
"Maaf mengubah topiknya, Leo, tapi aku ingin bertanya sesuatu." Yuda berkata.
Aku yang masih terkejut atas fakta tadi, menghadapnya.
"Kalian kenal dengan Mordosstafa?" Dia melanjutkan perkataannya.
Mordosstafa, adalah orang yang bertemu Yuda saat aku sempat mengintainya beberapa hari yang lalu. Sosok lelaki tinggi dan atletis, badannya lebih lebar hampir seperti Arkane, seperti itu wataknya.
"Mordosstafa? Wah, tahu dari mana?" Leo terlihat kaget.
"Aku pernah bertemu dengannya. Lagaknya sungguh ... misterius. Dia menyapaku sebentar lalu pergi lagi entah ke mana."
"Serius? Di mana?"
"Lorong dekat Taman Kebahagiaan."
Mata Leo melotot. Kenapa dia bertingkah seperti itu? Seperti ada idola atau pria idaman yang digemarkannya sejak kecil.
"Yah, untuk satu, dia adalah Komandan Pasukan Daerah Timur-"
"APA?!" Raphael dan aku kaget, tidak sengaja memukul meja. Beberapa orang melihat kita.
Yuda hampir tersedak minuman. "Sungguh, Leo? Seorang komandan?"
"Yup. Memang agak aneh sifatnya. Tapi skill bertarungnya? Huhhhh mengerikan. Bahkan aku masih ingin berguru dengannya, sayangnya akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Sungguh beruntung kau bisa bertemu dengannya." Leo melanjutkan makanannya.
Berguru? Leo yang hebat begitu masih ingin belajar dari Mordosstafa?
"Kenapa dia bisa hadir di Daerah Barat? Apa yang ingin dia lakukan di sini?" Raphael bertanya.
Yuda mengangkat bahu. "Aku tidak tahu."
"Yah, apa pun itu, pasti sangat penting. Mordosstafa tidak pernah mau dilihat orang lain kecuali ada hal yang sangat menarik baginya." Leo berkata halus, meminum leci dingin miliknya.
Mendadak, satu kumpulan pasukan di meja sebelah kami berteriak. "ASTAGA! ITU DIA?! YANG BENAR SAJA!"
Tujuh detik, semua orang sudah berisik berbicara. Apa? Ada apa?
"Huh? Apa sih?" Raphael berdiri, penasaran.
"Tidak mungkin!" Sekarang giliran Leo, yang melompat terkejut. Pandanganku terhalang, jadi tidak begitu jelas bagiku ada apa di sana.
"Fal! Itu dia orangnya!" Yuda menggoyang-goyangkan bahuku sambil menatap ke depan.
"Siapa?"
"FALISHA!" Suara yang berat, bergema dan tegas memenuhi seluruh restoran. Tidak ada lagi bunyi yang keluar di sini. Begitu namaku diteriakkan tadi, semua orang langsung diam.
Perlahan, langkah kaki yang keras terdengar mendekatiku. Pasukan dari kejauhan sana minggir, membuka jalan.
Tambah dekat, semakin dekat ...
Akhirnya, orang yang dikejutkan sudah terlihat. Orang yang kita bicarakan tadi. Orang yang membuat Komandan Leonardo takjub.
"Halo, Nak." Mordosstafa, mengangkat satu tangannya, memanggil namaku singkat. Seragamnya sama seperti Leo, tapi dengan lencana yang lebih lengkap. Tubuhnya ternyata lebih kekar dari yang kuingat. Lehernya tebal dan berurat, matanya begitu tegas dan menyeramkan.
__ADS_1
"Ha ... halo, Komandan Mordoss-"
"Mordo saja. Jangan pernah memanggilku Komandan kecuali kau adalah bagian dari pasukanku." Dia memotong perkataanku. Aku mengangguk lamat-lamat.
Sekilas, Mordo melihat ke arah Leo.
"Mordo." Leo menyapa.
"Ah, Leonardo. Sudah berapa lama? Dua? Tiga?"
"Lima, Mordo. Lima tahun sejak kita bertemu, aku masih dibawah komandomu saat itu." Leo tersenyum sedikit.
Mordo terkekeh. "Ah, iya, kau adalah bawahanku yang nomor satu. Tidak pernah bolos, main-main, ataupun bercanda. Bahkan pernah dibenci oleh satu daerah, hanya karena ambisimu yang berlebihan untuk menjadi lebih kuat. Tragedi itu."
Apa? Tragedi apa?
"Tragedi apa, Leo?" Aku menatapnya sepenuh hati, Leo hanya menunduk.
"Oh? Kau belum tahu? Leo, ayolah, mereka adalah anak angkatmu. Jangan bilang kau belum memberitahu mereka." Mordo marah menatapnya.
Leo lagi-lagi menunduk, sedikit menggeleng.
BUK!!! Mordo memukul pipi Leo, bunyinya sangat keras.
"LEONARDO!" Aku berlari mendekat, memeriksanya.
Astaga, lebamnya bukan main-main ... berwarna ungu ...
