Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kekasihku


__ADS_3

Tok. Tok. Tok.


Ketukan pintu kamarku yang pelan terdengar samar. Mataku tertutup, tapi aku tidak tertidur. Aku tengkurap di atas ranjang, membeku pasrah.


"Fal ... boleh aku masuk ...?" Suara Raphael menghampiri dari luar. Dengan ciri khasnya yang menyebalkan namun membantu, dia berucap menggunakan nada miliknya.


"Hm." Balasku singkat. Aku tidak tahu harus berkata apa ...


"Oke,, aku masuk ya ..."


Dia membuka pintunya, masuk. Langkah kakinya terasa sedang mendekatiku.


"Wah ... untuk seorang perempuan, kamarmu rapih sekali." Raphael melihat-lihat sekitar, tertawa dengan santai. Kamarku itu kosong, dengan cat putih. Hanya ada lemari, kasur, keset, dan lampu. Dengan satu jendela besar di samping ranjang.


"Hm."


"Memangnya kau tidak mau menambah poster? Atau alat-alat kosmetik? Atau benda apa pun lainnya yang dimiliki perempuan?"


"Hm."


"Yah, setidaknya kamar ini mirip seperti Jennifer. Bedanya, cat miliknya itu berwarna ungu. Kami pernah bekerja sama karena sekolah di rumahnya, tidak ada yang tahu bahwa rumah itu disiapkan oleh markas waktu itu, bahkan diriku. Hahaha ..."


"Hmm ..."


"Kalau boleh minta, atau request, aku mau kamarmu ditambahkan tempat untuk kotak panjang pedang cahaya di tembok. Itu akan jadi dekorasi yang sangat tepat."


"Raf ..."


"Hmm? EH! FAL?!"


Lincah, Raphael langsung berbaring di ranjang, menghampiriku yang tiba-tiba menangis lagi. Dia terlihat terkejut, walaupun tidak bisa kulihat dengan jelas.


"Falisha?! Hei! Kau kenapa?!" Di sakunya terdapat tisu, Raphael mengambilnya dan mengelap air mataku secara halus. Kemudian aku dibantu duduk olehnya.


Kutarik napasku dengan keras. "Aku ... aku tidak tahu harus apa, Raf ... aku sangat bingung ... Ayahku tidak mungkin berbohong, dan Jenderal Karlo tidak mungkin mengkhianati kami. Jenderal Karlo secara tidak langsung, membesarkanku selama bertahun-tahun. Aku harus apa, Raf? Berada di pihak siapa ...?"


...

__ADS_1


Raphael diam, menatapku sepenuh hatinya. Matanya terlihat berduka sekaligus lelah. Kami benar-benar sekelompok remaja yang ditekan oleh kenyataan pahit berkali-kali ...


Dia menghembuskan napas panjang. Lalu, dengan santainya, dia menempelkan kepalanya, miring, ke kepalaku. Jantungku berdetak kencang, apa yang dia lakukan ...?


"Kau ... bertanya kepadaku, apa alasan aku mau berteman denganmu, kan?" Ucapnya sambil memainkan rambutku dengan satu tangan.


Aku mengangguk pelan.


"Aku ... mencintaimu, Falisha. Dari tatapan pertama, aku sudah tahu bahwa kau adalah perempuan yang menarik. Dan kenyataannya? Benar saja, kita serasi dan kau adalah prajurit yang sangat hebat. Aku tidak bisa menahannya lagi, dengan berbuat baik kepadamu diam-diam selama ini, di sekolah, di markas, di mana pun, aku ingin kau menyadari bahwa aku menyukaimu. Sampai sekarang. Kau adalah matahariku di dalam gelapnya dunia. Lucu saja melihatmu bertingkah sebal, marah, menyebalkan, dan yang lainnya. Walaupun begitu, aku selalu tahu, di dalam hatimu, kau adalah manusia yang paling baik sedunia. Dengan hati yang putih, niat yang murni, dan penuh harapan. Harapan layaknya malaikat ..." Mata kita bertatap-tatapan sempurna. Raphael terdengar jantan dan keren saat mengatakan hal itu.


Aku sangat tidak menyangka, dia ... benar-benar menyukaiku ...


Aku menelan ludah. "Raphael ... aku ... juga mencintaimu ..."


"Aku tahu." Dia tersenyum, membuat rambutku berantakan dengan tangannya, terkekeh-kekeh.


Aku akhirnya ikut menyengir. Satu-satunya orang yang bisa membuatku bahagia hanyalah dia, Raphael. Dia tanpa ragu, adalah sahabat sekaligus manusia terbaik yang pernah hadir dalam hidupku di masa-masa yang gelap ini ...


