Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kenapa?


__ADS_3

"Kamu tahu tentang Liam?" Aku bertanya, kali ini lebih halus sedikit. Bagaimanapun, omni-omni budukan ini bisa menjadi sumber informasi tentang asal usul monster.


"Ya. Liam Ghazali. Sudah menikah selama delapan belas tahun, umurnya 39 tahun. Tapi harus kuakui, di usia segitu dia masih terlihat tampan." Omni tertawa. BUK! Aku menendang lengannya. Sempat-sempatnya dia bicara seperti ini.


"Jawab pertanyaanku. Kenapa Ayah dan Logan bersikap seperti seolah-olah mendukungku? Ayah tidak membunuhku, Logan membangkitkan kekuatan tamengku. Kenapa? Bukankah kalian hanya bisa membunuh, membunuh dan membunuh?" Aku bertanya lagi. Sambil memegang kakinya, bersiap mematahkan.


"Mungkin agar dia bisa memanfaatkanmu. Bayangkan saja, seorang prajurit andalan markas, menjadi seorang omni. Itu akan sangat berguna bagi kami."


Deg! Di situlah hatiku berguncang. Sejenak, aku tidak bisa merasakan tanganku. Ayah ingin memperbudak anaknya sendiri? Aku? Kenapa? Ayah bukan orang yang jahat!


"Kamu bohong!" Aku tidak terima.


"Terserah." Omni tertawa lagi.


Kupererat cengkraman tangannya, dia menggerung kesakitan.


"Bagaimana caranya manusia bisa menjadi omni?" Kali ini, Raphael yang bertanya. Pertanyaannya jauh lebih menarik dariku.


"A.... a...."


Eh...?


Mata omni tiba-tiba membesar, wajahnya panik ketakutan. Keringat keluar deras dari dahi kotornya. Dagunya terbuka lebar, semua gigi terlihat. Tidak cukup, tubuhnya juga ikut bergerak, seperti kejang.


"Hei... ada apa?" Lama-lama, pandangannya menjadi sangat mengerikan. Wajahnya seakan-akan ingin...


"FALISHA! LARI!" Mendengar seruan Raphael, aku langsung melesat jauh, ke arah Yuda, dan Jennifer. Mereka sedang memeriksa Komandan Yakza yang pingsan.


"Ada apa?" Yuda bertanya, tapi dia segera melihat badan omni yang terkulai semakin membesar. Pakaiannya robek sampai lepas, kulitnya keriput tiada henti. Diikuti dengan Jennifer, dia juga kaget seraya mencoba membangunkan Komandan. Raphael ikut mendekat dengan wajah yang takut.

__ADS_1


Semakin besar, dia terlihat seperti balon yang hendak-


DAR!!!


"ASTAGA!" Aku menutup mata dengan kedua sikut. Dia meledak, meledak! Astaga! Darah hitam berpencar kemana-mana. Tubuhnya hilang, menyisakan sepucuk bahan pakaian miliknya. Beberapa cairan hitam mengenai tubuhku, bau yang basi menyengat masuk ke dalam. Menjijikkan, menjijikkan!!!


Raphael di paling depan muntah dengan keras, Jennifer dan Yuda berpaling. Aku masih menutup separuh mata dengan sikut, ikut muntah.


"HUEKK!!!" Tidak tahan, Raphael tambah keras mengeluarkan seluruh isi tubuhnya.


"Apa-apaan itu?! Kenapa itu bisa terjadi? Raphael, kau meledakkannya?!"


"Bukan aku, Yuda! Aku hanya bertanya tentang bagaimana caranya dia bisa menjadi omni tapi tiba-tiba meledak! Bukan aku!" Dia membela diri sambil mengusap mulut dengan seragam, matanya berkaca-kaca. Aku juga melakukan hal yang serupa.


Kenapa? Kenapa bisa begini?!


"Gawat!" Jennifer berseru, kami menatapnya sekarang. Sambil mencoba sebisa mungkin membiarkan bau bangkai yang menyakiti hidung.


"Jennifer... bisakah kau mengingat pertemuan pertamamu dengan Komandan? Mungkin itu bisa membangkitkan kekuatanmu." Yuda berusul.


Jennifer mengangguk perlahan, dia menutup matanya.


"Saat itu... aku kabur, jauh. Meninggalkan Mama dan Papa, lantas aku berlari sekencang mungkin dari sana. Mencoba melupakan masa muda yang suram dan berat itu. Tiba-tiba aku menabrak sosok tinggi, kuat dan gagah yang sedang menggendong gadis kecil berusia lima tahun. Sosok itu adalah Komandan, dia sedang mengajak anaknya berkeliling di Daerah Barat untuk pertama kalinya. Sebenarnya Komandan tinggal di Daerah Utara.


