Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Senjata Paling Mutakhir Sedunia


__ADS_3

"Eh? Hei!" Aku tiba-tiba kaget. Keempat benda itu sungguh terbang meninggalkanku.


"Terang sekali ..." Yuda menutup sedikit matanya dengan lengan, aku serupa.


"Ayo kejar!"


"Jangan, Fal. Dari detik pertama pusaka-pusaka itu ada, mereka selalu ... terlihat ajaib. Contohnya, api dalam bola es, maksudku, bagaimana? Dan daun kecil itu? Dia menyembuhkan lukaku yang sangat parah. Entah apa yang bisa dilakukan oleh berlian merah dan kalung emas, tapi pastinya itu bukan hal yang remeh. Keempat pusaka itu seperti sihir, mereka tahu apa yang mereka lakukan." Yuda menahan tanganku yang hendak berlari.


Aku menatapnya sekilas, benar juga. Mereka tahu apa yang mereka lakukan, pasti sekarang alasannya terbang adalah agar senjata itu bisa didapatkan.


Ugh, malah semakin terang. Haduh ...


Semua pusaka itu mendarat di tembok ujung sana, ada ukiran berlubang yang berbentuk tepat seperti masing-masing dari mereka.


"Setelah ini. Setelah senjatanya sudah berada di tangan kita, apa yang akan terjadi?" Yuda bertanya, wajahnya terlihat waspada.


Aku menggeleng. "Tidak tahu ... semoga saja tidak ada orang jahat yang mengambilnya."


Namun, mendadak sekali, sesuatu menusuk leherku.


"ACK-!"


"FAL!"


Tubuhku terpaksa duduk, aku menekan leher bagian depan dengan telapak tanganku. Sakit sekali ... sungguh, dari mana jarumnya berasal ...?


Yuda berdiri di depan, berjaga-jaga sambil menjulurkan pedang cahayanya.


"Musuh ... bukan ...?" Susah payah aku mencoba bicara, rasanya sangat sulit.


Dia tidak menjawab, tangan satunya ke belakang melindungiku.


BEM! Tembok yang berisi pusaka itu hancur, air laut masuk melaluinya, mengejar kita.


Tubuhku digendong pergi, dengan penuh kehati-hatian. "Yuda ... apa yang terjadi?"


"Apa pun yang terjadi, kita harus segera pergi dari sini." Jawabnya singkat. Suara genangan air yang keras menimpa ubin dan melesat ke arah kita mulai menghantui.


"Bagaimana dengan pusakanya ...?" Aku bertanya, masih terasa melelahkan.


"Aku tidak peduli, kau harus selamat!"

__ADS_1


"Tapi, Yuda, itu adalah tujuan kita dari awal. Kita harus mengamankan senjatanya dari tangan para omni, dan sekarang pusakanya tenggelam di lautan?"


"Ya! Pusaka itu sudah hancur, rusak, biarkan saja! Sekarang berhentilah berpikir tentang senjatanya! Kita harus pergi dari sini!"


BRAK!!!


Seluruh tempat mulai hancur. Air laut datang dari segala arah, menghalangi jalan kita.


"Falisha, tahan sebentar. Selagi aku menahannya, tolong cari jalan keluar untuk kita." Yuda meletakkan tubuhku perlahan ke bawah. Aku bingung, rasanya leherku seperti dibelah dengan pisau, tapi tidak ada darah sama sekali. Sebenarnya apa yang menyerangku tadi?!


BWUSH!!! Tubuh Yuda bersinar terang, kedua tangannya dibentangkan lebar-lebar. Semua air yang hendak menyerang, terhenti pergerakannya.


Aku menatap ke sana kemari. Daerah di tembok sebelah kiri terlihat memiliki ruangan rahasia yang cukup untuk kita. Dan ada lantai khusus di depannya yang jika diinjak, akan membuka pintunya. Air laut ini maju dengan kecepatan 34 kilometer per jam, kita akan sampai ke tempat itu jika berlari selama tujuh detik dengan aman.


Sret! Aku memegang lengan Yuda, membawanya pergi, air kembali bergerak. Cahaya biru Yuda menghilang.


"Fal?!"


"Aku menemukannya! Di sini!" Ucapku antusias.


Krek! Kakiku menginjak ubin khusus, sedikit bagian dari tembok mulai menurun, dengan lebar dua meter. Aku dan Yuda buru-buru masuk walaupun jarak antara kita dengan air laut hanya sepanjang lengan anak-anak.


"Woah ... dari mana kau tahu tentang ruangan ini?" Yuda bertanya, takjub.


