
Kreeek...
Suara pintu besar yang menyeret tanah memekakkan telinga.
Aku berjalan memasuki ruangan yang wangi, adem, bentuknya bukan kotak atau persegi panjang, melainkan seperti gua. Gua berwarna dominan krem muda dan ada banyak tanah runcing ke bawah di atas. Luasnya sekitar 20x30 meter, dengan pencahayaan berwarna ungu di kanan dan biru muda di kiri. Di tengahnya ada meja berbentuk kotak berwarna merah dan hitam.
Dengan sejuknya ruangan ini, aku ingin tinggal di sini lebih lama...
"Selamat siang, Falisha." Astaga! Aku tidak sadar bahwa ada kursi yang tadinya menghadap belakang di buntut meja. Jendral Besar memutar, dia duduk di situ. Wajah yang tegas dan tampan itu benar-benar menarik perhatian... menatapku penuh.
"J, Jendral." Kakiku berguncang, tapi segera kukendalikan, menangguk singkat kepadanya.
"Silahkan duduk." Jendral Besar menunjuk tangannya ke salah satu kursi yang terletak di depan meja. Aku duduk di situ, berhadap-hadapan dengannya dibatasi oleh meja hitam merah di antara kami.
"Bagaimana kabarmu?" Dia menuangkan teh hangat ke dalam gelas kecil. Menyajikannya dengan piring mungil di bawahnya dan sendok yang alit, semuanya berwarna putih.
"Aku sehat. Bahkan semangat, hehe." Cur... demi menahan keteguhan, teh yang kuangkat tumpah empat tetes. Senyumku miring dan mataku berkedut. Malu sendiri kan!
"Syukurlah." Jendral Besar tidak menghiraukan, mengangguk lega, menuang dan meminum teh hangat ke gelas miliknya dengan elegan. Aku lamat-lamat mengikutinya, mencoba tidak panik.
"Baiklah, langsung saja. Aku ingin bertanya tentang suatu hal padamu." Dia merapihkan rambut dengan jemari, lalu membungkuk lurus menatapku.
Ini dia. Pasti tentang Ayah yang menjadi omni, atau fakta bahwa aku tidak terluka setelah diculik oleh monster...
"Bagaimana pendapatmu tentang Raphael?" Gelas miliknya diletakkan di meja, dia melihatku serius. Mengikat tangan kirinya dengan tangan kanan. Menunggu jawaban.
"Raphael?"
"Ya. Sahabatmu itu. Apakah dia cocok untuk menjadi ketua daerah?"
"Memangnya ada apa dengan ketua yang sekarang, Jendral?"
"Hanya memastikan saja bahwa Komandan Leonardo punya penerus yang sah dan pas. Akhir-akhir ini, laporan pasukan menyatakan bahwa Raphael adalah orang yang teladan dan hebat, fisiknya juga kuat dan sehat, dia sangat cocok untuk posisi ketua. Menggantikannya suatu hari nanti." Dia membalas datar. Matanya sangat tegas dan ganas, aku bergetar hendak menjawab.
"Menurutku... Raphael itu orang yang keren. Dia bisa diandalkan dan sangat baik. Kuharap aku bisa bertarung di sisinya sebagai pasukan sampai akhir hayatku, dia punya hati yang mulia. Dan dia bisa saja menggantikan Leo- Komandan Leonardo suatu hari nanti." Aku menjawab, sedikit berdehem, kembali menatap matanya.
Sunyi, Jendral terlihat berpikir.
"Dibandingkan teman-temanmu yang lainnya, seperti Jennifer. Lebih hebat mana?"
"Eh?" Umm..."
Wah, soal itu aku tidak tahu, mereka berdua sama-sama hebat.
"Mungkin... Raphael, Jendral." Maaf Jenn... tapi aku belum banyak melihatmu bertarung...
"Tetap Raphael ya? Baiklah." Dia mengangguk setuju, meminum teh hangatnya kembali.
__ADS_1
Daritadi aku hendak memberitahunya tentang Ayah. Lihat, tanganku mencengkram pahaku dengan sangat keras, aku berkeringat hebat walaupun tempat ini dingin!
Baiklah, aku akan mengatakannya.
"Soal omni itu-"
"Jendral!"
...
Kami berdua saling tatap, apa yang dia katakan tadi? "Soal omni itu-"? Dia sudah tahu?
"Eh, maaf. Lanjutkan..." Celaka! Aku memotong kalimatnya! Semoga tidak marah...
"Baiklah. Soal omni itu, kenapa dia tidak melukaimu? Apakah ada hal khusus yang bisa menyebabkan peristiwa itu?" Dia bertanya halus, walaupun wajahnya masih tegas.
...
Ini saatnya.
"Dia adalah Ayahku. Omni Cepat itu adalah Ayahku, Jendral." Kepalaku menunduk, tidak berani menatap ekspresinya setelah kata-kata itu. Apa reaksinya? Dia sebal? Dia mencurigaiku? Aku ditendang dari Pasukan Penjaga Kedamaian?
