Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kita Akan Memperbaikinya


__ADS_3

"Aku membunuh kakakku ... Fal, aku ... aku tidak sengaja membunuh Isabella ..." Bergetar, merinding, ketakutan, wajah Leo memunculkan semuanya. Dia terlihat menangis dan sangat menyesal ...


"Cerita lengkapnya, Leo. Jangan setengah-setengah." Mordo berteriak marah, mengancam.


Leo menatap mataku tajam, aku juga serupa.


"Isa ... bella ...?"


"Ya ... ibumu, Fal ... Isabella adalah ibumu, juga kakak perempuanku ..."


Aku melotot, bingung. "Apa?! Tapi kan ... monster medium yang membunuh Ibu-"


"Aku sudah bersumpah kepadanya, Fal ... sebagai pasukan, aku akan selalu melindungimu, Isabella, ibumu, dan Liam, ayahmu. Aku sudah bersumpah dengan sepenuh hati. Tapi kami bertengkar, hubungan aku dan ibumu itu hancur seketika, maka dari itu aku lalai dalam menepati janjiku, sehingga ibumu bisa meninggal. Waktu itu peringkatku masih calon komandan, jadi aku sempat berguru dengan Komandan Mordo-"


"Jangan pakai komandan! Mordo saja!" Mordo memotong lagi, suara teriakannya menggema memekakkan telingaku.


"Tidak mungkin ... itu tidak mungkin! Kamu tidak mungkin lalai dengan status pasukanmu, Leo! Kamu tidak mungkin membiarkan Ibu mati begitu saja karena pertengkaran kalian, kan?! Itu tidak mungkin ... tidak ..."


...


Aku hendak menyelesaikan kalimatku, tapi mata Leo justru mengungkapkan segalanya. Dia jujur, dia berkata yang sebenarnya. Ibuku mati karena dia tidak mau melindunginya, pantas saja Logan bisa muncul pada waktu yang tepat saat monster medium menyerang rumah kami delapan tahun yang lalu. Logan dan Leonardo sudah bersumpah untuk melindungi kami, tapi hanya Logan yang datang.


Aku tidak percaya ... aku tidak percaya Leo bisa sebodoh itu!


"Dasar bodoh ... BODOH! Leo ... aku tidak menduga semua ini ... bodoh ... IDIOT! KAU ADALAH ORANG YANG SANGAT RENDAH, LEO! SAMPAH! TOLOL!!!"


Tanpa ragu, aku melangkahkan kaki ke luar restoran, melewati belasan pasukan yang hadir di sini, melewati tubuh Yuda yang tergeletak di hamparan kayu meja yang hancur. Sampai ke pintu keluar, aku bergegas menuju rumah, tidak tahu harus apa.


Tidak bisa dipercaya ... Leonardo ... aku sangat ... sangat tidak menerima ini ... LEO!!!


...***...


"Berdiri. Kita harus menghadiri hal itu." Mordosstafa, di restoran, menyuruh Leo yang mengusap bibirnya sambil menunduk untuk berdiri.


"Bagaimana dengan Raphael? Yuda? Dan Fal ...-"


"Mereka adalah budak yang sampah, Leo. Lupakan saja. Ayo, Jenderal Besar membutuhkan kita."


Beberapa pasukan yang menyaksikan mereka berbisik-bisik cemas. Ada yang mengkhawatirkan dua prajurit muda tergeletak lemah di atas tanah, ada yang takut kepada skill bertarung Mordosstafa. Dia sangat hebat, dengan mudah mengalahkan Raphael dan Yuda, tanpa disentuh.


Juga Leonardo, yang masih menyesal karena membuat ibu dari keponakannya meninggal, Mordosstafa berhasil membuat semuanya merasa bertanggung jawab, benar-benar komandan yang tegas.