"Tapi ... kamu salah pada satu hal, Raf." Aku menunduk, teringat sesuatu.


"Oh ya? Apa?"


"Hei! Jangan bicara begitu!"


Raphael memotong perkataanku. "Dengar, Fal. Kebahagiaan tidak selalu berasal dari luar. Kebahagiaan bisa saja berasal dari dirimu sendiri. Aku sudah siap akan kemungkinan terburuk, kau juga harus begitu. Seandainya saja kita kalah, lalu pihak ayahmu dan pihak Jenderal Besar Karlo kalah melawan dalang asli dibalik monster, ya sudah, kita mati karena sudah mencoba, itu bagus. Atau seandainya kau dan aku tiba-tiba ditusuk oleh monster, lalu mati, peduli setan! Selama kita bersama, itu adalah waktu bahagia kita. Kau dan aku, Fal. Kita tidak akan kalah selama mau mencoba, selama ada gerakan dari kita sekecil apa pun, itu sudah bisa dihitung kemenangan. Kenapa? Karena kita sudah mencoba. Ayo,"


Raphael memegang kedua tanganku.


"kita lanjutkan hidup ini. Hidup yang gelap dan buruk ini, sebagai pasangan yang paling sempurna. Sebagai pasukan, murid, pacar, Falisha dan Raphael, dua orang selalu bahagia, selama bersama-sama ..." Dia tersenyum yakin. Matanya dipenuhi dengan tekad dan cahaya yang sangat menular.


Aku menatapnya sejenak. Lantas, aku menunduk, tersenyum sambil menutup mata.


"Hmph ... baiklah. Sekarang kita hanya perlu menunggu komando Leo. Hidup memang sialan, tapi ya sudahlah. Yang penting adalah bagaimana caranya kita bertahan, benar kan, Raf?"


"Sempurna. Kau menemukan jawaban apa yang harus dilakukan tanpa kuberitahu, itulah betapa pintarnya dirimu."


Kita saling berpelukan, selama dua menit. Aku merasa lega dan lebih tenang setelah mendengar kata-katanya barusan ...

__ADS_1


"Oke. Aku sudah siap, ayo kita ke luar. Aku ingin meminta maaf dengan Jennifer dan Yuda."


...***...


Di ruang tamu, mereka berdua sedang duduk menungguku. Begitu aku terlihat, mereka langsung berdiri tegak.


"Fal, bagaimana keadaanmu?" Jennifer bertanya, Yuda menatap cemas.


"Aku tidak apa-apa, berkat kalian semua. Terima kasih sudah berada di sisiku selama ini. Aku minta maaf-"


"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Aku senang melihatmu tersenyum, itu sudah cukup." Yuda tertawa. Jennifer tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Kemudian dia menyengir. "Coba kutebak, kalian sudah mengaku?"


Wajahku dan Raphael memerah. "M ... mengaku apa?" Aku bertanya.


"Sudahlah, aku dan Yuda tahu betul kalian mencintai satu sama lain. Dan kami bersedia merestuinya." Jennifer bergurau.


Aku hendak melawan lagi, tapi akhirnya pasrah. Raphael juga menghembuskan napas senang.


"Ya. Aku dan Falisha adalah pasangan kekasih yang paling keren. Cerita kita berdua akan sangat menghibur anak-anak kita nanti." Raphael menyikut bahuku. Aku tergelak perlahan-lahan.


Tiba-tiba, ponselku berdering kencang. Di layarnya bertuliskan "Leo", dia memanggilku.


Aku mengangkatnya. "Leo? Ada apa?"


"Tidak ada waktu, datanglah ke depan restoranku, cepat!"


"Eh? Kenapa?"


"Sudah kubilang, Fal! Tidak ada waktu! Aku akan memanggil yang lain juga, sebaiknya kau bersiap-siap!"


"Tidak perlu, Leo. Kits semua ada di sini." Jennifer berucap halus.


"Ya sudah, bagus! Cepat datang ke sini! Aku memanggil empat komandan handal sekaligus untuk ini! Situasi darurat! Kode merah!"


"Hei! Setidaknya katakan, ada apa? satu kalimat saja bisa menjelaskan segalanya." Raphael terdengar keberatan.

__ADS_1


"Serum yang dibuat oleh Liona! Serum yang kalian dapatkan dari Daerah Utara! Itu dicuri oleh omni berkekuatan kayu!"


__ADS_2