Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Harta Untuk Siapa?


__ADS_3

Baiklah, aku akan memeriksa ada apa di sini, kenapa tempat ini sangat dilindungi?


Ruangan ini lebih gelap, lebih kecil. Seperempat ruang tamu tadi, wallpaper hitam putih diganti menjadi cat berwarna kuning biasa, juga sobek dan rusak.


Hmm... di depan ada rak setinggiku yang berisi buku-buku, dekorasi, dan llin-lilin kecil.


Oh, ada saklar. Klak! Aku menyalakan saklar itu.


Astaga... bahkan lebih tidak elok. Jaring laba-laba berkumpul di sudut atap ruangan, bau debu dan kotoran datang menghampiri.


Ada lemari di samping kiriku, dengan empat laci di bawahnya, pintunya dipasang foto keluarga.


Wah, laki-laki kakak beradik, ya... usia kakaknya sekitar enam belas tahun, dan adiknya dua tahun lebih muda. Mereka memegang es krim dengan mainan pistol plastik, tersenyum lebar. Di mana Ibu dan Ayahnya?


Suara monster, Jennifer dan Raphael di luar yang lebih redup masih terdengar, aku harus cepat.


Aku membuka laci di lemari itu. Tidak ada apa-apa, kosong. Laci selanjutnya, nihil, laci selanjutnya...


GREP! DUK!


"Agh?!" Seseorang menarik kerah seragamku dan melemparku!


"Fal?!" Raphael terdengar khawatir.


Temboknya di dinding sampai retak... siapa dia?!


Aku mengusap seragamku, penuh debu.


"Heeeeissssaaaaaa..." Figur berwarna hitam, lebih rendah sedikit dariku berdiri, membentangkan tangannya ke atas.


"Siapa kamu?! Omni?!" Aku bergegas berdiri, menjulurkan pedang.


"Gaaahhh!!!" Sosok itu memanjangkan lengannya, terlihat seperti tentakel gurita, memanjang menyerang.


SLASH! Aku memotongnya, bergerak ke samping kanan untuk menghindar.


"Heeuhh???" Itu bukan sosok biasa, bentuknya seperti Monster Bertopi Fedora, tapi agak... belum matang...? Bagaimana cara menjelaskannya? Ah, pokoknya begitu.


Dia heran melihat lengan kirinya yang kupotong, memasang wajah bingung, tubuhnya hitam pekat, cairan lengket menuju ke lantai dari tubuhnya, seperti agar-agar yang hidup.


"Hei! Jawab! Siapa kamu?!" Aku bersiap siaga, masih membentangkan pedang ke arahnya.


"Heuuu'eh heuuu'eeh!" Dia menyerang lagi dengan lengannya, BUM! Aku menunduk, serangannya mengenai tembok.


Aargggh! Apa, sih?! Tidak ada satu huruf pun yang kumengerti!


JRASH! Aku memotong dua tangannya yang maju sekaligus, BUM! Dia menyerang lagi, mengenai tembok di belakangku, hancur. Aku bisa melihat jalanan di luar, berlubang seukuran orang dewasa.


Itukah kemampuannya? Lengan tentakel? Dan dia bisa regenerasi walaupun lamban...


Syukurlah, setidaknya kemampuannya tidak sehebat Arkane.


"Graaaaahhh!" Dia maju menyerang, aku terpaksa mundur keluar rumah lewat lubang itu.


BUM! Serangannya meleset, membuat lubang di tanah. Aku menghindar ke kanan.

__ADS_1


Dia keluar dari lubang itu dengan lengannya yang panjang, menatapku jeli. Tubuh hitam lengketnya mengotori tanah luar.


DUM! DUM! DUM! Dia menyerang terus, aku menghindar ke kiri.


JRASH! Kupotong lengan kirinya yang maju, lalu berlari menujunya, CRAS! Aku membelah tubuhnya dari bawah dengan cepat, bagian kanan dan kirinya terpisah. Dia jatuh tidak berdaya.


Phew... sudah selesai... saatnya melihat apa yang disembunyikan lemari itu...


Cret... WOOSH! Astaga! Dia melilit kakiku dan melemparku jauh ke atas langit!


"Kraaaaaaaa..." Dia berbisik ke telingaku, ikut melompat dan melilitku keras empat meter di atas udara.


BUM! Aku dibanting ke bawah, jatuh membuat lubang yang besar dan dalam. Kepalaku tidak bisa dirasakan...


Buk. "Raaaa..." Ugh... monster itu mendarat halus, tangan tentakelnya itu melata di mana-mana. Menjijikkan.


"Fal?! Hey!" Suara Jennifer yang memanggil terdengar berada di dalam rumah. Sepertinya mereka masih belum selesai dengan urusan monster-monster kecil.


Aku berdiri tegak, menggunakan kuda-kuda yang kokoh, mengasongkan pedang ke depan.


"Wah, kamu sangat jelek ya..." Komentarku singkat, melihat dia yang perlahan berjalan ke arahku.


"Grrrrr..." Aduh, apa sih yang dia katakan? Grr, wrr, hrrr, berisik!


CRAS! SLASH! Kupotong kedua tangannya yang menyerang, kemudian maju.


ZUNG! Dia menunduk, seranganku meleset. CRAS! SLASH! JRAASH! Kupotong lengan kiri, kanan, dan kedua kakinya, ZUNG! Dia mundur menghindariku yang hendak memenggalnya.


