Menarik napas lega.


...***...


Oh my God...


Aku tahu ini di mana! Ayah pernah mengantarku waktu itu, ini adalah ujung dari Daerah Barat! Tempat yang sangat keren, distrik besar yang praktis dan luar biasa. Di pusatnya ada mall setinggi seratus meter berbahan logam yang mengkilap, dengan rumah-rumah besar yang mengelilinginya. Semenjak itu, aku sangat ingin datang ke sini lagi...


Berarti... ini adalah tempat markasnya Jendral Besar? Di mana?


Eh, tunggu...


Di atap mall, ada semacam... mesin? Mesin berbentuk seperti rumah Eskimo, setengah lingkaran dan ada tabung yang memancung ke atas...


Apa itu? Aku tidak ingat ada hal seperti itu...


Ah, sudahlah.


Leo memarkirkan mobil di jalanan sepi, tepatnya ada kotak lebar berwarna abu-abu di pusat tanahnya.


Zruuuung... Astaga, turun! Kotak itu turun membuat mobil ini menuju ke bawah tanah, pemandangan sekarang digantikan dengan gelap dan bergua besar, berwarna krem tua. Terdengar gema dari air yang menetes dan tanah runcing dari atas yang jatuh ke bawah. Aku termangu menatap semua ini.


Brek! Mobil terhenti di bawah, sumber cahaya sekarang adalah lubang kotak di atas, tempat mobil Leo dihentikan sebelum dibawa turun. Persis di depan kami, ada jalanan kecil menuju satu pintu besar berwarna coklat. Itukah markasnya...?


"Baiklah, Fal... ingat, selalu waspada. Aku tidak tahu apakah markas Jendral Besar aman dari omni. Apalagi Ayahmu, bisa jadi dia sedang mengintai di sekitar sini. Tapi aku akan selalu menjagamu jadi jangan khawatir." Dia menepuk bahu kananku, tersenyum halus. Aku mengangguk singkat. Keluar dari mobil.


Sambil berjalan ke depan, aku menarik napas berkali-kali, mencoba tenang...

__ADS_1


Phew... oke, jangan panik. Katakan saja apa yang ingin kukatakan kepada Jendral Besar. Ini dia...


__ADS_2