"Oh." Eh?! "Oh."?! Itu saja reaksinya?!
"Kenapa?" Dia menatapku bingung. Aku melihatnya setengah kaget, setengah tidak percaya, kepalaku miring dan mulutku setengah terbuka.
"Ya. Buat apa aku marah? Seandainya kau disuruh untuk mengkhianati pasukan, pasti kau sudah melakukannya sejak lama dan berhasil. Kau anak yang hebat, Falisha. Jadi aku tidak akan curiga kepadamu, tenang saja." Dia... tersenyum... wajahnya sangat menawan...
Aku mengangguk lega, kembali bersandar.
"Lalu apa saja yang dia katakan?"
"Dia bilang... semua yang kita lawan, semua yang kita bunuh dan serang. Itu adalah korban dari eksperimen seorang ilmuan. Itu buruk sekali."
"Hmm... ilmuan, ya. Yuvia punya banyak ilmuan yang hebat, bahkan aku sendiri banyak terbantu karena mereka. Misalnya pedang cahaya, saat aku memberikan ide kepadanya, mereka langsung membuatnya. Dan sekarang ini menjadi senjata yang hebat." Dia menunjuk pedang cahaya di celanaku bangga.
"Tapi... baiklah. Misalkan dia berbohong kepadamu, apa itu mungkin?" Jendral Besar bertanya.
Ayah berbohong... tidak, Ayah bukan pembohong!
"Tidak mungkin." Kubalas tegas.
"Seandainya dia berbohong?"
"Tidak, memang benar aku hanya hidup sembilan tahun dengannya, tapi dia tidak pernah berbohong sekalipun. Seandainya dia berbohong, aku akan memotong kedua lenganku sehingga tidak bisa bertarung lagi." Kali ini, tubuhku tegak sempurna. Semua padanganku menusuk mata Jendral tajam.
Hening sejenak, dia tergelak.
__ADS_1
Astaga! Aku baru saja melawan Jendral Besar! Mati aku!
"Bagus. Aku suka keberanianmu ini. Tapi jangan sampai kau memotong lenganmu sendiri. Nanti aku bisa kehilangan salah satu prajurit terbaikku." Dia meminum teh hangatnya lagi, membuang napas enak.
Syukurlah... dia tidak marah...
"Lalu, kutebak pasti dia ada rasa benci walaupun sedikit dengan pasukan, kan?"
"Dia... memberitahuku untuk jangan terlalu percaya dengan pasukan."
"Yah, itu wajar saja. Semua orang punya pendapatnya masing-masing tentang orang lain. Jadi kau akan berpihak kepada siapa? Ayahmu atau Pasukan Penjaga Kedamaian?"
Grep! Tubuhku lepas kendali, aku berkeringat lagi, perutku dipenuhi oleh kupu-kupu di dalamnya, bergetar seperti gempa.
Ayah atau Pasukan Penjaga Kedamaian?
Orang yang merawatku atau mereka yang memberiku tujuan hidup?
Yang menyayangiku atau yang membelaku?
...
"Pasukan. Jendral." Setelah beberapa detik berpikir, sebaiknya sekarang aku berpihak pada pasukan. Sampai aku benar-benar tahu asal usul konflik ini... perkataan Ayah tidak sepenuhnya tersampaikan, aku harus mengetahui segalanya...
Aku teringat sesuatu...
"Jendral, bolehkah aku bertanya?"
"Silahkan."
"Bagaimana... bagaimana cara kerja kekuatan di pedang cahaya? Maksudku, apakah bersumber dari pedangnya? Atau dari stamina dan energi kita? Atau bahkan, keduanya?"
"Pedang cahaya itu, saat kau memegangnya dengan tangan, ada chip khusus di dalamnya yang akan menghubungkan pedang dengan otakmu. Jadi, benar, keduanya. Asalkan pedangmu tidak rusak dan kau bisa menyeimbangkan otakmu, kinerja kekuatan itu akan sangat menguntungkan." Dia membalas pertanyaanku dengan lembut dan perlahan.
Oke, aku mengerti...
"Baiklah..." Dia merapihkan rambut dengan jemari, berdiri tegak.
"Ayo, ikut aku." Eh, dia akan membawaku ke mana?
Aku berdiri, langsung mengikuti Jendral yang masuk ke dalam markasnya, melewati cahaya ungu di kanan dan biru muda di kiri. Ternyata, ada pintu yang bertekstur kasar seperti tanah, menyamar dengan tembok. Terletak di belakang kursi tempat dia duduk tadi.
Dia mengangkat tangannya ke dekat pintu, semacam hologram keluar dengan beberapa angka. Lantas dia mengetik kata sandinya, Pip! Hologram itu menghilang, pintu terbuka perlahan, menggeser ke kanan. Dia masuk, diikuti denganku di belakangnya.
Gelap, ruangan ini hitam malam. Aku tidak bisa melihat apa pun.
Brek! Pintu tadi tertutup cepat, astaga! Apakah Jendral akan menghukumku?!
__ADS_1