Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Meeting Istimewa (Part 3)


__ADS_3

ZRUNG! Aku mengeluarkan pedang cahayaku, memasang kuda-kuda yang kuat sambil mengacungkannya ke depan.


Cahaya dari pedang itu menerangi sekitar, aku bisa melihat ubin yang bertekstur seperti kaca, licin.


Perlahan, aku berjalan maju, tdak akan bisa keluar karena pintu itu dikunci lagi, dan aku tidak hafal kata sandinya.


Suara langkah kakiku bergema hebat, namun ini sangat menyebalkan. Aku harus menemukan lampu-


Klek!


"Falisha?" Eh, ruangan sudah menyala. Jendral Besar melihatku bingung yang jongkok siap bertarung.


Hening, aku masih kaget.


Kuletakkan pedangku pada tempatnya, langsung berdiri tegak. "Maaf, Jendral. Tolong lanjutkan."


"Ya, silahkan lihat." Begitu dia mengatakannya, pandanganku langsung berbelok ke kiri.


Aku tidak percaya ini... apa yang kulihat benar-benar di luar dugaan. Aku berjalan mundur agar mendapatkan view yang lengkap, tidak mau melepaskannya.


Di dalam ruangan berwarna putih, ada delapan robot besar, berbentuk seperti manusia yang kuat, masing-masing berwarna putih susu namun memiliki garis berwarna khas sendirinya. Terlihat kuat dan menakjubkan.


Lalu aku memutar balikkan tubuhku, ada senjata-senjata yang luar biasa. Senapan yang berwarna-warni futuristik, granat yang bisa menghilang, sangat keren! Dan ada banyak lagi yang tidak kuketahui namanya!


"Bisa kau lihat, Falisha. Ini adalah ruang senjata milikku." Dia maju ke arah robot-robot itu, membentangkan tangan dengan bangga. Aku menatap mereka tidak percaya, maksudku, mereka semua terlihat hebat dan menakutkan. Kenapa dia tidak pernah menggunakannya?


"Sayangnya, belum ada waktu yang tepat untukku menggunakannya."


"Eh?" Aku terkejut, waktu yang tepat?


"Kau bisa lihat sendiri. Contohnya granat itu, bisa menghilang memang, tapi daya ledaknya seluas 24 kilometer, satu daerah bisa hancur karenanya. Dan robot-robot ini, jika dipakai untuk melawan monster kecil, bisa melukai pasukan lainnya, karena daya hancurnya juga meluas. Soal persiapan, dari kecil aku selalu saja berlebihan..." Dia menunduk, mengelus salah satu robot putih itu.


Namun, tiba-tiba dia mencengkram tangannya.


"Tapi, aku janji, Falisha. Sebentar lagi kita akan menggunakan ini untuk membantai para monster. Sudah lama sekali mereka meremehkan kita atas kerendahan hati. Sebagai Jendral, aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangan pasukanku!" Dia menatapku tegas, mengepalkan tangannya. Semangatku semakin membara, tubuhku tegak dan siaga. "Siap!!!"


...***...


Pintu markas Karlo dibuka lagi, kembali ke pemandangan gua tanah berwarna krem yang bersih dan bertanah runcing ke bawah di atas. Leo sedang menunggu sambil menyandarkan sikut di atas mobilnya. "Oh. Sudah? Bagaimana?"


"Leo! Jendral Besar sangat hebat! Kamu harus melihatnya!" Aku berlari mendekat, sangat bergelora.


"Huh? Melihat apa? Dan kenapa kau berjinjit begitu?"

__ADS_1


"Eh?" Astaga, tubuhku jinjit sambil berlari. Leo terkekeh, dasar!


"Dengarkan dulu! Dia sangat jenius dan hebat! Dia bilang Raphael sangat cocok menjadi penerusmu! Dan gudang senjata--astaga!!!" Aku berseru hebat, menggema memenuhi gua.


"Yah, sebenarnya Rapahel memang cocok untuk menjadi seorang ketua. Tapi aku ragu dia bisa mengalahkanku." Leo bergaya sambil tersenyum miring.


"Raf akan membantaimu. Ajak saja duel."


"Hahahaha..." Leo menyalakan mobilnya, lampu di depan mulai terang menyala.


"Eh, tadi kau bilang apa? Gedung senjata?" Gerakannya yang hendak membuka pintu terhenti, dia menatapku sekarang.


"Iya!"


"Menarik... kalau boleh tahu, ada apa saja?"


"Pertama, ada delapan robot besar yang sangat kuat. Katanya, itu termasuk ke dalam kategori "Paling Efektif". Dan ada senjata laser, granat, senapan, rocket launcher yang punya daya ledak hebat. Bahkan salah satunya bisa menghancurkan kota. Sangat brilian!" Wajah Leo berpikir hebat. Separuh senang, separuh resah.


