
Hujan mulai menurun, membasahi seluruh pakaianku, aku menutup lenganku dengan menunduk, agar tidak terkena hujan...
ZRUNG! Wanita itu beradu pedang dengan Arkane, lalu maju menunduk, menusuk badannya dari bawah. CRAT! Leo memenggal kepala monster itu.
"Terus! Sedikit lagi!" Seru Leo yang membantunya.
"Hei, tanganmu..." Raphael khawatir melihat ke bawah. Lengan kiriku patah berdekatan dengan luka tusuk monster hitam saat penyerangan rumah jamur tiga hari yang lalu.
"Tidak apa-apa, hanya segini..." Aku membalas.
"Ah, setelah semua ini kau pasti menangis." Dia mengejek, aku hendak menjambak rambutnya...
Tapi ada dua luka gores yang panjang di perut, dada dan punggungnya...
"Sebaiknya kamu tunggu sini... biarkan mereka yang menyelesaikan semuanya..." Aku kasihan pada Raphael, bibirnya juga keluar darah...
"Ya, aku memang sudah tidak bisa bergerak... duduk saja sulit, untung ada kau yang membantuku..." Dia menyengir.
"Raf... kok bisa? Bagaimana bisa ada monster berbentuk manusia di sini? Apa kata Jendral Besar saat memberikanmu misi?" Aku bertanya heran.
"Jendral Besar bilang bahwa ada kumpulan monster medium di sini yang sangat banyak, maka dari itu dia mengirim kami. Benar saja, ada ratusan monster yang berkumpul di sini Kami semua berhasil mengalahkannya walaupun lama. Tapi, dia tiba-tiba datang... membantai kami semua..." Jawabnya, mengusap darah di bibir.
Arkane tiba-tiba datang, berarti... Jendral Besar juga tidak menduga ini...
"Romantis sekali!" Astaga! Arkane berada di belakangku?! Cepat sekali!
Dia mengayunkan pedang besarnya ke bawah, hendak memotong kami berdua, aku mendorong diriku dan Rapahel menjauh dari pedang itu.
BUM! Bunyinya sangat keras, lumpur lagi-lagi menyebar.
"Ack! Fal, hati-hati dong..." Raphael keberatan, menyentuh dadanya.
"Maaf! Naik ke punggungku!" Aku menyuruh.
"Ha?" Dia heran.
"Cepat!" Kubantu Raphael berdiri, lantas dia melompat ke punggungku, aku menahannya dengan lengan kanan, bergerak bersamanya.
BUM! Pedang besar meleset kami berdua, aku menghindarinya, lanjut berlari.
"Hati-hati, Fal!" Raphael yang menumpang di belakangku berkata, tidak sempat kurespon, aku masih menghindari serangan Arkane yang acak-acakan.
ZUNG! Seseorang beradu pedang dengan monster itu. Aku menghadap ke belakang, itu wanita tadi!
ZRASH! Lagi-lagi dia memenggal kepalanya, BUK! Leo membanting tubuh Arkane dan melemparnya jauh ke belakang.
"Lindungi Raphael, Falisha!" Leonardo berseru keras, lanjut bersiap melawan, aku setuju, mencoba lebih kuat menggendong Raphael.
GRASH! Arkane bangkit lagi, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi...
"Hah... padahal aku sudah sangat dekat dengan kemenangnan, tapi kau menggangguku, gadis." Dia menghembuskan napas berat, mengacungkan pedangnya ke arah kami berempat, lebih tepatnya ke wanita itu.
Petir menggelegar, hujan tambah deras membasahi semua yang bisa dilihat...
__ADS_1
"Bakso kotak." Masih belum keluar dari mulut Leo... apa yang dia rencanakan?
Leo dan wanita itu maju perlahan, bersiap bertarung, disusul oleh Arkane yang juga maju perlahan.
"Raphael, bertahanlah." Aku berbisik, menguatkan tenagaku, agak sulit karena hanya menggunakan lengan kanan, tapi tidak apa-apa...
ZRUNG! Pedang Leo menyerang, ZUNG! ZUNG! Berhasil dihindari. Wanita itu maju, ZUNG! ZUNG! CRAT! Serangan ketiga ke bawah, berhasil memotong dua kakinya. CRAS! Leo memenggal kepalanya.
GRASH! Ketiganya tumbuh kembali, kemudian Arkane maju, ZUUNGG! Pedang besarnya beradu tenaga dengan dua pedang kecil. Leo dan orang itu bertahan sekuat-kuatnya.
"Fal, tendang pedangmu, itu akan memberi waktu." Ujar Raphael singkat.
"Ha?"
"Percaya padaku."
Tanpa ragu, aku menendang pedang cahayaku di tanah yang menyala dengan kakiku.
CRAT! Pedangku menancap kepala Arkane!
CRAS! Leo melepaskan pedang besar itu dan langsung memenggalnya lagi.
BUM! Wanita itu memukul tubuh Arkane sampai jauh.
Arkane mengelap kepalanya, wajah jeleknya tambah marah... lalu dia maju lagi.
