
"Lihat! Di bawah!"
Aku menunjuk ke arah tanah, tepatnya DistrikElia tempat kami memeriksa jeritan di bawah tanah beberapa jam yang lalu.
Astaga ... teori Jennifer benar, Mordo membantai semua pasukannya di sini. Mereka semua terkulai tidak berdaya, dipenuhi dengan kolam merah darah.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Aku bertanya panik.
Leo menghembuskan napas. "Yang pasti, kita harus mencari bantuan. Melawan Jenderal Karlo- eh, maksudku Diro. Melawan Diro dan Mordo sekarang itu sangat mustahil. Kita akan kalah di detik pertama."
"Bantuan siapa? Memangnya siapa lagi yang bisa dipercaya?" Aku lagi-lagi bingung.
"Azriel dan Komandan Yakza. Sejauh ini mereka-lah yang bisa dibilang pasukan kuat yang ada di pihak netral, pihak kita." Jennifer menjawab.
"Di mana mereka sekarang?"
"Kita akan mencarinya, Leo. Teman-teman, berpegangan." Aku menutup mata, tanganku kubentangkan ke depan. WOOSH! Tameng kotak melaju cepat, bergerak layaknya mobil balapan di peringkat satu melewati gedung-gedung tinggi dan kumpulan mayat di Distrik Elia.
...***...
Setengah jam sudah berlalu, tidak ada tanda-tanda dari pasukan ataupun komandan. Sunyi dan malam sudah hampir tiba, ini lebih menyeramkan dari yang aku kira.
"Bisakah kita berlindung di rumahku?"
"Tidak, Fal. Diro mungkin sudah menyiapkan kamera atau perekam suara, mungkin saja tamengmu ini lebih aman dari tempat apa pun di dunia." Leo menggelengkan kepala.
"Hei! Lihat!" Raphael tiba-tiba menunjuk ke bawah, astaga, apaan itu?
Di atas tanah, ada cairan hitam tebal yang melebar, membentuk huruf "F".
Leo bersedekap. "Apa maksudnya?"
"Falisha ... mungkinkah itu ..."
"Paman Logan." Aku memotong perkataan Raphael, mendaratkan tameng kotak ke bawah. Itu pasti dia yang sudah menyadari semuanya.
Benar saja, Ayah berdiri di sampingnya menunggu kita. Begitu tameng kotak menyentuh tanah, aku langsung menghilangkannya dan maju memeluk Ayah erat-erat. Logan kembali menjadi bentuk manusianya.
"Putri ... kau tidak apa-apa?" Dia meraba-raba tubuhku, bertanya cemas.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Liam, Logan." Leo bersikeras, menyapanya singkat.
"Leonardo." Ayah menatapnya, tegas, maju membelakangi tubuhku.
Leo mengeluarkan pedang cahayanya.
"Leo, apa yang ingin kau lakukan?" Aku mulai cemas. Akankah mereka bertempur lagi?
"Katakan, kau sedang berada di pihak siapa? Mungkin di pihak Falisha, anakmu. Tapi apa jaminan bahwa kau bukan mata-mata Diro seperti Mordo? Falisha masih keponakanku. Jawab sebelum aku mengeluarkan api putih, api terkuat milikku." Leo mengangkat pedangnya, menyala jingga terang.
Ayah tertawa. "Terus terang, aku cukup senang kau merawatnya dengan baik. Sesudah Isabella dibunuh, aku takut Falisha akan menjadi anak yang nakal. Ternyata tidak, dia masih putriku yang biasa. Nilai seratus untukmu, Leo."
"Jangan melenceng, Liam. Jawab pertanyaanku." BWUSH! Api jingga menyala membakar pedang Leo.
"Aku yang memberitahu Falisha bahwa jenderal kalian itu mencurigakan, Logan yang menjadi korban darinya di Hari Pembantaian. Kita berdua sudah sah menjadi musuhnya sejak awal." Ayah akhirnya menjawab pertanyaan Leo, aku menghembuskan napas lega, dia bukan ancaman.
"Di mana teman kalian yang itu? Anak yang sangat kuat dan teguh pendirian itu? Siapa namanya? Yuda?" Paman Logan menyelidiki.
"Dia mengorbankan dirinya untuk keselamatanku, Raphael dan Falisha, Pak Logan. Aku-lah yang akan membunuh Diro nanti." Jennifer dengan tatapan sinisnya berkata dingin, menunduk sekilas dan mengepalkan tangan.
Ayah menunduk. "Wah, malang sekali. Dia adalah teman Falisha yang sangat baik. Eh, Diro? Siapa dia?"
