Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Api Biru


__ADS_3

"Yah, singkatnya... Jendral Besar memiliki suatu ide. Dia berencana untuk membuat senjata-senjata yang sangat hebat dan kuat agar berhasil dalam penyerangan apa pun. Sehingga terciptalah pedang cahaya ini, kenapa bentuknya cahaya? Karena setiap pedang dimasukkan satu kemampuan di dalamnya, dan itu tergantung pada penggunanya kapan kekuatan itu akan muncul. Aku tidak pernah memberitahu kalian tentang hal ini agar kalian tidak terlalu mengandalkan kekuatan tersebut. Namun sepertinya aku salah...


Aku tidak pernah menggunakan api itu sebelumnya. Untuk apa? Monster mudah untuk dibunuh. Dan juga, apiku tidak terlalu efektif jika digunakan saat berkerumunan, orang-orang yang baik bisa ikut terbakar. Tapi pertarungan tadi menyatakan bahwa kita akhirnya punya fungsi khusus untuk menggunakan kekuatan itu." Leonardo menjelaskan, sambil menguatkan tubuh Raphael agar tidak jatuh.


"Ha, benar, kau salah. Bagiku keren saja untuk punya kekuatan seperti Arkane..." Jawab Raphael, suaranya melemas, dia lelah.


Kekuatan...? Seperti di film-film itu?


"Wah... jadi... milikmu adalah api? Kau punya kekuatan api biru?" Jennifer antusias bertanya.


"Sebenarnya api biasa, tapi memerlukan waktu yang lama untukku agar pedang dan tubuhku siap mengeluarkan api biru." Jawabnya sadik.


"Tunggu... jadi kita semua punya kekuatan sendiri? Wah! Keren amat!" Raphael terkekeh, sedang berimajinasi.


"Tapi... kapan kamu menggunakan kekuatan itu untuk pertama kalinya, Leo?" Aku penasaran.


"..." Dia menunduk.


"Eh, tidak harus dijawab, kok..." Astaga... wajahnya tiba-tiba menyesal, aku merasa iba padanya.


"Dulu... aku bukan orang yang baik..." Sahut Leo, rautnya hendak menangis, tapi tidak jadi...


"Hei! Kalian di sana?!" Eh? Suara berat, tegas dan jauh menghampiri kami bertiga.


"Ah... sudah saatnya kau datang." Balas Leo, siapa dia?


Orang itu memimpin belasan pasukan, melewati pepohonan dengan runtuhan kayu batangnya dan lumpur-lumpur yang berserakan di mana-mana, wajahnya terlihat marah, namun bijaksana...


"Yakza, suatu kehormatan." Leo berkata.


"Dia adalah Ketua Pasukan Daerah Utara." Jennifer menjelaskan, aku dan Raphael mengangguk.


"Falisha... Raphael... Jennifer..." Ucap Komandan Yakza, tingginya sama dengan Leo, rambutnya hitam panjang namun diikat ke belakang, kotak pedang cahayanya berwarna kuning. Suaranya halus namun mengerikan, aku bingung menjelaskannya.


Pasukannya mulai memeriksa para prajurit yang terkulai di tanah. Ada yang menatap kasihan, ada yang ngeri, ada yang menunduk, memberi kehormatan. Beberapa dari mereka sudah meninggal.


"Hey, lenganmu patah dan kamu masih bertarung? Hebat." Astaga, tiba-tiba Komandan Yakza mengangkat lengan kiriku, menatapnya tiada celah, aku terbata-bata mengangguk.


"Luka gores yang parah... dan hey, kepalamu bocor, tuh. Walaupun sedikit, Liona pasti senang melihatnya." Lagi-lagi dia komentar ke Raphael dan Jennifer, sama, mereka ragu-ragu ingin membalas.


"Kutebak musuh kali ini lebih kuat dari biasanya?" Menatap Leo, dia bertanya serius.


"Akan kuceritakan semuanya di markas. Sekarang bantu mereka menemui Liona, kita baru saja membuat sejarah." Jawab Leo.


Liona?


"Baiklah." Komandan Yakza mengangguk, lalu dia memanggil total tiga pasukan ke arah kami.


"Fal, Jenn, Raf, terima kasih untuk keberanian dan keteguhan kalian hari ini. Sekarang pergilah dengan mereka." Leo berkata halus, mengusap kepala kami.


"Bagaimana denganmu?" Aku khawatir.


"Tenang, pertarungan sudah selesai, sisanya serahkan kepada kami." Dia membalas.

__ADS_1


Serentak aku, Raphael dan Jennifer naik ke tubuh masing-masing dari pasukan itu, lantas mereka menggendong dan membawa kami menjauh, lagi-lagi memasuki daerah pepohonan yang gelap.


Aku sangat lelah... tiba-tiba, aku kehilangan kesadaran...


***


Tin... tin... tin... tin...


"Jangan diganggu, kasihan..."


"Ah, aku mulai cemas, tahu... bagaimana kalau dia..."


"Tidak... Falisha belum meninggal. Dia kuat, butuh lebih dari Arkane untuk membunuhnya."


Suara siapa itu...? Aduh...


Aku membuka mataku perlahan. Terang sekali... ruangan berwarna putih... eh? Aku di kasur? Memakai baju terang? Oh... rumah sakit, ya...


"Eh! Dia bangun!" Suara wanita memenuhi telinga kiriku.