"Dengan sekali tatapan, dia langsung tahu bahwa aku lari dari rumah. Dia berinisiasi untuk membantuku, memberikanku rumah dan uang yang tidak seperti kalian, yang kumiliki tidak dari pasukan. Jadilah aku remaja perempuan yang mulai bisa melupakan Mama dan Papa. Tapi sayang sekali, aku terdorong untuk menjadi sempurna setiap kali mengingat mereka bahkan sedetik saja.


"Anak itu berusia tujuh tahun saat aku berumur empat belas. Dia sangat baik, ceria dan cantik. Namanya Amelia. Amelia membantuku membereskan barang-barang, melucu saat aku dipenuhi banyak tugas, memberi dukungan saat aku putus asa, itu yang dia lakukan setiap kali berkunjung, atau saat sedang video call. Dan kesukaanku, dia memujiku setiap saat, menerimaku apa adanya saat aku berbuat kesalahan. Tidak ada satu wajah marah pun darinya, tidak seperti orang tuaku.


"Namun, dia meninggal dibunuh oleh monster. Kejadian itu terjadi sore hari, Komandan bertugas di Daerah Barat jadi dia membawa anaknya. Aku dan Amelia berjalan menuju rumah dari tempat lesku, aku bukan bagian dari pasukan pada saat itu. Tiba-tiba saja monster besar datang dan mencabik-cabik Amelia di depan mataku. Falisha datang, melawannya dengan hebat dan mengejar monster itu karena dia kabur. Aku putus asa, tidak bisa melakukan apa pun dan idiotnya, aku berhasil kabur...

__ADS_1


"Bertemulah dengan Komandan, aku tidak berani menatap wajahnya sampai ditanya di mana Amelia. Kujawab bahwa... ya, seperti yang kukatakan tadi. Aku sudah bersiap menerima hukumannya, bahkan kuambilkan batu besar tajam untuk Komandan agar dia menusukku, seperti Mama waktu itu. Aku duduk membungkuk, mengikat kedua tanganku sendiri dengan tali. Bersiap menerima tusukan.


"Tapi Komandan... dia justru memelukku, menangis terisak. "Tidak apa-apa, Jenn... kecelakaan terjadi setiap waktu tertentu. Itu artinya dunia terlalu kejam untuk ditempati Amelia, dia sudah lebih bahagia sekarang." Itu yang dikatakannya. Tidak melukai sama sekali, tidak ada perbuatan yang menyakitkan darinya. Aku kaget karena baru pertama kali ini ada orang yang memaafkanku setelah berbuat kesalahan yang sangat besar.


"Dari situlah aku bertekad, terinspirasi dengan Falisha yang menjadi prajurit muda. Komandan bilang aku harus menemui orang yang bernama Leonardo. Singkat cerita, di sinilah aku sekarang. Punya empat sahabat dan sosok Ayah yang selalu mendukungku. Kebanyakan itu berkat Komandan Yakza... aku tidak mau kehilangannya sekarang..."


Jennifer meneteskan air mata deras, kata-katanya tersampaikan dengan sangat halus.


...


Jangan... kumohon selamatlah Komandan!


...


Hening... tidak ada kemajuan. Benang-benang hijau muda itu tidak keluar dari pedang Jennifer. Komandan Yakza tidak akan bisa sembuh, dia dibunuh oleh omni tadi...


Aku menutup mata, tidak mungkin...


Dia mengorbankan dirinya untuk serum itu...


"BEKERJALAH! BEKERJALAH PEDANG SIALAN!" Dia menangis hebat, wanita yang akan kehilangan sosok Ayahnya.


...


Zruuuuuuuuung...


"Jennifer! Lihat!" Yuda berseru mendadak, membuatku otomatis membuka mata kembali.


Benang itu muncul! Benang-benang tipis dan bercahaya hijau itu akhirnya muncul! Syukurlah... mereka memenuhi seluruh tubuh Komandan, seperti mengikatnya. Lantas, tubuh Komandan juga ikut menyala. Dia diangkat oleh benang-benang bersama dengan batu itu, membuatnya bebas!

__ADS_1


Jennifer mengusap air matanya, wajahnya penuh dengan harapan dan senyuman. Aku juga lega, menyeka air di pipi.


"Jennifer! Dia akan sembuh!" Yuda menepuk bahu wanita itu, kemudian mereka berdua berpelukan, tertawa bahagia sambil menangis. Astaga... syukurlah, syukurlah...


__ADS_2