
Ratusan monster di atap yang menempel masih melihat kami bertiga. Tubuh mereka membesar, mengecil, membesar, mengecil lagi, seolah-olah bernapas.
"Bagaimana... kalau... kita... keluar... saja..." Raphael berbisik perlahan.
"Bagaimana... caranya...?" Aku membalas.
"Dalam... hitungan... ketiga... kita... lari... bersama..." Dia bersiap-siap.
"Jangan... nanti... kita... bisa... mengejutkannya..." Jennifer menimpali.
"Tidak... jika... kita... lebih... cepat..." Dia melawan.
"Oke... satu... dua..." Saat Raphael hendak mengatakan "tiga", KRAK! Pintu depan menutup keras, membuat semuanya menatap kami bertiga.
"BRILIAN!" Raphael berseru sebal.
"Krrraaaaaaahhhh!" Monster-monster kecil itu bangun, belasan mulai turun.
SLASH! Aku memotong beberapa sekaligus, tidak membiarkan mereka mendarat.
Tapi, mereka sudah berkumpul di bawah, hendak menyerang kami.
CRAS! "Gawat! Mereka sudah sadar sepenuhnya!" Aku berkata.
"Tidak bisa keluar! Monster-monster ini terus menutup pintunya!" Jennifer di belakangku hendak keluar, namun ditahan.
"Kita! Harus! Membunuh! Semuanya!" Raphael susah payah berbicara, terhalang oleh belasan monster yang melompat ingin menyerangnya.
ZRUNG! Jennifer di sampingku membelah tubuh banyak monster, lantas mereka langsung menjadi debu.
Astaga, banyak sekali! Tubuh mereka pendek, hanya sebetis. Tapi jumlahnya di luar nalar, suara mereka jauh lebih cempreng dari biasanya.
"Krekrkekkrkrk" Salah satu melompat ke arahku, SLASH! Kupotong habis.
Raphael masih melawan banyak monster karena dia lebih masuk.
Untungnya, mereka tidak bisa regenerasi, tidak seperti Arkane.
CRAS! SLASH! SLASH! Aku berputar ke sana kemari mencoba menyerang sekaligus menghindari semua serangan.
DUAR! Suara televisi meledak terkena pedang Raphael menimpali.
"Whoops, maaf..." Dia berkata, lanjut melawan.
BRUK! Aku terpaksa menghancurkan meja makan di tengah, CRAS! Memotong monster di dekat Jennifer.
"Terima kasih!" Jennifer masih fokus meradak mereka yang di dekat pintu.
JRAASH! Raphael di belakangku mencelis kaki-kaki monster di dekatnya, lantas berjalan ke arahku, lebih tepatnya menabrak.
"Aduh! Pelan-pelan dong!" Aku mendengus.
"Hei! Lihat berapa banyak monster yang kulawan!" Raphael membalas, memotong banyak lawan yang dilihatnya, aku juga.
__ADS_1
"Gah! Mereka tidak bisa dibubarkan!" Jennifer menyerah, melompat ke arahku dan Raphael, kami dikerumuni monster-monster kecil berbentuk lingkaran yang berseru dengan bahasa yang tidak bisa kumengerti.
SLASH! SLASH! SLASH! Kami bertiga menempelkan tubuh satu sama lain, menjaga setiap arah, berputar secara serempak.
"Ini! Akan! Lebih! Mudah! Kalau! Ada! Leonardo!" Aku mengeluh, tuturanku terusak monster yang bergerak menuju kepalaku.
"Aku setuju!" Jennifer mencoba bertahan, mengayunkan pedangnya dengan segala teknik, serangan ini tidak ada hentinya!
Perlahan, kami berhenti berputar, lalu tanpa kami sadari kami malah mundur menuju dekat TV rusak di ujung tengah.
"Astaga! Sekarang kami terkepung!" Seruku, masih menggegarkan senjata kemana-mana. Monster-monster kecil berkumpul ke arah kami dan bergiliran melompat.
SLASH! "Eh! Lihat!" Jennifer menunjuk ke arah pintu di sebelah kiri kami, monster-monster kecil berkumpul di sana lebih banyak daripada di pintu masuk, menutupinya padat.
"Apa maksudnya? Kenapa mereka berkumpul sebanyak itu?!" Aku bimbang.
"Itu pasti penting!" Raphael menjawab. Memotong tubuh monster di depannya.
"Aku akan memeriksanya! Kalian lindungi aku!" Jennifer berusul, aku dan Raphael mengangguk.
Kami berganti posisi, Jennfier di tengah sekarang. Kami melindunginya dari kiri dan kanan sambil bergerak perlahan menuju pintu.
"Kraahksrk!" Suara ketus monster menghampiri.
"Ah! Berisik! Aku tidak mengerti kalian bicara apa!" Raphael komplain.
