Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Monster Bertopi Fedora


__ADS_3

"Logan!" Seruku padanya. Aku mulai gemetar dan takut, masih ragu apa yang akan terjadi kali ini...


Logan sekarang memakai jubah hitam yang menutup seluruh tubuhnya di bawah topi fedora itu. Dia membuka topi dan tudungnya, akhirnya aku bisa melihat wajahnya.


Putih, pucat dan terlihat lemas. Tapi lebih muda dibanding Ayah, wajahnya terlihat mirip...


"Falisha..." Dia menyapa.


"L... Logan... selamat malam..." Aku berucap lamat-lamat, Raphael di depanku menutup tubuhku dengan lengannya, waspada.


"Sudah berapa kali kita bertemu, Falisha? Dua kali? Eh, bukan. Tiga kali, sekarang yang keempat." Dia terkekeh perlahan. Wajah pucatnya menunduk sedikit.


"Apa yang kau mau?" Raphael membantahnya di depanku.


"Aku hanya ingin melihat keponakanku, itu saja. Lagipula, aku mengenal Falisha lebih dari siapa pun, bahkan Kakak."


"Kakak"? Maksudnya Ayah?


"Falisha kau benci sayur bayam, kau benci bermain basket dan sepak bola, kau benci vanilla dan lebih suka coklat, kau membenci fisika lebih dari pelajaran apa pun di sekolah. Benar kan?"


"Dari mana kau tahu?!" Aku panik, tebakannya sangat akurat!


"Dia... dia mengintaimu, Fal... mengikutimu diam-diam..." Raphael membalas pelan.


Logan tergelak lagi, menutup mulutnya dengan tangan.


"Kamu membuntutiku?! Sejak kapan?!"


"Aku harus menjagamu. Kakak yang memerintah." Dia balas.


"Ayahku, di mana dia?!" Aku bertanya lagi.


"Kak Liam ada di tempat rahasia, dia tidak ingin aku memberitahumu sampai dia dapat kepercayaanmu."


"Hei! Aku ini anaknya!"


"Ya, dan kau juga salah satu kepercayaan Jendral Besar itu. Kau dan tiga temanmu."


"Tapi..."


Kata-kataku terhenti. Benar juga, aku masih bergantung pada kedua pihak... masih bingung dan tersesat...


Logam memakai topi fedoranya kembali, tanpa tudung kali ini.


"Bagaimana caraku mendapat kepercayaan Ayah?"


"Fal!" Raphael berseru padaku, terkejut akan apa yang kukatakan.


"Maaf, Raphael... tapi aku harus mengetahui asal-usul seluruh konflik ini..."


"Tapi mereka gila, Fal! Gila! Membunuh tanpa batas, melukai makhluk hidup, apanya yang tidak jahat! Jelas-jelas mereka orang yang buruk!"


"Hei, jaga mulutmu anak muda. Kami ini korban." Logan memotong.


"Korban apanya?! Salah satu dari kalian membunuh Ibunya Fal! Itu jahat!"


"Aku sudah mencoba untuk menyelamatkannya, tapi terlambat."


"Hah?! Kenapa kau ingin menyelamatkan Ibunya Fal?! Kan kalian sama-sama monster!"

__ADS_1


Sunyi sejenak, Logan tersenyum lebar...


"Untuk itu, aku akan jawab di lain hari." Dia menunduk, membuka jubahnya.


Astaga, setelah dia melemparnya, terungkap bahwa pakaiannya berwarna hitam, seluruh tubuhnya bertema hitam, aneh...


"Sekarang, aku punya tujuan yang lain."


CRRR... Astaga! Tubuhnya mencair! Pakaiannya, fedoranya juga! Dan maju ke arah kami!


"Eh?! Menghindar, Fal!" Raphael mendorong tubuhku. BUK!!! Cairan hitam itu mengeluarkan tangan panjang, memukul Raphael, dia menghantam pintu rumahku.


"Raf?! Raf! Raphael!" Aku menepuk-nepuk pipinya, mendorongnya, tapi dia tidak bangun... dia terduduk pingsan!


Pukulannya kuat sekali...


Tapi bagaimana ini?! Pedangku di dalam!


WOOSH! Serangannya kuhindari, sebaiknya aku menjauh dari Raphael! Dia mengincarku!


BUM! BUM! BUM! BUM! Cairan itu mengeluarkan pukulan, semuanya menghantam pohon dan hancur, meleset.


Oh, aku tahu!


BUM! Selagi aku berlari, serangannya tidak mengenaiku, tapi kecepatannya mengejarku di luar nalar!


Crrt! Ah?! Kakiku dililit?!


BRRRTT! Delapan tentakel keluar dari cairan hitam, masing-masing menahan seluruh anggota tubuhku, mengangkatnya.


"Lepaskan!!!"


Aku menggerakkan tubuhku sekuat tenaga... CRAS! Akhirnya bebas! Aku lanjut berlari-


BUM! BUM! Meleset, aku tidak terkena serangan.