"Kenapa?" Aku heran, dia terlihat seperti tidak terima akan sesuatu...


"Tidak apa-apa, aku hanya berharap Jendral Besar Karlo tidak ceroboh dengan alat-alat itu. Aku terkesan denganmu, Fal, tidak ada pikiran negatif sedikit pun tentangnya. Itu menarik."


Benar juga... aku sangat mengidolakannya. Dia menyelamatkanku dari kekosongan hidup, dia membuatku bangga sebagai seorang pasukan, dan lain-lain. Itu sangat berarti bagiku...


"Baiklah, ayo masuk. Sudah jam tiga sore dan aku sangat lapar." Leo mengangguk singkat. Lalu masuk ke mobilnya, aku mengikutinya semangat, mengencangkan sabuk pengaman.


Uhuk! Leo terbatuk. Mobil berwarna emas ini maju perlahan di tengah jalan.


"Kamu sakit?" Tanyaku cemas.


"Ha? Tidak. Hanya batuk biasa. Kalau sakit nanti kharismaku berkurang dan aku bukan orang keren lagi." Balasnya, tergelak sedikit.


Aku menatap jendela, melamun menikmati cahaya matahari yang tembus jendela, melihat sekitar yang indah dan keren. Seandainya saja tidak ada evakuasi warga atau serangan monster, pasti peradaban di sini akan terlihat ramai.


"Falisha, menurutmu kenapa para monster sangat kuat saat malam?"


"Hm? Oh, aku tidak tahu..."


"Menarik, bukan? Maksudku, seluruh proses Hari Pembantaian kita menjadi sedikit lebih mudah karena kita menyerang di siang hari. Dan semenjak penyerangan rumah jamur itu, Jendral Besar memutuskan untuk ikut berjaga dan berpatroli saat malam, karena para monster bisa kapan saja menyerang kita." Dia berargumen, menatapku sejenak.


"Benar juga... tapi kenapa ya? Jangan-jangan mereka punya kegemaran tersendiri kepada malam hari."


Hening, kita tidak punya jawaban.

__ADS_1


"Mungkin kita harus membicarakan hal yang lebih menarik. Leo, berapa umurmu?"


"Ha?"


"Ya. Berapa usiamu? Terkadang aku selalu memikirkan itu. Kamu sangat tinggi dan wajahmu terlihat muda, tapi terkadang tingkahmu seperti orang tua. Dan itu aneh." Aku bimbang hebat.


"Hmm, coba tebak. Aku berikan tiga percobaan, kalau benar sekali, aku akan mentraktir makan malam hari ini." Dia tersenyum, astaga, makan malam gratis?!


"Benarkah?!"


"Ya. Apa pun yang kau mau, akan kuberikan."


"Asik! Oke, tiga percobaan. Hm... 42?"


"Yang benar saja! Memangnya aku setua itu?!"


"Bukan ya... umm... 32?"


"Ketuaan!"


"32 lebih tua?! Aduh... satu kali percobaan lagi..."


"Hehehehehe... dadah makan malam, kau pasti salah-"


"21! Benar kah?"


Mobil berhenti perlahan, Leo menghembuskan napas.


"Pastikan harganya di bawah dua juta."


"Yes!!!" Tubuhku miring, aku memeluk Leo dengan riang.


Serentak, dia memelukku balik. Lalu aku duduk lagi, memikirkan tentang makan malamnya.


"Eh, tunggu, warga kan dievakuasi. Kita mau makan malam di mana?"


"Heh, menurutmu di markas tidak ada koki? Kau ingat dokter-dokter yang tidak dievakuasi itu? Tentu saja ada koki yang serupa! Mereka memasak untuk kita!" Dia berseru bangga, walaupun sepertinya agak jengkel karena kalah, hahaha...


"Baiklah. Permintaanku hanya ada satu, kumohon ajak Raphael, Jennifer dan Yuda. Terserah kepadamu kita akan makan apa saja."


"Oh? Kenapa? Biasanya kalau ada hal seperti ini, kau lebih hendak menyendiri." Dia bertanya heran, aku menundukkan kepala.


"Mereka... adalah orang-orang yang baik. Aku ingin membantunya sesekali..." Balasku serius.

__ADS_1


Suara air conditioner memenuhi telinga, Leo berpikir sejenak.


"Oke. Jam delapan malam, temui aku tembok hitam tebal. Kita akan makan bersama." Dia menginjak gas, mobil emas maju lagi. Aku berseru senang, akhirnya makan besar!


__ADS_2