Leo membidik badan, ZRUNG! ditangkis, ZRUNG! Ditangkis lagi, ZRUNG! Serangan Arkane membuat Leo harus mundur.
ZUNG! Serangan wanita itu dihindari, ZRUNG! ZRUNG! Dua kali pedangnya beradu, ZRUNG! Leo membantu, masih ditangkis. GREP! Tangan Leo ditahan, BUK! Kepala Leo dipukul jauh, ZRUNG! Wanita itu masih beradu pedang, tapi ditangkis semua, CRAS! Kaki kiri Arkane terpotong, ZAP! Pedang wanita itu jatuh kena serangan berat, KREK! Dia mencekik dan mengangkat wanita itu.
"GAAH!" Setelah tangannya beregenerasi, BUM! Pedang besarnya dijatuhkan lagi ke tanah, trik lumpur itu lagi.
WOOSH! Kami semua menghindar, aku menunduk sambil menggendong Raphael.
"Aduh! Ketampananku hilang!" Seru dia, wajahnya terkena lumpur, penuh cokelat tanpa bolongan, lantas mengelapnya sampai habis, aku menahan tawa.
"Leo! Masih belum juga?!" Seruku sambil berdiri kembali.
"Sedikit lagi!" Dia menjawab.
Eh, tunggu... postur wanita itu... cara berdirinya... rambutnya diikat... dan juga... pirang?! Astaga! Mungkinkah-?!
"Awas!" Pekik Raphael, Arkane hendak memenggalku, ZRUNG! Dengan cepat, wanita itu membelah tubuhnya yang sedang berlari ke arahku, lantas maju ke depan melindungiku.
"Jennifer?!" Aku berseru heran.
"Hah?!" Raphael lebih keras.
"Maaf! Untuk sekarang aku harus fokus!" Dia membalas.
Ketua OSIS itu? Jennifer? Pasukan Penjaga Kedamaian?
BUK! Leo jatuh, berdiri dengan lututnya, sulit bernapas, sepertinya itu karena dia dibanting dan diinjak-injak tadi, GREP! Tanpa ragu, dia dicekik, diangkat ke atas. Jennifer menghampiri, hendak memotong tangan Arkane, BUM! Namun ditendang, terlempar jauh.
__ADS_1
"Fal... boleh kupinjam pedang cahayamu?" Ujar Raphael lembut.
"Untuk apa?"
"Aku harus membantu mereka... dia... dia terlalu kuat..." Wajahnya khawatir.
"Tapi kamu tidak bisa bergerak! Nanti kamu bisa-"
"Tidak apa-apa... masih bisa, kok, harus mati sekalipun... Leo merawatku dari kecil, memberiku makan, menjemputku dari sekolah saat masih kecil, membantuku melawan perundung... aku harus membalasnya..." Tekad Raphael melebihi apa pun, dia siap untuk bertarung...
...
Baiklah kalau begitu.
"Aku juga." Balasku lurus.
"Eh? Tapi pedangku rusak, kau tidak punya senjata. Dan juga, lenganmu patah, Fal..." Balas Raphael.
"Soal senjata itu mudah, aku tinggal mencari milik pasukan lainnya, soal lengan, aku masih punya lengan kanan." Aku berkata mantap, menurunkan tubuh Raphael.
"Aw... pelan-pelan!"
"Maaf..."
Kami berdua mengangguk, WOOSH! Aku langsung berlari menuju tumpukan tubuh pasukan. Sambil mengatakan "Maaf." Kugeledah, menggeserkan tubuhnya di mana-mana, tidak ada, semuanya rusak. Kucari di tempat lain...
"Am... ambil..." Eh? Itu... itu pasukan yang tadi! Yuda! Yang mengatakan bahwa Arkane bisa beregenerasi!
"Ambil milikku..." Suaranya serak, aku langsung mengambil kotak panjang di sampingnya, ZRUNG! Menyalakannya.
"Terima kasih." Aku berkata.
"Hahahaha..." Leo yang sedang dicekik tertawa.
"Kenapa? Sudah lelah, ya?" Arkane heran.
"Tidak... eh, iya, itu juga, lelah. Tapi bukan itu intinya..." Balas Leo.
"?" Arkane menghadap ke belakang.
ZRUNG! Seranganku ke tangannya, dan serangan Raphael ke kepalanya mengenai dia sekaligus, tubuh Leo jatuh, aku membantunya dengan lengan kananku.
"Terima kasih." Dia membalas.
Lalu, kami semua mundur sembilan langkah, termasuk Raphael.
"Maaf, ayo kita lanjutkan." Jennifer juga sudah bangkit lagi, bergabung dengan kami...
GRASH! Kepala dan tangan Arkane tumbuh lagi.
"Hah... kenapa kalian belum mati?!" BUM! Marah, pedang besar Arkane dihantam ke tanah, suaranya berisik sekali.
"Kali ini, ayo kita benar-benar membunuhnya." Seru Leo bangga, sempat-sempatnya tertawa kecil.
__ADS_1
Sekarang empat lawan satu, kami semua menjulurkan pedang kami, bersampingan...