
TRIN! TRIN! TRIN! TRIN!
Alarm abu-abu kecil di samping kasurku berbunyi. Tapi aku tidak peduli, aku langsung berdiri, bergegas mandi.
Sekarang pukul 04.00 pagi hari, Leonardo menyuruh kami semua berkumpul jam 05.00 untuk hari besar ini.
Di dalam kamar mandi kecil namun modernku, aku hanya memikirkan tentang bertarung, pedang, dan hal-hal seru yang akan aku lakukan nanti, tanpa sadar sabunku meleset tanganku daritadi.
Setelah mandi, aku langsung memakai seragam pasukan, berwarna biru tua dan elok dipakai.
Kotak panjang, yaitu pedangku, kutempelkan di samping celana, agar lebih mudah dikeluarkan nanti.
Aku duduk di kursi depan meja makan, meja itu terbelah dan mengeluarkan... astaga, telur orak-arik? Aku tidak pernah mencobanya, tapi Raphael pernah bilang kalau rasanya enak.
Hmm benar saja, rasanya enak. Aku menghabiskannya sekejap, langsung berlari ke pintu rumah, membukanya, lantas berlari sekuat tenaga. Meninggalkan rumah satu lantai itu.
Di luar sini masih gelap, sejuk, beberapa hewan terlihat tidur, jalanan masih sepi, jarang sekali melihat pemandangan ini...
Huh... biasanya... Raphael datang menghampiriku... sekarang di mana dia?
Ah, paling sudah sampai duluan. Dia kan terkadang tidak terduga, sama seperti Leo.
Enam kilometer kemudian, setelah berbelok ke sana kemari, tembok gelap itu sudah dekat, di sanalah kami diperintahkan berkumpul.
KRAK!
"!" Dengan cepat, aku memutar balikkan tubuh, menghadap ke belakang. Aku berada di gang kecil sekarang...
Seseorang sedang mengikutiku... jam segini, jalan gelap dan sepi sekarang ini... pasti orang jahat... aku harus siap di segala situasi, dengan cepat kukeluarkan pedang cahayaku, membuat terang sekitar, dan menggunakan kuda-kuda yang kokoh.
"Siapa di sana?!" Tanyaku lancang.
...
SRET!
"Apa?!" Aku terkejut, suara tadi berasal dari sebelah kanan!
BUK!
Dia mendorongku, membuatku jatuh.
"Siapa kamu?!" Aku kembali berdiri.
"Sssssssaaaaaaaaa..." Sosok hitam tinggi hadir, di tempat gelap dan dingin ini, dia mengangkat tangannya...
Dia menggunakan... topi fedora yang sama...
Tidak kusangka... aku bertemu dengannya lagi...
SRING!
Aku berlari cepat, hendak memenggal kepalanya, tapi sial... aku meleset!
Monster itu tidak salah lagi... dia yang waktu itu membunuh Ibu!
KRRRK!
Cepat sekali! Tubuhnya sangat fleksibel, dia melilitku sekarang, aku tidak bisa melihat wajahnya karena di sini sangat gelap.
__ADS_1
"Lepaskan!" Aku coba potong tubuhnya ratusan kali, tapi tidak bisa...
"Di... am..." Monster itu... tunggu... apa yang dia lakukan?
Tubuhnya semakin lama... memiliki kulit... bukan hitam lagi...
Lama-lama, tubuhnya sempurna, memiliki tangan, kaki, kepala, dia hampir seperti manusia-!
SING!
"Ah?!" Tubuhku dibawa oleh orang lain, lilitan monster itu lepas.
"Kau tidak apa-apa?!" Raphael! Dia menyelamatkanku!
"Ya!" Aku membalas.
Kami berdua mendarat, dia melepaskan tubuhku.
Aku menghadap ke belakang, Monster Bertopi Fedora itu tidak ada lagi.
Dia menghilang... menyisakan jalanan kosong dan lampu-lampu jalan yang jauh, kabur dengan cepat...
"Hei!" Raf mendekat, memeriksa seluruh tubuhku dengan matanya.
"Eh! Jangan asal lihat!" Aku keberatan.
"Diam dulu! Lihat! Perutmu terluka!" Dia menunjuk perutku bagian kanan, benar terluka, tapi hanya sedikit.
"Itu tidak penting! Ke mana monster sialan itu?!" Aku bertanya geram, berlari ke segala arah.
"Dia kabur." Raphael mengusap-usap bajunya.
"Haduh... ini semua gara-gara kamu!" Aku menyalahkan Raphael.
"Tapi itu satu-satunya kesempatanku untuk membunuhnya! Selain serangan nanti! Dan juga..." Kalimatku terpotong, aku teringat akan sesuatu...
"Dan apa?" Raphael penasaran.
"Raf... ini mungkin gila, tapi... mungkinkah semua monster yang kita bunuh, kita hina, kita benci... adalah manusia...? Seperti manusia serigala? Atau... Drakula? Vampir?" Aku berkata serius, mataku berkaca-kaca.
