Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kesempurnaan


__ADS_3

Suara gemercik api unggun di belakangku menimpali. Langit malam dengan sedikit bintang di atas benar-benar membuatku tidak enak.


Jennifer di sana masih memandang dua gunung yang berpisah, badannya membelakangiku.


"Fal, bagaimana lukamu? Sudah sembuh?" Dia bertanya. Kepalanya miring sedikit.


"Eh? Um... ya, terima kasih. Kamu yang menggunakan kekuatan penyembuh itu kan?" Balasku heran. Dia mengangguk singkat


...


Hening. Aura Jennifer sangat berbeda kali ini.


"Hei... kamu tidak apa-apa?" Aku mengangkat kaki, berjalan ke arahnya. Perlahan menepuk bahu dia.


"Ya... ya aku sehat, Fal."


...


Sunyi lagi... Jennifer, sebenarnya ada apa denganmu...?


Gerungan lelaki terdengar dari belakang.


Itu adalah Raphael, dia bangun dengan meregangkan tubuhnya perlahan, sempat menatap ke sana kemari. Kemudian berdiri tegak menatap kita berdua, wajahnya terkejut.


"Raf!" Aku mendekatinya, Jennifer hanya memutarkan kepala sedikit.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanyaku khawatir.


"Segini mah belum apa-apa, aku masih kuat." Dia bergaya, dengan meninggikan suaranya. Aku menghela napas lega. Syukurlah, dia baik-baik saja... luka di tubuhnya juga semuanya menghilang.


"Jennifer?" Gilirannya bertanya. Sepertinya Raphael juga merasakan hawa yang sama, canggung.


"Raphael." Balasnya singkat.


Kami menatap satu sama lain, sama bingungnya. Jennifer sangat berbeda...


"Aduh..." Ada yang bangun lagi, kali ini suara milik Yuda. Dia menyentuh kepalanya, mencoba menahan pusing. Lalu bingung juga karena lukanya sudah sembuh, akhirnya dia mengerti, itu karena Jennifer yang menyembuhkannya.


"Fal, Raf, Jenn...?" Dia lamat-lamat bangkit dari duduknya, mengusap-usap seragam yang kotor.


"Yuda!" Aku senang, dia masih kuat...


Dia mengangguk singkat kepadaku dan Raphael, tapi sebagian besar perhatiannya berpusat pada Jennifer yang masih menatap kejauhan.


"Jennifer..."


"Halo, Yuda."

__ADS_1


"Kau... tidak apa-"


"Aku. Tidak. Apa. Apa."


Wah, kali ini Yuda sampai berjalan mundur. Siapa yang tidak heran? Orang yang paling ceria, riang, tiba-tiba marah. Suaranya berat dan lemas layaknya seekor singa.


"Kau ingin mengatakan sesuatu, Jenn?" Raphael bimbang berkata, tubuhnya bergerak kepadanya.


"..." Tidak dijawab.


Langkah kaki terdengar keras dan tegas. Seseorang sudah sadar. Pasti Komandan.


Dilihat dari beberapa jam yang lalu, Komandan Yakza punya hubungan erat dengan Jennifer. Mungkin dia akan mengerti...


"Tidak apa-apa, Jenn. Bukan salahmu." Dia mendekati kita, membuka mulut. Suara yang keras dan berat itu memenuhi telingaku-


"Tidak! Ini salahku! Ini semua salahku!" Jennifer teriak, dia memutar balikkan tubuhnya.


Wajahnya akhirnya terlihat, merah, terisak, menangis hebat.


Apa...?


"Jennifer..."


"Kau lihat sendiri, kan? Misi ini tidak akan selesai kalau aku tidak bisa menghilangkan pikiran itu!" Dia memotong kalimat Komandan.


"Tadi, di ruangan itu, di tablet itu, aku melihatnya! Wajahku, wajah sempurnaku! Dan ingatan itu kembali lagi!"


"Jenni-"


"Kalau saja orang tua sialan itu bisa diam, mungkin aku tidak harus mengalami ini! Semuanya menyebalkan! Adikku, ha, hahahaha, dia tidak bisa apa-apa. Dia hanya berbakat, diberi pemberian dari kecil, tidak lebih hebat dariku! Aku hanyalah..."


"..."


"Aku hanyalah beban, Komandan..."


"Jennifer, kamu bukan beban-"


"Aku adalah titipan dari sosok ke sosok lainnya, hanya untuk diberitahu hal yang lebih baik, seolah-olah... seolah-olah aku adalah pelampiasan-"


"Kamu bukan pelampiasan, aku bisa mengerti-"


"KAU TIDAK AKAN BISA MENGERTI, AYAH!"


...


Jennifer berseru hebat, suaranya menembus kedua gunung jauh di sana. Gemanya bertahan lama, laksana membelah langit hitam. Rambut pirangnya terlihat acak-acakan, air mata mengalir deras di wajahnya.

__ADS_1


Sunyi, suara api unggun mengisi kekosongan belaka.


Tunggu, "Ayah"?


Dia terduduk jatuh. Menangis hebat sambil mengikat kaki dengan tangan, kepalanya ditundukkan ke tengahnya. Suara sedannya itu terdengar menyakitkan.