"Liiiiaaaaaa..." Huh? "Lia"?


Itu nama...


"JENN! RAF!" Mereka berdua memiliki luka gores yang banyak diwajah dan lengannya, seragamnya juga banyak yang rusak!


"Fal! Syukurlah..." Walaupun begitu, Raphael lega melihatku.


"Tunggu, kepalamu!" Jennifer berseru khawatir.


Aku baru sadar, ada darah yang mengalir dari kepalaku bagian kanan, apakah itu dari serangan banting tadi?


Kami bertiga segera mendekat melewati suara berisik monster kecil yang melata di mana-mana.


"Astaga! Kenapa jadi begini?!" Raphael keberatan, SLASH! Memotong tubuh monster yang melompat.


"Fal! Apa yang kau temukan?!" Jennifer bertanya keras.


"Tidak sempat! Monster aneh itu melindunginya!" Jawabku sambil membelah tubuh lawan.


Situasi menjadi semakin sulit, Jennifer dan Raphael menghadap belasan monster-monster kecil. Di belakangnya, aku menyongsong ke arah monster aneh, tangan tentakel miliknya menekuk ke atas, ke bawah, ke segala arah bergantian.


CRAS! Kupotong lengan tentakel yang hendak menyerang.


"Di mana Leo saat kau membutuhkannya?!" Ujar Raphael sebal.


"Jangan manja, Raf!" Aku membalas, sibuk waspada.

__ADS_1


SLASH! "Aku punya rencana!" Jennifer berusul.


"Fal! Pancing monster aneh itu sejauh mungkin!" Dia melanjutkan perkataannya, aku mengangguk, maju memutarinya.


"Ayo! Sini!" Lanjut berlari menjauh, dia mengikutiku. Berkali-kali melesetkan serangan tentakelnya, beberapa tanah rusak dan retak.


CRAS! Kupotong tentakelnya, masih berganduh. Jennifer dan Raphael hampir tidak terlihat. Aku berada di tempat yang sangat sepi, rumah-rumah tidak ada. Hanya jalanan dan pohon-pohon besar yang berjejer rapih.


CRET! Sial! Lagi-lagi dia melilitku sempurna!


Tubuhku dibawa mendekat, dia menatapku serius.


"F..." Apa? Dia ingin mengatakan apa?


"Faaaaliiishaaaaa... Liiiiiaaaam... Loooogaaaaan!!!"


A... apa...?


Dia menyebut namaku...?


Sedikit demi sedikit, cairan hitam lengket di tubuhnya berjatuhan, mencair, lepas darinya. Dia hanyalah manusia biasa... seorang lelaki berusia lima puluhan, memakai kaus dan celana jeans yang robek, sudah beruban dan pendek rambutnya.


BUK! Dia jatuh, tidak sadarkan diri.


Ini buruk, sangat buruk... tidak hanya kepalaku semakin pusing, tapi dibalik monster aneh dan menjijikkan tadi, adalah manusia biasa yang terlihat seperti terkutuk...


Aku mematikan pedang cahaya, lantas membawa orang itu dengan kedua lengan. Aku harus memberitahu Raphael dan Jennifer tentang ini!


"Raaf! Jeenn!" Seruku dari jauh, berlari ke arah mereka. Wah... sudah bersih! Monster-monster kecil itu sudah hilang!


"Falisha!" Jennifer membalas, tersenyum bahagia. Mendekat ke arahku.


"Eh, siapa dia?" Raphael menatapku heran.


"Ini... ini adalah orang tadi, monster dengan tentakel aneh itu. Dia orangnya." Aku mengangkat tubuhnya, menjelaskan.


"Kenapa dibawa? Tinggalkan saja dia!" Raphael komplain.


"Aku... aku merasa dia ini orang baik, Raf. Maksudku, lihat dia. Orang tua begini tidak punya aura kejahatan sama sekali." Jawabku pelan. Menatapnya kasihan.


"Oh iya, bagaimana rencanamu bisa berhasil, Jenn?" Aku heran.


"Mereka terhubung, dia dengan monster-monster kecil itu. Semakin dekat mereka, maka semakin lama mereka bisa bertahan. Karena semuanya menggunakan satu sama lain untuk bergabung dan beregenerasi." Jawab Jennfier, masih menatap orang tua yang kubawa.


"Syukurlah, kami semua tidak apa-apa..." Aku lega, Jennifer dan Raphael masih hidup.


"Iya, tapi kepalamu..." Raphael menunjuk darah yang mengalir lewat pipiku dari atas kepala.


"Ah, tidak apa-apa. Aku yakin masih ada dokter di sekitar sini."


"Iya, tapi..." Jennifer memasang wajah khawatir.


"Fal..." Raphael memasukkan tangannya ke dalam saku, hendak mengeluarkan sesuatu.


"Ini, ini adalah benda yang dilindunginya. Dilindungi semua musuh kita di sini." Dia memegang... foto? Foto berukuran telapak tanganku, menunjukkannya.

__ADS_1


Itu... foto Ayah, Ayah dan Ibu yang menggendongku saat umurku empat tahun, di pantai saat sunset, indah sekali...


Tapi... kenapa...? Kenapa mereka menjaga foto Ayah...? Apakah... apakah Ayah ada hubungannya dengan para monster itu?


__ADS_2