Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kerja Sama (Part 2)


__ADS_3

Di waktu yang sama, Raphael dan Jennifer sedang bertarung.


SLASH! SLASH! SLASH! Raphael memotong kedua kaki dan tangan kanan robot, BUM! Jennifer menendangnya hingga jauh.


"Aduh!"


"Jangan ditendang dong! Kan ini logam!" Raphael memperingati, tapi setidaknya robot itu sudah menjauh, berbaring tidak berdaya.


Semuanya menghela napas, mengusap keringat di leher dan dahi, tidak bisa beristirahat, tidak ada yang tahu trik apa yang robot itu miliki.


"Sudah berakhir kah? Robot itu sudah mati?"


"Kurasa belum... Raf, ayo kita selidiki."


Mereka berdua mendekat secara perlahan, menuju potongan-potongan robot yang terkulai...


...


TREP! Kaki dan tangan robot menyatu kembali.


"JENNIFER!" BUKKK! Robot sialan itu berdiri dan memukul dada Jennifer dengan lincah, tidak bisa diikuti oleh mata.


Raphael menggendong tubuh temannya, BUM! Melompat mundur menghindari pukulan yang meleset mengenai tanah.


Mata Jennifer melotot hebat, dia berusaha bernapas sekuat tenaga.


"Jennifer! Tahan!" Sambil panik melihat ke sana kemari, dia bersiap dengan pedang cahayanya. Membawa Jennifer dengan satu tangan itu hal yang mudah, tapi robot ini jelas lebih sulit dikalahkan daripada monster.


BUK! BUK! Robot itu menepuk kepal tangannya dua kali, bersiap menyerang.


"Aku... tidak apa-apa." Jennifer melepaskan dirinya dari Raphael, berusaha mengendalikan dirinya agar seimbang.


"Eh? Sungguh?"


"Ya... ini hanyalah serangan kecil." Dia mengusap dagu, mengacungkan pedang cahayanya.


Butuh berpikir sejenak, akhirnya Raphael mengangguk.


SREP! Mereka maju, hendak memberi serangan pertama.


ZRUNG! Serangan Raphael dihindari robot. ZRUNG! ZRUNG! ZRUNG! Semuanya meleset, TEP! Robot menahan kedua lengan lawannya.


"?!" Dua orang itu terkejut.


Krek! BUM!


Celaka! Tidak ada yang bisa menduganya! Dari perut robot, dia mengeluarkan dua tangan baru, memukul Raphael dan Jennifer sampai terpental.


Bruk! Keduanya mendarat dengan selamat, pipinya lebam biru, terasa sakit.


"Sial... dia pintar." Raphael mulai geram.


WOOSH! Robot mendekat dengan lincah-


BUM! Kepala Raphael dipukul keras, dia terjatuh membentang.


JRASH! SLASH! SLASH! SLASH! Jennifer bernas memotong semua anggota tubuh robot. BUK! BUK! BUM! Kemudian memukulnya sampai jauh, dan sekarang berlari ke arah Raphael.


"Raf!" Tubuh Raphael diangkat, mencoba memeriksa keadaannya. Darah segar keluar dari kedua lubang hidungnya.


"Uh... hidungku sepertinya patah, hahaha..."


"Kenapa kau tertawa?! Jangan memaksakan dirimu!"


SRET! Jennifer melihat ke belakang, tubuh robot sudah digabungkan kembali. Mata merahnya menyala lebih terang, dia melesat maju lagi.


"Jennifer." Raphael mengangkat tangannya, meminta bantuan berdiri.

__ADS_1


Mereka berdua bangkit, bersiap lagi.


"Aku ingin mencoba sesuatu, tapi aku butuh kekuatanmu." Jennifer berusul.


"Ha. Aku ini laki-laki, tenang saja."


Robot itu sudah dekat, hendak melepaskan pukulan.


BUM! Lengan robot ditahan oleh tangan Raphael, dia cukup kuat untuk membuatnya beku. SLASH! JRRASHH!!! Jennifer melepas serangan membelah, tubuh robot berpisah menjadi dua bagian.