SLASH! SLASH! SLASH! SLASH! Seiring kami bergerak miring menuju pintu itu, aku dan Raphael memotong banyak monster yang ingin menyerang Jennifer, terus seperti itu.
BUM!
"Sudah rusak, Raf!" Kubalas, SLASH! Memotong monster yang melawan.
"Sedikit lagi!" Jennifer memberi semangat, perlahan mencoba maju bersama.
CRAS! SLASH!
Pintu itu berjarak dua meter lagi!
SLASH! "Lebih dekat!" Raphael memerintah, kami berusaha lebih keras.
Tapi sayangnya, di depan kami, monster-monster yang berkumpul di dekat pintu ruangan itu bergabung, menjadi agar-agar hitam yang besar, menjaga pintu kayu.
"Hah?! Apa itu?!" Aku terkejut, sedikit jijik.
"Sejak kapan mereka bisa melakukannya?" Jennifer sama bingungnya.
"AWAS!" BUM! Raphael berseru, monster besar itu membuat bagian tubuh sendiri seperti tangan yang muncul dari badannya, dan lepas memukul Jennifer, dia terpental menghantam tembok. Monster-monster kecil menuju ke arahnya.
"JENN!" Aku khawatir, dia susah payah mencoba berdiri.
"Aku tidak apa-apa!" Jennifer membalas, menyayat tubuh monster di dekatnya.
"Apa-apaan mereka?! Setiap hari selalu saja ada hal baru!" Raphael keberatan, ZRUNG! Memotong banyak tubuh monster yang melompat.
__ADS_1
SLASH! SLASH! Aku masih fokus membantai mereka, benar-benar tidak ada waktu istirahat.
BUM! Monster Besar memukul Raphael, tapi ditahan dengan lengannya.
CRAS! Aku memotongnya, tapi tumbuh lagi karena jumlah mereka masih banyak, jadi masih ada cadangan untuk mereka.
DUM! Dia menyerang kami berdua, terpaksa berpencar melompat. Aku dan Raphael mendarat sempurna sambil memotong monster yang di bawah.
CRAS! CRAS! "Argh!!! Ini tidak lucu! Aku mulai kesal!" Aku berseru sebal, tanganku pegal dan lebam karena bergerak tanpa henti.
Bagaimana caranya agar bisa masuk? Monster Besar menghalanginya dan menyerang semuanya yang dekat dengannya...
Oh, itu dia!
"Aku punya rencana!" Seruku kencang, Raphael dan Jennifer fokus menghadap monster.
"Apa rencananya?" Raphael bertanya, Jennifer menghadapku.
"Berkumpul dulu!" Aku memerintah, memenggal kepala monster-monster kecil di dekatku tiada jeda.
JRAASH! Raphael melawan semuanya yang menghalanginya, kemudian mendekat ke arahku.
SLASH! SLASH! Jennifer juga sama, kami membuat posisi segitiga lagi.
"Oke, dengarkan aku baik-baik." Ujarku pelan.
Kuberitahu rencananya kepada mereka, memang agak dasar dan mentah, tapi daripada tidak ada kemajuan, kita lakukan saja.
"Oke, boleh tuh!" Raphael memuji, SLASH! Memotong tubuh monster di dekatnya, Jennifer mengangguk setuju.
Kami mendempetkan tubuh lebih, seolah seperti lilin yang menempel membetuk segitiga.
CRAS! SLASH! JRAASH! Susah payah kami membunuh para monster berjumlah ratusan ini, tubuh kami sudah sakit dan pegal, ini buruk.
Perlahan, kami mulai mendekati pintu menuju ruangan tadi, bergerak sambil mengayunkan pedang.
SLASH! "Dalam hitungan ketiga, oke?!" Aku berusaha fokus, tidak membiarkan serangan mereka kena.
"Ya!" CRAS! Jennifer setuju, dahinya melipat, dia sangat serius.
SLASH! SLASH! SLASH! Gerakan Raphael sangat hebat! Dia berhasil bergerak sambil berjalan sempurna menuju pintu.
"Satu..." Aku mulai menghitung, kita sudah semakin dekat! Hanya 1,5 meter hingga sampai.
ZRUNG! Aku memotong lengan Monster Besar yang hendak memukul.
"Dua..." SLASH! Kali ini Jennifer yang memotongnya, tumbuh lagi lengannya itu, tapi lebih lamban daripada Arkane.
Aku menghembuskan napas, bersiap untuk mengatakan tiga.
Baiklah... ini dia...
"TIGA!" Seruku keras, Raphael mendorongku kuat menuju pintu itu, SLASH! aku membelah tubuh Monster Besar dan membuka pintunya, DUK! lalu langsung menutupnya. Suasana menjadi lebih hening, aku berhasil masuk. Jennifer dan Raphael melindungiku di luar sampai aku selesai mencaritahu ada apa di ruangan ini...
__ADS_1