
"Ada apa, Falisha?" Dia penasaran dengan seruanku. Memanggilnya tiba-tiba memang misterius...
...
Aku harus melakukannya. Kak Liona mengajak kita bukan agar Komandan Yakza berjuang sendirian!
"Tarik kembali tanah lindungan ini ke dalam. Kita tidak membutuhkannya." Semuanya terkejut setelah aku berusul. Bahkan Raphael.
"Apa?! Kau gila?!" Dia memegang lenganku, khawatir.
BUM! BUM! BUM! BUM! Anak panah besar masih menghantam tanah lindungan.
Aku mengagguk, menatap semua orang dengan keyakinan dan tekad. Setidaknya ini harus dicoba, sekalian menjelaskan kepada mereka apa yang kusembunyikan semenjak Logan menyerang...
"Kuharap berhasil. Ini akan menjawab semuanya, Raphael." Aku menatapnya tegas, Raphael lamat-lamat melihatku maju ke depan. Melewati Jennifer, melewati Yuda, melewati Komandan Yakza.
Phew... oke...
"SEKARANG!"
SRET! Tanah lindungan menghilang, kembali ke dalam tanah. Ada banyak yang sedang menyerang tapi yang paling dekat adalah tiga anak panah besar yang menuju ke arahku, tepatnya ke arah Jennifer, Yuda dan Raphael. Aku menarik napas perlahan, memegang gagang pedang cahaya di samping, harus aktif, harus aktif, harus aktif...!
Semakin dekat, aku menutup mataku... teman-temanku, Ayah, Ibu, Komandan Yakza... Leo, Jennifer, Raphael, Yuda! Aku belum boleh mati!
Belum boleh mati!
SING!
DUM! DUM! DUM!
"He... hebat..." Ujar Raphael yang berguncang.
Aku membuka mataku perlahan...
"F... Fal... apa ini...?" Terdengar suara Yuda, sama seperti Raphael.
Yes! Berhasil! Tameng transparan berwarna putih membentuk di sekitar kami! Seperti tabung! Semua anak panah besar yang menyerang langsung memantul setelah terkena tamengku!
"Brilian, Falisha. Ini kekuatan pedangmu, bukan begitu?" Komandan Yakza termangu.
"Luar biasa Falisha!" Jennifer memelukku dengan riang, aku ikut tertawa bersamanya, sambil mengangguk kepada Komandan Yakza.
DUM! DUM! DUM! DUM! DUM! Tidak berdaya, semuanya tidak bisa melalui tamengku. Kita aman!
"Ayo! Bergerak menuju tombolnya!" Komandan memerintah, kami semua maju dengan cepat. Kekuatanku mengikuti posisiku, jadi tidak akan tertinggal.
TUT! Tombol ditekan oleh Jennifer. Anak panah raksasa sudah berhenti keluar dari lubang besar itu dan suaranya meredam secara tiba-tiba...
Ada ratusan yang berserakan di ubin- eh di lantai. Kami menendangnya demi membuka jalan agar bisa maju.
Aku menatap Raphael, dia menatapku kembali. Masih tidak percaya.
"Maaf... Raphael, aku minta maaf-"
"Minta maaf?! Itu sangat keren! Falisha, astaga... kau terlihat hebat seperti di film-film! Bwush! Tameng muncul, bum! Serangan tidak terkena! Jago!" Raphael menjawab dengan senang, memperagakan film-film seperti anak kecil. Jennifer dan Yuda tertawa melihatnya, aku menghela napas lega. Syukurlah, Raphael tidak marah padaku...
__ADS_1
Buk! Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!
Di ujung, sama seperti sebelumnya. Ada batu yang naik ke atas melalui kumpulan anak panah. Batu-batu itu membuat tangga melingkar ke atas, ke level selanjutnya, menuju lantai ketiga.
Tep. Komandan Yakza menepuk bahuku. "Terima kasih, Falisha. Itu hebat." Dia menyeringai. Aku balas mengagguk secara perlahan.
Yuda juga mendekat, dia tersenyum padaku. Wah, senyuman orang pendiam itu memang... menawan...
...***...
Kami berjalan naik melalui tangga batu. Cahaya mulai mengurang dan terlihat agak gelap. Kira-kira... level selanjutnya akan seperti apa, ya? Kak Liona bilang akan ada robot...
Tep. Tep. Tep. Tep. Suara langkah kaki menggema ke seluruh ruangan.
Astaga, aku bisa melihatnya melalui lubang kecil. Lantai berikutnya juga sama, gelap.
Sudah sampai, pemandangan kosong dan hening.
"Bersiaplah." Komandan Yakza memerintah. Aku mengagguk, walaupun tidak bisa dilihat olehnya. Bersiap mengeluarkan pedang cahaya...
...
JENG! Lampu besar menyala, menempel di langit ruangan ini. Terang menyilaukan mataku sesaat.
Astaga! Ada lima robot! Bentuknya seperti manusia, namun kotak, abu-abu, tidak sebesar robot besar di ruangan persenjataan Jendral Besar Karlo-
Ting! Matanya membuka, cahaya merah menyinari pupilnya. Mereka yang tadinya menunduk, sekarang berdiri tegak. Lima robot itu terlihat menakutkan!
"Yuda dengan Falisha! Raphael dengan Jennifer! Kunci satu masing-masing!" Komandan berseru. Artinya kami dibagi menjadi dua kelompok, aku bersama Yuda.