"Astaga!" Raphael terkejut.


"Pegang yang satunya!" Kemudian dia menyuruh Raphael membekam tubuh robot bagian kanan, sedangkan dia bagian kiri.


"Oh, aku mengerti! Ini agar dia tidak terhubung kembali, kan?!" Susah payah mereka menahan bagian robot itu, tapi benar saja, dia tidak bisa bergabung lagi. Robot itu bisa dibilang mati rasa, tidak bisa bergerak.


...


Sunyi, dua remaja itu menarik napas.


"Sekarang bagaimana? Seandainya saja ada tameng Falisha di sini..." Jennifer berkomentar.


Namun, sial, sial sekali. Seandainya takdir lebih halus kepada mereka, ini tidak akan terjadi. Sedikit serpihan tanah, yang tajam, yang terbentuk akibat benturan dari pertempuran, terbang dan menusuk pipi Jennifer.


CRAT!


"Ah?!" Dia terkejut, melepaskan cengkraman robotnya.


"Jennifer?!" Raphael heran, bagian robot yang ditahan Jennifer itu terbang mendekat ke arahnya.


Dengan terpaksa, Raphael harus melepaskannya juga. Robot itu bergabung kembali, bersatu dan bisa bergerak secara bebas.


"Sial! Tanah ini menusuk pipiku!" Jennifer melepaskannya, berteriak kesakitan. Belum melihat lawannya sudah bisa menyerang lagi.


"JENNI-" DUNG!!! Robot itu memukul keras perut Raphael. BUK! BUK! BUM! Serangan bertubi-tubi dilepaskan, Raphael tidak bisa menghindar, semuanya kena.


Mereka berdua semakin dekat, Jennifer dan Robot.


Woosh! Jennifer membungkuk menghindari serangan, SLASH! Memotong kedua kaki robot, memberi waktu untuk mendekat ke Raphael-


JRAT! Kaki Jennifer ditahan! Sial!


WOOSH! DUM!!! Hebat! Dia menggunakan teknik ajaran Leonardo, melompat dengan bertumpu di kaki yang tertahan ke belakang lawan, lantas membantingnya kembali.


Raphael berusaha berdiri, mengelap darah di bibir.


"Boleh juga."


"Raf, kau..."


"Tidak apa-apa. Percayalah. Ini lebih baik daripada masa laluku."


Di situlah, Jennifer bingung, apa maksud Raphael? Lebih baik daripada masa lalunya?


DUK! DUK! DUK! DUK! DUK! Robot berlari ke arah mereka, langkah kaki berisik itu memenuhi ruangan.


WOOSH! Raphael nunduk menghindar, CRASH! Menusuk dada robot tembus, SLASH! SLASH! Jennifer memotong kedua kakinya lagi, tapi-


BUM! BUM! Mereka lupa, itu adalah robot, tubuhnya bisa memutar sambil membentangkan tangannya. Semuanya terkena pukulan mematikan robot itu di kepala.


BRUK! Tubuh dua remaja itu jatuh, tengkurap. Berusaha menarik napas, berusaha tetap hidup.


"Sepertinya... kita... tidak bisa menang..." Raphael berseru tertahan, kecewa. Daritadi bertempur namun tidak ada hasil...


Robot dengan perlahan mendekati mereka berdua, bersiap meluncurkan serangan pembunuh.


Tapi, Jennifer tidak menyerah. Dia berusaha berdiri, seluruh tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"J... Jennifer...?" Raphael melihat temannya itu, termangu. Ada sedikit darah dari belakang kepalanya, rambut pirangnya mulai berantakan. Namun dia tidak takut. Berhadapan dengan robot yang tubuhnya kembali.


"Masa laluku juga... tidak baik. Aku tidak boleh berada di bawah." SLASH! Dia memotong lengan kanan robot yang menyerang, lantas menahan potongan lengan itu.