"Wah? Serius?" Suara laki-laki memenuhi telinga kananku.


"Fal!" Aw... kenapa harus teriak...? Telingaku sakit...


"Eh, maaf..." Orang yang sama merendahkan suaranya.


Jennifer... dan Raphael...? Mereka menjengukku?


"FALISHAAA!" Jennifer memeluk erat, aku kaget.


"J... Jennifer...? Raphael...? Kalian kenapa ada di sini?" Aku membalas memeluk Jennifer, kemudian bertanya heran, mereka kan juga terluka...


Ada beberapa perawat dan dokter yang mondar-mandir ke sana kemari, baunya juga tidak asing, seperti di UKS sekolah...


"Heh, kau tidur selama satu hari, siapa yang tidak cemas? Lihat Jennifer, terpaksa bolos OSIS, semua orang membicarakannya." Komplain Raphael.


"Raf! Fal... tidak ada yang komplain, kok... tenang saja..." Jennifer berusaha menenangkan.


"Eh! Aku saksinya, ya! Nessie, Stella dan gengnya itu membicarakanmu!" Dia menambah argumen, bertengkar dengan Jennifer.


"Raphael! Ini tentang Falisha! Bukan aku!" Dia membalas, hendak melawan lagi.


Hahahaha... lucu juga melihat mereka bertengkar...


"Sudah-sudah..." Aku menaikkan badanku, duduk perlahan.


"ADUH!" Astaga... aku lupa lengan kiriku patah, tergeser sedikit. Sekarang dipasang gips, aku harus lebih hati-hati.


"Hahahahaha... pelan-pelan makanya..." Raphael terkekeh, tapi dari wajahnya, aku tahu dia sebenarnya kasihan.


"Gara-gara kamu, Raf! Dia sakit lagi!"


"Sudah kubilang dia kuat, lihat, sekarang sudah biasa saja."

__ADS_1


"Hei..." Aku memotong kalimat mereka, ingin bertanya sesuatu.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Sekarang jam berapa? Hari apa? Di mana ini?" Ujarku sambil melihat gips yang dipasang.


"Tadinya aku sedang menjenguk Raphael yang lebih dekat dengan pintu masuk, dia masih tidur, tapi tiba-tiba terbangun dan bertanya-tanya tentangmu, terus dia memaksa untuk melihatmu apakah masih hidup atau sudah tidak ada, itu katanya..." Jennifer membalas halus.


"Eh, bohong!" Wajah Raphael memerah, aku menahan tawa.


"Ini di ruang perawatan markas, pintu ke delapan di samping kiri, cukup besar dan pas untuk pasukan yang terluka. Jam delapan pagi, dua hari setelah penyerangan itu, hari Rabu." Raphael membalas semua pertanyaanku, begitu ya...


Aku melihat ke sana kemari, ada tirai di sampingku yang terbuka sedikit, jadi aku bisa melihat sampai ujung ruangan, banyak sekali pasukan yang sedang dirawat, namun tidak ada dia...


"Di mana Leo? Dia tidak dirawat? Seruku cemas.


"Rahasia~ AW!" Raphael menjawab usil, namun telinganya dijewer oleh Jennifer.


"Dia sangat kuat, dengan perban di badannya pun dia masih bisa bertugas, tidak butuh menetap di sini, puas, Jenn?" Dia menambah perkataanya.


"Hahahaha, iya puas." Jennifer menjawab.


Phew... syukurlah kami semua baik-baik saja... aku teringat kata Stella dan Nessie hari itu, aku tidak punya teman, tapi mereka...


"Terima kasih ya... sungguh... tidak ada seorang pun dalam hidupku yang sepeduli ini padaku..." Aku berkata, memutus hening.


"Iya, sudah menjadi tugas ketua OSIS untuk menjaga setiap murid di sekolahnya." Jennifer menjawab halus, tersenyum lebar.


"Ah, kau fans berat dengannya, kan? Mengaku saja. ADUH!" Raphael usil membalas, Jennifer menjewer telinganya lagi.


Hahahaha...


"Ada bayarannya." Raphael melanjutkan kata-katanya.


"Apa?" Aku heran.


"Jangan makan bakso tiga piring sehari, tidak sehat." Dia memperjelas, Jennifer menahan gelak, aku terkekeh sedikit... mengangguk setuju.


Haruskah aku bertanya pada Raphael kenapa dia ingin berteman denganku?


Eh, nanti saja... aku takut merusak mood...


***


Hari Jumat, aku sudah boleh pulang, Raphael dan Jennifer sudah duluan kemarin, walaupun Leo menyarankan untuk tidak melakukan misi atau sekolah...


Tapi untuk sekarang, aku pulang saja. Kangen acara televisi dan makanan-makanan yang disediakan di meja makan.


Zrrreeeeng... suara motor yang lewat di jalanan sepi datang, namun nihil lagi, aku berada di depan pintu rumah, bersiap masuk.


Kreeek... kubuka pintu perlahan, astaga... meja makan di samping kiri berdebu, sofa di sebelah kanan, di depan TV, kotor... aku harus segera bersih-bersih...


Tentu saja, kejadian sebelumnya menginformasikan sesuatu yang sangat jelas...


Monster Bertopi Fedora adalah manusia... dia memiliki perasaan saat membunuh Ibu. Aku harus... aku harus menjadi orang yang memenggal kepalanya...

__ADS_1


__ADS_2