Eh, benar juga. Dari mana aku tahu tentang ruangan ini?


"Bagaimana? Eh, bagaimana ya?" Jariku menahan bibir. Astaga! Dari mana aku tahu?


"Hah? Kau serius tidak tahu?"


"Aku hanya menatap tembok ini! Lantas ... tiba-tiba saja aku tahu tentang semuanya ... ubin khusus, ruangan kosong, aku langsung tahu ..."


Hening, ditemani dengan suara genangan air yang keras menabrak semua bagian ruangan di depan kita. Yuda menatapku tidak percaya.


"Jangan-jangan ... itulah senjatanya? Senjata yang paling kuat itu?" Dia menunduk, berpikir keras.


"Apa maksudmu?" Aku masih bingung.


"Coba pikirkan, keempat pusaka itu mendadak lepas dari tanganmu, bersinar dan terbang, menempel di ujung ruangan. Semakin terang cahayanya seiring bergeraknya menjauh dari kita. Dan tiba-tiba lehermu seperti ditusuk oleh orang yang misterius, sepertinya itu adalah jarum khusus, para leluhur membuat suntikan kecil, mikro, yang keluar dari lubang cilik."


"Maaf kalau aku membuatmu bingung. Singkatnya, berlian merah, kalung emas, api dalam bola es, daun kecil, semua pusaka itu berfungsi sebagai kunci, kunci yang membuka lubang kecil agar suntikan mikro itu keluar dan meluncur, menusuk siapa pun di depannya untuk membuatnya menjadi jauh lebih kuat. Bisa jadi, kau, Falisha, dibuat lebih pintar dan hebat karena suntikan kecil itu ..." Dia melanjutkan perkataannya, mengusap dagu dan berkata dengan serius.

__ADS_1


...


"Jadi maksudmu, yang mereka sebut sebagai 'Senjata paling mutakhir sedunia', hanyalah ... suntikan yang menguatkan semua aspek dari tubuhku sebagai manusia? Itulah kenapa aku tahu tentang tembok rahasia ini? Karena suntikan itu membuat otakku lebih pintar?" Aku bertanya lagi, separuh tidak percaya, memastikan.


Yuda menatapku, mengagguk perlahan. "Falisha, berkat suntikan itu, bisa jadi kau adalah orang yang paling kuat sedunia ..."


BRAK!!! Air menabrak tembok lagi.


"Astaga! Astaga!!! Benar saja! Aku merasa jauh lebih kuat!" Sungguh, tangan dan tubuhku terasa seperti ... tidak memiliki batas. Aku bisa melakukan semuanya yang aku mau ...


"Yuda! Ayo!" Aku memegang lengannya sekarang.


"Eh? Ayo apa-" BRUK! Aku menghancurkan tembok agar bisa kembali menuju Komandan Kiara, melewati air laut, kita bisa pergi dari sini!


Aku membuat tameng transparan berbentuk lingkaran, melindungi kita berdua dari dalam.


"Wah ... kuat sekali ..." Yuda kagum menatap luar, kekokohan tamengku mengalahkan air laut.


BUK!!! Kami kembali ke Kamar Fidelnya secara paksa.


"Falisha?! Yuda?!" Komandan Kiara menatap kami, semua pasukan dan Firza sibuk melawan ratusan patung bersenjata.


Aku menjulurkan tangan, membuat tameng berbentuk bulat masing-masing satu untuk semua orang. Dengan mudah, aku sudah memunculkan ratusan tameng transparan.


"Kita akan pergi dari sini!" Layaknya gelembung di bawah laut, kita lincah bergerak pergi, melalui jalan yang sudah kita tempuh, mundur. Aku harus menjemput Zed dan Azriel terlebih dahulu!


Gelembung atau tameng transparan itu menabrak patung-patung musuh, menghancurkannya, kita jauh lebih kuat.


"Woah ... ceritakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi di sana?!" Komandan Kiara bertanya.


"Singkatnya, senjata itu sudah menjadi Falisha! Dia membuat Falisha berubah menjadi jauh lebih kuat! Dan hebat!" Yuda membalas semangat, kedua tanganku masih dijulurkan ke depan, mencari kedua orang itu ...


Ayolah Zed ... Azriel ... kumohon selamatlah!


...***...


BRAK!


Lagi-lagi aku menabrak pintu. Sudah sembilan kilometer kita maju menghancurkan semuanya, hendak menemui mereka, akhirnya sampai ke tempat di mana Zed dan Azriel berkorban untuk melawan delapan patung raksasa.


Dan kelihatannya ... takdir menolak untuk membantu mereka ...

__ADS_1


__ADS_2