
Aku tidak boleh kehilangannya... Raphael adalah temanku yang sangat baik. Dia melindungiku setiap hari tanpa mengungkitnya kepadaku setiap kali tingkahku menyebalkan. Dia membantu Jennifer dengan project sumbangannya sambil melakukan misi, itu sangat hebat.
Dia berbakat, rajin dan teladan. Sebagai pasukan dan murid, dia bersabar dan tenang melalui semua beban. Beda jauh dariku yang malah menyalahkan dunia dan tidak melakukan apa pun.
Kalau dia dibunuh sekarang... aku... aku akan menyesal, aku akan menyesal seumur hidupku...
...***...
"JANGAAAAAAN!!!" Aku berlari sekencang mungkin ke arah Raphael, hendak melindunginya. Tidak peduli jika ada yang menghalangi tanah, batang pohon yang tajam, serpihan tembok tipis, aku tidak akan berhenti, biarlah mereka menusuk kakiku tembus. Aku harus menyelamatkannya...
Gawat... semakin dekat, tangan lancip Logan semakin dekat dengan tubuh Raphael!
Apa yang harus kulakukan...? Apa yang harus kulakukan?!
Sempat menyerah, aku mengacungkan pedangku ke arah Logan di depan Raphael, aku sungguh buntu, sedikit lagi Raphael akan tertusuk...
Sing...!
Kututup mataku tajam, aku tidak kuat melihat sahabatku tertusuk, aku menyerah...
Tapi, eh? Kenapa... kenapa hening? Tidak ada suara sama sekali, ada apa ini? Apakah Raphael selamat? Logan sudah pergi?!
Perlahan, kubuka mataku... cahaya putih menyilaukan, tapi lama-lama redup...
"Ha. Akhirnya." Logan tertawa.
Eh? EH?!
Ada... tameng! Tameng transparan bercahaya putih di depan pedangku! Itu menghalangi tangan lancip Logan! Inikah kekuatanku?!
Slrp... Logan memendekkan tangannya kembali, membentuknya seperti semula. Kemudian dia menaruh tubuh Raphael perlahan.
"Raf!" Aku duduk bungkuk menatapnya, ini lebih buruk dibanding Arkane... dia benar-benar terluka parah...
"Raf! Ayo bangun! Ayo kumohon bangun!" Aku menggetarkan tubuhnya, sia-sia. Mulut Raphael terbuka sedikit, matanya menutup. Lebam dan luka sayat di tubuhnya yang menyebabkan bajunya robek terlihat lebih mengerikan...
"Tenang saja, dia tidak mati. Hanya pingsan." Logan berucap.
"Falisha, aku hanya ingin membangkitkan kekuatanmu. Sudah kucoba berkali-kali, tapi kau selalu saja ingin melawan. Berkali-kali pertemuan kita disebabkan karena aku hanya ingin menuntaskan misi itu. Tapi sekarang berhasil, kekuatanmu adalah tameng transparan bercahaya putih. Itu luar biasa." Dia melanjutkan perkataannya, dari suaranya aku mendengar dia mendekat ke arahku di belakangku.
"Pergi..." Peduli setan dia berkata apa, Raphael luka parah karenanya.
"Falisha-"
"Pergi!
"Aku hanya-"
"PERGI! KAMU BUKAN PAMANKU! PERGI DASAR MONSTER SIALAN!" Aku berdiri cepat, mengacungkan pedangku ke arahnya.
Hening, wajah Logan terkejut. Lalu dia memakai topi fedoranya kembali, menunduk sambil tersenyum.
"Sesuai perintahmu. Tapi ingat, kau akan membutuhkanku lagi beberapa waktu ke depan-"
__ADS_1
"PERGI!!!" Kulemparkan pedangku ke arahnya, sejenak, Logan berubah menjadi cairan, pergi menjauh dariku...
Suasana menjadi lebih sepi dibanding sebelumnya, gawat... ternyata sisa kedua omni, yaitu Logan dan Ayah, lebih berbahaya dari yang kuduga...
Sisa aku dan Raphael, tadinya kami berpakaian rapih dan tersenyum lebar, tertawa sambil memakan makanan yang paling enak di bumi. Tapi sekarang...
Aku memeriksa nadinya di leher, dia masih hidup.
Sekarang bagaimana...? Apa yang harus kulakukan...? Menelepon Leo?
Tapi ini sudah malam, aku ragu dia masih bangun. Eh, tadi dia bilang dia sedang di kantornya, membersihkannya. Mungkin ada kesempatan!
Dengan lincah, kukeluarkan ponselku. Mengetik beberapa nomor dan menunggunya menjawab.
"Halo, Fal?"
"LEO! TOLONG AKU, CEPAT!"