Raphael menatap datar.
"Ha...? Hah?!" Dia tertawa lepas, memegang perutnya, terkulai tidak berdaya.
"Astaga, Falisha! Usiamu ini enam belas! Jangan berpikiran seperti empat!" Dia melanjutkan tawanya. Apanya yang lucu?
"Ih, pikirkan dulu! Misalnya, dari mana asal-usul semua monster ini? Padahal yang hidup di bumi ini mayoritas kan manusia! Jangan-jangan mereka semua manusia jadi-jadian!" Aku berseru keras.
Astaga, kali dia berguling-guling di atas tanah, selera humornya aneh sekali...
"..." Aku sebal.
"Hahaha... haha... aduh..." Dia berhenti, mencoba berdiri perlahan.
"Maaf, Fal, haha... tapi, kalau monster itu manusia, Jendral Besar pasti sudah tahu. Otaknya itu di luar nalar, dia terlalu jenius untuk meleset." Dia menepuk bahuku, mencoba menahan tawanya.
"Iya, sih..." Aku mengaku.
"Ayo, kita akhiri seluruh pertarungan tiada henti ini. Dan juga, bersiap untuk rematch dengannya." Dia menyemangatiku, tersenyum lebar.
__ADS_1
"Pastinya!" Aku tambah semangat, tubuhku sedang membakar dengan ambisiku.
***
Akhirnya kami sampai, di depan tembok gelap di jalanan sepi yang tingginya dua kali dariku, seluruh pasukan sudah berkumpul, beberapa dari mereka mengobrol, ada yang beradu pedang, berlatih, dan ada yang membicarakan tentang strategi.
"Berisik sekali mereka..." Raphael menggaruk kepala.
"SIAP GRAK!" Suara orang itu memenuhi atmosfir, kami semua berbaris, enam belas orang dengan dua barisan, seragam yang sama, senjata yang sama, berdiri tegak, menghadap satu orang.
Leonardo sudah bersiap, berdiri gagah, wajahnya tegas, dia sudah sangat siap.
Sececah, matanya menatapku, menatap perutku lebih tepatnya, dia sadar dengan cepat bahwa aku terluka, hebat.
Wajahnya tidak seyakin sebelumnya, tapi akhirnya sudah kembali lagi, dia percaya padaku.
"Selamat pagi, semua!"
"Siap! Pagi!"
"Hari ini adalah hari yang sangat penting. Kita akan membuat sejarah! Kita akan mengembalikan kebebasan kita! Pasukan Penjaga Kedamaian akan berhasil!"
"Ya!"
"Kedamaian akan dikembalikan!"
"Ya!"
"Tapi jangan lupa... yang paling penting di setiap pertempuran, adalah tekad. Asalkan kalian teguh terhadap kepercayaan kalian, kalian akan menang dalam peperangan apa pun, kalian mengerti?!" Tubuh Leo sekarang menatap ke bawah, ke mata kami tegas dan yakin.
"Siap! Mengerti!"
Matahari pagi mulai terlihat, membuat langit menyala dan cahaya sedikit-sedikit memenuhi bumi.
"Ayo maju! Demi kemanusiaan!" Leo berseru, mengacungkan pedang cahayanya, berlari memimpin jalan. Kami semua mengikutinya, dua barisan berjumlah enam belas orang, aku di samping Raphael, dia tersenyum lebar menghadapku, aku juga, kami bergerak cepat.
Melewati jalan yang sepi di samping beberapa pepohonan, tidak ada rumah, aku memikirkan tentang markas monster yang akan kita serang.
Seingatku, bentuknya seperti jamur, lokasinya di tengah pasir, di pantai? Tidak mungkin, pantai terlalu jauh dari sini...
Langit sudah mulai membiru, dingin juga lama-lama menghilang, hari akan segera dimulai.
"Jaraknya sepuluh menit! Ikuti aku! Jangan ada yang tertinggal!" Leo memerintah.
"Siap!" Kami membalas.
Kenapa kami tidak menggunakan kendaraan? Aku juga penasaran, dibalik teknologi yang canggih dan senjata yang hebat, kendaraan jarang sekali dipakai markas ini.
***
Setelah beberapa jam berlari, sekarang sekitar pukul 07.00, kami akhirnya sampai.
Di cuaca cerah dan panas, barisan pasukan melihat rumah berbentuk jamur bewarna hitam seluas satu rumah sedang di jalanan pasir yang sepi, sangat sepi.
Terdengar suara tidak jelas, itu seperti monster yang sedang berbicara.
Semua orang mengeluarkan pedangnya, ZRUNG! Cahaya putih terang muncul, membuat terang sekitar.
Sedikit lagi... bersiaplah!
__ADS_1
"Pasukan Penjaga Kedamaian.... SERANG!!!" Leonardo berseru, memajukan pedangnya, memimpin jalan, kami semua maju dan menjerit.
Beberapa langkah lagi sampai aku masuk ke markas para monster.