Tapi, ada hal yang lebih penting. Mordosstafa dan Leonardo- eh- lebih tepatnya, seluruh Komandan Pasukan harus berkumpul di tempat krusial markas. Ada rapat yang sangat mendadak, Rapat Delapan Komandan.


Dengan santai mereka berdua jalan ke luar restoran, meninggalkan tempat yang berantakan, dan beberapa prajurit yang masih entah bagaimana caranya mengurus dua remaja yang pingsan dan terluka parah.


Ini buruk, sangat buruk.


...***...


Tok! Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu rumahku, seorang perempuan. "Falisha! Falishaaaa!!!"


Aku yang berbaring lemas di sofa terlalu malas untuk membukanya. Tidak kusangka, orang yang sangat kuhormati selama bertahun-tahun, ternyata menjadi alasan kenapa ibuku meninggal. Sangat bodoh ...


Namun akhirnya, aku bergegas membuka pintu. Dan yang datang sangat sangat di luar dugaanku.


"FALISHAAAA!!!" Jennifer, dengan wajah aslinya, tanpa rambut pirang dan samaran lainnya itu, hadir di depan mataku. Wajahnya bercahaya penuh senyuman, memelukku dengan erat.


"Astaga! Jennifer?! Ha! Hahaha! Ini kamu? Apa kabar?!"


"Kabarku baik, Fal! Sangat baik!"


Aku tiba-tiba heran. "Hei ... bagaimana caranya kamu bisa ke Daerah Barat? Komandan Yakza bilang-"


"Dia sengaja kusuruh berkata begitu, agar ini menjadi kejutan!" Dia tersenyum lagi, berseru riang di depan rumahku.


"Oh begitu ... eh! Ayo masuk! Astaga! Aku jadi lupa cara menjadi penerima tamu yang baik ..."


"Oke!" Kami masuk kembali. Jennifer melihat-lihat rumahku dengan sangat teliti.


"Wah, rapih sekali. Dulu aku tidak sempat melihat rumahmu, jadi tidak begitu jelas bagiku, hahaha ..." Dia terkekeh.


"Yah, begitulah. Jadi, kenapa kamu boleh ke sini? Bukankah prajurit tidak boleh pindah antar daerah kecuali ada misi yang darurat?" Aku bertanya sambil menuangkan teh hangat ke dua gelas kecil.


Jennifer duduk, meminumnya perlahan. "Komandan Yakza sibuk, dan semua prajurit dibebaskan untuk sementara."


"Hah? Serius?"


Aku hampir tersedak teh. "Sungguh?!"


"Astaga, sungguhan, Fal. Kenapa kaget begitu?"


Aku menarik napas berat, meletakkan gelas kembali ke atas meja. Pertama kalinya dalam delapan tahun ada rapat yang melibatkan semua komandan untuk hadir, pasti sangat penting ...


"Wajahmu kenapa pucat sekali, Fal? Apakah aku mengganggumu?" Jennifer bertanya, aku dengan cepat menggelengkan kepala.


"Leo ... bukan lagi pamanku, Jenn ..."


"ASTAGA! LEO MENINGGAL?!"


"Eh! Bukan begitu!" Bisa-bisanya dia salah tangkap ...


"Ooh, syukurlah ... jadi maksudmu apa?"


"Dia ... adalah alasan kenapa ibuku meninggal selama ini."


"HAH?!"


"Bukan, dia tidak membunuhnya. Ceritanya panjang, intinya dia gagal melindungi kita. Yang seharusnya, keluargaku baik-baik saja jika dia tidak melakukan kesalahan yang konyol itu." Aku menjelaskan dengan lebih seksama, menatap Jennifer sepenuh hati.


"Oooh ... astaga, itu buruk sekali ..." Dia menutup mulutnya.

__ADS_1


Aku mengangguk pasrah, menyisakan hening dan suara televisi yang agak rusak. Jennifer melihatku prihatin, meneguk teh hangatnya untuk yang kesekian kalinya.


"Komandan Yakza ... pernah bilang begini kepadaku Fal." Dia membuka mulut.