"Raphael, terlepas dari kesempatan kita untuk mengalahkannya dengan menahan potongan tubuh miliknya agar tidak bergabung lagi-"


"Dia punya kelemahan." Raphael memotong kalimat Jennifer, berusaha berdiri dengan keras.


"Benar."


"Heh, aku tahu rencanamu, Jennifer. Ayo kita lakukan."


Mereka berdua tersenyum lebar, walaupun banyak darah yang mengalir dari kepala dan tubuhnya. Ini demi mengakhiri konflik manusia vs monster, serum itu adalah jawabannya.


BUM!!! Kompak, kedua remaja memukul perut robot dengan keras sampai mundur.


Tanpa henti Raphael berlari maju, SLASH! Dia memotong lengan kiri robot, mengambilnya.


SLASH! Masih membawa lengan kanan robot, Jennifer membelah lengan ketiganya, dia punya dua lengan robot di tangan kirinya.


SLASH! SLASH! SLASH! Dengan presisi dan bakat, kedua siswa teladan berhasil melepas seluruh tangan dan kaki robot darinya.


"Serahkan mereka kepadaku!" Jennifer berseru, Raphael melempar lengan dan kedua kaki musuhnya, membuat temannya harus menahan semuanya agar lawannya tidak bergabung kembali.


Raphael maju ke arah robot itu, mencari kelemahannya. Dia memeriksa perut, membelahnya. Kosong, hanya kabel dan kabel. Tidak ada apa pun yang menarik.


"Pasti kepalanya!" SLASH!!! Dengan keras, cepat, kuat dan lincah, dia membelah kepala lawan. Pupil merahnya mati, seluruh tubuhnya lemas dan berhenti bergerak.


Robot itu sudah kalah... Raphael dan Jennifer berhasil.


Bruk! "Hah... syukurlah..." Perempuan pirang itu melepaskan tubuh-tubuh lawan, duduk, menarik napas.


Namun... Raphael terlihat lemas...


"R... Raphael...?" Buk! Dia jatuh, telentang dengan keras.


"RAPHAEL!" Jennifer merangkak menuju temannya.


Syukurlah, dia tidak pingsan, hanya lelah, sangat lelah.


"Aku tidak apa-apa Jenn... hahaha... kita berhasil..." Dia tertawa lepas, dengan hidungnya yang patah dan banyak lebam di wajahnya, dia masih tertawa.


Melihat kondisi temannya, Jennifer mengepalkan tangan dengan keras, dia menangis, tapi bukan karena kasihan, ada hal lain yang membuatnya seperti itu. Sesuatu yang bisa melepaskan amarahnya...


"Jennifer, kau..."


"Raphael..." Dia lamat-lamat berkata, memangku kepala Raphael di pahanya.


"Maaf karena aku kurang hebat, maaf karena wajahmu harus rusak seperti ini." Jennifer meminta maaf, mengusap air matanya.


"Tidak, lihat pedangmu...!" Raphael justru melihat ke bawah, ada apa?


Eh? Eh?! Pedang Jennifer... mengeluarkan benang berwarna hijau?!


"Apa ini?" Keduanya heran tiada batas. Ini sungguh tidak jelas!


Tapi, benang itu mulai bertambah banyak. Bertambah panjang menuju semua luka kedua remaja itu. Sekilas, Jennifer ingin menyentuh benangnya, tapi tidak bisa, hanya tembus.


Sepuluh detik, luka di belakang kepala mereka sudah sembuh, lebam di seluruh tubuhnya menghilang. Dan ajaibnya, terlihat dengan jelas, hidung Raphael sembuh kembali!


"Ini... Jangan-jangan?!-"


"Jennifer! Ini kekuatanmu!" Raphael berkata riang, memeriksa hidungnya yang benar-benar kembali seperti semula, mereka berdua merasa segar kembali!


"Raphael, coba lepas perbanmu!"


Lincah, Raphael melepaskan perban putih yang melingkari kepalanya itu. Benar, lukanya sudah sembuh!

__ADS_1


Benang itu perlahan menghilang, kekuatan Jennifer telah bangkit! Penyembuhan!


__ADS_2