Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Teka-Teki


__ADS_3

Kreeeeek ...


Ruangan selanjutnya, berwarna gelap. Berbahan batu alami, luasnya sekitar 500 x 500 meter persegi, semuanya muat berdiri di sini.


Pintu sebelumnya sudah tertutup, tidak ada lagi anak panah berapi yang bisa melukai kita. Kita sudah aman berada di sini.


Walaupun tertutup, hawanya sejuk dan dingin. Baunya juga biasa saja, suhunya seperti ruang guru di sekolah ...


"Hei, terima kasih atas rencanamu tadi ya ..." Aku memanggil prajurit tadi, yang memanggilku "Dek". Dia yang layak diberi sorakan, karena sudah memberiku rencana yang brilian.


"Ah, tidak apa-apa. Kau juga berusaha, Dek." Dia mengacungkan kedua jempolnya.


Aku tertawa kecil. "Siapa namamu, Pak?"


"Namaku Zed. Salam kenal." Zed menjulurkan tangannya, kami bersalaman secara formal. Agak aneh rasanya karena daritadi kita sudah saling berkomunikasi.


TING!


"Eh?" Beberapa bingung melihatnya. Di tembok bebatuan sisi depan, seperti ada layar yang menunjukkan tulisan "Peraturan".


"Peraturan?" Azriel heran. Yuda bersedekap di sampingku.


"Ada total tiga pertanyaan. Jawablah setiap pertanyaan dalam 25 detik, jika gagal, akan ada hukuman yang sesuai dengan level pertanyaan. Dari terbakar sampai mati sampai ditusuk oleh pedang raksasa. Gunakan otak kalian dengan baik." Sekarang tulisannya berubah, menunjukkan pesan tersebut.


"Hah? Apa sih?" Aku benar-benar bingung. Apa tantangan selanjutnya?


"Tebak-tebakan. Atau, teka-teki." Yuda berujar tegas, dia sangat yakin.


"Hah?!" Aku kaget. Aku sangat payah dalam hal itu. Haduh ... seandainya saja Raphael ikut, dia kan seperti badut, setiap detik bergurau, pasti akan sangat berguna.


Krek! Zed di sampingku meregangkan jemari. "Orang tua ini rajanya teka-teki. Tenang saja." Dia berkata dengan percaya diri.


"Hajar, Zed!"


"Kasih paham!"


"Lakukan yang terbaik, Zed!!!" Orang-orang mendukungnya dengan serempak. Astaga, sehebat itukah dia? Wah, aku jadi penasaran ...


TING!


Layar menunjukkan tulisan: "Pertanyaan pertama, seribu kali hadir, tidak akan dihargai jika musuhnya datang walaupun hanya sekali. Apakah aku?"


Pasukan bergumam, desas desus percakapan terdengar sampai ujung ruangan.


Zed di paling depan berpikir dengan tenang. Ada hitungan mundur yang terdisplay di atas tulisan pertanyaan. Waktu sisa dua puluh detik lagi.


"Jangan menjawab kalau belum yakin, Zed." Aku mengomentari, dia mengangguk santai.

__ADS_1


Lima belas detik lagi.


Seribu kali hadir, tidak dihargai jika musuhnya datang walaupun sekali. Hah? Apa maksudnya? Para leluhur ini tidak main-main ...


Seribu kali hadir, seribu kali hadir ... seribu kali ...


Sepuluh detik lagi.


Musuhnya siapa? Kenapa dia bisa kalah dengan orang yang datang hanya sekali?


Lima detik.


Empat detik.


"Zed!" Orang-orang mulai panik.


Tiga detik.


Dua detik.


"Kebaikan." Zed berujar lurus, dan datar. Hitung mundur tiba-tiba berhenti, bunyi TING! yang amat nyaring keluar dari speaker.


Tulisan di layar menunjukkan: "Selamat! Anda benar!"


"Yes!!!" Kami berseru senang. Zed menyikut lenganku usil. "Benar, kan? Hahaha."


Kebaikan ... benar juga. Misal si A berbuat baik kepada si B, beribu kali jumlahnya. Lalu datanglah si C yang berbuat baik pada si B juga. Suatu hari, A tidak sengaja membuat B menderita, hingga B lebih memilih C untuk berteman dan meninggalkan A selamanya. Padahal A tahu, C hanya memanfaatkan B diam-diam untuk kesenangannya sendiri.


B hanya melihat bahwa C adalah orang yang sempurna, tidak ada kesalahan, walaupun jelas sekali C di belakangnya menggunakan B seperti hewan. A yang murni, langsung dijauhi sekalinya dia berbuat salah, karena B menilai bahwa A adalah orang yang berbahaya, hanya karena dia melakukan kesalahan sekali.