"Apa?"


"Mau apa pun itu, kecelakaan, masa lalu, perpisahan, atau kenyataan yang paling menyakitkan yang hadir di kepalamu sekarang, itu tidak menyatakan siapa dirimu sebenarnya. Yang membuatnya absolut, adalah sisa dari ceritanya. Apa yang ingin kau lakukan dan siapa yang ingin kau idamankan, itu yang menyatakan siapa dirimu sesungguhnya." Dia berucap halus, matanya bersinar terang seperti cahaya di atas langit yang biru.


Aku menunduk, apakah yang diucapkan Jennifer benar? Apakah ... kenyataan bahwa Leo sempat ceroboh itu tidak berpengaruh selama aku tidak memikirkannya?


Mungkin saja benar ...


...


"Terima kasih, Jenn, sungguh. Aku berhutang banyak padamu." Aku tersenyum, menuangkan teh lagi dari teko ke dalam gelas. Jennifer tersenyum riang. "Sama-sama."


"Oh iya, kudengar semua indra di tubuhmu itu menjadi lebih kuat? Itu sungguhan?"


Aku mengangguk. "Benar. Aku menjadi lebih kuat secara fisik, kalau mental, masih sama."


"Wah ... hebat. Bisa kau tunjukkan kehebatanmu?"


Aku mengangguk. Lantas membuat tameng yang mengelilingi sampai empat rumah. Bunyi dan cahayanya sangat berbeda, lebih damai ...


"Woah ... wow! Ini sangat hebat!" Jennifer berdiri, melesat membuka pintu luar rumah. Aku mengikutinya, benar saja, ada tameng setinggi lima ratus meter, melingkar mengelilingi banyak tempat.


Dan semua itu bisa hadir dengan sedikit pergerakan tangan kanan. Senjata paling mutakhir itu benar-benar sesuai namanya ...


"Jenn, aku jadi penasaran. Komandan dari semua daerah sedang ada rapat, aku memiliki senjata yang paling mutakhir, lalu kamu tiba-tiba datang ke sini. Rapat itu ..."


Jennifer tidak mau menghadapku, aku bisa melihatnya. Dia daritadi berpura-pura agar aku tidak memikirkan hal yang negatif.


"Rapat itu pasti tentang ... apakah aku layak dieksekusi, atau dipertahankan. Bukan begitu?"


Jennifer di depanku menarik napas berat. Namun akhirnya, dia memutar balikkan badan. Wajahnya tidak lagi riang, sekarang cemas, takut, sedih, dan sebagain hal buruk lainnya.


Wah! Berita bagus lagi! Sudahlah Leo yang memperburuk perasaanku, sekarang semua Komandan sangat ingin membunuhku hanya karena aku menjadi jauh lebih kuat daripada mereka! Benar-benar hari yang terbaik.


...


Sial ...


"Tenang. Aku dan Komandan Yakza sudah merencanakan sesuatu." Terlepas dari ekspresi negatifnya, Jennifer menguatkan tekad. Dia mengambil semacam benda kecil dari kantungnya.


"Komandan Yakza mempercayai kita berdua untuk memanipulasi semua orang dalam rapat itu. Ini adalah alat pendengar superkecil sekaligus mikrofon yang canggih. Pakai ini." Aku menerimanya, menempelkannya di telinga sebelah kiri. Jennifer pun serupa dengan miliknya.


"Komandan Yakza sudah memakainya, daritadi ..."


"Yup. Sekuat apa pun dirimu, tenang saja, aku dan Komandan Yakza akan selalu berada di sisimu." Dia tersenyum lebar. Membuatnya semakin terlihat seperti cahaya.


Aku tertawa kecil, pada akhirnya. "Berarti, ini artinya ..."

__ADS_1


"Kita akan memainkan pikiran semua orang, termasuk Jenderal Besar Karlo!"


__ADS_2