BRAK! Astaga! Lagi-lagi ubinnya ternyata tanah, dan Komandan Yakza membuat pembatas sehingga aku tidak bisa melihat yang lainnya.
Sekarang aku dan Yuda berhadapan dengan satu robot, sisa ruangannya dibatasi oleh tanah yang menjulang tinggi untuk yang lainnya.
Ting! Ting! Tangan robot itu dikepal, lalu dia melakukan pemanasan sendiri.
"Logam..." Yuda berbisik sambil berpikir. Tubuh robot ini dibuat dari logam.
DUK! DUK! DUK! DUK! Suara langkah kakinya berisik. Dia berlari ke arah kita!
BUM! Pukulannya mengenai tanah, kami berdua menghindar. Sekilas, terlihat berat sekali serangannya itu.
TEP! Robot menahan lengan Yuda yang hendak memenggalnya, aku dengan cepat berdiri, BUM! Sialan! Robot itu memutarkan badannya dan memukul kepalaku!
Woosh! Masih memegang lengan Yuda, robot itu menyerang berkali-kali namun meleset. Aku mencoba berdiri secara perlahan, serangannya benar-benar membabi buta.
BUM! Aku memegang lengan satunya, SLASH! Berhasil memotongnya!
Namun, kepala robot itu memutar, menghadapku secara penuh meninggalkan Yuda. Pupil berwarna merah itu sekarang menjingga. Pegangan lengan Yuda lepas, dia maju ke arahku.
Aku bersiap dengan pedang, ini pasti mudah-
JRET!
"?"
__ADS_1
"FAL!"
DUM!!! W... wah... potongan lengan robot yang tadi kupotong, terbang dan memukul kepalaku dari belakang... sekarang aku sangat pusing..
Bruk!
Pahaku duduk dengan sendirinya, aku mencoba menarik napas... pandanganku memburam, robot itu mendekat ke arahku, lengannya menyatu kembali. Yuda mencoba untuk menghalanginya, alhasil, dia harus melawan robot itu sekarang.
Aku bangkit lagi, Kak Liona... aku tidak tahu harus sebal atau bangga. Sebal karena harus melawan robot super ribet ini, atau bangga karena Kak Liona membuat semuanya sendirian untuk menyerang omni, sungguh hebat...
Kami berdua terpisah sekarang, itu bukan hal yang bagus.
"HEI!" Tung! Kulemparkan setumpuk tanah ke kepalanya. Robot melihatku, mengunciku lagi sekarang, JRASH! Tanpa jeda, langsung kulemparkan pedangku ke kepalanya, tembus membuat lubang di wajahnya.
SLASH! Yuda membelah badan robot. Kedua potongan itu jatuh tidak berdaya. Membuat waktu untuk dia mendekat ke arahku. Kami berdua bersiap untuk serangan berikutnya.
"Maaf, Fal. Kau jadi pusing..."
"Tidak apa-apa. Ini mah normal." Balasku.
Seperti yang diduga, tubuh robot itu menyatu lagi. Walaupun masih terlihat ada bekas sayatan di tubuhnya, kekuatan pukulannya juga tidak waras. Ini seperti Arkane kedua! Bagaimana cara mengalahkannya?!
Matanya yang berwarna jingga menarik perhatianku... pedangku masih tertancap di kepalanya.
...
Itu dia!
"Yuda, aku punya rencana." Kubisikkan sesuatu ke telinganya, dia mengangguk setuju. "Oke."
DUM! DUM! DUM! DUM!
Robot berlari kencang ke arah kami.
WUSH! Pukulan robot meleset. Aku langsung mengambil pedang yang menusuk kepalanya. SLASH! Kedua kakinya dipotong oleh Yuda, meminjam waktu untuk kami mundur ke belakang.
JRET! Kakinya menyatu lagi. Lagi-lagi dia berlari ke arah kami. Bergegas, aku berdiri di depan.
Pukulan hendak diluncurkan oleh robot, aku mengacungkan pedang ke arahnya-
TUNG! Berhasil! Aku bisa merasakannya! Kapan saja pedangku ingin aktif, bisa kulakukan dengan jelas! Ini sungguh kemajuan! Pukulan robot mengenai tamengku!
"YUDA!"
SLASH! SLASH! SLASH! SLASH! Kelincahan Yuda membuat ini bekerja, dia memotong lengan kanan, kiri kemudian kedua kaki robot itu.
SLASH! Sekarang kepalanya, jatuh memantul di atas tanah. Cairan hitam keluar dari tubuhnya.
Aku ingin mencoba sesuatu, sebagai konklusi rencanaku ini. Kubentangkan kedua tangan ke arahnya, tamengku membesar. Aku mendorongnya sampai ujung pembatas tanah.
Berhasil, berhasil! Yes! Tubuh robot menyempit, gerakannya terbatas karena tamengku menyempitkan anggota tubuhnya, jadi tidak ada ruang untuk mereka menyatu kembali!
"Wah... hebat, Fal."
"Tidak, tanpamu ini tidak akan bekerja, kamu keren, Yuda!" Aku tertawa bahagia. Syukurlah aku punya teman sepertinya, akhirnya robot mengerikan ini sudah kalah...
__ADS_1
Phew... tapi menyebalkannya, aku harus menahan robot ini sampai pertarungan selesai. Tidak apa-apa. Kuharap, Raphael, Jennifer dan Komandan Yakza baik-baik saja di sana...