TING! "Pertanyaan kedua, makhluk ini tidak bisa dilihat, namun kita tahu dia makhluk yang baik. Sekalinya bisa dilihat, kita tahu, dia orang yang paling merugikan di hidup kita."


Kali ini, suara kebingungan semakin besar. Kepalaku terasa terbakar dengan sendirinya, apa-apaan dengan pertanyaan tidak masuk akal ini?! Makhluk tidak terlihat?!


Waktunya sisa 22 detik lagi.


Zed mengusap dagunya, dia berpikir lebih keras.


"Hei! Jangan bergantung pada Zed saja! Kita harus membantunya berpikir!" Salah satu pasukan berteriak. Kami semua mengangguk, walaupun jelas sekali bahwa aku, tidak akan bisa menjawabnya.


Delapan belas detik lagi, wajahku memerah merona ...


Makhluk tidak terlihat, sekalinya terlihat bisa merugikan. Jika tidak terlihat, dia bisa dicap sebagai orang yang baik.


Haduh! Apa?! Aku tidak tahu!!!


Eh, tunggu dulu. Bagaimana jika ... yang terlihat itu bukan bagian luar? Maksudku, pertanyaan itu tidak menunjukkan tampilan di luar, melainkan di dalam. Yang terlihat maupun tidak terlihat, adalah bagian dalam dari makhluk tersebut, yaitu hatinya.

__ADS_1


Sekalinya dia terlihat, itu adalah momen yang paling merugikan untuk kita semua.


Sekilas, aku melihat wajah Yuda. Watak Yuda menunjukkan segalanya, hidupnya, konflik dalam hatinya, semuanya. Itu memimpinku pada jawaban yang kutuju, pasti benar.


"Pengkhianat!" Seruku jelas dan bangga. Semua orang menatapku tiba-tiba.


Hening, tidak ada suara. Yuda diserang kakaknya saat hendak meminta maaf, Yuda dibilang lemah saat dia yakin bahwa dirinya yang terkuat. Yuda mengalami hal itu berkali-kali, aku merasa kasihan ...


TING! "Selamat! Anda benar!"


"Yeaahhh!!!" Kebanggaan semua pasukan menimpa. Semuanya bersorak menyebut namaku berkali-kali.


"Nice!!!" Yuda mengacungkan jempolnya. Dia tidak tahu, aku sedang merasa sedih mengingat pengalamannya.


"Terima kasih." Balasku singkat, memegang tangan kanannya.


"Wah, kalau kau ingin pindah pos ke Daerah Selatan, bilang saja. Kau sebagai penerusku akan bekerja dengan sangat baik." Zed tertawa, aku dan beberapa orang lainnya tergelak bersama-sama.


"Pertanyaan ketiga, yang terakhir." Layar menunjukkan tulisan yang berbeda. Kali ini, ruangan benar-benar sunyi, kita harus lebih fokus daripada sebelumnya.


"Apa yang tidak bisa dipisahkan. Walau terlihat seperti akan runtuh kapanpun, ini tidak akan bisa dipisahkan. Ini lebih kuat daripada kekuatan apa pun di dunia. Apakah itu?"


DEG!!! Seluruh ruangan bergetar hebat. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tetap berdiri.


"Ada apa ini?!"


"Ruangan ini akan runtuh jika kita tidak bisa menjawab!"


DUM!!! Atap mulai berjatuhan, beberapa mengenai tubuhku.


"Bagaimana caranya berpikir kalau seperti ini?! Ini gila!" Seruku kesal.


Zed di sampingku menutup mata, dia mampu menghindari semua potongan atap dengan perlahan tanpa usaha. Benar-benar prajurit yang hebat. Siapa yang tahu, Pak tua ini berbakat bertahan hidup bahkan dengan mata tertutup.


Jawabannya! Apa yang tidak bisa terpisahkan?! Tali?! Tambang?! Emas?! Arghh!!! Apa?!


BRUK!!! 27% Atap sudah hancur, kita bisa melihat langit yang cerah dari atas sana.


"Kita harus menjawabnya, cepat!!!"


"Jangan berisik! Biarkan mereka berpikir!"


"Hei! Jangan hanya mengandalkan mereka! Kita harus berusaha juga!" Prajurit-prajurit berseru satu sama lain, aku masih kagum melihat Zed yang berhasil menghindari semua runtuhan.


Azriel berjalan santai, dia menghancurkan potongan atap dengan pedangnya, halus, dan mudah.


Apakah ... Azriel ingin menjawab?

__ADS_1


__ADS_2