"Brolia Diero, Liam. Sudah kuduga dia adalah Jenderal Karlo yang sedang menyamar. Ingat kasus itu? 'Kutukan Umat Manusia'?" Paman Logan menjawab.
"Dan ada robot raksasa yang bebas mengembara di dekat kantor yang jauh dari sini. Dia terlalu kuat, gabungan semua kekuatanku dan pasukanku kalah melawannya." Leo mematikan apinya, meletakkan pedangnya di tempatnya.
Ayah bersedekap lagi. "Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan. Pasti komandan lainnya juga sedang berusaha mengendalikan situasi. Kalian tidak punya alat komunikasi?"
Leo menghembuskan napas. "Tidak. Alat komunikasi terbaik kita hanyalah pertemuan langsung."
"Tapi kita bisa membantu yang lainnya!" Aku memotong, hendak memberi ide terbaikku.
"Apa maksudmu, Nak?"
Aku sedikit ragu. "Ayah, Leo, Paman Logan, Raphael, Jennifer, bagaimana menurut kalian kalau kita merekrut dan membantu komandan lainnya dan berkumpul di tameng kotak milikku? Itu akan menjadi perlindungan yang ideal sekarang."
"Falisha, kau yakin bisa menumpang orang sebanyak itu? Bukannya meremehkan, aku hanya khawatir tentangmu."
"Pak, sekarang Falisha sudah menjadi orang yang terkuat di antara kita semua. Tamengnya bisa melakukan segalanya." Raphael tertawa.
Alis Ayah terangkat. "Apa maksudmu, Raphael?"
__ADS_1
Raphael memegang bahuku, tersenyum manis menatapku. "Intinya dia mendapatkan kekuatan dari senjata yang paling mutakhir sedunia, membuat fisik, otak dan kekuatan tamengnya jauh lebih kuat. Itu bisa menjadi modal yang mutlak untuk kita."
Aku mengangguk.
Ayah menatapku sejenak, lantas terkekeh. "Aku tertinggal banyak rupanya. Baiklah, rencana Falisha tidak terlalu buruk."
Aku mengepalkan tangan. Yes!
Zrung! Tameng kotak muncul lagi menutup kami semua, lantas kita sudah terbang melesat ke arah utara. Target selanjutnya, Komandan Yakza dan Komandan Kiara.
...***...
...
Matahari tenggelam sempurna. Langit sudah malam. Tameng milikku memunculkan cahaya yang cukup terang jadi tidak terlalu gelap bagi kita.
Sudah sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Komandan Yakza tidak ditemukan di mana pun.
Jennifer sedang duduk di pojok belakang. Leo, Ayah dan Paman Logan berdiskusi akan sesuatu.
Raphael berdiri di sampingku, dia menemaniku sejak awal aku memunculkan tameng kotak ini.
"Kau tidak lelah, Fal?" Dia bertanya.
Aku menggelengkan kepala, menyandarkannya ke bahunya. "Selama ada kamu di sisiku, aku tidak akan pernah lelah."
Raphael tertawa, menunduk sejenak. Lantas dia menatap bintang-bintang kecil yang bersinar di atas langit, sangat indah.
Tapi, aku sedikit sedih. "Kau ingat saat pertama kali kita bertemu Jennifer? Dia membantu kita terkait dengan kecurangan lomba menyanyi di sekolah. Kelas lain yang bermain-main dengan alat speakernya dan membuat suaramu nyaring lima puluh detik."
"Hei, kau ada cerita lain yang lebih 'tidak memalukan'"? Raphael mendengus.
Aku tergelak sekilas. "Bukan itu fokus utamanya, Raf. Tapi Jennifer, dia sangat bahagia dan amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua OSIS. Tapi lihat dia sekarang, aku sangat kasihan ... Jennifer harus kehilangan Yuda, aku tidak bisa membayangkan seperti apa kalau aku kehilanganmu, sangat menyakitkan ... bagaimana caranya kita bisa membuat Jennifer seperti semula ...?"
Raphael berdehem. "Aku ... tidak tahu, Fal. Hanya Yuda yang tahu. Maaf, tapi untuk sekarang, kita hanya bisa menemaninya ... mungkin Komandan Yakza tahu jawabannya ...
Aku mengangguk sekilas, kembali menatap ke bawah sambil menggerakkan tameng kotak.
Mendadak, ada api yang membakar hutan lepas, diameter dua kilometer.
"Woah ... itukah mereka?" Semua orang mendekat, menatapnya kaget.
__ADS_1
Aku menelan ludah. "Mungkin saja. Bersiaplah, kita akan mendarat."