CRAT! Serpihan batang pohon yang hancur kutancapkan kepadanya.


"ARGH!!!" Tidak kuhiraukan jeritannya.


Sedikit lagi sampai, cairan hitam masih mengejarku dengan lincah.


Oh, aku tahu! Kekuatan omni itu adalah pembentukan! Dia bisa mencairkan tubuhnya dan membentuknya menjadi apa saja, pantas dia bisa mengeluarkan tentakel dan tangan dari sana!


BRAK! Dia hendak menusukku, tapi mengenai tembok rumah, lagi-lagi kecepatanku cukup untuk menghindarinya.


Maaf, Jendral Besar!


BRUKK! Aku memukul jendela rumah, kacanya hancur kemana-mana. Tidak ada cara lain, aku masuk dari sana.


"Hei! Kenapa kau malah masuk?!" Cairan Logan berkata kasar.


"Diam! Kenapa kamu menyerangku?!" Aku membalasnya, lebih kasar.


BRRT! Sial! Dia melilit kaki kananku! Lalu melemparku kembali ke luar! BUM! Tubuhku menghantam tanah sangat keras, kepalaku mulai pusing...


Cairan Logan mulai kembali, membentuk tubuhnya seperti semula, memakai fedoranya, tersenyum lebar. Aku memegang kepala, dia sangat kuat... terlepas dari penampilan pucatnya. Ini adalah kekuatan sejatinya Monster Bertopi Fedora...


"Apa... apa yang kau mau... dariku?!" Ujarku keras, terbatuk sedikit. Jaket biruku kotor dan bau...

__ADS_1


"Melindungimu." CRRLL!!! Kedua tangannya memanjang, hendak memukul. Tapi kuhindari keduanya, berlari ke belakang rumah setengah mati. Aku harus mengambil pedang-


BUMMM!!!


"Aack!"


Dia... memukul perutku...


Bruk! Tubuhku jatuh, terkulai tidak berdaya. Napasku semakin sulit, ini lebih mengerikan dibanding Ava...


Aku mencoba menarik napas, mataku melotot hebat, mencoba tetap hidup.


Tadi dia bilang apa...? Melindungiku...?! Apanya?!


"Aku mengekspektasikan lebih darimu, Falisha. Kau adalah kebanggaan Ayahmu." Dia berkata sinis, membungkuk menatapku.


Aku melihatnya geram, tapi apa boleh buat? Dia tidak bisa dikalahkan-


GREP!


"FAL! AMBIL PEDANGMU!" Huh? Itu Raphael! Dia menahan tubuh Logan dengan tangannya!


"Apa yang kau lakukan?!" Logan lancang bertanya.


"AMBIL PEDANGMU, FAL!!!" Raphael berseru kepadaku, berusaha sekuat tenaga.


Aku mengangguk, berdiri cepat. Pusing memang, tapi pengorbanan Raphael tidak akan sia-sia!


Masuk ke rumah yang gelap gulita lagi lewat jendela, aku berlari sekuat tenaga, dengan cepat menuju ke kamar. BRAK! Aku menendang pintunya dengan kasar, membuka lemari dan mengambil kotak panjang. ZRUNG! Menyalakannya, cahaya pedang menyinari rumahku, lantas kembali ke luar.


BUK! Bodoh! Sempat-sempat aku tersandung! Ayo cepat! Raphael butuh bantuanku!


"LOGAAAN!!!" Aku berseru padanya, keluar dari rumah lewat jendela.


Oh tidak...


Raphael dicekik oleh Logan dengan tangan kirinya, wajah Raphael babak belur, badannya terdapat tiga luka sayat, wajahnya sangat lemas.


"Oh, sudah selesai mengambil pedangnya?" Logan terkekeh, menatapku sambil mengangkat Raphael lebih tinggi, dia menggerung kesakitan!


"K... kumohon... lepaskan dia..." Seluruh tubuhku merinding hebat, aku... aku belum siap kehilangan Raphael...


"Lepaskan? Buat apa?"


"Dia... dia sahabatku, Logan... kumohon..."


"Sahabatmu? Oh, astaga... kalau begitu Kakak benar, kau pasti punya banyak teman-"


"Tidak... Ayah salah, aku tidak akan berteman dengan banyak orang kalau bukan karena dia, Raphael adalah teman sejatiku. Selalu mendukungku setiap saat, setiap waktu, dia tidak ada hubungannya dalam semua kegilaanmu ini! Lepaskan dia...!" Aku membalas takut, berkata terbata-bata padanya.


"F... Fal..." Suara dia semakin serak, matanya lemas menatapku...


SING! Tangan kanan Logan membentuk benda lancip.


"Apa... apa yang ingin kau lakukan?!" Jangan bilang dia ingin-


"Kita akan lihat apakah kau bisa mengembalikan jasanya..."


DIA... DIA INGIN MENUSUK KEPALA RAPHAEL!

__ADS_1


__ADS_2