Komandan Yakza menunduk. Lantas bergerak mendekati remaja itu, duduk di sebelahnya.


Aku melihat Jennifer sedih, sepertinya dia melalui banyak hal. Kemudian menatap Raphael dan Yuda. Mereka juga sama, tidak mengerti. Pertama kalinya dia berseru seperti ini, terlihat menyeramkan...


...


"Aku tahu. Aku benar-benar mengerti rasanya. Menjadi pelampiasan memang terkadang biasa saja, tapi berlebihan? Itu buruk. Sangat buruk." Komandan berkata halus. Perempuan di sampingnya masih terisak, mengusap pipinya.


"Aku... aku sudah berusaha, sungguh. Sudah kulakukan semuanya. Menjadi orang baik, tersenyum setiap detik, setiap menit, menjadi seorang ketua, menjadi cantik, sudah semuanya. Tapi... tapi kata-kata mereka... aku selalu mengingatnya... sungguh menyakitkan..." Jennifer menjawabnya. Kepalanya masih masuk di antara kakinya.


...


Tiba-tiba, dia mengangkat wajahnya. Kemudian berdiri menatapku, Raphael dan Yuda.


"Mungkin kalian tahu jawabannya." Jennifer tegas berucap. Matanya memerah, masih menangis. Aku menatapnya kasihan, jawaban apa yang dia cari sampai bertingkah seperti ini...?


Kenapa dia marah setelah melihat wajahnya di tablet hitam itu?


"Adikku, Melissa. Umurnya dua tahun lebih muda dariku. Saat usianya delapan tahun, ha, astaga, dia sangat berbakat. Dia sangat sempurna hingga semua orang di dunia menyukainya. Dia bisa memasak, menjawab soal anak SMA, bahkan kuliah. Bisa berolahraga, tubuhnya fleksibel dan ideal. Wajahnya, benar-benar seperti bidadari yang murni, jatuh dari surga. Mama dan Papa selalu saja bangga saat melihat keberadaannya.


"Berbeda sekali dariku, yang bahkan berjalan saja baru bisa saat berumur empat tahun. Aku tidak bisa menghitung sampai umur delapan tahun. Dan penakut, aku juga pengecut yang sangat terkenal, semua orang membenciku. Mama dan Papa? Hahaha, mereka tidak mau menatapku sama sekali.


"Namun, sayang sekali. Sungguh disayangkan, dua tahun kemudian. Aku tidak tahu apa rencana Tuhan saat itu, tapi Meli dibunuh oleh monster..."


"Astaga, Jenn... aku sangat berduka-"


"Raf, itu bukan bagian terburuknya. Apa yang terjadi setelahnya benar-benar... benar-benar... ARGH!" Jennifer tiba-tiba menendang batu besar di sampingnya, mental jauh, menjerit. Dia sangat marah...


"Dua baj*ngan itu, orang tuaku, jangan deh, bukan orang tua, monster, mereka adalah monster yang sebenarnya. Semenjak Meli meninggal, mereka selalu memaksaku untuk menjadi sepertinya, sempurna, tiada kecacatan. Mendaftarkan kursus menari delapan jam per hari, les empat jam per hari, belum lagi olahraga, seminar, dan yang lainnya. Aku tidak bisa beristirahat sama sekali, bahkan bernapas saja terasa sulit.


"Semua itu kulalui saat usiaku sepuluh tahun! Bisa empat belas jam waktuku terbuang sampai lelah! Sial...! Sial! Sialan! Aku bukan anak yang berbakat! Mama dan Papa itu bahkan memanggilku "Babi yang Tidak Berguna"! Saat tablet hitam itu mengatakan bahwa orang yang paling baik rupa harus dipindai, aku langsung teringat kata-kata Mama dan Papa. Babi, aku dipanggil babi oleh mereka, sambil memukul, membanting, melukaiku dan memperlakukanku sebagai babi! Maka dari itu aku berhenti sebentar saat hendak memidai wajahku!


"Aku bukanlah orang yang kalian bayangkan! Mau lihat bagaimana wajahku yang asli? Mau lihat, hah? Kalian mau menyaksikannya?! Menatapnya?! hah?! Aku yakin, setelah melihatnya setelah dua detik, kalian akan kabur. Baik, siap?! Satu, dua tiga!"


Jennifer mengusap-usap, memukul, dan menyakiti wajahnya layaknya orang yang tidak waras. Kakiku bergetar, aku takut, sungguh takut. Bukan takut akan bagaimana wajah aslinya, tapi takut karena... aku tidak biasa melihat Jennifer yang seperti ini...


Komandan Yakza berdiri dari duduknya, juga menatap remaja di depannya yang berteriak dan bertingkah seperti...


"AAAHH!!! LEPASLAH! LEPASLAH MAKE UP SIALAN!" Dia mengacak-acak rambutnya hingga kotor, depresi berat...


Sepuluh detik kemudian, semua rias wajahnya lepas. Aku bisa melihat muka Jennifer yang asli...

__ADS_1


__ADS_2