"Eh? Kenapa?"
"KE RUMAHKU, SEKARANG! KUMOHON!!!"
"I... iya, oke! Tunggu aku!" Pip! Telepon berakhir, sangat cepat, tapi itu satu-satunya pilihanku sekarang...
...
Sebelas menit berlalu, tubuhku terlalu lelah untuk membawa Raphael ke dalam rumah. Jadi kutunggu saja Leo, duduk di sampingnya, berjaga-jaga.
Tapi... aku terlalu lelah... aku bisa menguap tujuh kali dalam semenit... sekarang sudah jam... aku tidak tahu, sudah malam...
...
Kenapa...? Kenapa kamu ingin berteman denganku, Raf? Sudah berkali-kali aku ingin mencoba untuk menanyakan hal itu kepadamu.
Aku bersikap menyebalkan dan bodoh selama delapan tahun, tapi kamu berada di sisiku setiap saat, setiap kali. Itu yang membuatku bingung...
"Hei!"
Ah... akhirnya datang...
"Astaga! Falisha! Raphael! Kalian..." Leo berlari cepat, sangat khawatir. Langsung menggendong Raphael yang tidak sadarkan diri. Kata-katanya terhenti, dia tahu apa yang terjadi. Kami diserang.
"Fal, kau bisa jalan sendiri ke rumah?" Tanyanya cemas, sekarang dia lebih paham dengan situasi. Aku mengangguk perlahan.
"Baik, sekarang sudah malam, kau beristirahatlah. Serahkan Raphael padaku. Kau ingin kuobati besok atau malam ini?"
"Besok saja, Leo... aku sangat lelah..." Aku ikut berdiri di depannya, membawa pedang milikku.
"Baiklah, silahkan. Jangan keluar lagi. Aku akan memperbaiki jendelamu nanti. Oke?"
"Oke..." Aku menguap lagi, bersalim dengan tangan Leo. Kemudian dia menatapku yang berjalan membuka pintu rumah, masuk ke dalam, dan menutupnya.
Tidak perlu berganti baju, lebih baik aku langsung tidur... Buk! Kujatuhkan badanku ke atas kasur, langsung memejamkan mata.
__ADS_1
...***...
Ngh... erm...
Mataku perlahan terbuka... tubuhku terasa hangat.
Cahaya matahari menembus jendela kamarku, sekarang sekitar pukul 08.00 pagi, astaga... sepertinya tidurku nyenyak sekali...
Apa ini?! Eh, bau! Aku masih menggunakan jaket tadi malam! Inilah akibatnya jika malas! Sial!
Lima menit, aku sudah selesai mandi, menggunakan pakaian rumah biasa untuk perempuan remaja. Kaus dan celana panjang kali ini...
Suit!
Meja makan membuka, menyiapkan nasi goreng kali ini. Eh?
Ada sepucuk kertas di samping piringnya, bertuliskan "Maaf atas kelalaianku, Falisha. Raphael sudah aman. Dan jendelamu, hahaha, bersih seperti baru. -Leonardo."
Hahahaha... Leo... tidak apa-apa kok. Syukurlah kamu ingin membantuku kemarin...
Aku duduk di atas kursi meja makan, langsung menyantap sarapan yang sudah disiapkan.
Sudah kenyang. Aku memutuskan untuk bermain dengan ponselku. Tidak ada misi dari Leo, jadi aku bersantai saja sampai ada kabar darinya...
Ting! Ada notifikasi yang muncul.
Raphael mengirim foto?
Astaga! Di grup dia mengirim foto lebam dan luka-luka, dengan wajahnya yang sedang bergaya.
"Perang dulu guys." Ada tulisan itu di bawahnya.
"Raf! Kamu tidak apa-apa?" Aku langsung bertanya cemas.
"Tenang, Leo mengobatiku penuh kemarin. Jadi aku sudah sehat. Terima kasih ya sudah melindungiku kemarin."
"Syukurlah. Dia kuat sekali, Raf. Maaf aku membuatnya kabur..."
"Hahahaha, iya."
Singkat waktu, Jennifer dan Yuda mengikuti pembicaraan.
"EH?! KALIAN KENAPA?!"
"Raf, kenapa kau terluka?! Siapa yang menyerangmu?!"
Setelah beberapa pertanyaan, aku dan Raphael menjawab semuanya. Mereka masih mengkhawatirkan kami, dan mulai ada kecemasan kepada Monster Bertopi Fedora.
Leo juga, dia mengetik di ponselnya kepadaku. Bertanya bagaimana kabarku, apa saja yang terjadi, dan yang lainnya. Aku menjawab semuanya dengan jelas.
Kecuali satu hal... kekuatanku... adalah tameng transparan...
...
__ADS_1
KEREN!!!