"Mordo!" Suara lelaki memanggilnya.
"Nah, kau pasti Raphael. Pasukan muda terkuat di Daerah Barat, bukan begitu?"
Sunyi, mereka berdua pasti menatap satu sama lain.
"Ugh ..." Leo menggerung.
"Kamu tidak apa-apa?" Aku bertanya khawatir, membantunya duduk dengan kedua lengan.
Dia mengusap bibirnya. "Ini bukan apa-apa dibanding bagaimana dia menghukumku dulu, Fal. Aku baik-baik saja."
"Sungguh? Tapi pukulan barusan-"
"Itu hanyalah peringatan, betapa lalainya aku dalam menjadi seorang komandan. Atau pada kasus ini ... seorang ayah, ayah untukmu."
Mataku berkaca-kaca, tragedi apa yang bisa-bisanya membuat Leo menerima dirinya dipukul keras?
"Sudah bangun, Leonardo?" Mordo membungkuk, mengikuti percakapan.
"Hei! Aku belum selesai bicara denganmu!" Raphael berseru.
Mordo tertawa. "Percayalah, tidak ada hal menarik yang bisa dibicarakan kepadamu. Bocah sialan, aku tahu siapa dirimu. Rafi dan Raphaela, Ayah dan Ibumu itu sungguh badut, badut! Mereka berdua adalah orang tua yang terburuk! Hina! Sampah!"
"Sampah?! Siapa kau bicara tentang orang tuaku?!" Raphael melesat maju, mengeluarkan pedang cahayanya.
"RAF! JANGAN!" Leo mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Ha." Mordo tertawa.
BWUSH!!!
PRAK!!!
Sekejap, tanpa disentuh, tanpa bisa diketahui apa penyebabnya, tubuh Raphael terpental jauh ke belakang, menghancurkan jendela restoran, sampai ke luar sana.
"RAF!!!" Yuda dan banyak pasukan melotot kaget. Restoran menjadi ramai kembali.
Mata Yuda bersinar biru, tangannya mengunci Mordo. Sekilas, Mordo sudah terbang, gerakannya penuh di dalam kendali Yuda.
"Bagus!" Aku mengacungkan jempol.
"Yuda! Turunkan dia! Mordo bukan tandingan kalian!" Leo berkata lain, suaranya cemas.
"Lepaskan aku, adiknya Azriel. Kakakmu itu berbakat, tidak sepertimu yang bersikap seperti beban!" Mordo geram.
"Jangan bawa-bawa kakakku dalam hal ini! Dia lebih baik dari yang kau pikirkan! Orang sepertimu tidak berhak menyebut namanya!"
"Yuda! Lepaskan dia!"
Mordo tersenyum. "Baiklah, aku akan melepaskan diriku sendiri.
BWUSH!!!
Mendadak lagi, tubuh Yuda terpental juga, menabrak meja dengan keras sampai hancur. Dia tidak sadarkan diri.
Mordo mendarat halus, mengusap-usap seragamnya.
"Kau ingin melawanku juga, Falisha?"
"Tidak! Dia tidak akan melawanmu! Ampuni mereka, Mordo!" Leo berdiri, membentangkan tangannya.
"Aku bertanya padanya, Leonardo. Bukan kau. Atau ... kau juga menantangku?" Tangan Mordo terangkat sedikit. Jangan-jangan dia ingin mementalkan Leo juga?!
"JANGAN! AKU TIDAK AKAN MENYERANG! SUMPAH!" Seruku sekencang mungkin, berdiri di depan Leo.
...
Hening, tidak ada suara.
"Hmph. Baiklah." Dia terkekeh, mengambil botol minum kecil dari sakunya. Lantas dia meminum dengan santai, setelah membuat keributan dan dua pasukan muda pingsan.
Mordo bukan orang yang bisa kuhormati ... tidak akan pernah ...
Kukira Komandan Kiara yang terburuk, tapi dia punya alasan. Sedangkan Mordo ... dia tidak bisa seenaknya melukai Yuda dan Raphael! Tidak bisa!
"Apa? Kau punya masalah denganku?" Mordo menatapku lagi, tatapan yang menyebalkan.
Leo menepuk bahuku. "Jangan, Fal. Bahkan aku belum bisa menyentuhnya sampai sekarang. Dia adalah nomor duanya Jenderal Karlo, tidak bisa kalah."
"Sebenarnya aku hanya ingin berduel dengan Falisha, karena ada berita bahwa dia sudah dimasukkan senjata yang paling mutakhir dari kuil lautan Daerah Selatan. Tapi malah terhalang oleh kroco dan serangga yang menggangu pandanganku. Puh, Raphael dan Yuda harus belajar cara menghormatiku.
"Begini saja, aku tidak akan pergi sampai Leo menceritakan tragedi itu. Setelah itu, aku akan kembali ke Daerah Timur. Ayo, Leo, buka mulutmu."
__ADS_1
Semua mata dan kepala menghadap ke arah Komandan di belakangku. Leonardo menatapku pasrah, matanya memerah dan mengeluarkan air mata.
"Aku ..."